#1 Tersentuh

1573 Kata
Setelah drama pagi yang sangat melelahkan, bukan bagiku tapi bagi ayahku yang harus mengurusi bayi besar seperti aku ini, akhirnya aku berada di menit-menit terakhir sebelum gerbang di tutup. “lari Lunaa…” Ucap ayahku begitu aku turun dari mobilnya. “males ayah…” Balasku, entah kenapa hari ini rasanya aku malas sekali menjalani hariku. “cepet jalannya itu gerbangnya mau di tutup!” Teriaknya padaku saat aku sudah berjalan dan hampir melewati gerbang. “ahh ayah berlebihan banget sih” Gumamku, “pelan aja gak papa, gak akan bapak tutup gerbangnya buat kamu…” Ucap pak satpam yang menjaga gerbang sekolahku itu. “makasih banyak Pak” “sama-sama, ayahnya itu dadah sama kamu…” Ucap Pak satpam yang sangat ramah itu padaku, aku lalu berbalik dan kulihat ayahku yang tengah tersenyum sangat lebar tahu aku sudah masuk area sekolah. Aku balas melambaikan tanganku padanya. “daaaah ayah….” Tak bersuara aku mengucapkannya, namun aku pikir ayahku bisa membaca gerak bibirku. Kemudian aku berjalan masuk ke dalam saat ku lihat mobil ayahku sudah melaju. Aku pikir aku harus menjalani hariku di sekolah dengan baik. Aku harus menghargai perjuangan ayahku dari mulai membangunkanku, memandikanku, membantuku berpakaian, kemudian menyeretku agar duduk di mobilnya dan sampailah aku berada di sekolahku sekarang ini. “hhh… aku harus ikut kelas pendidikan kewarganegaraan sama bahasa Indonesia hari Senin, dan mungkin itu yang bikin aku males banget buat lewatin hari ini di sekolah hhfftttt…” Aku bergumam sendiri sampai akhirnya kulihat Rey di ujung koridor yang sedang berjalan sambil tersenyum ke arahku. “oohh, aku harus pergi dari dia… aku gak punya tenaga plus males banget buat hadapin dia…” Aku bermaksud untuk berbalik tapi tanganku sudah di tarik oleh tangan kuat yang sudah pasti Rey lah pemiliknya. “Pagi…” “hhh… apa? ada apa?” Balasku dengan nada yang sangat malas. “gimana weekend sama ayah kamu? seru?” Tanyanya padaku “seru, untung aku batalan pergi main sama kamu dan lebih pilih ikut ayah aku, jadi aku bisa nikmatin waktu di hotel yang cukup bagus” “suka hotelnya?” Tanyanya lagi, “suka, aku betah sampe pengen tinggal aja sana… tapi kata ayahku, aku harus nunggu ayah aku jadi presiden dulu…” Balasku, mengatakan apa yang kemarin ayahku katakan padaku, saat aku meminta padanya ingin tinggal di hotel saja di banding di rumah. “hahahhh…. Yang bener aja Lunaaa… ayah kamu yang seorang diplomat itu gak bisa bikin kamu tinggal di hotel??? Waahhh… aku pikir diplomat itu profesi yang bikin mapan ternyata…” Aku hanya menatap Rey yang tertawa karena ucapanku itu, meski sebenarnya aku tahu ayahku mungkin saja mampu bahkan sangat mampu memenuhi inginku itu. hanya saja ayahku memiliki banyak pertimbangan, dari pada menjalani hidup mewah dan berpoya poya, dengan menghamburkan banyak uang dengan tinggal di hotel, lebih baik hidup sederhana dengan lebih banyak tawa juga waktu yang di habiskan bersama. Dan yang aku sadari semakin banyak uang yang ayahku hasilkan semakin sedikit waktu yang bisa ia berikan untuk anaknya ini. “ternyata apa?? emang kamu sendiri bisa bikin aku tinggal bebas selamanya di hotel yang aku tempatin kemarin??” Tanyaku menantang Reyno. “tentu bisaa lah Lunaaa… aku ini Reyno Tedja, cucu pemilik pakuwon Grup, kamu lupa itu? raja property dari mulai perumahan, hotel, sampe mall, aku bisa bikin kamu nikmatin semua itu semau kamu…” Ucapnya padaku, sepertinya sifat songongnya itu sudah mendarah daging dalam diri Reyno, tapi kemudian aku merasa sangat terganggu dengan nama pakuwon yang di sebutkannya itu, rasanya tak asing di telingaku. “kamu… tau kan pakuwon Grup?” Tanyanya lagi padaku, aku hanya diam, mengingat-ingat di mana aku mendengar atau mungkin melihat nama itu. ‘oh my… Lunaaa… itu- hotel kemarin- The Westin??!!! Kenapa semua bisa kebetulan giniii??? Apa tuhan itu selalu denger ucapan kita yaaa??’ Heranku, kini aku hanya menatapnya dengan bola mataku yang jadi lebar, selebar-lebarnya. “kenapa?? baru ngeh ya?? Hahahhh… wajah kamu lucu bangett sih” Ucapnya dengan tangan yang di cubitkannya pada pipiku. Sejujurnya aku kaget bukan karena statusnya yang ternyata bagian dari pemilik hotel kemarin tempat aku menghabiskan weekend bersama ayahku, tapi lebih kepada kebetulan yang membuatku berpikir ehmmm… rupanya dunia yang ku tinggali ini, ternyata sesempit ini, mulai dari aku yang satu sekolah dengannya, sampai aku yang malah tanpa aku tahu telah menginap dan berharap bisa selalu tinggal di hotel milik keluarganya. Sibuk dengan lamunanku Reyno tiba-tiba merangkulku dan menyeretku untuk pergi ke arah taman. “aaahhh…. Aku ada kelas Rey!!” “gak ada Lunaaa… semua guru rapat sampe sore hari ini dan kelas kamu juga cuma di kasih tugas aja” “APAA??!!!” Mendengar guru-guru sedang rapat, aku merasa berangkat ke sekolah hari ini adalah sesuatu yang sia-sia. Padahal aku bisa tidur lebih lama tadi pagi, dan lagi ayahku jadi tak perlu memandikanku, memakaikan baju untukku dan tak perlu menyeretku untuk bisa berangkat ke sekolah hari ini. “duduk di sini” Ucap Reyno, ia membuatku duduk di kursi taman sementara ia kini tengah berjongkok di hadapanku. “apa? ada apa?” Tanyaku sedikit bingung, kemudian tangannya menuju kancing kemeja seragamku, tepat di bagian dadaku. Aku langsung menepisnya, aku sudah di wanti-wanti untuk tak membiarkan siapapun selain ayahku atau orang asing manapun yang ingin menyentuh atau memegangi dadaku, itu pelecehan namanya dan aku harus marah untuk itu, seperti apa kata ayahku. “mau apa??!!! kamu gak boleh sentuh d**a aku!” Kataku sambil melotot padanya. “ahahhahah… jangan mikir aneh-aneh deh, tangan aku gak kaya tangan kamu yang bebas sentuh dadaku kaya minggu kemarin di UKS” Aku jadi malu, aku memang sudah menyentuh dadanya kemarin itu, sampai ayahku menyuruhku untuk meminta maaf padanya. “terus mau apa?” “ini... liat ini…kancing kamu gak bener di pasanginnya…” “apa?” Aku menunduk dan ku lihat memang tak sesuai pasangannya, itu tak sesuai antara bagian kancing dan lubangnya. Membuat kemejaku jadi lebih panjang satu sisinya. “aahh… ayah gimana siiih, pasti gara-gara tadi buru-buru sampe jadi kaya gini” Gumamku, “apa? ayah? Jadi yang pakein ini-“ Reyno menatapku aneh. “tadi pagi aku kesiangan Rey, makanya jadi kaya gini deh” Balasku, dan kini tangaku mulai melepaskan satu kancing dari lubangnya yang bukan pasangannya itu, namun saat ku coba untuk mengkancingkannya, tangan Reyno mengambil alih itu. “aku bisa kancingin baju kamu lebih baik dari ayah kamu…” Ucapnya dan tangan-tangannya kulihat cukup lihai membenarkan semua kancing bajuku. Aku hanya diam memperhatikannya. “apa harus kamu sampe di bajuin sama ayah kamu ?” “ooh… tadi itu kesiangan, jadinya…” “kamu gak malu liatin tubuh kamu sama ayah kamu?” Tanyanya aku sedikit heran mendengarnya, dia itu ayahku, kenapa aku harus malu, bahkan saat aku bayi dan masih belum bisa melakukan apapun, ayahkulah orang yang mengurusi semua urusan diriku di mulai dari memandikan sampai memasang popok diriku. “diakan ayah aku Rey…” “hhh… tetep aja Luna, kamu kan udah gede… kamu gak bisa biarin ayah kamu itu buat liat atau sentuh kamu Luna…” Ucapnya padaku, aku tahu ini pasti menjurus ke arah pelecahan lagi. “denger Rey, kalo ini soal melecehkan itu lagi, aku udah cukup ngerti soal itu dan aku udah dapet kesimpulan kalo itu gak bisa di katakana sebuah pelecehan kalo orang yang sentuh kita itu adalah orang yang kita sayang, malah itu adalah wujud kasih sayangnya buat aku…” Reyno jadi diam mendengar kata-kataku itu. ia sampai tertunduk. “kalo gitu… apa aku bisa jadi orang yang kamu sayang…” Ucapnya padaku, tiba-tiba. aku sampai merasa kalau aku telah salah mendnegar apa yang baru saja di ucapkannya itu. tapi kemudian ia menatapku dalam, dengan kilauan matanya yang seperti menyiratkan banyak harap padaku di sana. “itu- itu… aku…” Ini seperti adegan romantis di serial yang ku tonton belum lama ini bersama ayahku. “Luna… izinin aku buat jadi orang yang bisa sayang sama kamu … aku juga pengen bisa jadi orang yang kamu sayang Luna… selain ayah kamu…” Ucapnya padaku, Aku sedikit bingung, untuk pertama kalinya aku mendapat permintaan seperti itu. ‘aku harus jawab apa?? kalo aku bilang iya… aku masih belum yakin soal dia…’ “ehmmm… aku- aku… gimana ya Rey…” Aku tak tahu harus berbuat apa saat ini, tapi kemudian tangannya menggenggam tanganku, dan tangan lainnya memegangi wajahku. “Luna…” Ia memanggil namaku dengan suaranya yang sangat lembut. “ehmm?” Dan sedetik kemudian wajahnya jadi kian mendekat padaku, bibirnya sampai di bibirku ini. dan selain itu… “aahh…” Rey mengerang saat ku dorong di dirinya sampai terjerambab kebelakang, hingga membuatnya kini terduduk di rumput taman. “kamu gak seharusnya pegang d**a aku, sebelum kamu bener-bener aku izinin buat jadi orang yang aku sayang Rey!” Tegasku sambil ku tutupi kedua dadaku yang tadi sempat di peganginya bahkan kurasakan lebih dari itu, ia lebih ke arah memeras kedua dadaku dengan kedua tangannya. “Luna… Lunaa… aku- aku gak maksud buat-“ “cukup Rey! Jangan pernah kamu temuin aku lagi…” Balasku dan kemudian aku pergi saja meninggalkannya yang masih terduduk di taman itu sendiri. …..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN