"Om ...," panggil Ella dengan ragu.
"Iya, kenapa El?" tanya Reno.
"Hmm, gak jadi deh, Om."
"Ada apa El, coba kasih tau ke Om." Reno melihat tingkah Ella seperti ingin mengatakan sesuatu. Kedua kembarannya pun melihat ke arah Ella.
"Hmm, boleh gak kalo Ella peluk Om Reno?" ucap Ella dengan takut-takut. Reno mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ella. Bukannya tak mau, tapi ia bingung dengan ucapan Ella.
"Ada apa dengan Ella?" batinnya.
"Gak boleh ya, Om? Maaf ya Om, Ella gak sopan," ucapnya lagi, ia menundukkan kepalanya.
"Sini, deket sama Om." Ella mendongak menatap Reno yang tersenyum kearahnya. Dengan ragu ia mendekat ke arah Reno. Kedua kembarannya hanya diam melihat gerak-gerik Ella. Reno memeluk Ella yang berada di dekatnya. Ella membalas pelukan Reno, orang yang baru saja ia temui.
"Apakah begini rasanya berpelukan dengan Ayah?" batinnya.
"El rindu ayah, cepatlah datang Yah." gumam Ella dengan lirih tanpa ia sadari. Air matanya pun ikut menetes, gumaman Ella tak sengaja terdengar leh Reno.
"Apa maksud Ella? Mengapa mengatakan hal itu? Apa yang telah terjadi?" batin Reno. Reno merasakan kemeja bagian pundaknya terasa basah.
"Apa Ella menangis? Ada apa dengan mereka?" batinnya, ia memeluk Ella sedikit lebih erat.
"Ssttt jangan nangis, Sayang ...," bisik Reno. Ia mengusap punggung rapuh milik Ella. Eza dan Erik mengerutkan keningnya ketika melihat tubuh Ella yang sedikit bergetar. Mereka pun mendekat kearah Reno.
"Om apain Ella?" tanya Eza dengan memicingkan matanya. Reno hanya menggelengkan kepalanya, ia tak menyahuti ucapan Eza.
"El kamu kenapa?" tanya Erik dengan sedikit panik. Ella mengusap air matanya, kemudian membalikkan badannya menghadap kedua kembarannya.
"El gak papa kok." ucapnya sambil tersenyum, wajahnya sedikit pucat.
"El sakit lagi?" tanya Eza khawatir.
"Sedikit pusing," ucap Ella dengan jujur. Reno memegang dahi Ella.
"Astaga kamu demam, El," ucap Reno dengan sedikit panik.
"Erik, tolong panggilin Bunda sama Nenek." Erik pun mengangguk menuruti ucapan Eza. Ia segera pergi ke dapur menemui Bunda dan Neneknya.
Tak lama kemudian, Erik datang bersama Anna dan Bu Ida. Terlihat jelas di wajah mereka mengisyaratkan raut khawatir. Ella sedang bersandar di d**a bidang milik Reno. Ella memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing yang menyerangnya.
"Ella, Sayang!" panik Anna. Ella segera membuka matanya, ia melihat Anna yang sudah berada di depannya. Anna segera mengambil alih Ella yang berada di pangkuan Reno. Anna pun menggendong Ella yang langsung bersandar di bahunya.
"Kita makan ya, habis itu minum obat." Ella hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Bundanya.
"Mari, Pak. Kita makan malam bersama," ajak Anna.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, Pak. Itu juga untuk ucapan terima kasih saya karena Bapak sudah mengantarkan saya pulang." Reno pun mengangguk, mereka makan malam bersama. Entah mengapa anak-anak Anna sedikit dekat dengan Reno yang notabenya orang yang baru dikenal. Ella dan Erik sejak tadi lengket dengan Reno. Eza tak begitu dekat, karena Eza tipe orang yang tidak mudah terbuka dan dekat dengan orang lain.
"Kalian tidur ya, ini udah malam. Om juga mau pulang. Hujannya juga udah reda."
"Temenin Erik sama Ella tidur ya, Om," pinta Erik dengan memelas dan diangguki oleh Ella.
"Erik! Ella!" peringat Anna. Ia tak mau merepotkan atasannya itu. Mereka juga baru kenal. Ella dan Erik pun menunduk, mereka tahu maksud Bunda mereka.
"Tak apa, Anna. Jangan marahi mereka. Biarkan saya yang menemani mereka hingga tertidur, setelah itu saya pulang."
"Tapi Pak, nanti saya ngerepotin Bapak. Mending Bapak pulang aja, pasti Pak Reno capek," ucap Anna tak enak hati. Anna tidak bermaksud mengusir Reno, bosnya.
"Iya, Nak Reno. Pasti kamu capek, butuh istirahat," sahut Bu Ida.
"Tak apa, Anna, Bu Ida. Kasihan mereka jadi sedih." Anna dan Bu Ida melihat ke arah Ella dan Erik yang kini menunduk. Ekspresi mereka terlihat sedih. Akhirnya pun Bu Ida dan Anna memperbolehkan Ella dan Erik bersama Reno. Eza pun mengikuti saja.
***
Tengah malam Eza terbangun, ingin buang air kecil. Ia pun segera turun dari atas kasurnya dan menuju kamar mandi. Saat selesai buang air kecil, ia melihat pintu kamar bundanya masih terbuka. Eza masuk ke kamar Bunda dan mendekat ke ranjang. Di sana ia melihat Bunda tertidur sambil memeluk sebuah foto. Eza mengambil perlahan foto itu.
Eza melihat gambar Bunda dan seorang pria yang sedang tersenyum. Mereka tampak sangat bahagia. Laki-laki itu mirip dengan Erik.
"Apa ini Ayah? Jika iya, Eza seneng bisa lihat foto Ayah. Cepatlah pulang, Yah. Kami rindu Ayah," batinnya. Ada rasa senang di hatinya bisa melihat foto sang Ayah. Namun, ada rasa sedih yang menjalar di hatinya.
"Apa Ayah tidak rindu sama kita? Kenapa Ayah tak pernah pulang dan menemui kita?" batinnya dengan sedih. Eza meletakkan foto tadi ke tempat semula. Eza membenarkan letak selimut Anna yang sedikit merosot. Anna terlihat sangat pulas, Eza mencium kening, dan kedua pipinya.
"Selamat malam, Bunda. Semoga Bunda mimpi indah," gumamnya.
***
Hari ini adalah hari minggu, Anna dan anak-anaknya akan pergi ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Persediaan makanan mereka sudah habis.
"Ella! Erik! Cepat!!" teriak Eza. Eza mendengus kesal melihat kedua kembarannya itu, entah sedang apa mereka hingga sangat lama seperti itu. Anna terkekeh melihat ekspresi Eza yang terlihat kesal, menurutnya sangat lucu.
"Sabar dong!" gerutu Ella dan Erik.
Setelah siap, mereka pun segera berangkat ke supermarket agar tidak kesiangan dan menghindari cuaca terik.
"Bunda, kami beli cemilan, ya," pinta Ella dan diangguki oleh Eza dan Erik.
"Iya, kalian ambil aja. Bunda mau ke tempat sayuran di sana. Nanti kalau udah, temui Bunda di sana, ya."
"Siap, komandan," ucap mereka dengan serempak. Mereka segera pergi mengambil beberapa cemilan. Anna tak perlu khawatir dengan mereka yang sudah biasa di supermarket ini.
"Eza, aku mau jajan yang itu, tolong ambilkan. Ella gak sampai," pinta Ella. Ia sudah berjinjit, tapi tak juga sampai. Jadilah ia meminta bantuan Eza, karena Erik sedang mengambil jajanan yang lainnya.
"Sebentar." Eza mencoba mengambilkan jajanan itu, tapi tak sampai juga.
"Dasar pendek! Begitu saja tak sampai!" ucap Erik dengan songongnya. Entah kapan ia datang. Erik pun mencoba mengambil, lagi-lagi tak juga berhasil.
"Nah loh, gak bisa juga, „kan. Makanya jangan sok-sokan," cibir Ella. Di dekat rak itu sedang tak ramai orang. Mereka tak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Eza dan Erik mencoba sekali lagi, sambil terus berjinjit. Kemudian, ada sebuah tangan yang mengambil jajanan itu, mereka berbalik.
"Kenapa mereka mirip Farhan waktu kecil?" batinnya.
"Ini Nak, jajannya." Ikhsan pun berjongkok memberikan jajanan itu. Ya, orang itu adalah Ikhsan, di sebelahnya ada Dina yang terus memandang mereka lekat.
"Terima kasih, Kakek," ucap mereka serempak kemudian tersenyum ke arah Dina dan Ikhsan.
"Nama kalian siapa, Nak?" tanya Dina dengan lembut.
"Nama aku Ella, Nek."
"Nama aku Erik, Nek."
"Nama aku Eza."
"Wahh kalian imut dan lucu sekali," ucap Dina.
"Kalian umur berapa?" tanya Ikhsan.
"lima tahun," ucap mereka dengan serempak. Dina dan Ikhsan pun mengerutkan keningnya.
"Kita bertiga kembar," ucap Eza seolah tahu dengan ekspresi Ikhsan dan Dina yang bingung. Dina dan Ikhsan menatap mereka dengan takjub.
"Kalian panggil kita Oma sama Opa aja, ya," pinta Dina. Mereka hanya mengangguk, mungkin karena ada hubungan darah, jadi mereka nyaman saja berdekatan dengan Dina maupun Ikhsan.
"Kalian mirip anak Oma waktu kecil, terutama Erik, sangat mirip."
"Benarkah, Oma?" Dina mengangguk. Mereka mengobrol banyak hal. Dina dan Ikhsan sangat senang dengan mereka. Seolah ada ikatan di antara diri Dina, Ikhsan, dan ketiga anak itu.
"O iya! Ayo kita ke tempat Bunda. Nanti Bunda mencari kita," ucap Eza. Mereka pun berpamitan pada Dina dan Ikhsan.
"Oma, Opa, kita pamit dulu, yaa. Nanti Bunda bingung mencari kita." Dengan rasa tak rela Dina dan Ikhsan pun mengangguk.
"Semoga kita bertemu lagi, ya." Mereka mengangguk semangat.
"Senang bertemu Oma dan Opa!" ucap mereka dengan senyum merekah. Mereka pun menyalami tangan Dina dan Ikhsan bergantian.
"Dadah, Oma, Opa!" Dina dan Ikhsan membalas lambaian tangan itu. Dina dan Ikhsan harus segera menuju bandara untuk pulang ke Jakarta.