12 Sang panglima

1471 Kata
"Udah baikan Le?" tanya Alin. Lea yang paham langsung menganggukkan kepalanya. "Sumpah gue tadi malam parah banget Lin," adu Lea. "Parah gimana Le?" "Ga bisa gue jabarin, nanti malah kepanjangan," sahut Lea. "Mendingan ikut gue ke markasnya si Leo aja, mumpung lagi istirahat nih," ajak Lea. "Tumben mereka nggak ke kantin," bingung Alin. "Nggak tahu," sahut Lea sambil mengangkat kedua bahunya acuh, "Ci lo mau ikut juga," lanjutnya. Suci dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Gu-gue ga bisa," jawab Suci, wajahnya tiba-tiba berubah pucat pasi. "Suci," panggil Lea pelan. Lea yakin Suci pasti punya masalah dengan salah satu anggota LK, dari pesta kemarin juga Lea melihat Suci yang selalu menatap gelisah ke salah satu anggota LK. "Lo ada mas--" "Le ayo buruan, nanti ke buru masuk. Gue juga udah nggak sabar pengen tahu markas geng LK," sela Alin yang terlihat sudah antusias. "Oh oke, pakek mobil lo ya," sahut Lea yang langsung diangguki oleh Alin. Kedua gadis itu pun pergi keluar dari kelasnya. **** "Parah gue udah lima kali bolak-balik ke kamar mandi gara-gara tadi malam," ujar Reza dengan menampilkan wajah tersiksanya. Masih ingat dengan makan Kadaluarsa yang diberikan Kevin tadi malam, dan benar saja pagi-paginya ketiga anggotanya mendapatkan efek sampingnya. Kevin menatap temannya dengan tatapan tidak bersalah. "Udah lo kabarin ke Gino?" tanya Aldo. Ingat, Aldo akan bersuara jika itu penting. "Besok pagi kita serang mereka," sahut Kevin. Anggota bukanlah geng pengecut yang tiba-tiba nyerang begitu saja, mereka lebih baik menghadapi lawannya langsung. "Mau nyerang ya? Aku ikut ya," pertanyaan tersebut membuat semua anggota LK yang ada didalam markas langsung terkejut. Mereka melihat dua gadis berseragam SMA yang ternyata sudah ada di ambang pintu dengan wajah polosnya. Salah satu gadis itu berjalan masuk ke dalam, lalu duduk di samping sang ketua. Sedangkan gadis satunya juga mengikutinya dan duduk tidak jauh darinya. "Aku ikut ya," mohonnya lagi. "Nggak!" Tentu saja Kevin tidak akan membiarkan gadisnya untuk ikut kedalam tawuran tersebut. Meski ia tahu jika Lea memiliki ilmu bela diri, namun jika sudah berada dalam tawuran, ilmu apapun tidak akan berguna, karena pasti banyak kecurangan yang biasanya dilakukan geng lain. "Pokoknya aku mau ikut!" kekeh Lea. Gadis itu memang keras kepala, membuat Kevin selalu kesusahan untuk membujuknya. "Lea," peringat Kevin. "Kan di sana juga ada kamu, kamu nggak bakal biarin aku luka." "Justru itu Kevin nggak ngizinin lo ikut, biar lo nggak luka," sarkas Alin yang berada disampingnya. Langsung saja Lea menatap tajam kearah sahabatnya, bukannya membela dirinya, Alin malah ikut-ikutan membantu Kevin. "Nah betul tuh neng Lea," timpal Reza. "Nggak, pokoknya aku mau ikut!" putus Lea. "Lea Alison!" tekan Kevin. Oke Lea sudah terdiam sekarang saat Kevin memanggil nama lengkapnya. "Berpikir Le, berpikir," batin Lea mencoba mencari cara lain untuk bisa ikut. Ini adalah kesempatannya untuk ikut tawuran, dan Lea yakin pasti ini akan sangat menyenangkan. Lea tersenyum penuh arti saat menemukan cara untuk ikut kedalam tawuran tersebut. "Yaudah kalau aku nggak diizinin ikut, aku mau pergi aja. Dan jangan harap kamu bisa ketemu sama akau lagi," ujar Lea dengan wajah yang begitu kecewa. Lea berdiri, "Kita pulang aja Lin, gue udah nggak ada hubungan sama ketua geng sini," ujar Lea. Sedangkan Alin langsung memutar bola matanya dengan malas, sungguh Alin sudah tahu sifat Lea dari luar maupun dalamnya. Dan Alin bisa tebak jika gadis didepannya ini sedang bersandiwara. "Alin s****n lo," batin Lea mengumpati Alin. Ia menatap Alin tajam, saat melihat sahabatnya yang masih duduk santai. "Masih ada kak Gilang yang nerima lo apa adanya," balas Alin yang terpaksa ikut kedalam drama Lea. Saat Lea ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba Kevin menahannya dengan mencekal tangan kanannya. "Siapa Gilang?" Lea menatap Alin, sedangkan Alin mengangkat kedua bahunya acuh. Ia sebenarnya juga tidak tahu nama siapa yang ia sebut. "Temennya Alin," jawab Lea asal. "Kamu nggak boleh pergi!" Kevin menarik tangan Lea agar kembali duduk disampingnya. "Aku nggak bakal pergi, kalau kamu izinin aku ikut." "Tapi itu bahaya sayang." Lea menggelengkan kepalanya, "Ya udah Kalau nggak izinin aku ikut, aku mau ikut Gilang aj--" "Oke kamu boleh ikut, tapi jangan ikut tawurannya," pungkas Kevin akhirnya. Ia tidak bisa membatalkan tawuran ini untuk kedua kalinya, jika ia lakukan lagi. Pasti geng Wolf akan menganggap anggotanya pengecut dan Kevin tidak mau itu. Senyum Lea berkembang. "Tapi aku harus jadi pang limanya." **** "Yuhuuu~" Lea berjalan menuruni tangga dengan wajah berbinar. "Mau kemana sayang pagi-pagi gini?" tanya Dinda saat melihat penampilan anaknya yang berbeda dari biasanya. Celana hitam, kaos hitam yang dibaluti jaket kulit dengan warna senada. Ditambah helm hitam yang sedari dia pegang, membuat gadis itu terlihat semakin cantik. "Mau berjuang Ma," sahut Lea lalu menyalami ibunya. "Do'ain moga menang," lanjutnya lalu menaiki motor kesayangannya yang sudah lama tidak ia pakai. "Hati-hati ya sayang, semangat berjuangnya putri mama yang cantik," seru Dinda menyemangati putrinya. Lea memandang miris kearah ibunya, seandainya Dinda tahu kemana Lea sebenarnya akan pergi, pasti wanita itu langsung melarangnya bukan malah mendukungnya. Lea pun mulai menjalankan motornya menuju markas geng LK. "Yuhuuu~ pang lima perang udah dateng nih, ga ada sambutan," seru Lea saat sudah sampai di markas tersebut. Terlihat banyak sekali anggota Lion King yang sudah berkumpul dengan menaiki motornya masing-masing. "Kalau gue muji lo cantik nanti ada yang marah Le," sahut Reza. Lea menagguk paham. Benar saja saat ini Kevin sedang menatapnya tajam. Lea turun dari motornya, lalu berjalan mendekati Kevin. "Pakai," suruh Kevin sambil memberikan sebuah masker berwarna hitam. "Buat?" "Kamu terlalu cantik sayang, aku nggak mau kamu jadi tontonan orang lain," ujar Kevin lesu saat melihat penampilan Lea yang berbeda, dan sialnya Lea malah terlihat tambah cantik. Tanpa banyak bicara Lea pun memakai masker tersebut. Cup Lea mengecup pipi Kevin sebentar agar wajah pria itu tidak terlalu tegang, Lea menaiki motor yang di naiki Kevin juga. "Please aku yang nyetir ya? Kapan lagi aku bisa boncengin ketua geng," mohon Lea memelas. "No!" "Sayang sekali aja," mohon Lea dengan suara lembut, membuat Kevin pasrah dan langsung bertukar duduk dengan Lea. Dan jadilah Lea yang didepan, dengan memboncengi Kevin. "Berangkat!" seru Lea lalu menancapkan gasnya. Lagi-lagi anggota LK dibuat terbelalak oleh aksi Lea, bagaimana tidak. Gadis itu memboncengi ketua mereka, dengan kecepatan diatas rata-rata. "Haha. Anj*ng gue ngakak ngeliat bos!" tawa Fino pecah yang disusul oleh tawa Reza. "Udah kita berangkat," suara dingin Aldo memotong tawa mereka, mereka semua pun mulai menjalankan motornya mereka masing-masing. "Hati-hati sayang!" peringat Kevin namun dihiraukan oleh Lea, gadis itu dengan lincah nya menyalip kendaraan lain. Untung saja ini masih sangat pagi, jadi tidak terlalu banyak pengendara lainnya. "Sayang!" peringat Kevin lagi saat Lea menambah kecepatan motornya. "Tenang aja Leo, aku udah pro," balas Lea. "SAYANG!!" Jantung Kevin seakan mau meloncat dari tempatnya saat sedikit lagi Lea hampir saja menyerempet mobil orang. Sungguh Kevin sebenarnya bisa saja lebih cepat mengendari motornya dari Lea, tapi sekarang ini ia cemas karena Lea yang menyetir, ia tidak mau terjadi sesuatu pada gadisnya. **** Kini suara motor sudah bersahut-sahutan dengan sekelompok remaja didepan mereka. Lea berada di barisan paling depan, dengan masker dan helm yang masih ia kenakan. Posisinya pun sudah berubah, kini Kevin yang menyetir. Geng Wolf belum menyadari jika yang dibonceng oleh Kevin adalah seorang gadis. Suara motor semakin nyaring, saat anggota geng Wolf yang mulai berdatangan, ditambah u*****n - u*****n yang membuat telinga Lea seakan ingin ia sumpal saja. Kini giliran tugas Lea sebagai panggil lima untuk memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerang. "SERANG!!" "HAJAR JANGAN KASIH KENDOR!!" teriak Lea lantang. Para anggota Lion King dan juga Wolf langsung turun dari motor mereka masing-masing, lalu saling menyerang satu sama lain. Termasuk Kevin yang kini sudah berhadapan dengan Gino. Sedangkan Lea sudah greget sendiri ingin ikut menghajar mereka, namun sebisa mungkin ia tahan. Tawuran tersebut pun mulai panas, tanpa ada orang yang mengetahuinya, karena mereka memilih kawasan yang benar-benar sepi. Bught "Gue bakal batalin pertunangan lo dengan Amel!" ujar Kevin setelah membogem wajah Gino. Gino tersenyum miring, "Lo nggak akan pernah bisa." Bught Gino membalas pukulan dari Kevin. Pertarungan antara mereka semakin sengit. Bught Bught Braak Kevin berhasil menjatuhkan Gino. "Lo harus batalin semuanya, atau gue patahin kaki lo!!" Wajah Gino tetap sama, hanya menampilkan senyum remeh kearah Kevin tanpa ada rasa takut sama sekali. Bught Gino menendang perut Kevin lalu ia berdiri, dan berniat menghajar menghajar kepala Kevin, namun aksinya terhenti saat melihat seorang gadis yang sedang duduk diatas motor Kevin. Gino terdiam sesaat, kenangan masa lalu tiba-tiba terlintas di memori nya. "Gue kembali menemukannya," gumam Gino dengan senyum miringnya. "Huh panas banget sih pakai ginian," keluh Lea, lalu gadis itu melepaskan masker serta helmnya. tanpa di sadari banyak anggota Wolf yang langsung fokus menatapnya. "Ayo Rez, lawan tuh dia!!" seru Lea saat melihat Reza sedang memukuli lawannya. Saat asik bersorak, tiba-tiba satu persatu anggota Wolf pergi. "Udah selesai?" tanya Lea bingung. Seluruh anggota LK juga kebingungan saat mendengarkan teriakan Gino yang menyuruh anggotanya untuk pergi. "Gue bakal dapetin lo kembali," gumam Gino dan pergi dari kawasan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN