05 Kesal

1373 Kata
Lea berjalan menyusuri koridor sekolah. Ia ingin pergi ke kelasnya setelah dari kamar mandi. "Ini sekolah besar banget sih. Gue mau kekelas aja udah kayak keliling tiga lapangan," gerutu Lea kesal. Saat sedang asik berjalan Lea di kaget kan oleh Amel yang sedang berjalan dari arah depannya dengan menggandeng lengan seorang lelaki. Deg Lea terdiam saat melihat Amel yang dengan manjanya bergelanyut di lengan sang ketua Geng LK, siapa lagi jika bukan Kevin. Sedangkan Kevin sendiri tidak masalah dengan hal yang dilakukan oleh Amel kepada dirinya. Entah kenapa hal itu membuat Lea marah dan juga kesal. Dirinya seakan ingin mencabik-cabik wajah Amel yang terlihat menjijikkan dimata Lea. "Huh sabar Lea. Jika ingin menghilangkan hama kita harus bersabar," gumam Lea lau ia melangkahkan kakinya kembali meski ia nantinya harus berpapasan dengan Amel dan juga Kevin. "Eh ada Lea," sapa Amel sok ramah didepan Lea. Ingin sekali Lea membuang Amel ke tong s****h agar diangkut jauh dari sini. Lea menatap Amel dengan malas. Tapi sebelum itu, Lea sempat melihat ekspresi Kevin yang terlihat tegang saat melihatnya. "Kenalin ini pacar gue, namanya Kevin. Oh ya gue lupa, siapa sih yang nggak kenal sama dia," ujar Amel dengan sombong. "Oh pacar lo," tekan Lea. Ia bukan menatap kearah Amel melainkan lelaki yang di gandeng Amel. Lea menatap Kevin penuh arti. Sedangkan Kevin masih menutup mulutnya. "Iya, lo pasti iri kan?" tanya Amel antusias untuk melihat reaksi Lea. Namun jauh dari ekspektasi Amel, ternyata Lea bersikap acuh pada hubungannya dengan sang ketua geng. "Sorry ya. Gue nggak peduli," sarkas Lea lalu gadis itu ingin pergi dari sana. Namun tiba-tiba tangannya di cekal oleh Kevin. Lalu Kevin menatap Lea dengan dalam seakan menyuruh Lea untuk tidak salah paham. "Sebenarnya Lea itu p--" "Udah deh Kev, dia itu cuman murid baru disini. Dia nggak tahu apa-apa tentang kita," potong Amel. "Sekarang kamu anterin aku ke UKS perut aku udah sakit banget," keluh Amel sambil memegangi perutnya. Lea menatap dengan malas drama yang diciptakan oleh Amel. Lea pun beralih menatap kearah Kevin, meminta lanjutan dari kata-katanya yang sempat terpotong. "Lea--" "Awwwsssh. perut aku sakit Kev," jerit Amel yang membuat Kevin langsung beralih melihat kondisi Amel. "Lo tahan dulu," ucap Kevin lalu ia menggendong Amel ala bridal style dan pergi meninggalkan Lea sendirian. Lea masih berdiri kaku ditempatnya sambiL menatap kepergian Kevin dengan tatapan penuh arti. Lea tersenyum getir dan merasakan hatinya yang entah kenapa mulai terasa sesak. Akhirnya Lea memilih pergi dari sana. **** "Dasar s****n kau! Mati saja kau sana!" teriak Lea sambil melemparkan semua bantal yang ada didekat nya. Sejak pulang sekolah sampai sekarang, gadis itu masih setia diatas kasurnya sambil mengumpati kejadian di koridor sekolah tadi. Drrt drrt Sedari tadi ponsel Lea selalu berbunyi namun ia abaikan. Ia juga sudah tahu siapa yang menghubunginya. Siapa lagi jika bukan orang yang telah membuatnya seperti ini. Ting! Lea langsung terdiam saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Ia sebenarnya tidak peduli, tapi entah kenapa ia tertarik untuk membukanya. BabyLeo Aku ada dibawah. Turun atau aku yang naik keatas. Lea langsung mengulum senyumnya saat membaca pesan tersebut. Dengan gerakan jari yang lincah, Lea pun membalas pesan tersebut. Emang bisa buka pintu? Kan kamu nggak tahu Kata sandi apart aku. BabyLeo Nantangin? Lea menatap layar ponselnya dengan malas. Mana bisa lelaki ini masuk kedalam jika ia tidak tahu kata sandinya. "Seharusnya dia ngebujuk gitu, biar dibukain pintu," kesal Lea. Ia pun hendak mengetikan balasan kepada pria tersebut. Namun jarinya terhenti saat mendengar benda jatuh. Braaak "Aaaaaa Maling!" teriak Lea lalu melempar selimut nya kearah jendela. Ia pun hendak berlari menuju kearah pintu, namun suara berat menyapanya. "Sayang ini aku," ucapnya. Suara itu membuat Lea langsung membalikan badannya. Dan benar saja disana sudah ada pria yang membuatnya kesal. "Pergi sana!" usir Lea sambil melangkah kearah tempat tidurnya dengan kaki yang dihentak-hentakan. Hening Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Lea yang kesal memilih untuk diam. Sedangkan 'lelaki' itu masih setia memandangi wajah Lea yang terlihat semakin cantik jika sedang Marah. "LEO! kalo nggak niat buat ngebujuk gue. Ya udah sana!" kesal Lea. "Nona apakah ada masalah?" tanya seorang pelayan dengan cemas saat mendengar teriakan Lea. "Ada singa ngeselin bik," teriak Lea sambil memandang kearah Kevin dengan tatapan membunuh. "Beneran non? Kalo gitu Bibi telpon tuan," balasnya khawatir. "Singa nya nggak gigit Bi. Cuman nyebelin doang." "Tap--" "Bibi pergi aja. Bibi nggak usah khawatir," potong Lea dan tidak terdengar lagi teriakan dari Bibi tersebut. Lea melihat disana Kevin yang tertawa melihatnya. Ia pria yang dipanggil Leo oleh Lea adalah Kevin, sang Ketua geng LK. Mereka sebenarnya sudah berpacaran dua tahun yang lalu, dan masing-masing setuju untuk backstreet. Orang tua mereka juga tahu hubungannya. Karena mereka bertemu juga karena acara keluarganya. Kevin berjalan melangkah menuju kearah Lea. Lalu ia mencubit pelan hidung Lea. "Ngambek hmm?" tanya Kevin lalu ia mengacak rambut Lea. "Jauhin tangan lo! Gue nggak mau dipegang bekas cewek lain," ujar Lea sambil menyentak tangan Kevin. "Sayang. Aku cuman bantuin Amel yang lagi sakit," jelas Kevin. "Dengan digendong? Kan dia bisa jalan sendiri." "Tapi katanya perut dia sakit sa--" "Terus kamu nggak liat seberapa sakitnya hati aku?" tanya Lea nyalang. "Dia itu cuman sahabat aku," balas Kevin. "Nggak ada cerita sahabatan cowok sama cewek. Diluar sana ngira kalo Amel pacar kamu Kev, padahal kamu milik aku." "Bukan Kevin!" suruh Kevin karena ia tahu jika gadisnya memanggil Kevin maka Lea sedang marah. "Aku tadi ada disamping kamu Kevino. Tapi kamu lebih milih gadis lain. Pacar kamu tuh Amel apa aku?" tanya Lea yang masih memanggil Kevin dengan sebutan nama yang biasa orang lain panggil. "Kamu! Cuman kamu. Dan aku nggak mau yang lain," balas Kevin cepat. "Kalo gitu tinggalin Amel!" suruh Lea. "Aku nggak bisa sayang," frustasi Kevin. Bagaimana bisa ia disuruh memilih sahabat atau kekasihnya. "Ya udah kita putus," ancam Lea. Kevin langsung menarik tubuh Lea dan memeluknya dengan erat. Seakan kata-kata Lea tadi akan merubah dunianya. "Aku nggak mau putus dari kamu. Kamu bakal terus jadi milik aku!" tegas Kevin. "Pergi!" Lea mendorong tubuh Kevin namun pria itu seakan tak mau melepaskannya pelukannya. "Lea jangan marah." Kevin terus mengecupi puncak kepala Lea. "Aku nggak bakal marah kalo Leo nggak deket sama cewek lain," gumam Lea yang perlahan luluh dengan perilaku yang diberikan oleh Kevin. "Maaf." Kevin duduk dan membawa Lea untuk duduk dipangkuan nya. "Kenapa masih ngambek sih sayang? Kan aku udah minta maaf," ucap Kevin lembut yang membuat perut Lea seakan ada kupu-kupu yang beterbangan. Sungguh Lea ingin teriak sekarang. Kalian juga pasti ingin melakukan hal yang sama saat mendengar pertanyaan dari Kevin tersebut. "Amel! Aku pengen kamu Jauhin dia," pinta Lea. Kevin memandang Lea sebentar dan akhirnya ia berkata, "Aku bakal Jauhin Amel. Tapi aku nggak bisa tinggalin Amel. Aku udah janji ke Om Hari buat ngejagain dia." Lea menghembuskan nafasnya dengan kasar. Seharusnya dari awal Lea sudah tahu jika Kevin tidak akan bisa meninggalkan Amel. Tapi apa salahnya berusaha kan. Oh ayolah siapa yang mau jika kekasihnya berdekatan dengan orang lain. Lea yang sudah lelah langsung mengalungkan tangannya ke leher Kevin. Lalu ingin tidur di d**a Kevin, meskipun dadanya keras namun entah kenapa hal itu malah membuat Lea semakin nyaman. Saat hendak memasuki dunia mimpi. Tiba-tiba ada suara gedoran pintu. "Sayang kamu nggak papa kan?" tanya suara wanita paruh baya dari luar kamar Lea. "Oh s**t," umpat Lea kesal saat tidurnya diganggu. Cup Kevin mengecup bibir Lea. "Leo." "Jangan ngomong kasar! Atau aku bakal terus ngecup bibir kamu itu," peringat Kevin. "Itu mah enak ke kamu," balas Lea yang langsung dibalas tawa oleh Kevin. Sungguh lelaki ini sangat tampan jika sedang tertawa seperti ini. "Sayang buka pintunya!" "Ini pasti ulah Bibi," tebak Lea. Kevin mengangkat bahunya dengan acuh, pertanda dia juga tidak tahu. "Aku pulang dulu. Aku juga harus ke markas," ucap Kevin lalu menurunkan Lea dari pangkuannya. "Yah," keluh Lea padahal ia masih ingin bermanja-manja dengan kekasihnya. "Besok masih bisa," ujar Kevin yang tahu dengan suasana hati Lea. Kevin pun berjalan kearah jendela. Sebelum ia melompat, ia masih sempat menatap kearah Lea.  "Jangan ngambek lagi. Jangan rindu sama Leo, soal Leo bisa gila kalo Lea juga pengen ketemu sama Leo," pesan Kevin lalu lelaki itu turun kebawah. Entah bagaimana caranya ia bisa naik dan juga turun. "SAYANG BUKA PINTUNYA!" teriak ibu Lea. "IYA MA!" balas Lea tak kalah nyaringnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN