#1 Ketika Ayah Pergi

1758 Kata
“ayo balik, kayanya ayah kamu mau jemput kamu di sekolah” Tangan Reyno dengan cepat memakaikan pakaianku yang tadi di bukanya, mulai dari braku sampai ke kemejaku yang kini tengah di kancingkannya. Selesai, kemudian ia bangun dari duduknya. “ayo” Tangannya menarik tanganku dan membawaku barjalan cepat meningalkan gedung restoran aneh itu lalu di masukannya aku ke dalam mobilnya. Tak lupa ia juga memasangkan sabuk pengamannya untukku. Rey langsung menancap gas dan mengemudikan mobil dengan sangat cepat. Tak butuh waktu lama untuk aku dengannya sampai. Rey selesai memarikir mobilnya di parkiran sekolah. Rey turun lebih dulu lalu ia membukakan pintu mobilnya untukku. “Mau balik kelas?” “ehm-“ “Luna, Rey” Belum sempat ku jawab ada suara yang sangat aku kenal memanggil namaku dan Rey. “ayah…” Aku jelas tahu itu adalah suara ayahku. Aku langsung berbalik dan rasanya bahagia tak terkira saat mataku menemukan wajahnya yang sangat terang dan cerah, berbeda dengan perasaan yang kudapat saat berada di tempat suram tadi. Saking bahagianya aku langsung berlari padanya dan memeluknya. “ayah…” “hey… kamu kok ada di parkiran sayang” “tadi pelajaran minor Om, jadi aku ajak Luna makan siang di luar” “ehmm? jadi kalian bisa skip kelas, gitu?” Tanya ayahku heran pada Rey yang mewakiliku menjawab pertanyaan ayahku itu. “bisa om, pelajaran seni di sekolah ini gak begitu di focusin, karena akhirnya yang di lihat nanti cuma pelajaran mayor seperti bahasa dan IPA, Math, yang seperit itu om” Ayahku hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, meski aku tahu wajahnya kini menunjukan eskpresi ketidaksetujuannya. “tapi lain kali kamu gak boleh bolos lagi ya sayang” Ayahku hanya berpesan begitu, ia tak terlihat begitu marah padaku yang baru saja di ajak bolos kelas oleh Rey. Dalam hati, aku merasa ayahku ini terlalu mempercayai Rey, padahal sebenarnya di banding pelajaran mayor aku lebih menyukai seni dan olah raga. Hhffttt… “kamu abis makan apa sayang… ini? noda apa ini?” “ahh… biasa… ayah tau sendiri kan kalo Luna makan spageti suka belepotan gini” Tapi sebenarnya aku bisa tak sampai belepotan seperti ini jika bukan karena Rey yang dengan tidak sopannya mengambil ujung spageti yang sedang kumakan. “kamu ini… sebentar ayah ambil sweter kamu di dalem mobil” Ayahku lalu mengambil sweterku yang tadi pagi ku tinggalkan di mobil lalu memakaikan itu padaku. “Rey, makasih ya udah ajak Luna makan siang” Ayahku menyempatkan diri untuk mengucapkan terimakasihnya pada Rey yang sudah membawaku makan siang hari ini. “tapi kenapa ayah ke sini?” Heranku. “sebenernya ayah mau ajak kamu keluar sayang” “keluar?” Tanyaku sambil menatap ayahku penuh tanya. “ehm nanti ayah jelasin di mobil, sekarang ayo ketemu guru kamu di kelas terus kita minta izin buat kamu pulang lebih awal” Ucapnya. aku menurut saja padanya. *** @Rumah Ayahku ternyata menjemputku ke sekolah karena ia tiba-tiba ada pertemuan penting di Jakarta. “sayang… kamu ikut ayah aja gimana?” Tanya ayahku untuk yang kesekian kalinya padaku. dan jawabanku akan masih tetap sama. “engga ayah, besok kan Luna harus sekolah…” Ini adalah yang pertama kalinya aku akan di tinggal pergi oleh ayahku. biasanya aku selalu ikut dan tak pernah absen untuk menemaninya kemanapun ia pergi. “tapi sayang izin gak masuk satu hari gak papa? Ayah gak mau tinggalin kamu sendiri kalo ada apa-apa gimana?” “hhh… kayanya besok seharian gak akan tiba-tiba ada tsunami atau serangan zombie ayah… gak papa Luna kan juga bisa di anter jemput supir ayah” Ayahku menatapku dengan sorot mata khawatirnya, aku tahu ini pasti berat untuknya. “ahh… kalo ayah bisa punya kantung kaya kangguru udah ayah kantongin kamu buat ayah bawa kemana-mana sayang” Ucapnya sambil memelukku erat. “ayah ini katanya Luna harus tumbuh jadi wanita dewasa, kalo Luna nempel ayah terus kapan dewasanya” Balasku. “aahhh… sebenernya ayah gak siap buat itu sayang, ayah gak rela kamu jadi dewasa, bayangin kamu nanti kuliah, kerja terus nikah… rasanya ayah pengen balikin kamu jadi bayi kecil ayah aja” Ucapnya, “aaaahhh!!” Tubuhku di angkatnya dan tengah di ayun-ayunkannya dalam erat peluknya. Wajahku disejajarkanya dengan wajah ayahku yang sangat tampan itu, ujung hidungku di adu-adukannya dengan ujung hidungnya. “Luna ini akan selalu jadi bayi kecil ayah kok” Balasku padanya. Cup Cup Cup Ayahku mengecupi banyak bibirku “bayi kecil ayah” “ayo, Luna bantu ayah packing” Ayahku lalu menurunkan tubuhku, wajahnya jadi terlihat lemas lagi sadar ia harus segera meninggalkanku. Ini sudah pukul 3 sore sementara penerbangan ayahku kira-kira pukul 7 malam nanti. “ahh… ayah gak mau tinggalin kamu sayang” Ucapnya, “ayah cuma pergi sehari besok aja, masih satu negara juga… jadi take it calm” “okey… calm Luna Putri Prihardjo bakal baik-baik aja” Ucapnya sambil terus saja merangkulku untuk tak menjauh darinya dan mulai berjalan menuju kamarnya. Aku langsung membuka lemari ayahku dan memilih dua setel pakaian untuknya, itu pertemuan resmi jadi aku pikir aku harus mempersiapkannya dengan baik. “sayang, kamu nanti ke sekolah dianter-jemput sama Om Edy asisten ayah, kebetulan dia gak akan ikut, jadi mungkin ayah bakal titip kamu ke dia, orangnya baik kok, nanti dia ke sini buat nyapa kamu” Drttt Drttt Drtt “oh, Hallo Ed? Oh udah depan? masuk aja ke dalem…” Ucap ayahku di telpon, itu pasti Om Edy yang ayah bicarakan itu. Ayahku langsung berjalan ke luar kamar karena terdengar suara ketukan seseorang di pintu depan. Sementara aku masih harus menata semua barang yang harus ayah bawa di kopernya, “charger, power bank, sepatu, sandal, obat… kayanya udah semua deh…” Setelah kupastikan semua masuk ke dalam koper, akhirnya aku menutup resletingnya dan berjalan ke luar kamar, kulihat ayahku sedang mengobrol bersama seorang pria yang tampaknya sebaya dengan ayahku. “Luna… ini Om Edy… Ed, ini anakku Luna” Ayahku memperkenalkanku padanya. “hallo om, Luna…” Kenalku, lalu aku bersalaman dengannya. “cantik ya… kelas berapa Luna?” “1 SMA om” Om Edy hanya mengangguk sambil tersenyum ramah padaku, kemudian tangannya mengulurkan sebuah bingkisan yang semula disembunyikannya di belakang tubuhnya padaku. “ini… kata ayah kamu kamu suka coklat, ini om beliin buat kamu” “waaahh… Om Edy baik banget, gak kaya ayah… pelit banget kalo Luna minta beliin coklat” Kuterima bingkisan yang ternyata berisi coklat itu dengan senang hati. “pelit? Ayah bukannya mau pelit sama kamu sayang… ayah cuma gak mau kamu jadi jerawatan gara-gara makan coklat …” Ayahku membela dirinya yang tak terima baru saja ku bilang pelit itu. “loh tapi kayanya kulitnya cantic sama mulus gitu…” “itu biasa Ed, anak cewe kalo dateng bulan tuh ada aja masalahnya, nah si Luna suka tiba-tiba muncul jerawat gitu, rewel deh nantinya…” “ih ayah mah nyebelin…” “sesekali gak akan masalah kok makan coklat” “tuh Yah, dengerin… ayah tuh ya Om, tau coklat bisa bikin Luna jerawatan, udah deh… Luna jadi gak pernah di beliin coklat lagi …” Aku jadi mengadu kepada Om Edy “yaudah nanti Om deh yang beliin” “yeayyy!!!” Aku langsung melakukan tos dengan Om Edy, rasanya senang sekali ada yang mendukungku. “halahhh… kalian ini seneng banget kayanya bikin aku terpojokan kaya gini…” Ucap ayahku. Setelah bincang-bincang itu, tak terasa sudah pukul 6 sore saja, ayahku harus segera pergi sekarang. “sayang… ikut aja yu” Ucap ayahku yang sejak satu jam tadi terus saja membuatku menempel padanya. “ayah…” “masih ada waktu kok buat kamu packing sayang atau gak usah packing juga gak papa” Ucapnya. “Ya ampun, udah Luna aku yang jagain… kamu pergi aja sehari ini bukan setahun” Om Edy pasti geram pada sikap ayahku yang terlalu over padaku. “ehm… Luna pasti baik-baik aja, ada Om Edy juga yang jagain” “ayah pergi sayang… baik-baik ya di rumah, kunci rumah, kalo ada yang ketuk gak usah di buka, langsung hubungi security aja nomornya ada di sana” “hufttt…. Iya ayah, ayah bawel ih…” “sshh… peluk sekali lagi” Aku memberikan pelukan yang di mintanya itu. “kabarin Luna kalo udah sampe…” Ayaku tak lupa memberiku kecupan sebelum ia akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Tanganku masih di genggamnya yang ia julurkan dari jendela mobil. “daah ayah…” “dahh sayang…” Tanganku perlahan terlepas dari genggamannya bersamaan dengan melajunya mobil ayahku yang sudah mulai pergi menjauh dari tempatku berdiri. Ayahku pergi di antar ke bandara oleh Om Edy, rumah jadi terasa sangat sepi sekali kini. Hari pertama sampai di rumah ini, ayahku memang menyewa jasa pembantu rumah tangga untuk membantu merapihkan rumah. Tapi rupanya ayahku tak berniat memperkerjakan pembantu itu untuk seterusnya, ayahku memutuskan tak menggunakan jasa pembantu rumah tangga, karena terbiasa hidup hanya berdua. Untuk urusan kebersihan rumah ayahku menyewa jasa cleaning home dari jasa yang di tawarkan sebuah perusahaan. Tapi tadi sebelum pergi, ayahku menyesali keputusannya itu, tak terpikir olehnya kalau ia akan meninggalkanku sendiri di rumah seperti malam ini. Kini aku tengah duduk sendiri di kamarku, sudah siap dengan pulpen di tanganku untuk menulis diary yang meruapakan night routineku. Drrttt Drtttt Drttt Handphoneku bergetar, meski malas tapi langsung mengambilnya. Tapi tak mungkin itu panggilan masuk dari ayah, karena ia mungkin sudah dalam pesawatnya. Kulihat itu nomor tak di kenal, “siapa ini… kayanya aku gak pernah kasih nomor ke siapapun deh kecuali Willy, itupun karena dia ketua kelas, tapi nomornya bukannya yang ini… shhh…” Meski ragu dan takut akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan itu. “hallo?” “Rey? Dari mana kamu dapet nomor aku?” Tanyaku ternyata itu Rey yang menelpon. “apa? di depan rumah?” Tak cukup dengan hanya mengejutkanku dengan menelponku tiba-tiba, rupanya ia juga sudah di depan rumahku. aku langsung berjalan ke arah jendela untuk memastikannya. Dan ku lihat ia memang sudah berdiri di samping mobil merahnya di bawah. “hhh… iya bentar aku turun” Ku tutup sambungan telponnya dan turun untuk membukakan pintu rumahku untuknya. “ayah kamu pergi ya? Kamu sendiri di rumah?” “kok tau?” Tanyaku “taulah, kalo gitu kita main malem ini gimana?” “main???” …..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN