“ayah… kayanya ada yang mau dateng lagi deh”
Kataku, dari seharian ini ada banyak wanita yang ingin menemui ayahku. Aku tak henti-hentinya melihat sosok dari yang sangat ramah sampai sangat sexy penampilannya.
“ehmm… biarin aja. Spagetinya di makan lagi”
Ucap ayahku, aku memang sedang makan siang di kafetaria kantor ayahku. aku tak bisa menikmati makan siangku dengan tenang, ada terlalu banyak mata yang memperhatikanku dan ayahku.
‘kayanya ayah terkenal banget deh di sini…’
“siang Pak, lagi makan siang ya?”
Tanya wanita yang sangat cantik yang kini sudah berada di samping ayahku dan baru saja menyapanya.
“ah, siang”
Ayahku hanya melirik sedikit dan langsung kembali menyantap makan siangnya.
“ehmm…”
Baju seragamku tak sengaja terkena saus spageti yang sedang ku makan. Aku pikir cara makanku benar-benar belepotan seperti yang selalu ayahku katakan.
“sayang… kamu ini… belepotan banget sih makannya”
Benar bukan, itu adalah kalimat yang selalu keluar dari mulut ayahku. ayahku menggeser kursi tempatku duduk, membuatku mendekat padanya.
“ahh… sini liat ayah”
Ayahku langsung membersihkan area bibirku yang belepotan itu dengan jari-jarinya.
“makannya pelan-pelan, liat ini sampe baju kamu aja kotor kena saus gini”
Ayahku selesai membersihkan saus di bibir juga bajuku. Ia kemudian menggulung spageti dengan garpuku dan mendekatkannya padaku.
“biar ayah aja suapin kamu…. Aaaa…”
Ayahku menyuruhku membuka mulutku lalu menyuapiku spageti itu.
“biar Luna aja ayah orang-orang liatin, malu…”
Balasku, beberapa mata kulihat kini tengah saling berbisik. Aku tahu mereka membicarakanku.
“biarin gak usah di peduliin… udah biasa mereka kaya gitu”
….
Karena seragamku kotor dan ayahku hari ini melembur jadilah ayahku membawaku ke sebuah Mall untuk membeli pakaian untukku.
“ayah padahal aku pake seragam aku yang ini juga gak papa”
“kotor sayang… udah kamu pilih aja yang cocok di sana”
Ayahku kemudian mengambil satu hoodie kebesaran dengan warna peach yang cerah.
“ini gimana? Hoodie warna ini kamu belum punya kan?”
Tanya ayahku.
“kalo ini aja gimana?”
Suara seseorang yang sangat tak asing di telingaku tiba-tiba muncul dari belakang, aku langsung berbalik dan kaget sekali saat tahu siapa yang kutemukan di sana.
“Rey?”
“hai Luna…”
Sapanya padaku santai, aku melirik ayahku yang tampak sedikit kebingungan dengan kemunculan Reyno yang memakai seragam yang sama denganku saat ini.
“Luna, ini temen sekolah kamu?”
Tanya ayahku, aku ragu untuk menjawabnya jadi ku rapatkan saja bibirku ini.
“siang om”
Sapanya pada ayahku.
“oh siang… kamu temen Luna di sekolah? Sshhh… tapi kamu bukannya? Yang waktu itu-“
“ah iya, waktu itu di BMW exhibition kita sempet ketemu om”
Ucapnya, Rey terlihat lebih ramah hari ini. dan ayahku sepertinya sudah sedikit melupakan kejadian hari itu.
“ah iya waktu itu, jadi kamu juga sekolah di ST Louis?”
“kebetulan om, aku kakak kelasnya Luna di sekolah”
Aku hanya terus memperhatikan ekspresi ayahku yang sepertinya tak sekesal hari itu, bahkan ayahku tampak baik-baik saja dan tak mempermasalahkan atau terganggu soal kesan pertamanya si Reyno yang sangat songong sekali saat itu. aku pikir ayahku akan sangat tak suka padanya.
“Luna pilih ini aja deh yah, Luna langsung ganti di sana”
Aku seambilnya saja baju yang ada di dekatku dan langsung pergi begitu saja. Sampai di ruang ganti aku baru sadar kalau yang kuambil adalah sebuah sweter bermodel crop top.
“ahh… kalo aku angkat tangan aku pasti perut aku keliatan… kenapa aku ambil ini sih, bodo amat ah yang penting abis ini aku harus bawa ayah pergi dari sini dan balik ke kantornya”
Aku berlari menuju ayahku, langsung ku kaitkan tanganku di lengannya dan tarik tubuhnya.
“ayo bayar, terus balik ke kantor”
Kataku padanya.
“ah... iya sayang, tapi itu- temennya?”
“aku duluan, ayah aku sibuk”
Ucapku singkat pada Reyno, jujur saja aku masih kesal padanya soal kejadian tadi pagi.
“tapi sayang-“
“udah ayo ayah..”
Kutarik lengan ayahku dan ku bawa ia untuk segera menjauh dari Reyno.
Setelah ku rasa cukup jauh ku pelankan langkahku. Kulihat ayahku yang sedang menatap heran anaknya ini.
“hayooo… ada apa sama dia?”
“gak ada ayah, Luna gak suka, anaknya songong. masa ayah gak inget gimana dia waktu itu di acara BMW itu?”
Jawabku, meski aku kesal bukan karena itu, tapi karena dia yang telah melecehkanku.
“inget, tapi ayah liat dia juga ternyata bisa lebih sopan kok sayang, ayah tadi sempet ngobrol sedikit sama dia waktu kamu di ruang ganti, anaknya keliatan baik, dari keluarga baik-baik juga… ayah tau beberapa orang di keluarganya”
Reyno pasti tadi sengaja mendekatki ayahku, aku jadi sedikit takut kalau hati ayahku sudah di ambil olehnya.
“ahhh… gak menjamin ayah, dari keluarga manapun kalo ternyata dia itu udah-“
Tak ku hentikan, hampir saja ku katakan bahwa ia sudah melecehkanku tadi pagi, ah bisa-bisa ayahku mengamuk dan membunuh si Reyno di mall ini.
“kamu ini kenapa sih… sensitive banget sama dia? Jangan bilang kamu suka dia tapi dia udah punya pacar? Terus kamunya jadi benci sama dia gitu?”
“aaahhh!!! Ayah! Apa-apaan sih, gak ada! mana ada Luna suka sama anak kaya diaaa! Engga pokoknya engga akan!”
Kalau saja ayah tahu bahwa si Reyno itulah yang suka padaku dan baru saja ku tolak, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya.
“terus kenapa? ayah liat kayanya dia bisa jadi temen yang baik kok buat kamu”
Tak kujawab dan aku malah ngedumel sendiri dalam hati kini, ‘Ayah aku ini kenapa sih mendadak jadi pengen aku buat temenan sama si Rey gini, heran aku jadinya’
“gini sayang… ayah liat kamu gak pernah kaya mereka-mereka yang punya waktu buat main bareng sama temen-temennya, kamu emang gak mau punya waktu buat have fun kaya mereka?”
Ucap ayahku sambil menunjuk beberapa anak SMA yang sedang asik hang out di Starbucks di mall ini.
“Luna lebih pengen habisin waktu sama ayah aja…”
Balasku, karena menurutku memang tak ada lagi orang yang bisa mejadi temanku lebih baik dari ayahku ini.
“Loh kok gitu? Luna kamu harus bergaul sayang… ayah gak mau kamu jadi anak yang antisosial, kamu harus belajar soal pertemanan di usia kamu sekarang ini… masa mau sama ayah terus?”
Aku hanya diam saja mendengar itu. Padahal selama ini ayahku yang selalu datang padaku dan mengurusi semua urusanku. bisa di bilang aku memang terlalu di manjakannya, aku sadar itu dan sudah benyak orang yang berkaa begitu padaku. dan lagi ayahku pulalah yang kadang terlalu selective soal siapa temanku, baik atau tidak sikapnya sampai siapa orang tuanya, karena itulah aku menyerah untuk mencari teman dan rasanya aku juga terlalu nyaman untuk di temani ayahku seorang.
“sayang… ayah cuma takut kalo kamu gak bisa berbaur dengan baik di lingkungan kamu… harus ayah kasih tau satu hal ini sama kamu, punya hubungan dengan orang lain itu penting sayang… terlebih dunia kita sekarang ini membutuhkan yang namanya link, kamu mungkin belum paham itu tapi suatu saat kamu akan memasuki dunia yang lebih besar seperti dunia kerja di mana kamu di haruskan untuk berhubungan dengan banyak orang-orang penting di luar sana… kamu perlu belajar membangun hubungan yang baik sayang…”
Jelas ayahku panjang sambil terus berjalan menuju basement.
“ya ayah…”
Ayahku lalu membalas dengan mencium puncak kepalaku, tahu aku tak terlalu suka dengan hal yang harus aku dengar barusan itu.
“mungkin ini salah ayah juga sayang… selama ini ayah terlalu mengekang kamu dan karena ayah juga yang selalu buat kamu pindah-pindah sekolah, tapi sekarang ayah pikir udah saatnya kamu punya temen dan sahabat di hidup kamu…”
“ayah gak akan larang larang lagi soal siapa yang jadi sahabat kamu, tapi ayah harap kamu cukup tahu soal siapa-siapa aja yang baik buat kamu… jadi cari temen, cari seseorang yang bisa dengan nyamannya kamu habiskan waktu kamu itu selain sama ayah…”
Ayahku ingin aku berteman sekarang, setelah aku lupa caranya bagaimana berteman itu huffttt…
“ayah kalo temen Luna itu nantinya gak bisa jadi temen yang baik buat Luna gimana? Rasanya Luna terlalu canggung buat berbagi kayaehmmm … entah itu cerita, atau makanan kaya mereka tadi itu…Luna gak yakin bisa bagi semua yang biasa Luna bagi Cuma sama ayah jadi sama mereka…”
Sejujurnya ada banyak ketakutan saat aku harus bedekatan dengan orang asing, aku tak terbiasa lagi membuka diriku. Aku yang terkadang bersikap terlalu manja, terlalu menginginkan bantuan untuk hal-hal sepele, yang mungkin hanya ayahku saja yang bisa tahan dengan sikapku yang seperti itu, aku takut sikapku itu bisa membuat orang lain tak nyaman sampai tak bisa di terima sebagai seorang teman. belum lagi terkadang sikapku yang ayahku bilang ‘ada-ada saja’, aku takut hanya akan di cap aneh saja orang lain.
“kamu pasti bisa temuin temen yang baik buat kamu sayang… Reyno mungkin bisa di jadiin kandidatnya”
“ayah Luna ngambek nih… Luna itu terlanjur gak suka sama dia”
Aku mulai kesal dengan ayahku yang terus membuatku ingin dekat dengan si Rey itu.
“yaudah yaudah… kita tenangin hati kamu dulu, gelato? Gimana kalo kita mampir ke gelato?”
Aku menatapnya, ayahku paling tahu kalau aku tak bisa menolak yang satu itu.
“ehmm Extra Large? Mint choco?”
“okey let’s go”
***
Aku akhirnya berada di rumahku setelah menemani ayahku bekerja sampai pukul tujuh malam di kantornya.
“Luna… mau ayah pesenin cemilan?”
“ehmmm gak usah deh”
“tapi ayah, ehmmm bisa bantuin Luna kerjain tugas Luna gak?”
Aku meminta bantuannya, ku dengar ayahku di sekolah dulu bisa di kategorikan ke dalam siswa yang cukup pintar.
“yaudah sini bawa tugasnya”
“YEAYYY!!!
Aku senang sekali rasanya. Ku berikan buku modul bahasa Indonesiaku pada ayahku. lalu ayahku mulai membuka halaman demi halaman dari modul yang tadi pagi Willy berikan padaku.
“ini di-“
Tok tok tok
Suara bunyi seseorang mengetuk pintu menghentikan ayahku yang baru saja akan menjelaskan tugasku itu.
“siapa yang ketuk pintu malem-malem gini ya?”
Kalau itu ternyata adalah wanita kenalan ayah lagi seperti di kantor tadi, rasanya aku bisa-bisa muntah, bosan dan enek. Tiba-tiba aku merasakan de javu kembali ke saat saat dimana aku masih berada di kantor ayahku. banyak sekali ku dengar suara ketukan pintu seperti itu.
“hhh…”
“sebentar ayah liat”
Ayahku berdiri dan berjalan ke arah pintu sementara aku hanya menunggu.
“Luna…”
“ya ayah… siap yan ketut pint-“
Tak kuselesaikan, saat ku lihat Rey yang rupanya orang yang mengetuk pintu rumahku malam-malam begini. meski sebenarnya ini belum larut dan waktu juga masih menunjukan pukul 8.03, tapi yang ku herankan bagaimana dia bisa masuk ke rumahku? Dari mana ia tahu? Apa jangan-jangan ayah….
“Rey? Ngapain di sini?”
“Rey tadi sempet tanya rumah kita dan minta izin buat main ke rumah ini… jadi ya ayah kasih alamat rumah kita sayang…”
Balas ayahku, aku hanya diam saja tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. ohhh bagaimana bisa??
“ayo sini duduk Rey, Luna lagi kerjain tugas bahasa Indonesianya tuh”
aku tak tahu apa yang sudah Rey lakukan pada ayahku sampai sampai ayahku bisa bersikap begitu baik padanya.
“ayah… ini udah malem, kenapa ayah biarin orang asing masuk sih”
“huss Luna, gak boleh gitu, itu temen kamu…”
Aku malah di marahi olehnya, kulihat wajah Rey tampak puas melihatku saat ini.
“ada apa?”
Tanyaku padanya. ketus.
“engga, Cuma mampir aja, kebetulan tadi deket sini jadi yaa… sekalian deh ke sini”
Aku mendelikan mataku padanya, tak sedikitpun aku bisa lagi percaya dengan ucapannya itu.
“sini mana biar aku bantu, kayanya aku masih inget-inget pelajaran kelas 10”
Tambahnya dengan mendekatkan dirinya padaku.
“nah kalo gitu Luna kamu mending belajar aja dulu sama Rey, soalnya ayah mau beli cemilan buat kalian di pizza hut depan okey”
“ayah- ayah! Tapi-“
Ayahku tak mendengarkanku, ia hanya terus saja berjalan menuju pintu dan sudah tak terlihat lagi sosoknya kini.
“hhh… ayah… kenapa pergi sih…”
….