#2 Luna dan Billy

2217 Kata
“Luna ayo...” “bentar Bill, aku beresin buku-buku aku dulu” Billy yang sudah tak sabar untuk membawa pacar barunya itu ke rumahnya sampai kini ia memilih untuk membantu Luna memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya agar bisa segera cepat pergi meninggalkan kelas. “nah udah, ayo” Billy langsung menarik tangan Luna dengan sangat riangnya berjalan cepat ke luar kelas. “Billy, kamu kebelet pipis ya? jalan kamu kok cepet banget” “hehehe, kebelet pengen cepet-cepet berduaan sama kamu tau” Luna sampai terkehkeh mendengar ucapan Billy itu. “emang mau apa berduaan sama aku?” Tanya Luna penasaran, “ehmmm... kamu maunya ngapain?” Billy malah bertanya balik begitu pada Luna sambil tersenyum simpul penuh arti kelihatannya. “aku... aku pengen makan yang manis-manis” Mendengar itu Billy tersenyum dan mendekatkan dirinya pada Luna, ia ingin membisikan sesuatu padanya. “semanis stroberi? ehm?” Luna bergidik mendengar bisikan Billy itu. “mungkin, kamu kenapa bisik-bisik gini sih ngomongnya, ayo buruan ah kita pulang” “hahahhahh... udah gak sabar ya? ehm? ehm?” Luna hanya menaikan kedua alisnya saja tak mengerti dengan maksud Billy itu. “hhhfffttt kamu makin hari makin aneh deh Bill ckckkk” Luna hanya bergumam begitu saja pada pacarnya itu. Singkat cerita keduanya kini sudah memasuki salah satu kawasan perumahan elit di Surabaya. Dan sampailah sudah motor merah yang Luna dan Billy tumpangi itu di halaman depan rumah Billy yang cukup besar dan terlihat asri dengan gaya moder minimalisnya. Luna langsung turun begitu motor Billy berhenti tepat di depan teras rumahnya yang tampak sepi sekali sore ini. “di rumah gak ada siapa-siapa, ayah selalu pulang malem jadi kamu gak usah canggung, kita bebas main di dalem” Ucap Billy dan Luna mengangguk saja sebagai jawabnya, “yaudah yu masuk” Billy menuntun kekasihnya itu masuk ke dalam rumahnya. Dan dengan tak banyak bertanya, Luna kini hanya mengekori langkah Billy yang tengah membawanya menaiki anak tangga rumahnya yang cukup luas itu menuju lantai dua, sampai kemudian keduanya sudah memasuki kamar Billy saat ini. Luna terlihat canggung sekali, untuk pertama kalinya ia di bawa masuk ke dalam kamar laki-laki. Suasana sampai aroma khas Billy tercium kental oleh hidung Luna di dalam ruangan tempat biasa Billy tidur dan beristirahat itu. “Luna duduk sini” Billy meminta Luna untuk duduk di atas ranjang tempat tidurnya. Dan Luna menurut saja pada kekasihnya itu. Luna juga mengambil satu bantal yang ada di dekatnya setelah ia mendudukan diri di atas tempat tidur Billy, untuk di letakannya di atas kedua pahanya, guna untuk menutupi roknya yang sedikit terangkat karena ia memang duduk dengan bersila di depan Billy. “ehmm ini pertama kalinya ada cewek yang duduk di atas tempat tidur aku” Ucap Billy sambil tersenyum malu-malu, dan Luna pun terlihat begitu, tengah sama malunya dengan laki-laki di depannya itu. “aku juga, baru pertama kalinya masuk kamar cowok...” Luna sepertinya hanyut dalam suasana keintimannya berdua bersama Billy, ia sampai tersipu dengan rona merah yang kini jelas terlihat di pipi wajah putih mulusnya itu. Ia sudah lupa kalau tadi siang ia masih meragukan perasaannya pada Billy, tapi entah bagaimana hatinya itu jadi berubah di penuhi perasaan yang amat menggebu pada Billy yang terlihat begitu tampan di matanya sekarang ini. “Luna... ehmm... soal carian aktifitas s****l yang tadi di bahas di kelas, kamu masih penasaran sama itu?” Tanya Billy tiba-tiba, dan Luna mengangguk dengan rasa penasarannya yang berhasil Billy bangkitkan baru saja. “ehmmm... kamu udah pernah main sendiri terus keluar?” “maksudnya? main sendiri? keluar? apa sih Bill aku gak ngerti?” Billy terlihat menatap Luna dengan penuh tanya saat ini, ‘kalo Luna gak tau s*x atau oral itu bisa keluar cairan, terus kenapa dia punya pengaman ya? padahalkan kondom itu di pake buat nampung s****a biar gak sampe masuk ke dalem rahim cewek, ahhh kenapa jadi pusing gini sih...’ Gumam Billy, ia jadi kebingungan dan memikirkan ulang soal kenapa Luna sampai memiliki kondom yang tak sengaja terlempar di sekolah tadi. “Luna... ini punya kamu?” Billy memilih untuk menunjukan kondom yang di dapatnya dari Willy tadi dan bertanya dengan terus terang pada Luna. “oh?? kenapa ini bisa ada sama kamu???” Luna kaget bukan main saat melihat benda yang di carinya seharian tadi kini malah berada di tangan pacarnya itu. Luna ingin mengambil kondom itu dari tangan Billy, namun Billy dengan cepatnya menyembunyikan kondom berwarna pink itu di belakang tubuhnya. “jawab aku dulu, kamu bawa ini buat apa? apa kamu mau pake ini?” “hhh... bukan gitu Billy, itu punya orang” “maksudnya?” “jadi gini...” Dengan terpaksa akhirnya Luna jadi menceritakan kejadiannya bersama Dewa sampai dirinya yang di marahi oleh ayahnya karena mamainkan kondom itu bersama Fey. “.... gitu ceritanya” Tutup Luna setelah panjanganya ia bercerita pada Billy. “hahahahhh.... hahahhh Luna Lunaa... aku kira hahahahh... aku kira kamu tuh mau apa bawa kondom ke sekolah” Billy tak sedikitpun marah, yang ada ia malah tertawa dengan puasnya mendengar cerita konyol kekasihnya itu. Billy bahkan tak ingin marah pada Dewa yang sudah memberikan napas buatan pada Luna, karena niat Luna ke sana adalah untuk menghilangkan kekesalannya pada dirinya yang tak kunjung menyatakan cintanya pada Luna. Billy cukup sadar kalau dirinyalah penyebab kejadian konyol yang menimpa Luna itu. “Billy... ish nyesel deh aku cerita sama kamu....” “hahahahh... abisnya ada-ada aja sih, hahahha... yaudah besok aku aja yang balikin ini sama si Pak Dewa” “kalo gitu udahan ketawanyaaa, kalo gak berhenti juga aku pergi nih” Ancam Luna pada Billy yang terus saja tak berhenti tertawa. Dan karena kesal, Luna sampai ingin turun dan menjauh dari Billy, namun cepat Billy menahannya dengan menarik tubuh Luna untuk tetap berada di atas ranjang tempat tidurnya itu. “iya iya iyaaa, aku berhenti deeeh” “itu masih senyum-senyum...” Billy sampai menghembuskan napasnya panjang agar ia bisa berhenti menertawakan Luna yang menurutnya terlalu lucu dan menggemaskan untuk tak di tertawakannya, “huuuhhhh.... udah, aku gak akan ketawa lagi jadi kamu gak usah pergi” Tak sadar kini Luna jadi di peluki oleh Billy yang sedang duduk di belakangnya. Padahal niat awal Billy, ia hanya ingin menahan Luna dengan melingkarkan tangannya di tubuh Luna agar ia tak pergi tadi, tapi sekarang ia malah ketagihan dan enggan melepaskan Luna dari dekapannya. “Billy...” “ehmm? apa Luna... sayang” Dan panggilan sayang di ujung kalimat Billy itu membuat Luna jadi kegelian. Untuk pertama kalinya ada yang memanggilnya begitu selain ayahnya selama ini, Luna sampai mengelinjang karena ulah Billy barusan itu. “Billy, aku geli kamu panggil aku sayang gitu...” Jujur Luna sambil memiringkan tubuhnya agar bisa sedikit memberikan jarak dari wajah Billy yag begitu merapat padanya, “kenapa? aku kan pacar kamu dan aku sayang kamu... jadi gak papa dong aku panggil sayang” “ya... gak masalah sih... cumaa ahhh....” Billy jahil mendekatkan wajahnya pada Luna yang semakin miring saja ke samping, sampai kini ia jadi barbaring menyamping dengan tangan Billy yang masih melingkar erat di tubuhnya. Billy yang jelas ikut terbaring juga, saat ini ia jadi bisa dengan jelas memandangi wajah kekasihnya yang berada di bawah tubuhnya itu. “Luna... kamu canti banget” Puji Billy saat ia tatapi wajah Luna itu dari dekat dengan lekat, Billy benar-benar sudah sangat terpesona akan kecantikan kekasihnya itu. “kamu gombal deh... bangun, kamu berat tau gak” “gak mau... nyaman banget pelukin kamu gini” “Billy, badan kamu itu lebih gede dari aku...” Luna berontak tapi memasang senyum ceria di wajahnya. karena sesungguhnya ia pun merasa nyaman di peluki Billy seperti itu, hanya saja ia terlalu malu sekarang ini. Bagaimana bisa di kencan pertamanya ia sudah main peluk-pelukan begitu bersama Billy, begitu pikir Luna. “ehmm... gantinya aku kasih tau soal cairan s****l itu deh, kamu pasti belum tau dan mau tau banget kan? jadi jangan lepasin pelukan aku nanti aku kasih tau okey” Billy memanfaatkan rasa penasaran Luna agar ia bisa terus memeluki tubuhnya, “bener loh ya??” “iyaa sayang...” “cih dasar, kamu cari kesempatan dalam kesempitan banget sih Bill” “biarin sama pacar sendiri ini hehehe” Balasnya sambil memeluki erat tubuh Luna yang berada di bawahnya itu. “Billy udah dong, sekarang jelasin gimana cairan s****l itu bisa sampe ada? terus kenapa itu bisa nularin penyakit? jangan-jangan aktifitas s****l sama cairannya itu bahaya ya sampe si Agnes aja bisa kena penyakit gitu?” “hahahh... kata siapa bahaya Luna, kalo sexnya s*x bebas ya mungkin emang bisa bahaya tapi yang namanya s*x itu yaa... efeknya bikin ngefly dan bahagia tau” Ucap Billy sambil tersenyum dan menatap nakal pada Luna “ehm? ngefly? tapi bukannya kalo kita s*x itu bisa bikin kita kena pasal asusila ya?” Billy langsung saja tertawa kembali karena mendengar pertanyaan Luna yang menurutnya sangat polos itu, “hahahhh... Luna kamu pasti di cekokin banyak hal soal aturan sama bahayanya s*x itu sama ayah kamu ya? padahal aku, kamu dan semua orang itu adalah produk hasil dari s*x itu sendiri” “maksudnya? ah! soal s*x yang bikin hamil dan bikin kita punya anak itu ya? kalo gitu kenapa malah jadi bisa kena hukum sih Bill?” Sebelum menjawab pertanyaan Luna itu, Billy membalikan posisinya lebih dulu sampai membuat Luna jadi berada di atas tubuhnya. Ia takut kalau tubuh Luna yang kecil sampai terjepit dan engap karena di tindihi tubuhnya itu. “ehmm... karena ada banyak orang yang melakukan s*x itu buat taking pleasure aja, atau kaya yang aku bilang tadi soal s*x yang bisa bikin ngefly, itu bikin beberapa bahkan banyak orang yang cuma pengen dapet sensasi ngefly itu aja tanpa adanya cinta, komitmen sama tanggung jawab dalam melakukan s*x itu... makanya ada hukum dan aturan soal s*x biar gak ada korban dari para penikmat s*x yang gak bertanggungjawab itu” Luna mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Billy itu, dan tiba-tiba ia jadi teringat pada laki-laki b******k yang juga hampir saja menjadikannya korban pelecehan s****l kemarin. “kaya si Rey, aku hampir aja di sakitin sama dia” Billy langsung membangunkan tubuhnya, dan membuat posisi Luna kini jadi duduk dalam pangkuannya, kemudian di tatapnya Luna dengan sangat serius saat ini. “Luna... kamu... aku peluk kaya gini, gak ngerasa lagi aku lecehin kan? aku- aku... aku sama sekali gak ada niatan buat sakitin kam-“ Cup Luna tiba-tiba saja mendaratkan kecupan singkatnya pada bibir Billy yang tengah mencoba untuk menjelaskan soal apa yang ingin di lakukannya pada Luna. “aku tau kok, aku bisa tau kalo kamu itu suka dan sayang sama aku... dan emang biasanya orang yang lagi sayang sama orang itu sukanya pelukin, ciumin, pengen terus bareng, iya kan??” Billy tersenyum dan kembali memeluki Luna dengan eratnya. “Lunaaa... aku sayaaaaang banget sama kamu” “Billy... maafin aku, jujur aja sebelumnya aku sempet ragu sama perasaan aku buat kamu, tapi sekarang setelah tau kalo kamu itu sayang banget sama aku, aku pikir.... terima kamu jadi pacar aku, itu adalah keputusan yang emang harus aku ambil sedari lama” Ungkap Luna pada Billy. Dan kemudian Billy melepaskan pelukannya sejenak untuk menatap kekasihnya itu. “... seharusnya aku juga nembak kamu sedari lama Luna... maaf udah bikin kamu nunggu kemarin-kemarin” Luna hanya tersenyum pada Billy, dan kini keduanya jadi saling menatap, intim dalam sorot mata yang menunjukan perasaan cinta yang tengah sama-sama bersemi dan mulai tumbuh memenuhi isi hati. “Luna... boleh.... aku cium kamu?” Billy bertanya dengan nadanya yang ragu, namun dengan keinginan dalam hati yang amat memburu, ingin segera mencium kekasihnya itu. Luna lalu membalas permintaan Billy itu dengan mengangguk sambil tersenyum cantic sekali pada Billy, ia mempersilahkan kekasihnya itu untuk menciumnya saat ini. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya ini, Billy lalu mulai meraih wajah Luna dengan lembut dan hati-hati, ia kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada Luna yang mulai memejamkan matanya saat ini. Billy tersenyum melihat Luna yang sepertinya sudah siap menyambut ciumannya itu. Dan tanpa babibu lagi, ia langsung mendaratkan bibirnya pada bibir lembut Luna. Billy menghisap dan melumat bibir yang kini sedang balas menyesap bibir Billy dengan pelan dan amat lembut. Keduanya berpagutan dengan perasaan suka dan cinta di hati mereka. “ah” Luna mengeluarkan desahannya saat Billy menyentuhkan tangannya pada area pinggang Luna yang cukup sensitive terhadap sentuhan dan rangsangan. Billy tersenyum mendengar suara Luna yang amat menggoda itu. ia kemudian menarik tenguk Luna dan membuat lidahnya masuk dan menyapa rongga Luna. lidahnya bermain dan bergelut bersama milik kekasihnya itu. “hhh... Billy...hhhh” Luna menjauhkan sedikit wajahnya, ia terlihat kehabisan napasnya saat ini. “kenapa hhh... kamu gak papa kan?” Tanya Billy sambil mengusap sisa saliva yang ada di pinggiran bibir Luna. “aku engap” Billy tersenyum mendengar jawaban Luna itu, “maaf aku terlalu exited sampe gak ambil jeda” Luna tersenyum dan mendekatkan bibirnya kembali pada Billy, “tapi aku suka... bibir kamu manis Billy...” Ucap Luna sambil kembali menyesap bibir kekasihnya itu, ia pikir ia mulai sangat menyukai aktifitas ciumannya bersama Billy sekarang. Lama keduanya berpagutan, menikmati aktifitas yang terasa mulai jadi candu dan cukup memabukan. sampai akhirnya Billy melepaskan tautan bibirnya itu. “hh... Luna, kamu mau tau cara biar keluar cairan s****l gak?” Tanya Billy tiba-tiba “ehm? gimana???” ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN