13 Dino Kembali

1598 Kata
"Gimana sayang? Menangkan?" tanya Dinda antusias saat melihat putrinya yang baru saja pulang. Lea menghempaskan tubuhnya keatas sofa lebarnya. Lalu menatap Dinda lesu, "Nggak asik Mam, masak belum ada yang menang udah bubar," tutur Lea. "Lho kok bisa?" "Lawannya kabur, jadi nggak tahu siapa yang menang." "Yah padahal mama udah siapin selamatan," ujar Dinda yang ikut kecewa. "Lea keatas dulu ya Mam," permisi Lea yang langsung diangguki oleh Dinda. Gadis itu pun berjalan melewati tangga menuju kamarnya. Lea kembali menghempas tubuhnya diatas kasurnya, lalu mulai men-scroll beranda sosial media agar sedikit menghilangkan rasa kecewanya. Ting! Tiba-tiba diatas layar ponsel Lea terdapat notifikasi pesan masuk dari sahabatnya. Alina |OMG!!! |Besok lomba basket Dimana?| |SMA Jaya |Lo mau ikut nggak? PASTILAH!!| Kali ajakan di sana Ada cogan nyasar| |Inget Kevin jadi ketua basketnya. Iya-iya| Lea memandang malas pesan terakhir dari Ali, lalu mematikan ponselnya memilih untuk tidur saja. **** "Lin bawa mobil sendiri aja," saran Lea saat melihat mobil sekolah yang sudah terisi dengan anggota dan beberapa anggota basket. "Kenapa kita nggak ikut anggota cowok lo aja. Mobil gue lagi rusak," balas Alin. "Oh ya gue lupa, kita naik motor mereka aja biar seru." Lea langsung menarik tangan Alin, menuju kearah motor yang sudah berjejer rapi di depan gerbang sekolah, dengan dinaiki oleh pemiliknya masing-masing. Kevin langsung tersenyum saat melihat Lea yang berjalan menghampirinya. "Kenapa nggak dari tadi aja, biar nggak pusing-pusing di sana," ujar Kevin. "Baru inget hehe." Saat Lea ingin menaiki motor Kevin, tiba-tiba terdengar suara yang membuat niatnya ia urungkan. "Kev, gue ikut kamu aja ya. Mobil sekolah udah penuh," ujar Amel yang tiba-tiba ada di sana. "Lo kan punya mobil," balas Alin sedangkan Lea hanya diam. "Mo...mobil gue di pinjem Alif," balas Amel. Alis mengangakat alisnya tidak percaya dengan jawaban dari Amel. "Kenapa nggak ikut Al--" "Udah lah Lin, gue ikut Reza aja," sela Lea. Meski ia memaksa untuk bersama Kevin pun Amel juga ikut kekeh, dan berakhir Amellah yang menang. Karena dudukkan sahabat lebih tinggi, katanya. Lea sempat berpikir apakah Kevin benar-benar mencintainya apa tidak? Namun Lea malah menghiraukan itu karena niat awal pacaran dengan Kevin hanya ingin tahu sifat Kevin yang katanya dingin ke semua orang, tapi ia salah, ia salah mencari partner bermain karena Kevin malah terus mengikatnya dan tidak membiarkannya lepas, hingga ia perlahan malah terbuai dan luluh kepada Kevin. Dan yah, dia terjebak dengan perasaannya sendiri. Jika sekarang ia disuruh melepaskan atau berjuang, ia lebih baik memilih melepaskan. Tapi Kevin tidak akan membiarkan hal itu, laki-laki itu akan menggunakan seribu cara untuk terus bersamanya. Sebelum Kevin sempat mencegah Lea, gadis itu sudah terlebih dahulu naik keatas motor Reza. "Le, gue panas dingin ini," ujar Reza pelan. "Lo tenang aja, Kevin nggak bakal apa-apain lo," balas Lea. Reza hanya mengangguk pasrah. Memang didepan Lea, Kevin tidak akan melakukan apa-apa kepadanya, tapi jika di belakang Lea siapa yang bisa menjamin keselamatannya. "Gue nggak jadi ikut," celetuk Alin yang tiba-tiba bingung ingin nebeng ke siapa. "Kenapa?" "Gue harus ikut siapa--" "Lo ikut gue," potong Devan cepat lalu menarik tangan Alin menuju motornya. "Eh." Entah kenapa Alin merasa gugup saat pertama kalinya naik diatas motor dan dibonceng oleh laki-laki. "Lo kalau takut peluk gue aja," ujar Devan yang langsung dibalas gelengan oleh Alin. Ya kali dia mau peluk - peluk anak orang sembarangan, kali aja si Devan udah punya pawang. Mereka semua pun berangkat saat melihat mobil sekolah sudah keluar dari gerbang. "Le, kenapa Kevin selalu buntutin kita?" tanya Reza. "Ya karena lo lagi boncengin ceweknya Rez," sahut Lea. Benar saja dari awal berangkat hingga sampai di parkiran SMA Jaya, motor Kevin selalu mengikutinya. Setelah semuanya turun dari kendaraannya masing-masing, tiba-tiba tangan Lea langsung ditarik oleh Kevin dan menjauh dari mereka. "Leo lepas!" sentak Lea saat Kevin yang semakin kuat mencekal tangannya. Kevin seakan tuli, laki-laki itu terus berjalan sambil menarik Lea paksa. "Gue bilang lepas s****n!" sentak Lea sekali lagi saat mereka sampai di lorong sepi. Kevin terdiam, ia menatap Lea tajam dengan rahang yang sudah mengeras saat mendengar Lea yang mengumpati nya. Kevin akhirnya melepaskan cekalannya. "Lo kenapa ikut Reza?" Oke, sekarang mereka sudah menggunakan gue-lo yang artinya akan ada pertengkaran diantara mereka. "Terus gue harus ikut lo? Bonceng berduaan sama Amel? Gue buka cewek kayak Amel Kev, yang ngerebut kebahagian orang lain," balas Lea meluapkan kekesalannya. "Gue bakal usir Amel kalau lo mau." "Bukannya gue udah dari dulu nyuruh lo buat ngejahuin Amel," Lea menatap Kevin dengan senyum miringnya, "Tapi sekarang apa? Lo masih dekatkan sama Amel," sarkas Lea lalu pergi dari sana. Skat mat. Kevin terdiam sambil menatap kepergian Lea. **** Ingat Lea tidak akan menangis bombay cuman gara-gara putus cinta, meski masih belum putus sih. Lea berjalan dengan angkuhnya meninggalkan Kevin, dia tidak pandai mengemis karena kecil ia selalu diajarkan memberi bukan meminta. Wajah angkuh Lea tiba-tiba berubah bingung saat ia melihat jalanan yang berbeda saat ia lewati tadi. "Kayaknya gue nggak lewat si deh tadi." Lea menatap dua belokan di depannya. "Nih sekolah besar banget sih, gue jadi bingung mau kemana," kesal Lea sambil menghentak-hentakan kakinya ke bawah, mana tidak ada orang sama sekali di sana. "Belok ke kanan, terus jalan keluar, kalau lo mau balik lagi ke parkiran sekolah dari awal lo dateng. Atau lo belok ke kiri kalau mau langsung ke lapangan basket, tempat kita tanding nanti." Suara itu membuat Lea menolehkan kepalanya kebelakang. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang laki-laki yang ternyata sudah ada dibelakangnya. Lea mengerutkan keningnya saat tidak asing dengan wajah laki-laki tersebut. "Lo calon tunangan Amel kan?" tanya Lea saat sudah kembali ingat. Gino mengangguk. "Lo udah lupa sama gue?" "Ha?" Gino tertawa pelan saat melihat wajah Lea yang begitu lucu saat sedang kebingungan. "Gue Gino, mantan lo pas masih kelas 3 SMP," jelas Gino. "Oh." Lea menganggukan kepalanya sebentar, jika kalian kira Lea ingat. Maka kalian salah, karena sebenarnya Lea sudah lupa siapa saja mantannya waktu smp. "Thanks ya, gue mau balik ke temen-temen gue dulu," ujar Lea lalu berniat melangkah. "Lo beneran udah lupa sama gue?" Lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena pertanyaan dari Gino. "Gue inget kok, lo mantan gue pas--" "Alea Alison, kalau lo bukan milik gue, maka gue bakal hilangin orang yang lo miliki." Deg Kalimat itu membuat Lea dejavu. Lea kembali mengingat memori yang dulu sempat hilang. Tubuh Lea menegang, keringat di keningnya pun mulai bercucuran. "Udah ingatkan?" tanya Gino dengan senyum penuh arti. "Dino." Gino menampakkan senyumnya saat mendengar panggilan khusus Lea kepadanya dulu. Lari-lari Lea!! Alarm bahaya di kepala Lea menyuruh gadis itu untuk menjauhi pria di depannya ini. Tanpa aba-aba Lea langsung berlari melewati belokan sebelah kiri, agar langsung sampai di lapangan basket. Tempat di sana pasti lebih ramai dan aman dari laki-laki ini. **** "Hah..." Lea menghembus nafasnya lega setelah ia melihat Alin yang sudah bersama team Cheerleaders. "Lo kemana aja?" tanya Alin kesal saat baru melihat Lea. "Lo tahu Gino nggak?" Bukannya menjawab Lea malah kembali bertanya kepada Alin. "Yang ada di pesta Amel itukan," jawab Alin ragu. "Iya, lo tahu nggak. Kalau Gino itu ternyata Dino, mantan gue pas kls smp. Dan lebih parahnya dia ketua geng Wolf yang sekarang lagi berselisih sama geng nya Kevin," jelas Lea. "WHAT!!" teriak Alin nyaring membuat sebagian yang ada di sana langsung menatap kedua gadis tersebut. "Lo jangan keras-keras!" "Ta - tapi Gino." Alin menatap sahabatnya malang, gadis itu terjebak diantara cinta dua ketua geng. "Gue nggak tahu lagi kehidupan gue kedepannya," lirih Lea. Menghadapi sikap Kevin yang selaku berubah-ubah membuatnya stres, apalagi ditambah Gino yang cukup dibilang terobsesi kepadanya. Di saat ia berpacaran dengan Gino, laki-laki itu sudah mengaturnya layaknya ayahnya. Tidak boleh begitulah, harus beginilah membuat Lea meminta putus, namun ia malah diancam akan melukai salah satu anggota keluarganya. Membuat Lea harus bertahan dengan hubungan toxic tersebut. Namun ia sempat bernafas lega saat Gino pindah sekolah saat mereka SMA, tapi setelah dua tahun menghilang, kenapa laki-laki itu kini kembali lagi. **** Pertandingan Basket pun dimulai saat pluit ditiup. Lea duduk dengan gelisah saat melihat Gino yang selalu menatapnya. Padahal laki-laki itu sedang bermain basket. Apalagi di saat Gino akan memasukkan bola basket ke ring, pasti laki-laki itu menatapnya. Dan hal itu diketahui oleh Kevin, laki-laki itu sadar jika Gino selalu menatap kearah gadisnya. Kevin mengurungkan niatnya untuk memasukkan basket kedalam ring, saat ia melihat Gino yang dengan santainya menatap kearah Lea. Duk Kevin melempar bola basket tersebut kearah Gino. "Fokus ke bola lo!" desis Kevin tajam. "Mari buat perjanjian. Kalau gue kalah, gue bakal batalin pertunangan gue sama Amel. Dan kalau gue menang, Lea jadi milik gue," ujar Gino santai. Braaak Kevin langsung mendorong tubuh Gino kebelakang, membuat para penonton langsung berteriak. "LO KIRA CEWEK GUE APAAN HAH?" teriak Kevin marah. Kevin menghampiri Gino lalu memukulnya dengan membabi buta, namun langsung di tahan oleh anggota basket lainnya. "Gue nggak bakal kasih milik gue ke orang lainnya!" tekan Kevin lalu pergi dari lapangan tersebut. **** "Le ada apa itu?" tanya Alin saat melihat lapangan yang sudah keruh. "Gue dari tadi udah ada di samping lo Lin," balas Lea jengkel. Alin mengangguk setuju. "Kayaknya Kevin sadar deh kalau Gino liatin gue terus," gumam Lea yang masih dapat di dengar oleh Alin. Lea menatap kearah Kevin yang tiba-tiba pergi dari sana, Lea sempat terpaku saat Kevin menatapnya sekilas, namun laki-laki itu melanjutkan langkahnya kembali. "Kayaknya dia marah deh Le sama lo," bisik Alin yang diangguki oleh Lea. Entah kenapa d**a Lea merasa sesak saat melihat Kevin yang mengabaikannya, mungkin karena pertengkaran tadi. Basket pun kembali di mulai dengan ketua Basket yang sama-sama keluar. Dan setelah menunggu lama, pertandingan dimenangkan oleh SMA Lea, semuanya bersorak gembira. Kecuali Lea, pikiran gadis itu masih tertuju dengan keadaan Kevin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN