“jadi, biasanya malem-malem kalian berdua kaya gini? Ayah kamu suka bantuin kamu kerjain PR?”
Tanyanya padaku dengan mata yang mengedarkan padangannya ke sekeliling rumahku.
“mending kamu pulang deh Rey! Aku gak suka liat kamu di rumah aku, dan jangan deketin ayah aku lagi!”
“ehmm… gak mau, aku masih pengen di sini berduaan sama kamu”
Ia duduk semakin dekat padaku. kenapa sikapnya jadi sangat berani begini.
“Luna… kamu- biasanya di rumah pake baju kaya gini? Aku pikir kamu anak polos ternyata…”
Aku langsung melihat pakaianku yang memang melam ini aku hanya mengenakan set lace ruffle Lolita camisole short sleepwear putih yang kubeli dari eBay bulan lalu. celananya memang tak tak sampai menutupi pahaku, dan jangan tanya soal betapa transparan dan tipisnya bahan itu.
Aku tak berpikir akan ada orang lain di rumahku, terutama dirinya jadi aku hanya memakai padakain seadaanya. tapi memang ada yang salah dengan bajuku ini, maksudku kota ini cukup panas, dan aku juga akan pergi tidur jadi … I think it’s fine.
“maksudnya?”
Tanyaku, dan ia kini lagi-lagi menurunkan pandangannya pada dadaku.
“itu… itu kamu keliatan menonjol Luna”
“apa?”
Aku tak mengerti apa yang di maksudnya dengan ‘itu’ sampai ku ikuti arah pandangnya pada dadaku.
“itu apa?”
Masih tak mengerti sampai kemudian Ia mengambil pulpen di meja dan menyentuhkan itu pada puncak payudaraku yang memang menonjol dari baju tipis putihku.
“liat warnanya aja sampe keliatan… merah”
Ucapnya sambil mengeluarkan seringainya padaku. aku benar-benar sangat takut padanya saat ini. ia terus memainkan puncakku dengan ballpointku itu, bergerak memutar dan kini menekannya.
“akhhh… Rey!”
“kenapa? geli ya?”
Ku tepis ballpoint itu dari dadaku.
“kenapa? udah keras gitu?”
“keras? Apanya yang keras?”
Tanyaku tak mengerti.
“ini Luna…”
Jari telunjuknya kini menggantikan ballpoint yang kutepis itu untuk menekan pucak payudaraku yang menurutnya mengeras itu. tapi jujur harus ku akui itu memang jadi lebih tegang dan payudaraku jadi lebih up dari biasanya.
Ia memainkan payudaraku, dan itu menciptakan sensasi aneh di sana.
“Rey…”
Kenapa rasanya sangat geli, aku tak pernah tahu rasanya akan jadi seperti ini saat tangan lain yang menyentuh bagian itu.
“kenapa? enak?”
“seharusnya kamu gak bikin aku jatoh di taman tadi sayang… padahalkan aku Cuma mau bikin kamu rasain enak kaya gini…”
Kulihat senyum mengembang tampak di wajah Reyno. Aku hanya bisa diam saja, entah apa itu nama rasanya, benarkah ada jenis rasa enak yang sangat aneh seperti ini? tapi aku juga tak ingin menghentikan aktifitasnya di sana.
“udah Rey…”
kataku dengan napas yang tertahan, Rey kini semakin mendekat padaku, semula jarinya saja yang memainkan payudaraku tapi kini tangannya juga jadi memijat bagian itu. Kasar, itu tak seperti pijatan ayahku yang terasa begitu lembut, bahkan biasanya aku langsung tertidur saat mendapatkan pijatan ayahku di sana seperti saat aku menstruasi belum lama ini. tapi sekarang dengan tangan Rey, alih-alih tertidur aku malah merasa kepanasan tak jelas.
“kenapa sayang… ehm? mendesah saja... aku suka desahan kamu”
Bisiknya di telingaku,
‘ini bikin aku gila, kenapa rasanya kaya gini??!!’
Aku tak bisa diam, hingga kaus tipisku itu sudah tak karuan, tanganku reflex menyibakannya karena sudah tak terasa nyaman ku pakai.
Rey tersenyum melihat perutku. Tangannya menyentuh perutku dan masuk ke balik kausku.
'Dia semakin menggila, Ayah aku harus Bagaimana?'
"......"
‘ahhh, ini gila, kenapa aku gak bisa ngomong ‘udah’ ke dia sih?? Malah terus aja ngebiarin dia kaya gini sama aku’
Anehnya kini aku malah mendongak ke atas dan memejamkan mataku, dan tak lama kurasakan Rey tengah menghisap leherku dan daun telingaku.
“enak ya?”
“ehmmm…”
Ia bertindak semakin jauh dengan tubuhku Dan rasanya otakku kini membeku, membiarkannya terus berlaku begitu padaku.
ku tatap dirinya yang menghentikan sejenak aktivitasnya.
"kenapa?"
Tanyaku sedikit kecewa,
Cup
Ia mengecupi bibirku
“tenang sayang, ini… di buka aja ya?"
