“Shia sudah izin Mama kalau mau menginap di sini?” tanya Tante Diana malam ini ketika mereka bertiga duduk di meja makan menghadap nampan berisi seekor ayam panggang utuh yang dibeli dari salah satu restoran ayam bakar terkenal dekat tempat kerja beliau. Sore harinya, ketika Tante Diana kembali dari rumah sakit tempat beliau bekerja, beliau mendapati ruang tengah rumah mungilnya berantakan karena buku-buku pelajaran yang berserak di lantai beralas karpet, sedangkan pemilik buku-buku tersebut sedang mengejar-ngejar kucing liar yang masuk ke dalam rumah lewat jendela garasi dan buang kotoran sembarangan. Setelah berhasil mengusir kucing nakal tersebut—dengan iming-iming sepotong ikan bandeng presto yang Felicia ambil dari dalam kulkas—dan membersihkan lantai yang terkena kotoran, barulah mereka berdua membereskan buku-buku di ruang tengah.
Shia dan Felicia saling pandang mendengar pertanyaan tersebut. Tadi pagi sebelum Zidni sampai di rumah, Shia sudah berpamitan pada Mama untuk menginap di rumah Felicia, tetapi dia tidak bilang untuk berapa hari. Setelah kejadian dengan Zidni berlangsung, Shia semakin tidak ingin pulang, apalagi setelah melihat tas bepergian besar yang dijinjing Zidni, seolah dia hendak menginap di sana.
“Tadi pagi sudah ngomong, Tan.” Shia mengangkat piringnya ketika Tante Diana mengoyak paha ayam utuh untuk diberikan padanya, serta bagian paha yang lain untuk Felicia. Ini bukan pertama kali Shia menginap di rumah mereka, tetapi biasanya selalu Mama Shia yang menelepon Tante Diana untuk memberitahukan soal ini beberapa hari sebelumnya. Tentu saja Tante Diana terkejut ketika mengetahui Shia tiba-tiba menginap di rumahnya tanpa informasi terlebih dahulu.
Tante Diana memicingkan mata, namun sekejap kemudian beliau mengalihkan perhatian pada hal lain, seperti menawari Shia sambal dan lalapan, membiarkan hal ini berlalu begitu saja dari pengawasannya. Melihat reaksi beliau, Shia menduga jika baik Tante Amalia maupun mamanya belum cerita pada sahabat mereka ini tentang rencana perjodohan Zidni dan Shia. Mungkin juga jika Tante Amalia dan mamanya hanya bercanda tentang rencana itu, dan hari ini Zidni tidak menginap di rumahnya dengan tujuan lain disamping mengakrabkan mereka. Tetapi, bagaimana Shia bisa tenang jika dia hanya dengar informasi sepotong-sepotong, dan para orang dewasa tidak ada yang berinisiatif untuk bicara langsung padanya.
Melihat ekspresi muram di wajah Shia dan anak remaja putrinya yang jadi pendiam di meja makan, mau tak mau membuat rasa penasaran Tante Diana jadi tak terbendung. Sebagai seorang konselor professional, beliau terbiasa membaca perilaku orang-orang yang berkonsultasi padanya. Perubahan sikap drastis pada Shia dan Felicia dari bawel jadi sedikit bicara, sudah cukup memberi beliau tanda jika mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
“Oke, kalau Shia mau cerita, Shia bisa ngomong sama Tante. Mau berdua aja atau Feli boleh terlibat?” Tante Diana meletakkan sendoknya di pinggir piring. Tiba-tiba nafsu makannya sirna jika memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi pada anak remaja ini. Apakah terjadi sesuatu di sekolah? Mungkinkah Pras dan Mega—Papa dan Mama Shia—sedang bertengkar, sehingga Shia butuh pelarian sementara? Atau …
“Nggak apa-apa, Feli udah tahu juga kok, Tante.” Shia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk terus. Pandangan mereka berserobok. Kini Tante Diana bisa melihat mata sembab Shia seperti habis menangis dan kelopak matanya yang sedikit bengkak. “Aku mau tanya.”
Tante Diana menegakkan punggung, seperti sikap yang selalu ia lakukan saat menghadapi klien. “Silakan, Shia. Kamu bisa cerita kapanpun kamu siap dan sebanyak apapun yang kamu bisa katakan pada Tante. Kamu mau minum dulu? Feli, tolong ambilkan minuman di kulkas untuk Shia, ya.”
Tanpa diperintah dua kali, Feli langsung melesat dari kursinya di samping Shia, menuju kulkas. Shia menyiuk beberapa kali, seolah sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan hal yang sulit, lalu mengangkat kembali dagunya.
“Menurut Tante, perjodohan itu kayak gimana?” Tante Diana tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Namun, Shia tak memberi beliau kesempatan untuk mencerna lebih jauh karena ia lekas-lekas menambahkan. “Kemarin waktu aku baru pulang sekolah, Tante Amel lagi di rumah. Aku nggak tahu apa aja yang Mama dan Tante Amel omongin, tapi adikku yang menguping pembicaraan mereka sejak awal bilang kalau Tante Amel berencana untuk menjodohkan aku sama Zed.
“Makanya aku ke sini, karena aku butuh waktu buat berpikir.”
Bunyi sendok yang berkelentang membentur lantai porselen mengiringi pernyataan Shia. Tante Diana sedang mengepalkan kedua tangan yang bertaut di atas meja, lalu buru-buru menunduk untuk mengambil kembali sendoknya. Beliau tahu ini sangat tidak profesional ketika merusak suasana yang terbentuk di antara mereka dengan suara sendok jatuh, tetapi beliau tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui kabar tersebut dari Shia langsung.
Amalia dan Mega adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sejak SMA hingga sekarang. Pertemanan mereka sudah terjalin hampir tiga puluh tahun lamanya, sejak remaja sampai memiliki anak remaja seperti sekarang. Teman-temannya sudah terasa seperti anggota keluarga sendiri, terlebih karena mereka selalu meluangkan waktu setiap tahun untuk reuni kecil-kecilan selayaknya hubungan persaudaraan yang akrab. Anak-anak dari teman-temannya sudah Tante Diana anggap seperti anak sendiri, karena mereka tumbuh besar bersama. Mendengar rencana perjodohan antara Shia dan Zidni rasanya hampir membuat Tante Diana terkena serangan jantung, meski beliau bukan pengidap penyakit kardiovaskular. Beliau ingin segera menyelesaikan makan malam dan menelepon sahabatnya saat ini juga untuk menanyakan tentang Shia dan Zidni.
“Shia mau Tante bantu ngomong ke Mama dan Tante Amel soal ini?”
Shia mengangkat bahu, “Kalau Tante bisa. Lagipula, Zed kan udah pacaran sama Varya sejak lama banget. Kalaupun memang perjodohan adalah jalan terakhir yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan masalah para orang dewasa, setidaknya jangan bikin aku jadi orang jahatnya di sini karena terkesan seperti merebut Zed dari Varya, ‘kan, Te? Tante ngerti maksud aku, ‘kan?”
Felicia kembali sambil membawa sebotol minuman berkarbonasi ukuran 1,5 liter dan dua gelas kosong, lalu meletakkan salah satu gelas di hadapan Shia sambil menuang hingga penuh. Ia mengisi untuk dirinya sendiri lalu mereka bersulang seolah-olah isi gelas mereka adalah minuman beralkohol alih-alih soda.
Melihat kelakuan ajaib Felicia yang pura-pura mabuk dan meracau tentang sulitnya kehidupan menjadi dewasa, membuat Shia sedikit teralihkan hingga tubuhnya tidak lagi gemetar. Tante Diana mengangkat kembali sendoknya untuk melanjutkan makan. Ia bisa melihat potensi Felicia untuk menjadi konselor seperti dirinya di kemudian hari, ketika membantu Shia mengatasi pergolakan emosinya. Terlebih lagi kedekatan yang terjalin antara keduanya selama ini tentu bisa membuat Felicia lebih mudah untuk masuk dan menyelami pikiran Shia ketimbang Tante Diana.
“Tante ngerti maksud kamu, Shia. Dan bagi tante, apa yang kamu rasakan valid, kok. Kamu berhak marah, berhak protes. Kamu nggak salah.”
“Terima kasih, Tante.” Shia mengulas senyum lebar untuk pertama kalinya malam ini. “Cuma Tante yang bisa memahami perasaanku.”
Malam itu ketika Tante Diana sudah memastikan Shia dan Felicia tidur di kamar, beliau mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat yang sama pada dua orang berbeda. Mereka harus bertemu untuk membicarakan tentang ini.
Sekitar dua minggu sebelumnya, Amalia memang datang untuk meminjam uang. Ia bilang, suaminya mengalami PHK di pabrik obat tempat pria itu mengabdikan diri selama sekitar dua puluh tahun terakhir karena hal-hal yang Amalia tak jelaskan secara rinci. Mereka ingin meminjam uang dalam jumlah tidak sedikit untuk membuka bisnis kecil-kecilan untuk dijalankan bersama.
Tante Diana bukannya tak memiliki dana sejumlah yang diminta, tetapi beliau menyimpan uang tersebut untuk biaya kuliah Felicia yang akan lulus SMA dua tahun lagi. Beliau juga ragu apakah uang tersebut bisa kembali sebelum Felicia lulus, sehingga memutuskan untuk tidak meminjamkannya karena alasan itu. Namun, Tante Diana tidak menyangka jika Amalia meminjam uang pada Mega, kali ini dengan embel-embel Zidni sebagai jaminan. Sahabatnya itu mungkin sudah kehilangan akal sehat sampai mau menggadaikan kebahagiaan anak tunggalnya demi bertahan hidup.