Bab 7 - Om Reno

1462 Kata
"Kalian mau makan siang pakai apa, Sayang?" tanya Anna. "Hmm, makan apa aja, Bun. Yang penting masakan Bunda," jawab Eza. "Iya, Bun. Erik maunya masakan Bunda." "Tapi Bunda belum masak, Bunda juga harus balik lagi ke restoran untuk bekerja." "Beli lauk di tempat Bu Irma aja, Bun. Eza pengen perkedel," sahut Eza. Ia tak mau merepotkan bundanya, sudah jelas bundanya lelah bekerja. Tak mungkin lagi untuk memasakkan makanan untuknya dan juga kembarannya. Eza takut Bunda dimarahi oleh bosnya. "Sayur sop juga ya, Bun. Pasti Ella juga suka," ujar Erik. "Okee baiklah, let's go!" "Let's go!" Anna segera mengantarkan anak-anaknya pulang setelah membeli lauk. Untung saja tempat kerjanya tak begitu jauh dengan rumahnya. Ya walaupun membutuhkan angkutan umum atau pun ojek untuk pergi ke sana. Setelah selesai makan siang, Anna berpamitan untuk berangkat kerja kembali. *** Dina datang ke Restoran FA, untuk makan siang. Sesampainya di sana, Reno melihat kedatangan Dina dan menghampirinya. "Selamat siang, Bu Dina," sapanya sopan. "Siang." "Ibu mau duduk di mana? Apa perlu ke private room?" "Oh tidak usah, saya duduk di tempat biasa aja." "Baik, Bu. Saya panggilkan pelayan dulu." Reno pun pergi menghampiri salah satu karyawannya. Reno kenal dengan Dina karena pemilik restoran ini adalah Farhan, anak Dina. Dina mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman. Restoran ini cukup ramai. Harga semua menu di Restoran FA sangat terjangkau. Tak lama kemudian, salah satu pelayan menghampiri Dina. "Permisi, Bu. Ibu mau pesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah sambil menyodorkan buku menu itu. Dina melihat name tag pelayan itu. Name tag itu tertulis nama 'LINA'. Kemudian, melihat buku menu itu. "Saya mau chicken steak saus enoki, udang pedas gurih dan saya mau minuman citrus squash." "Saya ulangi ya, Bu. Chicken steak saus enoki satu, udang pedas gurih satu, dan citrus squashnya satu." Dina menganggukkan kepalanya. "Ada pesanan tambahan lagi, Bu?" "Enggak, itu aja." "Tunggu sebentar ya, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu." Dina memainkan ponselnya, ia mengirim pesan kepada suaminya untuk mengingatkan jika sebentar lagi meeting akan dimulai. Dina Anggita Papa udah siap-siap untuk meeting? Papa Sudah, Ma. Ini Papa udah di dalam ruangan. Dina Anggita Papa udah makan? Tadi Mama pesan makanan sama pegawai hotel. Makanannya diletakkan di atas meja dekat tv. Papa Sudah, Ma. Papa mau meeting dulu. Dina Anggita Oke, Papa. Tak lama kemudian, pesanan Dina datang. Lina menyajikan makanan itu di atas meja. "Selamat menikmati, Bu." "Terima kasih ya." "Sama-sama bu." Setelah itu Lina pun pamit undur diri untuk kembali bekerja. Dina memakan makanan itu. "Sepertinya aku tak asing dengan rasa makanan ini. Seperti punya ciri khas sendiri. Apa mungkin dia? Tapi itu tak akan mungkin." ucapnya dalam hati. *** Lina kembali ke dapur, ia menghampiri Anna. Di sini Anna bekerja sebagai juru masak. Bisa dibilang sebagai koki dapur. Salah satu koki tetap tidak masuk karena sakit. Reno menunjuk Anna untuk sementara ini sebagai juru masak Pengunjung juga menyukai masakan Anna. Reno memang tidak salah pilih. Salah satu karyawan menatap Anna benci. Ia telah lama menyukai bosnya, tetapi sang bos tak meliriknya sama sekali. Ia iri dengan Anna. Padahal Anna baru saja berkerja di sini dan sudah Reno selalu memperhatikan Anna. "Na, ini ada pesanan chicken steak saus enoki satu, udang pedas gurih satu. Duluin pokoknya Na, ini pesanan ibu dari pemilik restoran ini." "Oke siap!" Para pekerja lain pun juga memberikan kertas pesanan kebagian dapur. Sebagian kertas itu diberikan kepada Anna. "Dimas, minuman citrus squash satu, ya. Duluin pokoknya itu pesanan ibu dari pemilik restoran ini," ucap Lina. "Okee siap, komandan," ucap Dimas. Hari sudah menjelang sore. Anna bersiap untuk pulang ke rumah. Anna sedang menunggu angkutan umum yang lewat, sedangkan Lina menunggu jemputan dari tunangannya. Sebuah mobil berhenti di depan Anna dan Lina. Seorang pria turun menghampiri Lina. "Ayo, silakan masuk," ujar lelaki itu. "Tunggu sebentar, Sayang. Temanku sendirian di sini." "Ajak saja, kita antar dia pulang." "Anna, ini tunangan gue, Dafa." "Anna." "Dafa." "O iya, biar lo kita anter aja ya." "Eh gak usah, kalian duluan aja. Gue nunggu angkutan umum aja," tolak Anna dengan halus. "Lo yakin nunggu di sini sendirian?" "Iya, gak papa. Rumah gue gak jauh-jauh banget kok. Kalian duluan aja." Mereka mengangguk. "Beneran lo gak papa? Ini agak mendung juga," tanya Lina dengan khawatir. "Iya, gak papa. Di sini kan ramai. Lo tenang aja, udah sana lo pulang aja." Lina pun menyerah, ia dan Dafa pun berpamitan dengan Anna untuk pulang lebih dahulu. Awan semakin gelap, pertanda akan turun hujan. Angin mulai berhembus sedikit kencang, Anna memeluk dirinya sendiri. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya. Pemilik mobil itu menurunkan kaca jendelanya. "Pak Reno," sapa Anna. "Anna, ayo saya antar kamu pulang." "Gak usah, Pak. Nanti ngerepotin Bapak," tolak Anna dengan halus. "Gak ngerepotin kok. Ini udah mau hujan. Angkutan umum udah gak ada yang lewat di jam segini." Anna diam berpikir. "Kasihan anak-anak kamu nunggu di rumah. Sepertinya sebentar lagi juga mau hujan lebat. Ayo masuk!" Anna pun memilih untuk menerima tawaran dari Reno. Selama perjalanan mereka sama-sama terdiam. Tak ada yang membuka suara. "Rumah kamu di mana, Anna?" tanya Reno yang memulai membuka suara. "Nanti lurus, itu ada perempatan belok kiri, Pak. Gak jauh dari sana rumah saya." Reno pun mengangguk paham. Sebuah notifikasi muncul di ponsel Anna. Bu Ida mengirim pesan kepadanya, jika anak-anak sudah pulang ke rumahnya. Mereka bilang, mereka ingin menunggu Bunda mereka di rumah. Rumah mereka cukup dekat hanya berjarak satu rumah saja. Maka dari itu, Anna tak terlalu khawatir jika anak-anaknya pulang. Setidaknya masih terpantau oleh Ibu Ida dan Pak Suryo. Ibu Anna, anak-anak kamu sudah pulang. Katanya mereka ingin menunggu kamu di rumah. Udah ibu cegah, mereka tetap aja kekeh pengen pulang. Jadi Ibu ikuti ke rumah kamu nemenin mereka. Anna Maaf ibu ngerepotin. Terima kasih udah jagain anak-anak Anna. Mereka nakal gak, Bu? Gimana keadaan Ella? Ibu Huss, udah berapa kali Ibu bilang, kalau kamu itu gak pernah ngerepotin Ibu. Mereka juga cucu-cucu Ibu, gak usah ngucapin makasih terus. Dan mereka anak-anak yang baik, gak pernah nakal. Ella sudah mendingan kok, mungkin besok sudah sembuh. Anna Syukurlah kalau begitu. Udah dulu Bu, Anna sedang di perjalanan pulang. Sebentar lagi Anna sampai rumah. Ibu Hati-hati di jalan, Nak. Anna Siap komandan. Sejak tadi Reno memperhatikan Anna yang sesekali tersenyum ketika melihat ponselnya. "Anna kamu kenapa?" tanya Reno. "Eh ... enggak, Pak. Ini Ibu saya kirim pesan, kalau anak-anak udah nunggu saya di rumah." Reno mengangguk paham. "Berapa usia anak-anak kamu, An?" "Usia lima tahun, Pak. Mereka kembar tiga," ucap Anna dengan senyum lebarnya. Ia membayangkan wajah imut anak-anaknya. Tak lama kemudian, Anna sampai di depan rumahnya. Hujan pun turun, Anna menyuruh Reno untuk mampir ke rumahnya. Reno menyetujuinya, terlihat anak-anak Anna menunggu di depan pintu. "Bunda!!" pekik mereka. "Kok kalian di luar, ini kan hujan." "Kami nunggu Bunda," ucap mereka. "Ayo sekarang masuk. Pak, silakan masuk. Maaf rumah saya kecil dan sempit." "Oh, tidak apa-apa, Anna." Reno duduk di ruang tamu. Anna meminta izin untuk mengganti pakaian sebentar dan mengambilkan minum untuk Reno. "Ibu." Anna menghampiri Bu Ida yang sedang memasak di dapur. Ia menyalami Bu Ida. "Kamu ganti baju dulu, Nduk. Lihat tu agak basah bajunya." Anna segera mengganti bajunya dan kembali lagi ke dapur. "Kamu pulang sama siapa itu, Nduk?" tanya Bu Ida. "Itu bosnya Anna, Bu. Dia yang nganterin Anna pulang. Beruntung juga tadi ditawarin, jadi gak kejebak hujan deh." "Baik banget ya Nduk, bos kamu." Anna mengangguk sembari membuatkan teh hangat untuk Reno. Sedangkan di ruang tamu, ketiga anak Anna menatap Reno penasaran. "Om siapa?" tanya Ella. "Iya, Om siapa? Kok bisa sama Bunda?" tanya Erik. "Om temannya Bunda kalian," jawabnya sedikit kaku. Mereka mengangguk paham. "Nama Om siapa?" tanya Eza. "Reno, kalian bisa panggil Om Reno." "Itu mobilnya Om?" tunjuk Ella. "Iyaa, itu mobilnya Om. Kenapa?" "Mobil Om bagus. Ella belum pernah naik mobil sebagus itu." Ella yang tadinya ceria menjadi lesu. "Ella mau naik mobil itu sama Om?" "Emangnya boleh, Om?" tanya Ella dengan binar bahagia. "Boleh dong." "Yeeeyyy! Kak Eza sama Kak Erik mau juga kan naik mobil Om Reno?" tanya Ella dengan antusias, mereka pun mengangguk semangat. "O iya, nama kalian siapa?" tanya Reno, walaupun sudah menyebutkan nama, tapi Reno tak tahu yang namanya Eza ataupun Erik. "Nama aku Ella, Om. Ella cantik, 'kan?" ucapnya dengan malu-malu. Reno terkekeh melihat tingkah Ella. "Iya, kamu cantik." "Nama aku Erik, Om." "Eza," ucapnya dengan singkat. Reno sudah tahu sekarang mana yang namanya Eza ataupun Erik. Reno tak pernah sedekat ini dengan anak-anak. Ia bahkan tertarik melihat tiga bocah ini, menurutnya sangat menggemaskan. Namun, ada yang membuatnya merasakan sesak, bahwa mereka adalah anak-anak dari wanita yang dicintai. Otomatis, Anna sudah memiliki suami. Ada yang membuat Reno penasaran, ia tak melihat sekalipun foto pria dewasa di dinding itu. Di dinding ruangan hanya ada foto Anna dan anak-anaknya. Mereka pun asik bermain dengan Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN