Bab 9 - Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja

1968 Kata
Setelah pulang dari supermarket, Anna mengajak anak-anaknya berlatih bela diri. Anna dulu pernah belajar bela diri, jadi sekarang ia bisa mengajarkan anak-anaknya. Ia melakukan itu demi kebaikan anak-anaknya, ia juga menasihati anak-anaknya agar tidak menggunakan bela diri untuk keburukan. "Ayo kita latihan!" ajak Anna. Dengan langkah gontai mereka menuruti ucapan Anna. Anna memberi waktu istirahat untuk mereka. Ia memberikan minum kepada anak-anaknya. "Ayo waktu istirahatnya sudah habis. Kita latihan sebentar lagi. Setelah itu kalian boleh main. Hanya sebentar saja," ucap Anna. Ella dan Eza sudah berdiri. Sedangkan Erik masih duduk, rasanya ia enggan untuk berdiri. "Erik, ayo bangun, Nak. Jangan malas-malasan," ucap Anna dengan lembut. Anna berjongkok di depan Erik, untuk membujuk anaknya yang satu itu. "Ayo bangun, kamu gak mau ikut main juga sama Ella dan Eza nanti?" "Erik capek, Bunda," ucapnya dengan sedikit merajuk. "Aduh, anak Bunda yang manja. Ayo sebentar lagi kok. Setelah ini terserah kamu mau main apa." Dengan lesu, ia pun bangkit dari duduknya menuruti ucapan sang Ibunda tercinta. Anna tersenyum melihat tingkah anaknya itu. Mereka pun kembali berlatih. *** Tak terasa sudah dua bulan Anna kerja di restoran itu. Kini ia sedang membawa masakan itu ke salah satu kawan kerjanya untuk diantarkan ke tempat pesanan. Bisa dibilang untuk delivery. Hari ini Anna masuk siang dan akan pulang malam hari. Sebenarnya sejak tadi ia merasa tak tenang. Ia meninggalkan anak-anaknya di rumah sendirian. Walaupun ada tetangganya juga, mereka pun baik pada Anna dan anak-anaknya. Namun, ia juga tak tenang, Ibu Ida dan Pak Suryo sedang pergi ke Bandung karena anak perempuan mereka akan melahirkan. Sehingga tidak bisa menitipkan anak-anaknya pada mereka. Hari ini pula, restoran sedang menerima catering. Reno turun ke dapur untuk mengawasi para karyawannya agar tidak mengalami kesalahan dalam pemesanan menu makanan ataupun jumlah pesanan. Sejak tadi, pikiran Anna memang tidak tenang. Ia pun sedang tak fokus, kini ia sedang memotong beberapa sayuran. "Bekerjasamalah dengan baik. Usahakan jangan sampai ada kesalahan!" ucap Reno dengan tegas. "Baik, Pak!" ucap mereka dengan kompak. Reno berdiri di dekat wastafel tempat cuci piring, memperhatikan beberapa karyawannya. "Mereka sangat cekatan dan kompak!" batinnya. Ia tersenyum puas dengan kinerja para karyawannya. "Maaf permisi, Pak. Saya mau mencuci piringnya," ucap salah satu karyawan itu dengan gugup. "Oh iya, silakan." Reno pun bergeser sedikit menjauh dari wastafel tempat cuci piring itu. Sejak tadi, Diva memperhatikan Reno. Ia sudah dua tahun bekerja di sini, ia menyukai atasannya itu. Ia paling suka momen seperti ini, bisa memandang Reno dari dekat. Itu adalah salah satu penyemangat untuk dirinya. "Gak usah dilihatin trus, bisa copot tuh mata lo lihatin Pak Bos mulu," bisik Ayu sedikit menyenggol lengan Diva, menggoda temannya itu. "s****n lo! Heh ini tu vitamin buat gue. Gila ganteng banget bos gue. Nyokapnya ngidam apa ya dulu," bisik Diva. Ia tersenyum malu-malu. "Yang jelas, nyokap sama bokapnya cantik dan ganteng. Dan itu terbukti anaknya ikut cakep," bisik Ayu. Diva mengangguk setuju, lalu tersenyum ke arah Reno. "Aawww," ringis Anna. Jarinya terkena pisau saat memotong sayuran itu. Reno langsung menghampiri Anna. Lina juga ikut menghampiri Anna. Semua karyawan yang berada di dapur itu mengalihkan perhatian mereka pada Anna. "Semuanya kembali bekerja!" ucap Reno dengan tegas, semuanya pun kembali lagi untuk bekerja. Reno membawa Anna menuju wastafel untuk membersihkan darah yang keluar di jari telunjuk Anna. Sesekali Anna meringis karena rasa perih di jarinya. Lina membawakan kotak P3K, mengambil beberapa tisu untuk mengeringkan tangan Anna. Setelah itu Lina memberikan obat merah pada luka Anna. Barulah Reno memberikan plester luka. "Kamu gak papa?" tanya Reno. "Gak papa, Pak. Maaf saya kurang fokus." "Gimana kalau Anna istirahat dulu, Pak?" usul Lina. "Iya, boleh saja. Jika sudah lebih baik, nanti kembali bekerja lagi." "Gak usah, Pak. Saya gak papa ini cuma luka kecil. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya." "Kamu yakin?" Anna mengangguk mantap. Reno pun mengizinkan Anna kembali bekerja. Senyum Diva yang sejak tadi mengembang menjadi sirna. Tangannya mengepal, raut wajahnya berubah menjadi datar. Tatapan benci ia lontarkan pada Anna. Ayu, yang ada di sampingnya pun mengusap lengan Diva. "Gue tau perasaan lo! Lo sabar jangan sampai kebawa emosi. Kalau lo jodoh sama Pak Bos, pasti nanti disatukan. Kalau gak jodoh ya wassalam hehe…," bisik Ayu. *** Sore ini, karyawan bergantian tugas ada yang pulang dan ada yang masuk kerja. Itu pun sebagian adalah seorang siswa ataupun mahasiswa yang mencari pekerjaan paruh waktu. Anna beristirahat sejenak, ia duduk di dekat pantry. Kakinya terasa amat pegal, ia memijit sejenak kakinya. Setelah itu, Anna berjalan menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar. Di sebelah Anna ada Diva yang sedang merapikan penampilannya. Hanya ada mereka berdua. Diva memandang Anna dengan sinis. Anna membalasnya heran. "Ada apa sih? Kok dia lihatin gue sinis gitu," batin Anna. "Ada apa?" tanya Anna. "Gak usah lo berlagak sok b**o deh. Seolah-olah gak tau apa-apa!" "Maksud lo apaan, sih?" "Dibayar berapa lo sama Pak Reno, sampe Pak Reno deket sama lo! Dasar jalang murahan!" Anna yang mendengar itu pun tersulut emosi. Anna refleks menampar Diva. Sesekali mulut Diva memang butuh ditampol. "Jaga omongan lo, ya! Jangan samain diri gue sama lo! Gue tau apa yang lo lakuin ketika di luar restoran ini." Wajah Diva memucat mendengar ucapan Anna. "Lo seharusnya ngaca! Kenapa Pak Reno gak ngelirik lo! Lo perbaiki penampilan lo dulu. Jangan samain pakaian lo ketika di restoran sama di club." Diva pun emosi, ia hendak menampar Anna. "Lo!" Anna mencekal tangan Diva, ia tersenyum miring. Anna menghempaskan tangan Diva dengan sekali sentakan. "Gue bukan tipe cewek yang gampang lo tindas. Gue tau, lo udah banyak nindas karyawan di sini." "s**t! Lo lihat aja pembalasan gue. Bahkan lo lebih buruk dari gue. Gue bisa bermain aman, sedangkan lo? Bahkan lo sampai punya anak! Gue yakin anak-anak lo itu anak haram! Dan lo pasti gak tau siapa ayahnya! Lo manfaatin keadaan itu buat deketin Pak Reno, 'kan!" ucap Diva dengan senyum miring. Anna langsung menampar pipi Diva sekali lagi. Kali ini pipi Diva sampai bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Ia tak peduli lagi dengan pandangan orang yang melihatnya nanti. Ia tidak akan diam saja jika anak-anaknya disebut seperti itu. Tak akan pernah! Mereka saja yang tidak tahu siapa Ayah dari anak-anaknya. Jika tahu, mereka tak akan menghina anak-anaknya. "Lo boleh hina gue, tapi jangan anak-anak gue! Kalau gue denger kata itu dari mulut busuk lo lagi, gue gak akan segan-segan robek mulut lo itu!" Anna pun pergi meninggalkan Diva di toilet. "s****n!! Awas aja lo, gue akan balas perbuatan lo!!" Diva mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya memutih. *** Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Anna pulang dengan berjalan kaki. Ia hanya sendiri, karena Lina mendapat shift pagi hingga sore. Biasanya masih ada kendaraan di jam segini, namun hari ini terlihat begitu sepi. Anna memutuskan untuk berjalan kaki, ia memikirkan anak-anaknya di rumah. Sebentar lagi Anna akan sampai di rumahnya. Namun, tiba-tiba ada empat orang preman yang menghadang jalannya. Wajah mereka terlihat sangat sangar dengan badan yang lumayan berisi. Anna harus melawan mereka jika berani bermacam-macam dengannya. Anna bersikap setenang mungkin, meski nyatanya ia sedikit takut. Bagaimana pun ia adalah seorang wanita, tenaganya tidak sebanding dengan pria. "Halo, Cantik!" "Kok sendirian aja, Neng." "Abang temenin, ya!" Preman itu mencolek dagu Anna. Secepat mungkin ditangkisnya. "Wihh galak banget, Neng." Anna memutar bola matanya jengah. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah ingin cepat pulang menemui anak-anaknya. "Awas! Gue mau pulang!" ucap Anna dengan nada dinginnya. "Jangan buru-buru dong. Mending temenin kita, ya, gak?" "Bener tuh, Boss!" "Gak! Gue gak mau!" Anna menerobos para preman itu, tetapi ia dihadang. Salah satu preman mencekal tangan Anna. Dengan cekatan Anna memelintir tangan preman itu ke belakang. "Aakkhh! s****n lo!" pekik si preman. Anna menendang kaki preman itu hingga bertekuk lutut. Ketiga preman lainnya mengepung Anna. Anna kalah cepat, ia tertangkap dan dibawa ke dalam sebuah gedung kosong. Anna mulai ketakutan, di sini tampak sepi. Sebisa mungkin ia menyerang mereka dan menyelamatkan diri. Ketika ia jatuh, ia mengingat anak-anaknya yang masih membutuhkannya. Dan dengan cara itu, tenaga Anna seakan pulih kembali. Anna terus melawan preman-preman itu. "Aaakkhhh ...." Anna jatuh terduduk, ia terus mundur ketika preman itu mendekat. "Haha ... gak akan ada yang bantu lo! Makanya lo gak usah sok jual mahal! Mending lo senang-senang sama kita!" Keempat preman itu tertawa menggelegar memenuhi gedung kosong. Anna terus memanjatkan doa agar ada seseorang yang menolongnya. Preman itu mulai mendekat, tubuh Anna sudah terbentur tembok, tak ada lagi ruang gerak baginya. Anna memejamkan matanya, ia pasrah akan apa yang terjadi nanti. "Maafin Anna, Mas. Maafin Bunda, Sayang," batinnya. Air mata Anna sudah berada disudut matanya. Terdengar suara pintu didobrak. Keempat preman itu pun melihat ke arah pintu, begitu juga dengan Anna. Preman itu sedikit memberi jarak kepada Anna. Di sana berdirilah seorang pria yang tampan nan gagah. Anna menatap tak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Anna mengucek matanya untuk memastikan apakah itu benar-benar pria itu. Rasanya seperti sebuah mimpi bertemunya. Pria itu juga menatap Anna dengan tak percaya, hatinya seperti tersayat melihat keadaan Anna. Melihat orang yang dicintainya hampir dilecehkan orang lain. Pria itu mendekat ke arah Anna dan berjongkok di depan Anna. "Kamu gak papa, Sayang?" tanya pria itu. "Mas Farhan ...," gumam Anna dengan lirih, ia masih tak percaya dengan pria yang ada di hadapannya. "Iya, ini aku, Anna. Kamu gak papa?" tanya Farhan dengan khawatir. "Anna gak papa, Mas." "Wahhh ..., pangerannya udah datang!" Anna dan Farhan menatap ke arah preman-preman itu. "Hajar dia!!!" teriak pemimpin preman itu. "Kamu tunggu di sini, biar Mas yang beri mereka pelajaran." "Mas hati-hati." Farhan mengangguk dan tersenyum ke arah Anna. Farhan berdiri dan melawan ketiga preman itu. Sudut bibir dan wajah Farhan sedikit lebam-lebam. Anna berdiri dan membantu Farhan. Akhirnya Farhan dan Anna berhasil menyelamatkan diri. Mereka keluar dari gedung itu dan membiarkan para preman itu terkapar di sana. Anna membawa Farhan duduk di kursi taman. Farhan menatap Anna dengan lekat. Kemudian langsung memeluk Anna dengan erat, seolah Anna akan pergi jika ia melepaskan pelukan itu. Anna juga membalas pelukan Farhan tak kalah eratnya. Farhan memejamkan matanya menikmati dekapan Anna yang terasa hangat baginya. "Kamu kemana saja? Aku selalu mencarimu. Aku sangat merindukanmu, hidupku tak tenang semenjak kamu pergi. Aku mohon jangan pergi lagi." Farhan menangis di pelukan Anna. Anna juga menangis, ia juga sangat merindukan suaminya. Karena keadaanlah, ia harus pergi. Ah, mungkin sudah menjadi mantan suaminya sekarang. "Jangan tinggalkan aku lagi, Anna," ucap Farhan dengan lirih. Anna hanya diam saja. "Aku obati luka kamu ya, Mas. kamu terluka." Mereka pun mengurai pelukannya. Anna mengambil tisu di tasnya untuk membersihkan luka-luka di wajah Farhan. Kemudian, mengambil obat merah dan cotton bud dan mengusapkannya pada sudut bibir Farhan. Sesekali Farhanmeringis karena merasa perih. "Sakit banget ya, Mas?" Farhan hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Aku harus pulang, Mas." ucap Anna setelah selesai mengobati luka Farhan. "Rumah kamu di mana? Aku akan ikut bersamamu." "Tidak jauh dari sini." Anna membiarkan Farhan ikut dengannya, lagi pula Farhan adalah suaminya, oh, maksudnya mantan suaminya. Tidak bisa Anna pungkiri, bahwa ia sangat merindukan pria itu. Anna juga merasa aman dan sangat nyaman ketika berada di dekat Farhan. Mereka berjalan beriringan menuju mobil, Farhan menggenggam erat tangan mungil Anna. Tak sedikit pun Farhan ingin melepaskan tangan Anna. “Bagaimana Mas Farhan bisa ada di sini?” tanya Anna. “Mas sedang ada pekerjaan di sini, dan Mas baru saja pulang dari kantor. Mas melihat seorang wanita sedang dikepung preman, dan ternyata itu kamu. Kamu beneran gak papa kan, Sayang?” tanya Farhan dengan khawatir. Anna masih saja salah tingkah ketika Farhan memanggilnya "sayang‟. “Anna gak papa, Mas,” ucap Anna dengan yakin. Farhan pun bersyukur Anna tidak terluka. “Mas bersyukur hari ini dipertemukan kembali denganmu. Mas selalu mencarimu ke mana-mana. Maafkan Mas yaa, baru bisa menemukan kamu sekarang. Aku sangat merindukan kamu, Anna.” Farhan pun mencium punggung tangan Anna cukup lama. Sama hal nya dengan Anna, ia juga sangat merindukan Farhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN