“Untuk istri Mas Farhan, maafkan saya. Saya sangat merindukan pria yang ada di samping saya ini. Izinkan saya menikmati waktu bersama sebentar saja. Sebelum nanti Mas Farhan pergi lagi dari hidup saya,” batin Anna. Anna dan Farhan pun saling bertatapan dan saling tersenyum.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di rumah Anna.
Farhan meneliti rumah yang ditempati oleh Anna. Hatinya mencelos, rasa penyesalan semakin ia rasakan. Ia selalu hidup enak dan berlebihan. Sedangkan Anna tinggal di tempat kecil dan sempit. Mereka pun turun dari mobil.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Farhan. Anna mengangguk dan tersenyum. Anna yakin anak-anak sudah tidur, ia membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Mereka pun masuk ke dalam rumah itu.
Anna mengambil kunci cadangan di dalam tasnya. Anna mengira anak-anaknya sudah tidur karena ia tak mendengar suara mereka.
Terdengar suara pintu terbuka, muncullah tiga bocah berbeda jenis kelamin itu. Anna pikir anaknya sudah tertidur, namun dugaannya salah. Mereka membuka pintu dengan wajah kantuknya. Mereka belum menyadari kehadiran seseorang selain Bunda.
"Bunda kenapa lama pulang?" tanya Eza dengan suara seraknya.
"Maaf, Bunda tadi lembur, Sayang. Kalian kok bangun?" tanya Anna.
"Kami menunggu Bunda, kami ketiduran di ruang tamu. Trus
kebangun karena mendengar suara di depan rumah. Ternyata itu Bunda," jelas Erik. Anna mengangguk paham.
"Anak-anak itu ... Wajahnya terasa tidak asing bagiku. Tapi, mengapa mereka memanggil Anna dengan sebutan Bunda?
Apa Anna sudah menikah lagi?" batin Farhan. Ia menatap tak percaya ketiga anak itu. Ia juga tak bisa membayangkan jika Anna sudah memiliki lelaki lain.
"Dia siapa, Bun?" tanya Ella yang baru menyadari keberadaan Farhan.
Anna melihat apa yang ditunjuk oleh Ella. Badannya menegang, lupa bahwa ia pulang bersama Farhan, mantan suaminya, ayah dari anak-anaknya.
“Tapi,apakah mungkin Mas Farhan masih bisa menjadi suamiku lagi? Aku ingat, sebelum pergi aku telah meninggalkan surat perceraian atau Mas Farhan sudah menikah lagi? Apakah aku terlalu serakah, Tuhan? Aku masih menginginkan pria ini,” batin Anna. Ia pasti juga sedih jika Farhan telah menikah lagi. Jika itu memang terjadi, ia tak akan bisa berbuat apa-apa dan akan fokus mengurus anak-anaknya.
"Di-dia Ayah kalian," ucap Anna dengan sedikit gugup. Tubuh
Farhan menegang, begitu juga dengan Eza, sedangkan Ella dan Erik diam mencerna ucapan Bunda.
"Dia pria yang sama yang pernah aku lihat di foto itu. Apakah ini benar ayah kami? Terima kasih Ya Allah, telah mengabulkan doa kami," batin Eza.
"Ayah?" ulang Ella. Anna pun mengangguk, Anna tak mengira secepat ini mereka dipertemukan. Farhan menatap Anna dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan. Seperti syok dan juga menuntut penjelasan.
"Mereka anak-anak kamu Mas, anak-anak kita," ucap Anna dengan lirih. Anna takut Farhan salah paham dan tak menerima anak-anaknya.
"Ayah? Ini beneran Ayah, Bun?" tanya Erik. Anna mengangguk sekali lagi.
Erik dan Ella mendekat ke arah Farhan dan langsung
memeluknya. Karena pendek dan masih kecil, mereka hanya bisa memeluk kaki Farhan. Farhan melepaskan pelukan mereka di kakinya. Anna langsung berpikir negatif. Ia berpikir jika Farhan tak menginginkan mereka. Hatinya berdenyut nyeri membayangkan hal itu. Erik dan Ella menatap Farhan dengan raut wajah polos mereka.
Mereka berpikir apakah Ayah membenci mereka. Mereka pun menunduk sedih ketika Farhan melepaskan pelukannya dari kaki Ayah. Eza masih diam memperhatikan semuanya.
Farhan kemudian berjongkok di depan Ella dan Erik yang menunduk sedih. Hati Farhan seperti teriris melihat raut wajah anaknya yang sedih. Ya, Farhan percaya bahwa mereka adalah anak-anaknya.
Perpaduan wajahnya dan juga Anna ada pada anak perempuan dan laki-laki yang diam di dekat pintu. Wajah anak di depannya adalah duplikat dirinya waktu kecil. Farhan pun langsung membawa Ella dan Erik ke dalam pelukannya.
"Ayah." gumam Ella dan Erik begitu lirih. Anna meneteskan air matanya melihat adegan di depannya. Ia terharu, bersyukur Farhan menerima kehadiran mereka.
"Iya, ini Ayah, Nak. Maafin Ayah," ucap Farhan dengan lirih.
Rasa haru menyelimuti dirinya. Bahkan, ia meneteskan air mata, masih tak menyangka bahwa ia sudah menjadi seorang Ayah.
"Ayah gak salah. Ella seneng Ayah dateng, Ella janji gak akan nakal. Asal Ayah jangan pergi lagi. Ayah gak perlu pergi jauh lagi untuk cari uang. Ella gak perlu itu. Ella cuma butuh Ayah." Ella menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Farhan. Ia menangis karena merindukan ayahnya.
"Erik janji Ayah, Erik gak akan nakal lagi. Erik akan menjadi anak yang baik. Erik mohon Ayah jangan pergi lagi," bisiknya dengan lirih. Hati Farhan seperti ditikam ribuan belati mendengar ucapan anak-anaknya. Ia merutuki kebodohannya yang tak becus mencari mereka.
"Ayah gak akan ninggalin kalian lagi. Ayah sudah pulang. Ayah di sini, Nak." Farhan menatap Eza yang diam di depan pintu. Anna melihat arah pandang Farhan.
"Kamu gak mau peluk Ayah kamu, Eza?" tanya Anna. Perlahan Eza berjalan mendekati Ayahnya dan ikut bergabung dalam pelukan Ayahnya.
"Akhirnya Tuhan mendengarkan doa Eza, Yah. Eza selalu berdoa agar dipertemukan sama Ayah. Sudah sangat lama kami menunggukedatangan Ayah," gumamnya. Air mata Farhan menetes semakin deras.
Begitu pula dengan Anna.
Setelah puas berpelukan, Anna membawa mereka masuk rumah. Ketiga anaknya tak mau lepas dari Farhan seolah takut jika Farhan pergi lagi. Mereka meminta Ayah untuk menemani tidur. Dengan senang hati Farhan menurutinya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka kembali terlelap.
Setelah anak-anaknya tertidur pulas, ia pun keluar dari kamar itu dan mencari keberadaan Anna. Cukup mudah mencari keberadaan Anna karena rumah itu kecil, kini Anna berada di ruang tamu. Ia sudah menyiapkan teh hangat untuk Farhan.
Farhan duduk disamping Anna. Mereka saling bertatapan, mata mereka tersirat rasa rindu yang begitu menggebu. Farhan membawa Anna ke dalam pelukannya, ia tak percaya di hari ini akan dipertemukan oleh istrinya.
Mereka tak mengungkapkan apa pun, tapi tangisan Anna seolah menjelaskan semuanya. Farhan membiarkan Anna menangis sepuasnya, agar semua bebannya hilang.
“Maafin Anna, Mas.” Anna mengurai pelukannya, ia berpikir
bahwa Farhan bukanlah suaminya lagi. Mengingat hal itu saja membuat hatinya sakit. Orang yang dulu menjadi suaminya kini bukanlah lagi miliknya. Mungkin saja Farhan sudah menikah lagi dan sudah memiliki anak dari istri barunya. Farhan mengernyit bingung melihat tingkah Anna yang seolah-olah menjaga jarak dengannya.
“Ada apa Anna?” tanya Farhan.
“Bukankah kita sudah tidak memiliki hubungan lagi? Aku telah memberimu surat perceraian waktu itu,” cicit Anna. Ia bahkan tak berani menatap Farhan. Farhan berdecak kesal mengingat hal itu.
“Siapa bilang kita sudah bercerai? Aku tidak akan pernah mau menandatangani surat s****n itu Anna! Kita masih memiliki hubungan, kita masih sepasang suami-istri. Kamu tau betul seberapa besar aku mencintai kamu. Dan aku tidak akan pernah menikahi perempuan mana pun selain kamu. Bagiku pernikahan hanya cukup sekali, dan itu hanya bersamamu. Aku janji gak akan biarkan kamu pergi lagi bersama anak-anak. Kita besarkan mereka bersama-sama, Anna. Kita mulai semuanya dari awal. Kita bisa menikah ulang besok. Aku akan urus semuanya.” Anna menatap tak percaya. Ada rasa lega bahwa Farhan masih menjadi suaminya, miliknya.
Farhan pun membawa Anna ke dalam pelukannya kembali. Mereka bisa saling merasakan betapa besarnya rasa rindu yang selama ini mereka pendam.
Farhan mengamati rumah itu, hatinya berdenyut nyeri membayangkan mereka tinggal. Penyesalan semakin ia rasakan. Ia berjanji akan menebus semuanya, ia akan membuat keluarga kecilnya bahagia.
"Mereka pasti kesusahan, padahal diriku selalu di kelilingi harta berlimpah, rumah mewah, tempat tidur yang nyaman. Tapi mereka ...."
Anna meletakkan kepalanya di atas paha Farhan. Tak lama, ia terlelap. Mungkin karena lelah menangis. Farhan mengusap kepala Anna dengan lembut yang membuat Anna merasa nyaman.
"Maafin aku, Anna. Aku tak bisa membayangkan bagaimana
keadaan kalian selama ini. Terima kasih sudah berjuang untuk anak-anak kita. Kamu adalah wanita terhebat yang aku punya. Ternyata kamu memakai semua nama yang telah aku persiapkan untuk anak-anak kita. Aku janji akan membahagiakan kamu dan baby triplets. Aku sangat mencintaimu," gumam Farhan. Ia pun mencium kening Anna.
Farhan membawa Anna ke dalam kamar. Ia tak mungkin membiarkan Anna tidur di sini. Dengan perlahan ia menggendong Anna dan menidurkannya di ranjang. Farhan pun ikut tertidur di sebelahnya. Ia memeluk Anna. Farhan masih terjaga, memikirkan bagaimana kehidupan Anna dan anak-anaknya selama ini. Anna melupakan satu hal yang sejak tadi mengganggu hati dan pikirannya. Namun, semua itu terlupakan karena rasa rindunya pada Farhan begitu besar.
Anna merasa sangat nyenyak dalam tidurnya. Ketika ia bangun, ia melihat sang suami memeluknya. Wajah tampan itu terlihat lelah, tak pernah Anna merasa bosan melihat wajah tampan suaminya. Farhan masih tertidur dengan lelap, ia harus bangun untuk membuatkan sarapan. Dengan perlahan ia melepas pelukan dari suaminya. Anna memasak nasi goreng
untuk sarapan mereka pagi ini.
"Ayahh!!! Bunda! Ayah mana??!" Ella menangis histeris
mencari keberadaan ayahnya.
"Kakak! Ayah mana? Kenapa Ayah pergi lagi."
Anna mematikan kompornya, untung saja nasi goreng buatannya sudah selesai. Ia pun segera berlari menghampiri keberadaan anak-anaknya Anna melihat mereka menangis di ruang tamu. Ya, bukan hanya Ella yang menangis namun Erik dan Eza juga.
"Heii kalian kenapa menangis? Hmm?" tanya Anna. Ia
menyejajarkan tinggi dengan anak-anaknya.
"Ayah pergi lagi ya, Bun? Ella nakal ya Bun, sampai Ayah pergi lagi?" Ella menangis sesegukan.
"Kalian jangan ...." Belum selesai berbicara, anak-anaknya sudah
menodongnya dengan banyak pertanyaan.
"Erik 'kan udah janji gak akan jadi anak nakal lagi. Kenapa Ayah pergi lagi, Bun?" Erik pun juga ikut menangis
.
"Apa Ayah gak sayang kita, Bun? Kenapa Ayah pergi lagi?" Eza menangis sesegukan. Jarang sekali lihat Eza menangis. Anna terkekeh geli melihat mereka.
"Kalian kenapa, Sayang?" tanya Farhan dengan panik yang keluar dari kamar Anna. Ia langsung terbangun ketika mendengar suara tangisan.
Triple E pun kompak menoleh ke arah suara. Mereka berlari memeluk Ayah mereka.
"AYAH!!!"
"Kenapa kalian menangis? Hmm?" Anna terkekeh melihat kelakuan anak-anaknya. Ia tersenyum bahagia melihat kedekatan anak-anaknya dan juga suaminya.
"Kami pikir Ayah pergi lagi ninggalin kita," ucap Erik.
"Ayah pikir ada apa. Ayah gak akan ninggalin kalian. Ayah udah janji."
"Ayo kalian mandi. Kalian harus berangkat sekolah," ucap Anna.
"Mandinya sama Ayah!" ucap mereka dengan serempak. Farhan pun menurut dan memandikan ketiga anak kembarnya itu. Setelah memandikan anak-anaknya, barulah ia mandi. Setelah itu mereka sarapan bersama.
"Ayah sama Bunda akan antar kalian ke sekolah," ucap Farhan.
"Beneran, Ayah?" tanya Ella dengan antusias. Farhan mengangguk mantap.
"Yeeeyyy, berangkat sama Ayah, sama Bunda!" Mereka pun
berteriak dengan semangat. Raut wajah bahagia terpancar dari wajah mereka. Anna dan Farhan tersenyum.