04 Kejadian di kantin

1140 Kata
Di jam istirahat banyak siswa yang berada di kantin sekolah. Termasuk Lea, Alin dan Suci. Ketiga gadis itu dengan santainya memakan makanan yang ada didepannya, sambil bercanda gurau. Namun ketenangan mereka malah diganggu dengan suara berisik yang keluar dari mulut seorang gadis yang bernama Amel. Gadis itu sedang menindas seorang siswi dan meneriaki siswi tersebut. Tidak ada yang berani mencegah Amel. Karena gadis itu menjadi salah satu keluarga terpandang. Amel pun juga dekat dengan Kevin sang ketua geng LK. Siapa yang berurusan dengan Amel, maka mereka juga harus berurusan dengan Kevin. Lea bingung dengan murid disini, mereka semua takut dengan orang-orang yang berasal dari keluarga berjabatan tinggi. Kata Ayahnya jika masih sama-sama makan nasi nggak perlu ada yang ditakuti, selagi kita yang benar. Byurrr Bunyi air yang di tumpahkan. Jika tadi tidak ada yang perduli, Maka sekarang semua siswa yang berada didalam kantin langsung menatap kepada Amel, yang ternya sedang menyiram seorang siswi yang terduduk dengan baju yang sudah basah. "Kenapa nggak ada yang berani ngecegah?" geram Lea. "Dia Amel Le, dan di sana juga ada Kevin," balas Alin sambil menunjuk kearah meja yang diduduki oleh beberapa siswa berjaket hitam dengan lambang singa di belakang jaketnya. "Ck g****k banget kalian semua," kesal Lea lalu gadis itu berdiri dan melangkah menuju kearah Amel san para dayang-dayangnya. "Le--" belum sempat Alin mencegah Lea, ternyata gadis itu sudah terlebih dahulu melangkah mendekati Amel. "Mangkanya kalo disuruh-suruh tuh mau!" bentak Amel keras. Tangan Amel sudah siap ingin menjambak rambut gadis tersebut. Namun tangan Lea langsung menggapai tangan Amel lalu menghempaskannya dengan kasar, membuat Amel tersentak. "LO YA! JANGAN GANGGU URUS--" Plak Lea langsung menampar pipi mulus Amel. Langsung saja kedua sahabat Amel yang bernama Alice dan Aliv terkejut, dan langsung mendorong bahu Lea. Lea dapat melihat jika Amel memegang pipinya, sambil menahan tangisnya. "Cih gitu aja nangees," sindir Lea, sambil membangunkan gadis yang sedang terduduk ketakutan. Lea memakaikan jaket yang selalu ia bawa ke gadis tersebut. "Lo jangan sok berani!" bentak Alice. Lea melangkah menuju kearah dua sahabat Amel. "Gue nggak pernah takut," balas Lea sengit. "Lo jangan pernah ikut campur urusan gue. Lo cuman siswi baru disini, lo nggak ada apa-apa nya dibandingkan gue," ucap Amel yang marah karena dikata-katai oleh Lea. "Mau lo itu siapa, gue nggak peduli!" "Lo ha-haarus hormat sama Ke-ketua kita," suruh Aliv. Gadis itu terlihat penakut, tapi kenapa dia masuk ke geng ngejeleneh si Amel? Itulah yang Lea pikirkan ketika melihat Aliv. "Gue Allea Alison hormat sama dia?" tanya Lea remeh. "Masih untung dia gue tampar, belum gue selinding," lanjut Lea. Amel sebenarnya ketakutan, namun gadis itu langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa-biasa saja. "Mau apa lo Hah?" tanya Amel bengis. "Gue mau lo minta maaf ke dia sekarang!" Jawab Lea. Sambil menunjuk kearah gadis yang tadi dibully oleh Amel dan kawan-kawannya. "Ck seharusnya dialah yang minta maaf ke gue," balas Amel angkuh. "Minta maaf! Atau lo bakal nyesal," tekan Lea. "Kalo sekali gue bilang nggak mau. Ya gue nggak bakal ngelakuin itu!" Amel menatap tajam kearah Lea. "Oh gitu." Lea tersenyum penuh arti. Detik berikutnya gadis itu langsung mengambil segelas jus yang berada di atas meja dekatnya. Lalu dengan santainya Lea menumpahkan semua isi gelas tersebut ke seragam Amel. "Upsh Sorry!" ucap Lea dengan wajah berpura-pura sedih. "s****n KAU!" teriak Amel dengan nyaring. Semua isi kantin tercengang melihat aksi Lea, pasalnya selama ini masih belum ada yang berani ke Amel kecuali Lea. Alin dan Suci saja sampai menggelengkan kepalanya tak percaya. Kejadian tersebut tidak luput dari penglihatan seorang pria yang juga berada di dalam kantin tersebut. "Wih gila si neng Lea," heboh Reza dari tempat duduknya. "Itu cewek apa titan?" gumam Fino. "Eh mulut lo di jaga kali Fin," balas Devan yang mendengar gumaman Fino. Kembali ke Lea, gadis itu pun melangkah keluar kantin dengan membawa gadis yang dibully Amel. Ia berniat memberikan gadis ini pakaian ganti dan memberi motivasi agar mentalnya tidak jatuh. Sepeninggalan Lea, ia melihat Amel yang berteriak memanggil nama ketua geng LK sambil mengadu kepadanya, siapa lagi jika bukan Kevin. "Dasar jalang!" geram Lea. "Tunggu saja kau Baby Leo," lanjutnya. **** Pelajaran kembali dimulai. Sekarang Kevin dan teman-temannya berada didalam kelas. Termasuk Lea, Alin dan Suci. Saat guru sedang asik menerangkan tiba-tiba Kevin berdiri dari tempatnya sambil mengangkat tangannya keatas. "Iya Kevin ada yang ditanyakan?" tanya guru tersebut dengan senang. Cuman hari ini ia mengajar Kevin biasanya pria itu selalu bolos dari pelajarannya. "Saya mau izin Bu," jawab Kevin. "Oh silahkan kalo mau ke toilet," balas guru tersebut. "Bukan ke toilet bu. Saya izin buat bolos," koreksi Kevin. Seketika satu kelas terdiam. Otak mereka masih mencerna perkataan Kevin. "Hahahaha, sopan banget lo bos. Bolos aja masih minta izin," tawa Reza keras lalu diikuti oleh seluruh siswa. "Sekretaris bingung yang mau nyatet keterangannya nanti," balas Devan dengan sisa-sisa tawanya. "Boleh kan bu," ucap Kevin tanpa memperdulikan respon teman-temannya. Sungguh ia sudah muak jika terus berada di dalam kelas. "I-iya Kevin," balas guru tersebut. Tanpa membuang waktu Kevin pun langsung keluar dari sana, yang diikuti oleh Reza, Fino, Devan dan Aldo. "Siapa yang izin sapa yang keluar," gerutu sang guru. "Ya sudah kita lanjutkan pelajarannya." **** "Vin, gue dapet pesan kalo geng Wolf bakal nyerang." Ucap Devan. "Tapi mereka nggak ngasih tahu kapan." "Mereka lagi, mereka lagi," malas Kevin. "Gimana kalo mereka nyerang kita secara mendadak?" cemas Devan. "Ah Yaelah Van, cuman geng Wolf," sela Reza dengan santai. "Emang lo berani?" tanya Devan. "Ya-ya nggak lah," balas Reza dengan menampakkan gigi putihnya. Devan langsung memutar bola matanya dengan malas. "Kalian semua harus berjaga-jaga karena gue yakin Gino nggak mungkin main dengan cara bersih," ucap Kevin saat mengingat sifat Gino ketua dari Geng Wolf. Semua anggota mengangguk serempak. "Sekarang kalian boleh beli apapun," ucap Kevin. "Beneran bos?" tanya Reza semangat. "Tumben teraktiran nih," imbuh Devan. "Gue belum selesai ngomong. Kalian bebas beli apapun tapi bayar sendiri," sambung Kevin lau pria itu pergi keluar markas. "s****n lo bos. Lo beli sama gerobak-gerobak nya juga nggak bakal bangkrut," teriak Reza. "Bos pelit," gumam mereka semua. Mengapa juga ketua yang lama memilih Kevin untuk menjadi penganggantinya. Seharusnya Arfan sang mantan ketua memilih ketua yang baru yang lebih dermawan. Bukan seperti Kevin. **** Kevin berjalan menuju seseorang yang sedang menunggunya. Kevin pun langsung menghampirinya. "Mau lo apa?" tanya Kevin yang tidak mau terlalu banyak basa-basi. "Gue mau geng lo tunduk di depan geng gue," jawabnya. "Lo kira gue ketua yang pengecut!" bentak Kevin yang merasa direndahkan oleh musuhnya. "Kalo nggak mau, maka geng lo akan hancur," ancam nya. "Gue nggak peduli, selama gue jadi ketua maka mereka nggak akan tunduk sama geng lain. Ingat satu hal gue nggak bakal pernah nyerah," tekan Kevin lalu pergi dari sana. Sungguh waktu 20 menitnya terbuang sia-sia karena telah berbicara dengan pria tersebut. Sedang kan Gino tersenyum miring saat melihat kepergian Kevin. "Gue Pastiin lo bakal berlutut didepan gue," gumam Gino ketua geng Wolf.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN