Andra melayangkan tatapan garang ke arah Naurin. Kedua matanya seolah memberikan isyarat dan peringatan keras. Sungguh, ia tidak ingin kejadian menyakitkan menimpa Naurin lagi. Hatinya sakit tiap kali istrinya terluka.
Naurin membuang kasar napasnya, ia tidak mau lagi membantah dan berdebat dengan Andra yang keras kepala dan selalu tegas dalam mengambil keputusan. Lagipun, ia sudah sangat lelah dan belum beristirahat dengan baik sejak kemarin malam.
Wajah Naurin tampak lelah, kedua matanya juga terlihat sayu. Andra terus memperhatikannya. Pria itu merasa tidak tega den menghela napas sedikit kasar.
"Jangan berdebat lagi. Istirahatlah. Kamu belum istirahat dengan baik sejak kemarin malam. Saya antar ke kamar," pinta Andra sambil menggendong tubuh lelah Naurin.
Wanita yang sudah kelelahan itu tidak banyak bicara dan menurutinya. Setibanya di kamar, Andra mendudukkan tubuh Naurin perlahan di ranjang.
"Tunggu sebentar. Sebelum tidur, bersihkan tubuhmu dulu. Saya siapkan air hangat untukmu," ucap Andra lembut.
"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri," tolak Naurin tidak enak hati.
"Sayang, tidak perlu sungkan. Saya ini suamimu, sudah sepatutnya saya memanjakanmu," jelas Andra.
"Tapi, Kak ...."
"Anggap ini kompensasi dari saya yang sudah dilayani olehmu kemarin malam dan menebus kesalahanku karena tidak menjaga dan melindungimu dengan baik hari ini sampai kamu terluka," jelas Andra kembali.
"Tidak perlu seperti itu. Lagi pun aku ikhlas melakukannya dan soal hari ini, aku sudah baik-baik saja. Yang luka wajahku, bukan tubuhku," jelas Naurin yang masih berusaha menolak.
"Siapa bilang hanya wajahmu saja yang luka. Apa luka di bagian itu dan itu sudah sembuh?" ucap Andra sambil menunjuk ke area sensitif Naurin.
Wajah Naurin merah padam menahan malu sambil menunduk sejenak. Wanita itu refleks melirik ke arah yang di tunjuk Andra. Kemudian, ia menatap tajam ke arah lelaki di hadapannya itu.
"Kak Andra!"
"Baiklah. Sudah, sudah jangan marah lagi. Jangan berdebat lagi denganku. Saya siapkan air hangat, lalu kamu bersihkan tubuhmu. Lepas itu, kita tidur, ya," bujuk Andra kembali dengan sangat lembut.
Naurin mengangguk dan menurut karena tubuhnya sudah semakin lelah. Andra gegas ke kamar mandi menyiapkan air hangat.
Setelah satu jam berendam di dalam bathatub tubuh Naurin terasa segar. Wanita itu masih mengenakan, baju mandi dengan rambut sedikit basah. Andra meneguk salivanya melihat air yang menetes mengenai d**a Naurin dari rambutnya.
Lehernya dan sedikit bagian dadanya yang terlihat putih dan sedikit basah, membuatnya menegang. Namun, dengan cepat ia memejamkan kedua matanya dan tersadar, ia tidak ingin memaksa Naurin melakukannya lagi. Apalagi dengan kondisi Naurin yang masih syok.
Andra mendekat dan menuntun Naurin ke meja rias dan mendudukkan tubuhnya. Kemudian, ia mengambil hair dryer dari laci meja dan menyolok kan kabel.
"Saya bantu mengeringkan rambutmu," ucapnya.
Andra menyalakan alat pengering rambut itu dan mulai menyentuh rambut Naurin. Wangi stroberi menyeruak ketika alat itu mulai menyala. Rambut Naurin bergerak pelan hingga aroma itu semakin terhidu oleh indra penciuman Andra.
Begitu lembut, menenangkan. Membuat Andra terlena. Naurin juga ikut merasakan embusan angin yang keluar dari alat itu. Terasa hangat dan sentuhan lembut tangan Andra yang menyentuh rambutnya.
Andra menghentikan aktivitasnya dan meletakkan alat itu di meja. Kemudian, memeluk Naurin dari belakang sambil mencium tengkuknya. Merasakan harum tubuh Naurin.
"Sayang, kamu wangi sekali. Saya suka aroma tubuh kamu yang selalu menenangkan ini. Izinkan saya memeluk dan mencium aroma ini sejenak," ucap Andra yang terus menghidu aroma tubuh Naurin.
Wanita itu menghela napas sedikit kasar. Namun, tidak menepis tubuh Andra yang memeluknya dan wajah Andra yang semakin dalam tenggelam dalam tengkuk Naurin.
Naurin menoleh ke arah Andra yang memejamkan kedua matanya. Menikmati aroma yang sangat ia rindukan.
"Sudah lama sekali saya tidak merasakan aroma ini," ucap Andra pelan.
Naurin menelan ludahnya. Hatinya kembali sakit kala harus mengingat masa lalu yang menyakitkan dan menyesakan dadanya itu. Rasa bersalah mulai menjalar hingga menembus sukmanya.
"Maafkan aku, Kak. Kalau bukan karena pernikahan sialan itu, kamu tidak tersiksa seperti ini. Kita pasti bisa bersama. Maaf, aku sudah membuat kamu terluka dalam. Aku ...."
Andra melepaskan pelukannya dan menangkupkannya wajah Naurin. Menatap dalam istrinya yang tampak berkaca.
"Hey, kenapa sedih? Saya hanya merindukan aroma tubuhmu ini, bukan ingin membuatmu sedih. Maaf, ya kalau hal ini membuatmu teringat masa lalu itu," jelas Andra dengan sedikit merasakan bersalah.
"Kenapa Kak Andra baik banget sama aku, padahal, aku sudah banyak menyakiti hati kamu?" tanyanya pelan.
Andra membuang napas sedikiy kasar. "Masa lalu, biarlah berlalu. Saya tidak menyalahkan dan membencimu sama sekali. Seandainya kala itu, saya tahu dan bertindak cepat, kamu tidak akan menderita karena pernikahan itu. Penyesalan terbesar saya adalah, tidak bisa melindungimu dan mencegah pernikahan itu. Oleh karena itulah, saya ingin menebusnya seumur hidup saya," jelasnya panjang lebar.
"Naurin. Kamu segalanya untuk saya. Sejak dulu, perasaan saya tidak pernah berubah. Tiga tahun lalu atau sepuluh tahun, bahkan ribuan tahun yang akan datang, tidak akan pernah merubah perasaanku padamu. Setulus hatiku, semurni cintaku, selamanya, saya akan selalu mencintaimu," lanjutnya.
"Kak Andra."
Naurin memeluk erat tubuh Andra. Begitu erat, seolah enggan melepaskan. Andra membalas pelukan Naurin dan mengecup mesra puncak kepalanya. Sesaat, mereka larut dalam buaian.
***
"Bagaiamana? Apa kamu sudah menyelidiki kejadian kemarin? Siapa saja yang terlibat?" tanya Andra sambil menatap serius ke arah Zio.
"Sudah, Tuan. Dari rekaman CCTV terlihat dua wanita yang satu tua dan satunya lagi tua sedang memaki Nyonya Naurin. Sebelumnya, wanita tua itu tiba-tiba datang dan memukul wajah Nyonya. Setelah itu, se kerumunan orang datang dan mereka juga sempat memaki Nyonya Naurin. Namun, sepertinya Nyonya bisa membalikkan keadaan dan membuat mereka semua terdiam. Ini rekamannya, Tuan."
Zio menjelaskan detail permasalahan yang terjadi pada Naurin kemarin. Dengan cepat Andra langsung meminta Zio menyelidiki yang terjadi pada kesayangannya tersebut.
Andra melihat rekaman itu dan kedua matanya membelalak. Tangannya mengepal. Tampak kekesalan di baliknya. Napas Andra juga mulai memburu menahan amarah.
"Kurang ajar! Berani sekali mereka menyakiti istriku!" geram Andra sman meninju meja.
Zio terkejut hingga sedikit melonjak. Namun, tidak beranjak.
"Zio, kamu cari orang-orang itu dan beri pelajaran. Pastikan mereka tidak mengganggu Naurin lagi!" titah Andra.
"Baik, Tuan."
Zio pamit undur diri dan segera gegas menjalankan perintah Andra. Sementara pria itu, ia masih geram sekali dengan vidio yang ditunjukkan Zio padanya itu.
"Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Naurin. Saya akan lakukan apa pun demi melindungimu. Tidak akan aku biarkan seorang pun melukaimu," monolog Andra.