Baby, now and then
I think about me now and who I could have been
And then I picture all the perfect that we lived
'Til I cut the strings on your tiny violin, oh whoa
My mind's got a m-m-mind of its own right now
And it makes me hate me
I'll explode like a dynamite if I can't decide, baby
My head and my heart are torturing me, yeah
'Cause my mind, and your arms, I go to extremes, yeah
When angels tell me run, and monsters call it love, oh
My head and my heart are caught in-between, yeah
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
Tell me yes or no
Asking the heavens, "Should I stay or should I go?"
You held my hand when I had nothing left to hold
And now I'm on a roll, oh
Oh whoa
My mind's got a m-m-mind of its own right now
And it makes me hate me
I'll explode like a dynamite if I can't decide, baby
My head and my heart are torturing me, yeah
'Cause my mind, and your arms, I go to extremes, yeah
When angels tell me run, and monsters call it love, oh
My head and my heart are caught in-between, yeah
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la
La-la-la-la-la-la-la
I'm standin' at the crossroads
I cross my heart with X and O's
Which way leads to forever?
Whoa-oh-oh-oh-oh
God only knows
My head and my heart are torturing me, yeah
'Cause my mind, and your arms, I go to extremes, yeah
When angels tell me run, and monsters call it love, oh
My head (my head) and my heart (my heart)
Are caught in-between, yeah
La-la-la-la-la (oh)
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la (oh)
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la (La, la-la-la, la-la-la, la-la-la, oh)
La-la-la-la-la-la-la
La-la-la-la-la (oh yeah)
La-la-la-la-la-la-la-la
.....
‘Dear Diary…
Tadi Rey menyentuh tubuhku, aku tak tahu apa yang salah denganku sampai aku tak bisa menghentikannya. Padahal saat di sekolah tadi aku bisa langsung mendorongnya tapi tadi entah kenapa aku tak bisa melawan dan hanya terus diam saja membiarkannya menyentuh tubuhku ini.
Apa aku telah di lecehkannya?
Jika di lecehkan itu berarti seseorang menyentuh kita dengan tanpa izin kita, lalu timbul rasa marah dan diri kita merasa terhina, aku tak yakin sentuhan Rey tadi padaku entah bisa di kategorikan kedalam sebuah pelecehan… Aku tak tahu pastinya yang kurasakan saat ini, aku hanya merasa aneh saja dengan tubuhku ini… aku tak marah justru aku penasaran dengan sentuhannya, kenapa bisa menghasilkan sensasi yang seperti itu
Aku tak bisa mengatakan kalau dia sedang melecehkanku, karena otakku yang seperti hanya membiarkannya saja bahkan di buat sangat penasaran dengan rasa yang di berikan di setiap sentuhan Rey padaku.
Namun aku juga tak bisa mengatakan kalau aku ini telah mengizinkannya untuk menyentuh tubuhku …
Aku hanya… hanya tak tahu, hatiku berkata salah tapi tubuhku menolak untuk menghentikan itu, apa yang salah denganku…
Meski rasanya tak nyaman saat ia menyentuh area tubuhku yang selama ini hanya bisa di jamah oleh ayahku, tapi aku seolah enggan menghentikannya. Saat ia bertanya bagaimana rasanya, ‘enak?’ aku tak yakin itu termasuk ka dalam rasa enak seperti yang ku kenal selama ini…
Bu… jika dia berniat buruk padaku, aku harap ibu menjagaku darinya di atas sana… aku takut dengan rasa asing yang di berikannya padaku.
….
....
“hey… lagi apa sayang?”
Ayahku mengampiriku.
“diary…”
Balasku singkat dan langsung ku tutup buku diaryku itu.
“oh no, it’s a secret”
Kataku saat ayahku mencoba membuka buku diary berwarna hitamku itu, langsung ku taruh itu jauh-jauh dari jangkauan ayahku. aku pikir akan terlalu memalukan jika ayahku sampai membacanya.
“tadi gimana sama Rey?”
“hhhfttt…”
Kenapa ayahku harus membahasnya sih, aku sudah cukup kebingungan dengan rasa asing di tubuhku karena sentuhannya tadi itu. aku ingin berhenti pusing dan sangat ingin melupakan itu.
“ah! Ayah, Luna pinjem tangan ayah”
Aku harus melakukan tes pada tubuhku. aku ingin berhenti bingung dan menemukan kejelasan soal sensasi aneh di tubuhku.
Ayahku langsung memberikan tangannya padaku. lalu kuletakan tangannya itu di dadaku dan kubuat tangan ayahku itu menirukan apa yang di lakukan Rey padaku. meremasnya kuat-kuat.
“shhh… kenapa rasanya beda ya?”
Gumamku,
“kenapa sakit lagi? bukannya dateng bulan kamu udah selesai? Tapi kenapa masih sakit? ehm?”
Tanya ayahku yang jadi tampak sangat khawatir.
“ehmm… engga ayah, jadi sebenernya ada yang aneh aja sama d**a Luna, gimana jelasinnya ya? pokoknya aneh aja gitu…”
“hah? Maksudnya? Kamu jangan bikin ayah bingung Luna”
Aku tak tahu harus menjelaskannya bagaimana. dan jujur saja tangan ayahku tak sedikitpun membantu, seberapa keraspun pijatan tangannya pada dadaku, aku tak bereaksi seperti saat tangan Rey menyentuhku tadi. Aku jadi malah tambah bingung kini.
“kayanya kita periksa ke dokter aja deh? Ehm? ayah khawatir sama kamu sayang”
“Gak usah ayah, gak papa kok… kayanya normal deh, mungkin karena hor- horm- apa?”
“hormone sayang…”
“nah iya itu…”
“yaudah ayah ambilin air anget aja, siapa tahu itu juga karena aliran darah kamu yang bermasalah dan katanya air anget bisa bantu”
“ya ayah…”
Ayahku lalu turun untuk mengambilkan minum untukku. Dan sepertinya malam ini aku hanya akan berakhir dengan kebingunganku.
***
Aku datang pagi sekali hari ini, karena ayahku ada pertemuan penting dengan beberapa anggota kongres dari kedutaan berbagai negara, jadilah aku sampai di sekolah saat semua masih sepi.
“hey! pagi banget, gak sabar ketemu aku yaaa…”
Aku berhasil di kagetkan oleh si Rey yang datang entah dari mana.
“ahh… Rey! Berhenti muncul tiba-tiba gini, aku pikir kamu hantu sekolah tau gak”
Rey hanya mengabaikanku yang kesal karena di kagetkannya barusan itu dan ia malah menarikku berjalan ke belakang sekolah.
“Rey! Ngapain kita di sini?”
Tanyaku sedikit kaget. Tiba-tiba saja aku sudah di sudutkannya ke tembok.
“kenapa? apa? ada apa”
Tanyaku padanya, ia mengeluarkan seringai juga tatapan tajamnya padaku, aku sampai menatapnya ngeri kini.
“aku kangen kamu sayang…”
Ucapnya, dengan tangan yang sudah di letakannya di dadaku. Lagi. Aku langsung menahan napasku, tak tahu aku harus berbuat apa sekarang. Seperti de javu, kejadian semalam kini harus kembali terulang.
‘aku harus gimana?’
“ini bukan lagi pelecehan kan? Kamu udah izinin aku buat sentuh inikan? Aku bisa bikin kamu keenakan lagi kaya semalem… gimana mau?”
Belum sempat ku jawab, Rey sudah membuka kancing seragamku dan masuk ke dalam kemejaku untuk meremas dadaku.
“Rey! berhenti!! Rey!"
“apa sayang…”
Ia semakin berani tangannya kini masuk menyingkap rokku dan meremas pantatku.
“Rey… jangan… aa!!”
Mataku membulat, aku merasa tersengat, saat jarinya masuk ke dalam lubang di area kewanitaanku.
“AKH!”
Aku sampai memekik. Rasanya sakit sekali. Perih. Dan langsung saja kutarik tangannya keluar, lalu ku buang tangannya itu mejauh dari tubuhku.
“kamu ngapain sih? Sakit tau gak??”
“maaf… gak sengaja Luna… aku-”
“udah ah, aku mau kekelas…”
Kataku kemudian aku berjalan saja meninggalkannya.
“Luna Luna… kamu gak marahkan? Nanti siang kita jadi makan siang kan?”
Rey mengikutiku dan menghentikanku dengan menahan tanganku. Kutatapi saja dirinya, jujur aku kini mulai marah dan tak terima dengan apa yang telah di lakukannya padaku.
“males”
Singkatku dan langsung aku cepat-cepat pergi darinya.
Dan begitu jam makan siang tiba, Rey sudah nangkring saja di depan kelasku.
“Luna…”
Ia melambaikan tangannya padaku. aku sudah malas sekali melihat wajahnya itu.
“ayo makan siang”
“males, aku mau makan di kantin aja”
“hey hey hey… ayo dong, akukan juga udah minta izin sama ayah kamu…”
“hhh…”
“bentar aja kok…mau yah…”
Aku malas sekali mendengar rengekannya.
“Please”
kulihat beberapa orang kini tengah menontonnya yang sedang memohon padaku itu, hhh… dia ini paling hebat membuatku merasa tak nyaman.
“iya tapi bentar aja …”
Akhirnya harus ku iyakan saja ajakannya itu
“YEAYY!!!”
Rey langsung kegirangan, tanganya kini bahkan sampai di kepalkannya lalu di ayunkannya ke depan dadanya. ia bertingkah seperti telah memenangkan pertandingan saja, pikirku.
“Okey, let’s go”
Rey langsung menarik tanganku dan aku hanya menurut dengan mengekori saja langkahnya itu.
“Loh… kita makan di luar?”
Tanyaku saat sadar kini aku sudah di tariknya menuju ke parkiran sekolah.
“iya, kenapa? ayo masuk mobil”
“Rey!”
Aku melepaskan tangannya dan berhenti mengikuti langkahnya.
“apa?”
“kalo kita nanti kita kejebak macet dan aku jadi gak bisa masuk kelas seni gimana?”
Tanyaku. Jujur saja aku tak mau jika aku harus membolos kelas seni hari ini.
“seni itu mata pelajaran minor sayang… jadi udah ikut aja, aku jamin kamu bakal suka kok”
“tapi-“
“ayoo masuk aja”
Aku di paksa masuk dan kini sudah di dudukannya di dalam mobil Rey. ia bahkan sudah memasangkan sabuk pengaman untukku. aku merasa seperti telah di culik olehnya saat ini.
Reyno mulai menyetir, dan dalam beberapa menit saja mobilnya sudah melaju jauh dari lingkungan sekolah. Aku tak kenal jalanan ku yang ku lewati saat ini dan perasaanku juga tiba-tiba tak enak soal ini.
“Rey kita mau kemana?”
“ehmm… ketempat seru”
Balasnya.
Dan tak lama kemudian Rey sudah memarkirkan mobilnya di halaman gedung kafe, Rey turun lebih dulu dan membukakan pintu mobilnya untukku.
“ayo masuk”
Dengan ragu aku mengikuti langkahnya yang membawaku masuk ke dalam gedung kafe itu.
Dan setelah berada di dalam suasananya cukup gelap, minim pencahayaan dan kulihat ada banyak orang dewasa yang berlalu lalang dengan berjalan sempoyongan.
“Rey, pulang aja yuu… atau kita makan di KFC tadi aja”
“di sini lebih enak Luna sayang…”
“hai Rey!!”
Seorang wanita yang mengenakan dress ketat yang berhasil menampilkan S line tubuhnya itu, kini tengah berjalan mendekat ke arah Rey dan aku dengan senyum yang sangat lebarnya itu.
“hai mamy sunny…”
“hay sayang…”
Balasnya, dan kulihat kini mereka tengah berbagi kecupan dengan pipi kanan dan pipi kiri. Aku hanya berdiri dan diam saja. canggung juga sangat tak nyaman.
“siapa lagi ini Rey, kayannya yang ini paling beda, dan cantiknya ehehm pake banget… pinter kamu ya cari cewek”
“Rey gitu… hahahahh”
“ayo masuk, ruangan kamu udah mamy beresin”
“okey thankyou mamy…”
Setelah basa-basi singkat itu, Rey kemudian membawaku masuk ke sebuah ruangan. Meja di dalam berbentuk leter u dan ada layar besar di satu sisi dindingnya.
“Rey… katanya mau makan tapi kok malah ke tempat gini sih…”
“udah kamu duduk aja”
Balasnya sambil membawaku masuk dan duduk di dalam ruangan aneh itu.
“udah laper ya? Tunggu, aku pesenin kamu makan”
Rey langsung berdiri dan memanggil seorang pelayan, untuk memesana makanan untukku.
“tunggu ya, mereka gak akan lama kok”
Aku tak bisa duduk tenang, ini seperti bukan restoran, bahkan ku dengar suara keras seseorang tertawa sampai suara jeritan jeritan manja khas wanita. Telingaku juga mendengar suara music yang sedang mengalun keras.
‘sebenernya ini tempat apa sih?’
“ahhh… pulang yu, aku gak betah banget sama suasananya”
“Luna sayang… di sini justru enak, adem, remang-remang sexy gimanaaa gitu?”
Balasnya, huffttt… Aku malah tak suka, di sini terlalu gelap. aku lebih suka makan di restoran terbuka yang bisa membuat aku merasakan angin dan jadi bisa melihat pemandangan sekitar, bukan seperti ruangan ini yang buat aku pusing, karena suananyanya yang buat aku pengap dan terarasa kurang oksigen.
Aku duduk diam saja menunggu makananku datang, sampai kulihat Rey kini tengah menghisap sesuatu. Dan setelah itu ia mengeluarkan asap yang begitu banyak dari mulutnya, sampai seisi ruangan jadi pengap di penuhi asap.
“uhuk uhukk uhukk”
Aku sampai batuk-batuk di buatnya.
“Rey kamu isep apa sih kok sampe berasep semua gini, kamu ngerokok ya?”
“ahh bukan rokok sayang… ini vape, rasa vanilla, manis banget rasanya, mau coba?”
Aku mengggelengkan kepalaku, rasanya pasti aneh sampai bisa mengeluarkan asap begitu.
“manis sayang… coba deh isep sekali aja”
Ia menyodorkanku tabung yang katanya adalah vape itu. ku rapatkan bibirku, tapi Rey terus saja memaksaku untuk menghisap itu. sampai akhirnya mau tak mau, ku masukan itu ke dalam mulutku.
Ku hisap vape itu dan rasanya memang rasa vanilla. Tapi kemudian aku tersedak karena rasanya aneh di mulutku.
“uhukk uhukk uhukk”
Asap jadi keluar dari hidung dan mulutku bersamaan dengan batukku.
“hahahah… lucu banget sii kamu hahahah”
Rey tertawa puas melihat aku yang sedang tersedak kini.
“Rey! Ini gak enak…”
“yaudah yaudah…oh! Itu makanan kamu dateng”
Seorang pelayan kulihat datang dari balik pintu dengan membawa beberapa makanan di sana.
“ini makan siang kamu…”
Karena memang sudah lapar aku langsung mengambil garpuku dan mulai memakan spageti yang Rey berikan padaku itu.
“Luna liat aku”
Rey mengambil wajahku yang masih menyeruput spageti, dan tiba-tiba mulutnya meraih ujung spageti yang ujung lainnya sudah berada di mulutku. Ia menyeruput itu, sampai bibirnya sudah sampai di bibirku.
Ku gigit ujung spageti yang ada di dalam mulutku itu dan ku biarkan Rey memakannya.
“Rey, di piring aku masih ada banyak, kalo mau kamu bisa pake tangan sendiri”
“makan dari mulut kamu lebih enak sayang”
Balasnya, aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya lagi. Dan karena tadi Rey yang mengambil spageti dari mulutku, sausnya sampai mengotori di kemejaku. Kuambil tisu dan coba kuhapus noda saus itu.
‘tiba-tiba aku kangen ayah’
“Luna baju kamu kotor ya? ini kamu pake kemeja aku aja”
karena Rey yang memang selalu memakai kaus lengan pendek di balik kemeja sekolahnya, jadi bukan masalah baginya untuk memberikan kemejanya itu padaku.
“ini…”
Ucapnya sambil memberikan kemejanya itu padaku. Tapi sekarang aku yang malah ragu untuk memakai kemeja miliknya itu, sampai aku hanya diam saja menatapnya.
“ini ayo di ambil”
Rey memaksa dan kini tanganku sudah di buatnya menerima kemejanya itu.
“ayoo Luna di pake”
Aku menatap sekitar, aku mungkin harus berganti ke toilet. Sampai akhirnya aku bangun untuk berjalan keluar.
“mau kemana? Ganti? Udah di buka aja ini”
“apa? tapi-“
“gak usah malu Luna… aku udah liat kok kemaren malem”
Benar juga apa katanya, meski aku ragu tapi akhirnya aku membuka satu persatu kancing kemejaku dan mulai memakai kemeja Rey. dan begitu aku akan mulai akan mengjancingkan kemeja itu, Rey menahan tanganku.
“gini aja gimana, aku suka bra kamu hari ini… manis”
Ucapnya, dia ini makin aneh deh.
“hhh… nanti aku masuk angin Rey”
“aku bisa naikin suhunya… atau…”
Aku menatapnya penasaran, kemudian ia mendekat dan akan membisikan sesuatu di telingaku.
“aku bikin kamu panas aja gimana? Mau?”
Tangannya kini lagi-lagi mulai meraih dadaku.
“Rey!!! jangan lagi Rey!”
Rey memeras dadaku, aku berusaha untuk membuang tangannya itu dari dadaku.
“Rey… ituh…”
Lagi-lagi dia berlaku kasar payudaraku. Dan tak kusadari ia kini bahkan sudah melepaskan bra putih berendaku itu.
“Luna…enak kan?”
bibirnya tanpa izin memainkan dadaku
“Rey… Lepassss!!"
Ia tak mau berhenti dan aku malah sudah di baringkannya kini, ia menyibakkan rokku dan memainkan jarinya di area sensitive ku.
“Rey itu... jangan!!!”
“enak?”
Aku diam saja. dan sialnya, lagi-lagi aku di buat tak bisa berkutik olehnya.
Drttt
Drrttt
Drtttt
suara getar handphoneku terdengar, aku langsung meraih itu. kulihat ayahku yang melakukan panggilan itu
“haloo ayah… hhh…”
“Luna, kamu kenapa?”
Tanya ayahku, belum sempat kujawab Reyno tiba-tiba merebut handphoneku dan mematikan itu.
“Rey!”
….