Aku mengangguk dan tangannya sigap membuka bajuku. Aku sudah setengah telanjang saat ini. entah apa yang telah menghipnotisku sampai aku sangat menurut sekali padanya.
“ini… boleh aku bermain dengannya?"
Aku mengangguk pasrah padanya, ia langsung tersenyum dan menyentuh p******a kiriku, sementara yang kanan ia remas sampai membuatku mengelinjang.
Aku mendesah keras di buatnya. Ia meraih wajahku dan membungkam bibirku dengan bibirnya.
Ku rasakan tangan Rey kini mencoba masuk ke dalam celana pendekku. Ia meraba-raba area kewanitaanku.
dia bermain-main di sana, Aku gila rasanya ingim meledak.
Rasanya aneh sekali dan tiba-tiba aku ingin kencing di sini.
“ahhh Rey! Rey!! Udah!!! Aku harus ke kamar mandi bentar”
Aku langsung berdiri dan tak lupa ku bawa bajuku, lalu berlari cepat ke kamar mandi. Dan begitu sampai aku langsung mengeluarkan apa yang ingin ku keluarkan dan yang membuatku tak tahan sekali barusan. Anehnya….
“loh… kok air kencing aku gini? lengket…iuuuhhh… apa iniii???”
Ku bersihkan cairan aneh itu dari area kewanitaanku dan setelah selesai aku keluar, tak lupa ku pakai bajuku yang tadi sempat di lepas Rey.
Aku berjalan kembali ke ruang tengah.
“ayah, udah pulang?”
Kulihat ayahku sudah kembali dengan membawa sekotak pizza, aku kemudian langsung menghampirinya.
“Loh… Luna, kamu abis dari kamar mandi keringetan gini? Kenapa? ada masalah sama perncernaan kamu?”
“keringet?”
Aku bahkan tak sadar kalau aku sampai berkeringat, ah mungkin benar juga apa kata ayahku air kencingku jadi seperti itu karena gangguan pencernaanku.
“mungkin”
“uhukkk…”
Aku dan ayahku langsung memalingkan pandanganku pada Reyno yang seperti tengah menahan tawanya kini.
“kenapa? ada lucu?”
Tanyaku
“kayanya kamu harus banyak makan sayuran sama buah, yogurt juga bagus, besok aku traktir kamu deh, boleh kan om?”
Ucapnya sambil tersenyum-senyum dengan aneh sekali.
“ohh… tentu boleh, kamu bisa ajak Luna besok makan siang di sekolah”
Rey tersenyum sangat lebar sekali.
“nanti sekalian kita main lagi… Luna”
“main apa?”
Tanya ayahku penasaran, dan tentunya aku juga penasaran dengan kata ‘lagi’-nya itu.
“main jari om… batu kertas gunting”
Balasnya aku hanya diam mendengarnya tak mengerti,
‘kapan aku dengannya main batu kertas gunting. Yang ada dia mainin jarinya di p******a aku…’
“yaudah kalo gitu Rey pulang ya om, harus belajar juga buat besok… bye Luna”
Pamitnya.
“loh kok… mending makan dulu, om udah beliin pizza buat kamu sama Luna”
“engga deh om makasih, dah Luna sampe ketemu di sekolah”
Ucapnya.
“hhhh… orang aneh”
….
Author Pov
Rey berjalan keluar rumah Luna dengan wajahnya yang puas. Ia bahkan terkehkeh sepanjang jalan menuju club milik sahabatnya kini.
Sampai,
“hey Bro, sumbringah banget sih”
“sini sini…”
Rey kemudian memengusapkan jarinya ke hidung Aldy.
“Ishh… bau apa nih??”
“ahahahhh… tebak gue abis apa? GUE ABIS BIKIN SI LUNA o*****e hahahahahh….”
Rey mengucapkan itu dengan bangganya seperti telah memenangkan sesuatu.
“seriuss?? Gilaaa… loe ini bener-bener gilaaa…. Gimana bisa?”
“di rumahnya, bokapnya lagi pergi eh dia pake baju tipis bin sexy banget laah gue pengen dong… jadilah gue sentuh tuh Luna…”
“APAA??? Gak waras loe yaa…”
“dan loe tau, pas dia keluar dia bilanga apa?”
“apa apa?
“pengen pipis katanya hahahahhh… polos banget si tuh bocah…hahahhh”
Rey terdengar sangat puas sekali telah mengentuh Luna yang sangat polo situ.
“selera loe jadi abrusd kini sih, cantic sih cantik tapi jangan kaya bocah TK juga dong… hahahah pipis hahahhhh”
Aldy sama puasnya tertawa terbahak-bahak mendnegar cerita Rey
“gak papa mainan, anggap aja boneka hahahhh…”
“anak orang bro bisa di sikat loe nanti sama bokapnya yang super ganteng itu”
Ingat Aldy pada Rey.
“liat ya gue pasti tidurin si Luna…. itu balesan buat dia yang udah tolak perasaan gue"
" Ah! besok loe ada party kan? Gue pastiin bakal bawa dia ke party loe”
….