Ini waktu yang di tunggu-tunggu selama sebulan bekerja, jerih keringat mereka akan di bayar dengan uang yang di namakan gaji untuk menunjang kehidupan selanjutnya. Para karyawan mulai mengantri di sif pertama ini termasuk Sisil. Meski yang memberikan gaji itu pamannya langsung, ia tetap mengantri bersabar menunggu giliran. Satu persatu dari mereka mulai menerima amplop putih. Ada yang langsung mendekapnya dengan senang sambil bersyukur, ada yang langsung berlari kecil keluar dari ruangan, bermacam raut wajah tergambar ceria. Kini tibalah giliran Sisil yang berdiri di akhir antrian. Itu artinya, hanya dia dan paman Jono di ruangan itu. Lama menatap Sisil, paman Jono tersenyum kecut. Sisil menatap paman Jono dengan penuh heran serta kebingungan. Semakin kesininya, lelaki itu mulai bertingk

