38

1094 Kata

"Reya, makan dulu yuk sayang, masa seharian di kamar terus." "Nanti, Ma." Reya membenamkan wajahnya di bantal dan meremas bantal tersebut. "Kamu gak papa kan? Kok suaranya kayak serak gitu." "Gak papa, baru bangun tidur." Reya kembali membenamkan wajahnya. "Oh, bentar lagi keluar ya, makan dulu." Dan Reya tidak menjawab ucapan Ibunya. Reya sibuk membenamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Ibunya. Dari siang hingga Maghrib menjelang, Reya terus berada di kamar tidak ada keluar sedikitpun. Reya menghabiskan waktunya untuk menangis, menangis bukan karena menyesal, tapi karena rasa sakit yang masih membekas di d**a. Reya beranjak dari tempat tidur berdiri di depan cermin mengamati wajahnya yang terlihat pucat serta mata yang sembab. Sepe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN