"Ah Yaelah jalan kalian lama amat dah. Gue udah laper nih," keluh Lea saat melihat Alin dan Suci yang berjalan dengan santai.
"Sans aja kali Le. Orang baru jam istirahat juga," balas Alin.
"Tapi gue udah lap--"
"Tahan bentar Le, entar lagi juga mau nyampe kantin," ujar Suci.
"Akhirnya lo ngomong juga Ci," seru Lea senang. Pasalnya ia jarang sekali mendengar suara dari sahabat Alin yang satu ini.
Suci membalas perkataan Lea dengan senyuman saja. "Tuh kan baru aja w omongin. Lo sariawan ya Ci?" tanya Lea penasaran.
Suci menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kepada pertanyaan yang Lea lontarkan. Lea pun pasrah untuk mengajak Suci berbicara.
"Heh lo b***h!" sentak Amel yang tiba-tiba berada didepan mereka.
Lea dan sahabatnya yang baru saja ingin masuk kedalam kantin. Langsung dikagetkan dengan kedatangan Amel dan antek-anteknya, siapa lagi jika bukan Aliv dan Alice.
"Lo apaan sih ngagetin gue. Untung gue nggak punya penyakit jantungan," kesal Lea.
Alin langsung memegang tangan Lea lalu ia mengisyaratkan kepada Lea agar tidak melawan Amel.
"Lepasin Lin gue mau lawan mereka," pinta Lea. Akhirnya Alin melepaskan cekalannya dari tangan Lea. Mau dilarang juga Alin tahu jika Lea tetap akan melakukan yang ia mau.
Sebelum Lea hendak melawan Amel. Tiba-tiba rambutnya dijambak oleh Amel. Membuat Lea reflek berteriak. "Woy, jangan main jambakan s****n. Percuma selama ini gue belajar bela diri," kesal Lea karena tidak diberikan kesempatan memukul oleh Amel.
Saat merasa Amel lengah. Lea langsung menggapai tangan Amel yang berada diatas kepalanya dan langsung memelintirnya. Membuat Amel berteriak kesakitan.
Tanpa disadari mereka sudah menjadi pusat perhatian didalam kantin.
"Awwwsssh Lepas," teriaknya.
"Ck gitu aja udah mau nangis," sindir Lea.
"Rambut gue jadi berantakan gara-gara lo!" lanjut Lea lalu melepaskan tangan Amel.
Wajah Amel langsung memerah karena menahan kesal. Karena tidak mau kalah dengan Lea, akhirnya Amel mendorong tubuh Lea sekuat tenaga.
Brak
Lea yang belum siap dengan serangan Amel, langsung di buat terkejut dan tubuhnya langsung tersungkur kebelakang. Hingga punggungnya menubruk salah satu Meja. Makanan yang ada diatas meja tersebut langsung berjatuhan menimpa tubuh Lea.
Alin dan Suci langsung kaget dan berniat membantu Lea berdiri. Namun suara lantang menghentikan aksinya.
"AMEL!" Teriakan itu bukan mengandung kekhawatiran, melainkan geraman dan amarah dari Kevin.
Aura di Kantin pun berubah menjadi menegangkan. Kevin dan keempat anggotanya langsung menghampiri Lea dan Amel.
"Neng Lea!" kaget Reza lalu ia berniat menyentuh tubuh Lea. Bermaksud membantu gadis tersebut.
"JANGAN SENTUH PACAR GUE s****n!" teriak Kevin yang membuat seisi kantin terkaget dan saling bertanya-tanya.
Lea meringis pelan saat mendengar teriakan dari Kevin.
Kevin dengan sigap langsung membersihkan kotoran yang ada di seragam Lea. Ia pun membuka jaketnya dan menyampaikannya di tubuh Lea. Tidak hanya itu Kevin juga menggendong tubuh Lea.
Seisi kantin langsung menjerit tertahan saat melihat apa yang dilakukan oleh Kevin. Hal itu membuat mereka semakin yakin jika Leanya adalah pacar dari sang ketua geng tersebut.
"Lo apain dia hah?" tanya Kevin kepada Amel.
"Kevin aku pacar kamu. Kenapa kamu bela dia?" tanya Amel marah sambil menunjuk kearah Lea.
"Lea milik gue. Lo bukan siapa-siapa gue!" tekan Kevin.
"Leo jangan teriak terus, kepala aku pusing," bisik Lea yang berada di dekapan Kevin. Kevin yang mendengar suara Lea, langsung tersadar dengan keberadaan gadis itu. Dengan langkah lebarnya Kevin pergi meninggalkan kantin dan membawa Lea pergi menuju UKS.
Tubuh Reza masih bergetar hebat setelah dibentak Kevin tadi. "Gue tremor Dev," ujar Reza dengan gemetar.
"Lo salah megang milik orang Rez," balas Devan.
"Gue nggak yakin kalo lo masih bisa bertahan hidup sampe besok Rez," imbuh Fino.
"Tega ya kalian semua," kesal Reza.
Mereka semua ikut pergi dari kantin termasuk Alin dan Suci. Mereka masih kaget dengan pernyataan dari Kevin. Ternyata sahabatnya itu punya hubungan khusus dengan Kevin. Dan tidak memberitahu kan itu kepadanya. "Lo harus jelasin semuanya besok Lea," gumam Alin.
"Akh s****n tuh cewek," kesal Amel.
"Awas aja lo Lea," lanjut Amel dengan tersenyum penuh arti.
****
"Awsssh," ringis Lea saat Kevin menyentuh kepala bagian belakangnya yang sempat terbentur ujung Meja kantin.
Sekarang ia sudah berada diatas brankar UKS. Dan dia juga sudah mandi dan berganti seragam dengan memakai jaket milik Kevin.
"Hiks." Lea langsung melebarkan matanya saat mendengar suara isakan dari Kevin.
"Leo kenapa nangis?" tanya Lea.
"Pasti Sakit kan?" tanya Kevin.
Lea menganggukan kepalanya. Memang benar kepalanya sangat sakit dan Lea yakin jika kepalanya sudah benjol sekarang. "Tapi kan yang sakit aku. Kenapa kamu yang nangis?"
"Aku sedih karena Lea sakit," tutur Kevin. Sebenarnya Lea ingin tertawa, namun ia takut membuat Kevin semakin menangis.
"Yaudah sini obatin aku, biar sakitnya cepet hilang," pinta Lea.
Kevin langsung bergegas mengambil kotak obat. Lalu ia mencari luka di kepala gadisnya.
Lagi dan lagi Kevino kembali menangis saat melihat ada darah yang keluar dari luka di kepala Lea.
"Leo kalo nangis terus. Lea bakal pergi," ancam Lea.
"Lea jangan marah," tutur Kevin sambil menundukkan kepalanya. Lea yang melihat itu langsung gemas dengan tingkah Kevin.
"Tadi kamu marah-marah kenapa sekarang kamu malah cengeng gini sih?" tanya Lea.
"Aku kan khawatir sama kamu. Kalo kamu risih, yaudah aku pergi aja," gumam Kevin yang masih dapat didengar jelas oleh Lea.
"Kamu kok ngambek sih. Sapa yang bilang risih? Aku cuman tanya kok."
Kevin masih diam dengan kepala yang masih menunduk.
Hap
Lea langsung memeluk Kevin yang ada didepannya. Ia takut jika terlalu lama didiamkan, maka Kevin akan menangis.
'Baru dibilangin eh nih bocah udah nangis. Tapi nggak papa deh bikin gemes' -batin Lea saat mendengar suara isakan.
"Kalo nangis aku aduin ke anggota kamu nih. Terus bilang, kalo ketua yang kalian takutin selama ini tuh sebenarnya bayi singa yang cengeng," ujar Lea.
"Nggak papa. Yang penting cengengnya cuman buat kamu," balas Kevin sambil menarik ingusnya kedalam.
"Ih Leo jorok! Lepasin Lea!" jerit Lea. Sebenarnya gadis itu ingin berteriak karena malu mendengar kata-kata dari Kevin, namun ia sangat malu jika melakukannya.
Kevin mengeratkan pelukannya. "Nggak mau dilepas sayang," rengek Kevin bak seperti anak kecil.
Akhirnya Lea mengalah. "Yang sakit tuh aku apa kamu sih? Kok kamu yang manja," gerutu Lea.
Kevin masih mendengarnya. Namun ia tidak memperdulikan hal itu, yang penting ia bisa memeluk Leanya sepuasnya.