Archy menggosok-gosok p****t panci dengan bibir maju kurang lebih enam centi. Mirip dengan tamusu sapi di rumah makan padang. Ia mendengar percakapan antara Tuan Camelyo dan Lilis dari dalam kamar. Kenapa mereka berbincang keras sekali? Apakah mereka memiliki DNA toa masjid? "... kan kamu harus urus kantor, gak usahlah datang jenguk pagi-pagi begini. Udah punya asisten rumahtangga juga aku, Archy bisa urus semuanya." Nada bicara Tuan Camelyo terlihat kesal. "Tapi kan aku calon istrimu. Masa gak boleh sih aku jenguk?! Kamu kok gak nerima diperhatiin sama aku?" Lilis terdengar menyanggah. "Iya tahu. Tapi kamu ini sekertaris, aku bilang sakit itu bukan berarti kamu datang ke sini, melainkan kamu urus semua kerjaan aku. Lagian ini masuk angin doang Lis, bukan tukak lambung!" omel Tu

