“ish, Rey bego!! begooo banget!!!! padahal momennya tadi udah sweet banget! Si Luna juga hampir aja luluh… aahh!!!”
Gerutunya, dan karena saking kesalnya tangan Reyno sampai memukul-mukuli tanah berumput di taman tempatnya duduk.
“hahahahhh…. Di jatohin loe!! Hahahah Rey… Rey… ckckkk”
Aldy yang rupanya lagi-lagi memantau apa yang di lakukan sahabatnya itu dengan Luna, kini hanya tertawa puas saja melihat dirinya yang baru saja di dorong sampai jatuh, karena tak sabaran ingin sekali menyentuh tubuh Luna yang membuatnya berhasil sangat turn on kemarin.
“ah sialan loe Dy malah puas ngetawain gue lagi, gak ada setia kawannya banget si Loe…”
Reyno bergerutu tak jelas saja jadinya.
“ya itu salah Loe sendiri sih… tangannya di sabarin dulu, belum apa-apa udah main remes-remes aja, gimana Luna gak marah coba”
“ahhh… kelepasan gue tadiii… kebawa suasana”
“tau gak seharusnya loe sentuh dia di mana?”
Reyno menatap Aldy pensarasan.
“dimana?”
“di hatinya dulu lahhh… hahahahh…”
Aldy hanya puas bercanda dan memainkan Reyno yang baru saja kena tolak itu.
“ya kan hati juga adanya di dadanya kamprett!!”
Reyno ingin sekali meninju sahabatnya yang terlihat sangat puas akan kondisinya yang sedang malang itu.
“ahahahhhhh… muka loe asem hahahahh”
……
~~~
Backsound
Rahasia perempuan
....
Ada satu bagian
Pada perempuan
Yang sangatlah peka
Bila disentuh oleh lelaki
Di manakah bagian itu?
Maukah kau tahu?
Karena bagian itu
Hanya untuk lelaki
Yang cukup umur
Karena bagian itu
Sungguh sangat bisa
Buat perempuan
Dimabuk kepayang
Dimabuk asmara
Di manakah bagian itu?
Maukah kau tahu?
Sentuhlah dia tepat di hatinya
Dia 'kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya terbang melayang
Sentuh hatinya dengan
Sangat hati-hati
Bila ingin rebut
Hatinya o-o-oh
Karena bagian itu
Sungguh sangat bisa
Buat perempuan
Dimabuk kepayang
Dimabuk asmara
Di manakah bagian itu?
Maukah kau tahu?
Sentuhlah dia tepat di hatinya
Dia 'kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya terbang melayang
....
***
“ahhh… keterlaluan banget sih dia, bisa-bisanya bilang sayang cuma karena pengen pegang-pegang ahhhh…”
Luna ngedumel sendiri kini, ia benar-benar kecewa pada si Reyno yang sudah berani menyentuh dadanya itu.
“ahhhh….”
Lalu ia berjalan menuju ruang kelasnya dan setelah sampai di lihatnya hanya ada Leo dan Willy saja di sana.
“eh, Lun… baru dateng?”
Tanya Willy, sementara Leo hanya terus saja tertunduk pada buku yang sedang di bacanya.
“ehmm… gitu deh, hari ini katanya guru-guru ada rapat seharian ya?”
“iya nih, kelas di ganti sama ngerjain modul latihan… ah! ini modul kamu…”
Willy menyerahkan satu modul bahasa Indonesia dan satu buku pegangan pendidikan kewarganegaraan. Mata Luna terbelalak saat melihat ada begitu banyak halaman yang di tandai Willy sebagai tugas yang harus di kerjakan.
“ini… ini serius sebanyak ini?”
Tanya Luna pada Willy dengan ekspresi kagetnya,
“hahahh… kaget ya? Nanti juga biasa kok, Pak Ridwan emang kalo kasih tugas suka sebanyak itu…”
“yaah mending ada kelas dong”
Balas Luna, belum apa-apa dan baru saja melihat soalnya saja dia sudah malas mengerjakan semua tugasnnya itu.
“makanya anak-anak langsung pada pergi ke tempat bimbingan belajar buat kerjain itu semua…”
Luna mengangguk-anggukan kepalanya, ia baru mengerti kenapa kelas sampai kosong seperti ini.
“gerbangnya di buka?”
Tanya Luna, karena ia juga berniat untuk meninggalkan sekolah ini terlebih karena moodnya sudah di rusak Rey tadi itu.
“kalo emang mau kaluar bilang aja mau ke tempat bimbingan belajar di gedung sebelah, pasti di bolehin kok”
Balas Willy, tapi Luna kemudian hanya menatapnya seolah bertanya ‘bagaimana bisa?’ dari sorot matanya.
“ahhh… gini gini… demi prestasi sekolah, siswanya juga harus bisa raih prestasi yang baik kan tentunya, dan ketika sekolah gak bisa kasih support materi pelajaran dengan baik, ya jadilah pilihan bimbingan belajar di lembaga pendidikan itu di jadiin alternative, jadi sekolah bakal dukung semua kegiatan siswanya yang emang bisa bawa pretasi yang bagus demi sekolah…”
Jelas Willy ia merasa harus menjelaskan semua itu pada Luna. tapi Luna yang mendengarkannya sepertinya tak begitu tertarik soal prestasi, ia hanya ingin pulang saja sekarang ini.
“tapi aku pengen pulang aja gimana, bisa gak?”
Tanya Luna, dan Willy kini tertawa mendnegar pertanyaan polosnya itu.
“pulang aja Lunaaa, mereka juga banyak yang jadinya nongkrong, main, dan yang pergi ke bimbingan belajar juga mereka gak semua ngerjain tugasnya kok, mereka cuma kadang kaya butuh orang buat cariin jawaban tugas mereka aja…”
“ahhhh… gitu ya, kalo gitu aku mau minta ayah aku jemput aja deh,”
Akhirnya Luna memutuskan untuk ikut bolos meninggalkan sekolah.
“cihh… anak baru di kelas kita seneng bolos juga deh kayanya”
Goda Leo, Luna pikir dia tak mendengarkan percakapannya dan Willy itu, tapi rupanya sedari tadi telinganya terpasang dengan baik sampai bisa mendengarkan rencananya yang akan bolos itu.
“aku pikir kamu gak akan peduli aku mau bolos atau engga”
Balas Luna, dan dua siswa laki-laki itu hanya tersenyum saja pada Luna.
….
Tak lama kemudian sebuah audi hitam sudah terparkir di depan gerbang sekolah, dan Luna langsung saja berlari masuk ke dalamnya,
“jadi, mau bolos aja nih?”
Tanya Bryan.
“ehmm, karena kelas kosong cuma di kasih tugas aja ayah…”
“hhh… tau gini ayah gak akan susah-susah bangunin, mandiin, sampe bajuin kamu tadi pagi…”
“hhh… Luna itu udah punya firasat ayah, makanya Luna gak mau bangun tadi pagi”
Balas Luna ia merasa benar sendiri,
“ahh, itu sih alesan kamu aja yang pengen bangun siang … dasar anak nakal”
Bryan sampai mencubiti pipi Luna karena anaknya itu yang sudah mulai pinter ngeles sekarang.
“jadi kamu mau ikut ayah ke kantor?”
Luna sedikit berpikir mungkin akan sangat membosakan jika dia berada di rumahnya sendiri, jadi ia pikir lebih baik untuk ikut saja ke kantor ayahnya itu.
“Luna ikut aja deh… lagian juga Luna belum pernah liat kantor ayah yang baru”
Balasnya,
“okey sayang, nanti ayah beliin cemilan yang banyak buat kamu, biar kamu gak bosen temenin ayah kerja…”
Luna tersenyum mendengar ayahnya yang akan membelikan banyak cemilan untuknya itu.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah memasuki gedung kantor kedutaan besar yang ada di kota Surabaya. Tapi kemudian semua mata memperhatikan anak SMA cantik yang tengah berjalan beriringan bersama Bryan.
Sadar anaknya menjadi pusat perhatian, Bryan langsung menggengam tangan Luna dan membawanya cepat menaiki lift yang membawanya ke lantai kantornya berada.
Bahkan di dalam Lift pun semua orang tampak berbisik, mempertanyakan siapa perempuan cantic dan asing itu, ia benar-benar menarik banyak perhatian, atau mungkin karena ayahnya juga sering menjadi pusat pehatian karena sosoknya yang sedikit misterius di tambah dengan ketampanannya yang tak biasa.
“Luna… sini”
Bryan membuat Luna berlindung ke belkang tubuhnya dengan tangan yang tak pernah di lepaskannya.
Dan tepat di lantai 3 Bryan dan Luna keluar dari lift, terdengar begitu jelas di telinga keduanya suara-orang-orang yang mempertanyakan hubungan keduanya.
“ayah… kenapa sema orang liatin kita kaya gitu ya?”
Tanya Luna heran
“mereka gak penah liat orang ganteng sama cantik lewat, makanya kaya gitu Luna”
Balas Bryan dengan pedenya,
“aaahh... ayah pede banget sih, emang ayah ganteng ya?”
Luna menggoda ayahnya, dan Bryan kini hanya mencubiti pipi manis Luna dan merangkulnya masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa wajah wanita tersipu dengan melihat tingkah manis Bryan si diplomat tampan di kantor mereka itu.
“ahhh berarti kalo gue jadi pacarnya, pipi gue juga bisa di cubitin kaya gitu dong…”
“ini sih bakal jadi perbaikan keturunan, anaknya cantic banget sumpah…”
“bener, Pak Bryan pasti bisa sayangin gue sama anak gue entar, idaman banget siiih…”
Karyawan tukang gossip di kantor itu kini tengah berfantasi ria melihat kedekatan Bryan dengan anaknya yang cantic itu. dan gilanya lagi bahkan mereka sampai berebut soal siapa yang akan membawakan minuman ke dalam ruangan Bryan.
Akhirnya seorang karyawan yang mendapat predikat tercantiklah kini tengah melenggng masuk ke dalam ruangan Bryan.
Tok tok tok
“Permisi Pak, saya mau antar ini-“
Ucapannya terhenti saat di lihatnya Bryan yang sedang berjongkok di hadapan anaknnya, dengan wajah keduanya tampak sangat dekat sekali.
“oh, iya makasihh Gina… padahal saya bisa buat sendiri nanti”
Balas Bryan tanpa menoleh kepadanya.
“ini Gina taruh di sini ya Pak”
katanya sambil meletakan teh buatannya di meja yang ada di samping Bryan. namun sepertinya sikap manis karywannya itu hanya di acuhkan Bryan, karena kini ia terlalu sibuk dengan Luna yang entah kemasukan benda apa di matanya itu.
“huhhhhh”
Bryan menghembuskan napasnya ke depan mata Luna, sepertinya ia kelilipan debu atau semacamnya.
“shhh… Luna jangan di tutup dulu matanya”
“aahh perih ayah”
Tangan Luna kemudian di pakainya untuk menggosok matanya yang jadi terlihat merah itu.
“iiih jangan di kucek Lunaa, mata kamu jadi merah sayang….”
Sampai akhirnya Bryan menemukan sehelai bulu mata Luna di area putih matanya itu, ia dengan sangat perlahan dan hati-hati mengeluarkan itu.
“ahhh, ini bulu mata kamu rontok sayang…”
Ucap Bryan pada Luna yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya,
“masa harus di pakein shampoo sih biar gak rontok bulu matanya, bikin sakit mata aja deh…”
“gak papa, bulu mata yang jatoh ini tandanya ada yang kangen sama kamu”
“siapa?”
Luna tiba-tiba memasang wajah imutnya yang sedang berpikir di hadapan ayahnya yang membuat ayahnya sangat gemas sekali padanya.
“tentu ayah sayangg…”
Balas Bryan, tangannya mengussp-usap puncak kepala Luna lembut dan menyentuhkan ujung hidungnya pada hidung kecil dan mancung milik anak gadisnya yang sangat cantic itu.
“ehmmm… kenapa ayah kangen, padahal Luna kan sama ayah…”
Cup
Bryan mengecup bibir mungil yang semerah ceri itu.
“gak boleh? emm?”
Luna tersenyum saja padanya sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka asyik bercanda sementara Gina yang menyaksikan keduanya menatap iri pada Luna yang mendapat begitu banyak perhatian dari pria tampan yang menjadi incarannya itu.
Sampai akhirnya Bryan menoleh, dan melihat Gina yang masih berdiri mematung dengan nampan yang tengah di peluknya.
“Loh Gin, masih di situ? Kamu ada perlu lagi sama saya?”
“ah- eng- engga Pak, silahkan di nikmati tehnya, oh atau kamu? Mau sesuatu biar aku bikinin sekalian?”
Tanya Gina mencoba mengambil hati anak Bryan dengan bersikap manis padanya.
“Luna, kamu mau apa? ehm?”
Ayahnya ikut bertanya,
“ehmm, engga deh nanti aja…”
Balas Luna,
“Luna nanti kalo dia butuh sesuatu, biar saya aja yang usrus, jadi kamu balik lagi aja kerja… makasih ya Gin”
“ya Pak, saya permisi”
Balasnya sambil mencoba menampilkan senyum termanisnya, tak lupa ia juga melambaikan tangan pada Luna sebelum ia berjalan keluar ruangan Bryan.
Tapi Gina rupanya tak langsung pergi meninggalkan ruangan Bryan ia malah berdiri di pintu untuk menguping pembicaraan keduanya.
“hayoooo, Gina siapa hayooo…”
Goda Luna pada ayahnya yang masih saja berjongkok di hadapannya.
“karyawan ayah, dia salah satu asisten di sini…”
“yakin cuma asisten? Cantic loooh…”
“apa siiih kamu ini… gak ada, di mata ayah yang cantic itu cuma kamuu… anak ayah yang nakal iniii”
“ahahhah… Geli ayah geliii… ahhh ayah udahh… udahh”
Seperti sebuah kebiasaan Bryan sangat senang sekali menggelitiki Luna
“makanya jangan nakal sayang…”
“iya … iyaa… hahhah… udah udah…”
Balas Luna,
Cup cup cup
Bryan tak kenal tempat ketika ia sangat ingin menciumi bibir Luna karena gemas, sampai Gina yang berada di balik pintu dan tengah mendengarkan semua itu memegangi bibirnya, membayangkan dan tergoda untuk mendapatkan kecupan seperti yang di berikan Bryan pada anaknya itu.
“iishhh… Pak Bryan cium cium anak gadisnya ya ampunnn… bikin pengen aja deh”
Gumamnya sebelum ia berbalik dan memilih pergi saja menjauh dari ruangan Bryan karena tak tahan lagi mendengar kedekatan mereka.
“kamu mau ice cream atau cemilan? Biar ayah beliin di bawah”
“ehmm boleh deh…”
Bryan kemudian mengambil macbook-nya dan memberikannya pada Luna,
“ini, di pake aja biar kamu gak bosen”
“yeayy… Luna jadi bisa nonton”
Ucapnya, ia memilih nonton ketimbang mengenjakan tugasnya yang sangat banyak itu.
“yaudah ayah pergi sebentar ya sayang…”
Bryan menyempatkan mengecup kembali pipi Luna sebelum ia pegi keluar ruangannya meninggalkan Luna yang mulai asik memanikan macbooknya.
Dan tak lama dari selang waktu sejak Bryan pergi dari ruangannya seorang wanita masuk ke dalam ruangan Bryan tanpa mengetuk atau permisi lebih dulu.
“kamu… siapa?”
Tanyanya heran saat ia menemukan sosok Luna yang tengah duduk santai di kursi di ruangan Bryan.
“Luna…”
Balasnya singkat,
Dalam hati Luna ia berkata ‘ini cewek mana lagi, kenapa banyak banget cewek cantic plus sexy banget di sekitar ayah’
“Luna? Keponakannya? Atau adiknya”
Luna hanya diam.
‘apa ayah gak keliatan udah punya anak gadis seusia aku ya?’
“Bryan kemana? Aku bawa makan siang buat dia…”
Ucapnya, ia kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Luna. tangannya meletakan kotak makan yang di bawanya di depan meja dan ia juga mulai mengeluarkan make up di tasnya lalu melakukan touch up kembali di wajahnya yang sudah sangat tebal dengan foundation dan teman-temannya.
“ayahhh…”
Panggil Luna pada Bryan yang baru saja muncul dari balik pintu ruangannya.
“hay sayang… kenapa lama ya? Ehmm?”
Ucap Bryan dengan tangan yang membawa sekantung penuh cemilan untuk Luna. lalu ia berjalan ke kursi di mana Luna duduk dan mulai memeluki juga menciumi anaknya itu.
“ahhh… ayah itu ada yang nunggu”
Ucap Luna dan akhirnya Bryan mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang tengah terperanga melihat kedekatannya dengan Luna.
“ayah? Dia anak-… Bryan kamu-“
“oh Weny? Sejak kapan di situ… ada apa?”
“Bry, mata kamu kemana aja… aku yang segede gini gak kamu liat?”
Dengan sedikit kesal wanita berpakaian serba ketat di tubuhnya itu berucap demikian pada ayah Luna.
“ooh mata aku emmm… tadi cuma liat anakku…hehe”
Bryan menjawab santai dan malah kini ia telah kembali memeluk Luna, jari-jarinya mencubiti pipi Luna yang kenyal dan lembut itu, sampai saking gemasnya ia menggigit pipi yang seputih mochi itu.
“aaahhh ayah, pipi Luna jangan di gigit”
Luna sampai sedikit berteriak, namun ia sudah cukup terbiasa dengan sikap ayahnya yang seperti itu.
“Bry!!! Ya ampun, kamu tuh mana ada ayah yang masih pelukin sama gigitin pipi anak gadisnya kaya kamu…”
Ucap Weny, menatap sedikit aneh kenalan prianya itu, namun tersimpan iri yang luar biasa besar pada anak gadisnya yang bernama Luna itu. ia baru mengetahui sisinya yang bisa sangat hangat, ia seperti bukan Bryan yang di kenalnya selalu saja cuek dan tak peduli.
“abis seneng banget ada Luna di sini, jadi mood booster tau gak”
Balasnya,
“kerjaan ayah di sana numpuk liat sana”
Ucap Bryan, ia kembali hanya berbicara pada Luna dan mengabaikan Weny.
“yaudah ayah kerjain… Luna gak akan berisik kok, pake air pods juga nontonnya”
“ehmmm bentar lagi, lagi recharge energy dari kamu”
Bryan menghirup aroma tubuh Luna dalam dalam, dan kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada Luna yang hanya tersenyum sambil memasangkan air pod di telinganya dan mulai melanjutkan menonton filmnya.
“Bryan…”
“apa? aku harus kerja, mending kamu pergi aja deh”
Ucap Bryan dengan masih memeluki Luna yang sudah asyik menonton filmnya.
“Bryan kamu cuekin aku??”
Ucapnya dengan wajah yang sudah memerah marah dan kesal karena di acuhkan oleh Bryan yang sibuk saja dengan Luna.
Cup
Bryan mengcupi bibir anaknya itu,
“ayah kerja ya sayang”
Ucapnya lalu bangkit berdiri menuju meja kerjanya.
“wahh… kamu- …kamu bisa sempetin kecupin bibir anak kamu, tapi males ngobrol sama aku!”
Weny mulai menaikan suaranya.
“ssttt, beirisk Luna lagi nonton, orang di luar juga lagi pada kerja. Drama banget sih jadi cewek…”
Ucap Bryan ia sangat tak pandai mengikuti drama wanita yang menurutnya sangat merepotkan. Mengurusi anaknya saja sudah cukup menguras tenaga, jika ia juga harus mengahadapi wanita lainnya bisa mati mendadak pikirnya. Untunglah Luna sangat mengemaskan dan memiliki paras juga hati yang lembut seperti ibunya, jadi lelah menghadapi Luna selalu menjadi peluh yang membuatnya hanyut dalam rasa bahagia.
“aaargghhhh!!”
Ia mengerang kesal lalu berjalan keluar ruangan Bryan dengan membanting pintu keras.
“ahh… bikin kaget aja”
Ucap Luna, suaranya sampai terdengar meski ia memakai Air podsnya.
“ayah, itu siapa sih?”
“biasa dari kantor sebelah… gak papa, ayah pastiin dia gak akan ganggu waktu kita lagi”
Ucap Bryan. Ia mulai memeriksa beberapa laporan dan berkas di mejanya. Bryan terkadang selalu merasa jenuh karena terlalu banyaknya laporan yang harus di kerjakannya, tapi hari ini karena ada Luna di sampingnya, ia jadi sangat bersemangat.
Berkali-kali matanya melirik Luna yang hampir tertidur di kursi, sudah jadi kebiasaannya yang tak pernah menyelesaikan film yang di tontonnya karena selalu tertidur di tengah ceritanya.
Bryan kemudian bangun dari duduknya dan menghampiri Luna. Ia memasangkan bantal kursi untuk menahan leher dan kepala Luna.
“sayang, makasih udah temenin ayah hari ini”
Ucapnya dengan membelai lembut wajah Luna.
Dan beberapa wajah dari balik kaca ruangan Bryan yang transparan itu kini tengah tersenyum ikut terharu dengan kehangatan cinta Bryan sebagai seorang ayah.
“sumpah, kalo gue bisa tukeran sama orang, gue mau banget jadi anaknya itu, udah wajahnya cantic banget lagi…”
“bener, jadi pengen…”
….
….