"Ayo dong, Buk. Tinggal bareng kita di Kajen. Kasian Rayisa kalau Fahri tinggal kerja kesepian." Rayuan Mas Fahri terdengar saat aku tengah berkemas untuk pulang. Entah kenapa suamiku ingin sekali memboyong Ibu ke rumahnya. "In shaa Allah, nanti kalau semua pekerjaan Ibuk di sini selesai. Ibuk maen ke sana. Makanya, kalian tuh usaha sama doanya lebih kenceng. Biar cepet dikasih momongan, biar Rayisa enggak sendirian kalau kamu kerja." Jawaban Ibu membuatku tersedak nafas sendiri. "In shaa Allah, doain aja ya, Buk." Jawab Mas Fahri. "Ayo, Mas. Aku udah siap." Ajakku begitu keluar kamar. "Ibu beneran enggak mau ikut?" Tanyaku setelah mencium tangan Ibu. "Enggak sayang. Ibuk masih harus bantuin Budhemu, masih banyak pekerjaan dia." Jawab Ibu sambil membelai kepalaku. "Iya, Buk.

