“ayah… kita check out kapan?”
Tanya Luna yang masih berbalut handuk kimono berjalan keluar dari kamar mandi hotel setelah baru saja selesai membersihkan dirinya.
Luna lalu menghampiri ayahnya dengan rambut basahnya.
“ehmmm… abis makan siang? Atau kamu mau makan malem dulu di sini?”
“makan malem di sini aja dulu deh yah, biar nanti kita pulang langsung istirahat”
Balas Luna, kemudian Bryan menarik tubuh Luna untuk mambuatnya duduk di depannya dan mulai mengerikan rambutnya menggunakan hairdryer.
“ahh… Luna gak suka suaranya”
“suara apa? ini?”
Bryan dengan jahilnya mendekatkan hairdryer itu ketelinga Luna,
“ahh… udah Luna bilang Luna gak suka suaranya ayah …”
Dengan wajah yang di kerutkannya Luna kini menatap ayahnya.
“isshhh… muka kamu jelek kalo lagi marah gini…”
Balasnya begitu sambil mencubiti pipi Luna yang di buatnya jadi sedikit mengembung. Bryan senang sekali menjahili Luna, kini ia tampak menggemaskan dengan bibir yang sedikit di kerutkannya. Bahkan ia sampai berdiri dengan bertolak pinggang menghadap Bryan, mecoba menampilkan eskpresi marahnya yang malah terlihat imut itu.
“hhh… ayah! Luna masih dateng bulan, jadi jangan cari gara-gara sama Lunaa…”
Ucapnya dengan nada yang coba mempertingati dan tatapan mengancamnya.
“ihh… serem, emang iya masih dateng bulan?”
Bryan tiba-tiba menarik tali kimono mandi yang melingkar di tubuh Luna dan satu detik kemudian terpampanglah sudah dirinya yang hanya mengenakan celana dalamnya saja.
“ayaaah…. Gak percaya banget sih sama Luna!!”
“engga…hweee”
Bryan kemudian menarik tubuh Luna, membuatnya sampai jatuh ke pelukannya. Tangannya meraba-raba area privasi Luna dan di temukannya pads pembalut yang masih terpasang di sana.
“lama banget perasaan kamu dateng bulannya…”
“aahh… kalo bisa pilih cuma sehari aja mensnya, Luna juga gak mau sampe selama ini ayah…”
“ah, geli… jangan gelitikin Luna lagi!”
Namun jari-jari ayahnya kini lagi-lagi sudah merayap ke area pinggang dan perut Luna, siap untuk menggelitikinya.
“ahahhh ayah!!!!”
…..
Sementara mereka tengah asik bermain-main, sepasang mata tengah menonton keduanya dari sebuah layar yang mempelihatkan bagimana dua manusia itu tengah saling menggoda dan bermain-main di kamar mereka.
“Luna... sentuh gue please!!!”
Terdengar erangan dari laki-laki muda yang seperti tengah menyaksikan adegan film dewasa itu. nama Luna terucap dari bibirnya yang berhasil di buat turn on karenanya.
“Lunaaa sayang....”
Matanya sedikit menyipit menikmati sensasi rangsangan dari aktivitas tangannya sendiri, namun tetap ia berusaha mentapi lekuk tubuh Luna yang kini nampak di layar sudah melepas kimononya dan hanya memakai celana dalamnya saja, pria muda itu tengah menikmati cerita fiksi dalam kepalanya yang tengah di sentuh oleh gadis yang sangat ingin di milikinya itu.
Erangannya terdengar semakin keras dan berat kini.
Ia melakukan zoom ini pada tubuh Luna yang terpampang di layar tabletnya, tepat di bagian kedua p******a ranumnya.
“Luna..."
suara laki-laki yang sedang bermain-main dengan milik pribadinya itu jadi serak dan raucaunya jadi semakin liar terdengat dari kamar Executive the Westin itu, dan semakin kecang pula ia memijat dan menaik-turunkan tangannya pada batangnya yang sudah sangat mengeras itu.
“LUNA!! LUNAAA ... AH!!!”
Ia kini membayangkan bisa menikmati momen yang indah dan panas bersama perempuan yang terus di panggil namanya itu.
Namun sayang ia harus menunggu untuk bisa melakukan hal itu, yang membuatnya terangsang sampai beronani ria sendiri dengan tangannya saat ini.
Rey semakin liar dan terkendali dengan permainan tangannya itu.
Ia semakin menggila saat melihat tangan ayahnya menggelitiki tubuh Luna dan Luna hanya tersenyum-senyum manja karena kegelian. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan mata yang di pejamkannya, merasakan sensasi hampir sampai di batangnya yang sudah membesar dan siap memuncratkan cairannya itu.
“aarghhhhh!!!”
Lenguhan panjang di sertai dengan beberapa kali muncratan cairan dari batang yang jadi merah dan bengkak itu, membuatnya tampak sangat menyedihkan.
“f**k mee!!!! shittt!!!!
"Liat aja gue pasti bisa bikin loe jadi milik gue Luna!”
Ucapnya di tengah desahannya, ia benar-benar sudah sangat ingin menyentuh Luna, bahkan hanya dengan menontonnya begitu dan membayangkan dirinya yang menjadi ayahnya, itu sudah berhasil membuat dirinya menegang hebat.
“Luna… ahhh….”
Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu kamarnya.
“Rey Loe-“
Aldi terhenti saat ia melihat sahabatnya itu tengah tak memakai celananya dan dengan batang yang masih tegak di tambah dengan c*m yang keluar dari lubang kecilnya.
“REY LOE!! Waahh parah ni anak!!”
Ia mendekat dan melemparkan sekotak tisu tepat pada batang sahabatnya itu.
“ahh… gila Loe! Kena ‘ini’ gueee!!”
“makanya di tutup!!! Heran gue, kenapa loe bisa sampe ngocok sendiri sih…”
Sementara tangan Reyno mulai membersihkan c*m yang keluar dari batangnya dan mulai memakai kembali celananya, Aldy menemukan rekaman cctv di kamar Luna yang sedari tadi menjadi tontonan Reyno.
“Gila! Body si Luna oke juga!!! pantes Loe sampe tegak terus muncrat gitu”
Aldy kini seksama menonton apa yang tengah Luna lakukan dengan ayahnya. Sementara Reyno hanya mengabaikannya saja.
“eh… ayahnya pernah masukin Luna gak sih?”
Tanyanya penasaran, itu juga semula yang menjadi pertanyaan besar di kepala Reyno.
“kayanya sih engga… gue perhatiin sejauh ini tangan Luna gak pernah sentuh area milik bokapnya itu, tapi bokapnya emang bebas banget sentuh anaknya itu di mana aja…”
Balas Rey yang selama beberapa hari ini memang sudah memantau keduanya, ia sangat yakin soal hal itu. Luna sangat menurut seperti robot cantik, dan polos seperti boneka ayahnya, begitu kesimpulan yang di dapatkannya.
“ahh…gue makin gak ngerti hubungan mereka ini gimana? Bokapnya masih anggep Luna bocah umur 3 atau 4 taun apa…”
“gue cuma mikir kalo bokapnya ini terlalu sayang sama si Luna, tapi tanpa sadar sayangnya itu berlebihan sampe lupain batas sampe mana hubungan ayah dan anak cewenya itu seharusnya… gue Liat sih… meskipun bokapnya sentuh sama liat body polosnya si Luna, gak ada hasrat pengen ngapa-ngapain dia… ayahnya aman, dia gak ada maksud buat lecehin atau cabulin anaknya itu…”
Jelas Reyno pada sahabatnya, setelah beberapa hari ini ia menganalisis hubungan Luna dan ayahnya.
“ada ya hubungan kaya gitu??? Ah bodo amat, yang pasti liat semua ini gue jadi pengen tukeran tangan juga sama bokapnya… pengen sentuh body moleknya yang aduhai bangett”
“eh sialan Loe! Dia itu cewek inceran gueee! Jangan loe embat ya”
Reyno melemparkan bantal di sampingnya pada sahabatnya itu.
“ah… santai bro! tapi… kalo loe udah bosen kasih gue gak papa, ikhlas gue”
Obrolan gila kedunya masih berlangsung sampai waktu makan malam.
“eh… Rey, mereka mau balik deh kayanya… liat udah siap-siap”
Ucap Aldy mengingatkan Reyno soal Luna dan ayahnya yang kini sudah meninggalkan kamarnya dari layar yang menampilkan cctv di kamar Luna menginap.
“buka cctv yang ke arah lorong hotel, liat mereka kemana”
Begitu perintah Rey,
“lounge, jelas mereka pasti makan dulu di sana”
“ayo cabut”
Akhirnya Rey dan Aldy juga ikut meninggalkan kamarnya, mereka berjalan menuju ruang yang sama dengan Luna dan ayahnya berada saat ini. Namun mereka tak bisa menemuinya langsung dan hanya bisa tetap memantaunya dari kejauhan.
***
Luna Pov
“ahhh… ayah Luna masih ngantuk”
Kataku saat ku rasakan kini ada jari-jari yang mencoba menggelitiki telapak kakiku. Ayahku sudah kehabisan akalnya sampai ia bertingkah seperti itu. ku tebak ini sudah dua puluh menit lamanya ayahku berusaha mebangunkanku, mulai dari kecupan, kata-kata manis untuk membangunkanku, sampai menegguncang-guncang tubuhku sedari tadi di lakukannya padaku.
“ayoo bangun ini senin kamu gak mau sekolah?”
Tanyanya sudah terdengar seperti orang frustasi pagi ini,
“ahh… Lima menit lagi”
Balasku sambil ku naikan kembali selimutku dan kini sampai merungkupi kepalaku, ku buat tubuh malasku ini bersembunyi di balik selimut lembut yang membuatku betah berlama-lama bersamanya.
“ini udah lebih dari lima menit sayang!!! hampir setengah jam ayah bangunin kamu…”
“ayah… Luna bolos aja gimana… liburnya sehari lagi ya ya ya???”
Pintaku pada ayahku,
“kemarin udah liburnya, sekarang sekolah cepet!!”
“aahh malesss”
Balasku, Tapi ayahku tak kehabisan akalnya ia langsung mengangkat tubuhku dan membopong tubuhku ini masuk ke kamar mandi.
“ayaaahhhh!!!!”
“mandi terus berangkat ke sekolah”
Ucapnya, dan kini aku sudah di dudukannya di toilet, tangannya sigap membuka pakaian tidurku dan menyisakan celana dalamku saja. lengan kemejanya mulai di gulungkannya lalu ia mulai menyalakan air dari shower.
“ayo mandi cepet”
Aku hanya duduk diam saja, jujur aku malas sekali ke sekolah. Anehnya aku yang di beri libur weekend bukannya jadi semangat belajar setelah me-refresh diri, tapi aku malah jadi ketagihan libur dan sampai malas bergerak begini.
“aahh!!! Lunaaaa….”
Ayahku mengerang frustasi, ia akhirnya mendekat kembali padaku dan menurunan celana dalamku, melepaskan pembalutku yang terpasang di sana membuangnya ke tempat sampah, dan melemparkan celana dalamku ke laundry basket.
“sini kamu”
Ayahku menarik tanganku dan membuatku berdiri di bawah hujanan air dari shower. Tangannya mengusap-usap tubuhku menggantikan tanganku yang super malas.
“ahh… pelan ayah… “
Protesku saat ayahku terlalu keras menggosok area ketiakku.
“diem! kamu bisa telat kalo ayah pelan-pelan mandiin kamunya… hhhhh kamu ini udah SMA masih aja kaya anak TK, cckckkk”
Ia bergerutu selagi memandikan anaknya ini, tangannya mulai menuangkan sabun ke spons mandiku lalu membuat banyak busa di sana.
“ayah, pelaann”
Ayahku mulai menggosok tubuhku dari mulai leher, tangan, ketiak, d**a, turun ke perut dan ia sedikit memperhatikan area vaginaku.
“ini udah gak keluar darah mens lagi kan?”
Tanyanya,
“ehmm… kayanya, pembalut aku juga udah bersih”
Balasku, sebelum kemudian ayahku mengosok lebih pelan pada area itu. aku dibuat berdiri mengangkang sampai kemudian satu kakiku di angkatnya sedikit untuk membersihhkan lipatanya, sampai ke pantatku.
“ahh… ahhh ayah… itu rasanya aneh”
Kataku padanya saat tangannya menyentuh satu daging kecil yang berada di vaginaku.
“ooh… maaf, kita harus buru-buru sayang”
Setelah itu ayahku berjongkok untuk membersihkan area tubuh bawahku sampai berakhir di jari-jari kakiku.
“hh… selesai, ayo bilas”
Ayahku mulai menyalakan air kembali, busa-busa di tubuhku mulai luruh, tubuhku di usapi dan di gosoknya kembali.
“aduh Luna yang bener aja kamu tuh”
Umpatnya saat cipratan air membasahi kemejanya. Aku tersenyum saja melihatnya. Sampai akhirnya tangan ayahku mengentikan kucuran air dari shower.
“udah, ayo keringin”
Ayahku mulai mengeringkan tubuhku dengan handuk, dan melilitku dengan itu.
“ayo masuk terus pake seragam kamu sendiri, ayah harus ganti baju lagi…”
Ucapnya sambil menarikku masuk ke dalam kamar lagi.
Tapi kini aku hanya diam menatapi seragam sekolahku sementara ayahku sedang sibuk berganti pakaiannya. Sampai ayahku akhirnya berbalik dan melihatku yang masih handukan saja.
“LUNAAAA CEPETTT PAKE BAJUNYAAA!!!!”
…..