ENAM: Rahasia antar Sahabat

1300 Kata
"Makasih udah antar pulang, Tante. Aku masuk dulu, ya." "Oke, Sayang. Istirahat ya, di rumah. Besok masuk sekolah." Shia kembali ke rumah pada hari Minggu malam dengan ditemani Tante Diana dan Felicia. Mama Shia menyambut mereka di depan pagar, mungkin Tante Diana sudah menghubungi Mama Shia sebelumnya untuk mengabarkan keberadaan anak ini. Shia nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa berbicara pada mamanya terlebih dahulu dan langsung naik ke lantai dua menuju kamar. Ivy yang sedang menonton televisi di ruang tengah langsung mengikuti Shia sampai ke kamarnya. "Mas Zed udah pulang tadi sore," ucap Ivy tanpa ditanya. Shia yang sibuk membongkar isi ranselnya dan memisahkan pakaian kotor ke keranjang cucian mengerling ke arah Ivy dengan tak bersemangat. "Aku nggak nanya," balas Shia malas-malasan. "Mbak Shia tahu nggak kenapa Mas Zed diminta buat nginep di sini kemarin?" tampaknya Ivy masih belum cukup peka untuk membaca kode bahwa Shia sedang tidak ingin membicarakan tentang cowok bernama Zidni. Maka Shia mendiamkan saja ucapan tersebut, berharap adiknya akan lelah jika tidak ditanggapi. "Ternyata Tante Amel sama Om Yoga nggak ada di rumah kalau hari Sabtu sama Minggu, karena mereka ada kerjaan di luar kota. Nggak tahu kerja apaan, jadi Mas Zed dititipkan di sini aja daripada dia ditinggal sendirian di rumah. Oh iya, Mas Zed juga—" Boneka beruang yang Shia lempar tepat mendarat di kening Ivy, membuatnya berhenti bicara. Ivy membelalakkan mata menatap wajah Shia yang bersungut-sungut. Shia tak punya cara lain untuk membuat Ivy diam tanpa melukainya. Ivy mengambil boneka Shia yang tergeletak di lantai, menaruhnya di meja belajar Shia dekat pintu, lalu keluar dari kamar Shia dan menutup pintu di belakangnya. Shia tahu ia harus meminta maaf pada adiknya nanti, tetapi Ivy juga salah dalam hal ini. Shia membaringkan tubuh di ranjangnya lalu menarik selimut. Besok pagi saja menata buku pelajaran hari Senin. Malam ini Shia merasa begitu lelah, seperti seluruh energinya terserap oleh perasaan negatif. +++++ "Feli, bisa tunggu Mama sebentar di dalam mobil?" tanya Diana pada anak perempuan semata wayangnya. Felicia yang sibuk membaca novel percintaan remaja hanya menganggukkan kepala. "Mama mau bicara sama Tante Mega. Nggak sampai 10 menit, kok." Diana turun dari mobil untuk menemui sahabatnya. Dari raut wajah Mega, tampaknya ia mengerti mengapa Diana menemuinya malam ini setelah mengantar Shia pulang. Mereka masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu di bagian depan. "Duduk dulu, Mbak Di. Mau minum apa?" tawar Mega berbasa-basi. "Nggak perlu, aku cuma sebentar, kok." Diana berdiri di depan penyekat dinding yang membatasi antara ruang tengah dan ruang tamu. Ia melirik ke belakang sepintas, untuk memastikan adik bungsu Shia yang suka menguping pembicaraan orang dewasa tidak ada di sana. "Suamiku lagi main badminton sama bapak-bapak kampung di lapangan kompleks sebelah," tutur Mega, seolah bisa membaca maksud Diana. "Anak-anak lagi di atas, kayaknya. Ngomong aja, aman kok." Dari nada suara Mega yang terdengar pasrah, Diana mengerti jika mereka sudah sama-sama tahu alasan dibalik kaburnya Shia. Diana beringsut mendekati sahabatnya, pandangan mereka berserobok. "Aku sudah dengar dari Shia. Aku sampai kaget banget waktu Shia cerita, benar-benar nggak habis pikir kenapa Mbak Amel sama kamu bisa segegabah itu dalam mencampuri kehidupan anak-anak," Diana menyiuk. "Tapi, jodohin anak? Yang bener aja. Kalian mikir apa waktu bikin rencana itu. Aku datang bukan sebagai konselor Shia, tapi sebagai teman SMA Mbak Amel dan kamu. Shia sama Zidni itu berteman sejak kecil, yah, meski kalau kuamati mereka nggak cukup akrab untuk bisa jadi sahabat, tapi kamu sadar nggak sih kalau rencana kalian berdua malah bisa bikin pertemanan kita semua jadi berantakan?" "Di, aku bisa jelaskan," Mega mengangkat kedua tangannya seolah sedang menyerah. "Memang awalnya semua rencana Mbak Amel. Tanpa jaminan pun, aku sudah pasti bakal pinjami dia uang, karena kita sudah berteman sangat lama dan sudah tahu karakter masing-masing. Dia sendiri yang mengusulkan itu secara spontan, tapi waktu itu aku belum bilang setuju. Sampai sekarang pun, aku masih belum memutuskan apa-apa. Meski aku nggak menolak juga, tapi aku masih mau lihat reaksi Shia sama Zidni dulu. Kalau Shia ngomong baik--" "Shia sudah menunjukkan kalau dia keberatan, Mega. Kalau dia sampai kabur dari rumah, itu berarti kalian nggak memberikan Shia kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya." Diana berkacak pinggang seraya menggelengkan kepala. "Kupikir kamu bisa lebih baik dari ini, aku kecewa banget." Mega menatap lekat sahabatnya. Mereka tumbuh besar bersama. Lulus SMA, Diana diterima kuliah di Yogyakarta, sedangkan yang lain masih menetap di Surabaya. Itu sebabnya mereka sepakat untuk bertemu setahun sekali setiap lebaran, karena mereka ingin menjaga pertemanan ini agar tetap langgeng. Teman-teman mereka yang tidak melanjutkan kuliah memilih bekerja dan menikah. Setelah lulus kuliah, Pras, papanya Shia yang waktu itu masih berstatus pacar Mega, diterima bekerja di salah satu bank negeri dan ditempatkan di Semarang. Beberapa tahun setelahnya, Mega dan Pras menikah, lalu Diana melanjutkan pendidikannya di Jakarta, dan mereka semakin terpencar. Itulah sebabnya, tradisi reuni ini masih tetap dilestarikan. Bahkan hingga kini, saat mereka semua kembali tinggal di kota yang sama. Karena reuni tersebut satu-satunya yang bisa mempersatukan mereka kembali di tengah-tengah kesibukan menjadi orang dewasa. "Tolong lah, Meg. Atau Amel. Siapapun dari kalian berdua—tapi karena sekarang aku baru bisa ngomong ke kamu, jadi fokus utamanya masih sama kamu—yang punya rencana buat menjodohkan Zidni sama Shia. Tolong jangan jadi orang tua yang egois demi anak sendiri. Amel punya utang sama kamu, itu tanggung jawab dia sebagai orang dewasa. Tapi jangan sampai kalian melibatkan anak-anak. Mereka mungkin masih kecil sekarang, tapi bukan berarti mereka bisa kalian kendalikan sesuka hati. Kelak anak-anak akan tumbuh jadi orang dewasa sepertimu, Meg, tapi trauma yang mungkin kalian timbulkan akan terus membekas dalam diri mereka." "Aku nggak—" Mega menundukkan kepala seraya mengembuskan napas berat. "Oke, aku salah. Aku akan bicarakan lagi sama Amel dan Shia." Diana mengangguk puas. "Oke. Terima kasih sudah mendengarkan. Aku kembali dulu, kasihan anakku sendirian di dalam mobil." Diana berpamitan lalu kembali ke mobilnya. Felicia masih dalam posisi semula, meringkuk di jok samping pengemudi dengan lampu menyala. Kepalanya tafakur menatap baris demi baris kalimat pada buku dalam genggaman. Seperti dirinya saat muda, Felicia mewarisi hobi membaca Diana. Dia beruntung karena Shia juga sama-sama kutu buku, sehingga setiap kali mereka bermain bersama lebih banyak dihabiskan dengan membaca bareng atau mengerjakan tugas sekolah. Waktu Diana SMA dulu, teman-teman laki-lakinya lebih suka berkumpul di rumah Danur karena paling dekat dengan sekolah, untuk makan rujak, main gitar bersama, atau merencanakan piknik kecil-kecilan ke daerah Malang dan sekitarnya. Teman-teman perempuannya terutama Mega dan Amalia, juga lebih suka berdandan ketimbang membaca. Mereka diam-diam membawa kosmetik ibu mereka ke sekolah lalu saling merias wajah masing-masing di bangku paling belakang saat jam kosong. "Mama udah selesai ngomong sama Tante Mega?" tanya Felicia. "Gimana katanya?" "Katanya dia bakal omongin lagi sama Tante Amel dan Shia." Diana menyiuk. Biasanya dia tak pernah ikut campur bagaimana Mega dan Amalia mengasuh anak mereka, bahkan jika pola tersebut dianggapnya kurang tepat. Namun kali ini dia tidak akan tinggal diam karena menurutnya mereka berdua sudah kelewatan. "Aku nggak habis pikir aja sih," Felicia meletakkan pembatas buku di halaman terakhir yang ia baca sebelum menutup sampulnya. "Cerita-cerita perjodohan emang kelihatannya menarik kalau dijadikan novel atau film, kayak Eiffel I'm in Love yang terkenal banget itu. Tapi pada praktiknya, yang kayak gitu hampir sulit buat bertahan, 'kan, Ma? Soalnya kalau hubungan nggak dilandasi rasa saling suka dan keinginan masing-masing orang untuk mempersatukan dua jiwa dengan perbedaan pola pandang hidup, mau jadi apa hubungannya?" Diana mengulum senyum. Ada rasa bangga yang terbit dari dalam hati saat melihat Felicia tumbuh menjadi anak yang memiliki empati. Ia menjulurkan tangan untuk mengusap rambut Felicia lembut. "Kamu jangan keseringan baca buku-buku kuliah Mama." "Enggak tuh! Aku tahu itu dari sekolah Minggu. Kakak pembimbingnya yang bilang gitu." Diana tergelak mendengar sahutan anaknya. "Feli kalau lulus SMA mau kuliah psikologi juga kayak Mama nggak? Kelihatannya kamu ada potensi jadi konselor." Felicia menyeringai lalu membuang muka. "Lihat nanti deh, Ma."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN