Sekarang, tahun 2009
Felicia mengucek mata sambil membukakan pintu untuk Shia ketika dia sudah menggedor beberapa kali secara barbar. Hari Sabtu seperti sekarang, Tante Diana masih bekerja setengah hari di kantor, jadi beliau baru ada di rumah setelah jam 2 siang. Begitu menatap wajah sendu Shia, Felicia langsung tahu jika sesuatu sedang terjadi padanya. Felicia langsung mempersilakan Shia masuk, dan mereka langsung berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Air mata Shia tak terbendung lagi ketika mereka tiba di kamar dan Felicia telah menutup pintunya. Felicia yang kebingungan, hampir saja menelepon mamanya untuk mengabarkan kejadian ini, tetapi dia urungkan. Terkadang orang-orang dewasa tidak cukup paham untuk memahami problematika anak remaja perempuan, jadi ia memutuskan untuk tidak melibatkan siapa-siapa di sini. Felicia hanya bisa menunggu dengan sabar sampai tangisan Shia mereda, lalu menawarkan pelukan.
“Sori ya,” ucap Shia di sela-sela isak tangisnya. “Tiba-tiba maksa dateng cuma buat nangis doang.”
“Nggak apa-apa, kok. Santai aja, anggap kayak rumah sendiri. Kalau kamu nggak bisa cerita sekarang, nggak apa-apa,” ucap Felicia, menirukan apa yang mamanya sering bicarakan dengan pasien-pasien beliau.
Mama Felicia bekerja sebagai psikolog di salah satu rumah sakit swasta. Beliau mungkin orang tua tunggal bagi Felicia sepanjang yang bisa diingatnya. Yang pernah Felicia dengar dari Oma, mamanya hamil saat sedang menempuh pendidikan pascasarjana di bidang psikologi klinis dengan salah satu teman prianya. Mama Felicia memilih untuk menjadi orang tua tunggal dan membesarkan anak semata wayangnya sendiri dengan sangat baik. Beliau begitu tangguh dalam mengisi kekosongan figur bapak di rumah ini, hingga rasanya Felicia tak memerlukan figur tersebut. Ia bahkan cukup yakin jika keadaan mereka terasa jauh lebih baik ketimbang jika Mama harus menikah dengan laki-laki yang menghamilinya.
Felicia beranjak dari kamarnya menuju dapur. Ia ingat kalau masih punya stok es krim rasa neapolitan di dalam kulkas, karena setiap kali belanja kebutuhan bulanan Mama tak pernah lupa membelikan es krim favoritnya. Ia tidak tahu apakah es krim cukup efektif untuk memberikan perasaan tenang bagi orang yang sedang emosi, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Ia membawa dua buah sendok, untuk berjaga-jaga jika dia ingin makan juga.
Shia menerima sekotak es krim pemberian Felicia lengkap dengan sendoknya. Ia sangat berterima kasih karena Felicia selalu ada untuknya sejak mereka masih sangat kecil. Pertemanan yang terjalin antara kedua orang tua mereka, membuat kedekatan Shia dan Felicia jadi semakin tak terelakkan. Bahkan teman sekelas Shia atau sahabatnya dari tempat kursus tak ada yang sedekat ini dengannya. Kejadian hari ini yang ia alami bersama Zidni membuat Shia berpikir, apakah pertemanan mereka berlandaskan dari relasi warisan dari orang tua ini cukup kuat untuk bisa bertahan lama?
"Kamu mikirin apa?" tanya Felicia seraya menguap lebar sambil meluruskan kaki di sebelahnya. "Udah siap cerita belum?”
Shia mengambil sekotak tisu dari atas meja belajar Felicia untuk membersit ingusnya. Setelah merasa agak tenang, barulah ia berbicara.
Fe, kayaknya aku mau dijodohin, deh," desis Shia lirih.
"Hah, gimana? Sama siapa?" Felicia menjatuhkan sendok yang digenggamnya hingga berkelontang di lantai. Ia bahkan tak terlalu ambil pusing untuk mengambil benda itu kembali, mumpung belum lima menit. "Kok bisa sih, Om dan Tante kepikiran buat ngejodohin kamu? Ini tahun 2009, lho, bukan 1889."
"Sebenernya Mama sama Papa kayak biasa aja gitu responsnya, tapi yang ngotot buat jodohin itu mamanya Zed."
Rahang Felicia sampai terbuka lebar saking kagetnya ia mendengar kabar itu. Bahkan matanya yang membelalak, tak juga berkedip dalam beberapa menit. Kabar ini mungkin sangat mengejutkan bagi Felicia, karena berita perjodohan antara Zidni dan Shia itu tampaknya seperti hampir tidak mungkin terjadi. Ia sendiri saksi hidup bagaimana sejak kecil, Zidni sama sekali tak pernah mau bergaul dengan mereka hanya demi menyenangkan perasaan Varya. Baik Shia maupun Felicia kecil tidak pernah tahu mengapa Varya menjauhi mereka berdua, padahal keduanya sudah berusaha untuk akrab pada anak-anak yang lain juga. Sekarang, mengetahui bahwa orang yang paling disukai Varya akan dijodohkan dengan Shia, seolah jadi pembenaran bahwa keputusan Varya untuk memusuhi Shia sejak kecil bisa dianggap valid.
"Terus gimana sama Varya?" tanya Felicia akhirnya setelah ia berhasil mencerna semua informasi yang diterima dari Shia. "Maksudku, kok bisa sih tiba-tiba sama Zed? Emangnya Tante Amel habis kesambet apa sampai punya pikiran kayak gitu?"
Shia mengangkat bahu. Tangannya yang memegang sendok tak henti-henti menyuap es krim ke dalam mulut, padahal pagi ini ia cuma makan sedikit karena cemas menghadapi Zidni. Ia tidak peduli jika nanti akan sakit perut karena saat ini permasalahan yang dialaminya jauh lebih besar dari sekadar diare.
"Kayaknya karena urusan utang." Shia teringat saat ia berdiri di belakang Ivy untuk mengintip kemarin.
Sepintas lalu terlihat mamanya memberikan sesuatu dalam amplop putih yang diremas-remas sambil mengatakan untuk bayar transportasi, karena uang yang dipinjam akan ditransfer ke rekening Tante Amalia. Tante Amalia sempat menolak karena ia merasa sudah menerima banyak kebaikan Mama Shia, namun Mama Shia memaksa beliau menerima amplop tersebut. Selebihnya, Shia tak tahu menahu bagaimana bisa mereka mencapai kesepakatan tentang perjodohan, karena sejurus kemudian Tante Amalia pamit pulang. Pagi ini saat bertemu dengan Zidni juga Shia tidak sempat bicara apa-apa padanya, karena dorongan untuk kabur dari rumah begitu kuat.
Felicia mengetuk-ngetukkan jarinya pada ujung dagu sambil menerawang. "Kalau nggak salah, sekitar dua mingguan yang lalu Tante Amel juga pernah main ke sini. Waktu itu aku sama Mama baru pulang dari gereja. Tapi aku nggak terlalu tahu juga urusannya apa, karena habis itu aku langsung masuk kamar. Mungkin nggak sih kalau Tante Amel ke sini buat pinjam uang ke Mama--tapi Mama entah nggak punya uang sebanyak yang diminta, atau emang nggak mau minjemin duit ke orang karena urusannya bakal ribet. Terus, Tante Amel kayaknya pergi ke rumah Mama kamu buat pinjam duit, dan sisanya kamu tahu kayak gimana."
Kali ini giliran Shia yang begidik ngeri. Mereka mungkin tidak cukup dewasa untuk memahami pola pikir orang-orang ini, tetapi pada saat itu Shia merasa iba karena nama Zidni mungkin bukan sekali ini dibawa untuk jaminan pinjaman. Jika saja keluarga Varya memiliki kondisi keuangan yang lebih stabil, tentu akan lebih baik bagi Zidni karena mereka saling menyukai.
“Jujur, aku kasihan sama Zed sih,” gumam Felicia. “Dia kayak jaminan berjalan. Maksudku, orang tuanya bisa aja minjem duit pakai jaminan lain. Perhiasan misalnya, atau sertifikat rumah. Ya kali, anak sendiri dijadikan jaminan. Mana anak satu-satunya.”
Dalam hal ini Shia setuju. Tadinya ia juga berpikir seperti itu. Zidni mungkin tidak setuju dengan rencana aneh ibunya, dan jika saja dia tadi tidak buru-buru kabur, bisa saja dia dan Zidni bicara baik-baik untuk membahas soal ini. Pada akhirnya segala keputusan ada di tangan mereka, sebagai orang yang menjalani hidup.
“Udah nggak apa-apa kamu numpang di sini aja dulu, Shi. Kalau kamu perlu ngobrol sama orang dewasa, nanti kali aja mamaku bisa bantu.” Felicia mengambil sendoknya yang tergeletak di lantai, membersihkan dengan tisu, lalu kembali makan es krim seolah benda itu tak pernah jatuh sebelumnya. Melihat gerakan mata Shia yang mengikuti setiap gerak-geriknya, Felicia meringis. “Tenang aja, kamar ini tiap hari disapu dan tiap seminggu dua kali dipel, kok. Mama nggak suka kalau lihat kamar kotor, jadi aku rajin bersih-bersih.”
Setelah menenangkan diri dan menghabiskan sekotak es krim berdua, mereka turun ke dapur yang terletak di lantai bawah. Di meja makan sudah tersaji telur dadar dan sayur bayam yang sudah dingin serta nasi yang cukup banyak di dalam penanak nasi elektrik. Tante Diana, Mama Felicia, mungkin telah menyiapkan sarapan untuk anaknya sebelum berangkat kerja. Felicia membongkar laci yang terletak di bawah rak piring dan mengeluarkan dua bungkus mie instan.
“Bikin mie aja, yuk?”