Bab 11 - Kembali Bersama

1696 Kata
Mobil Farhan kini sudah terparkir di depan rumah Anna. Ia menyuruh anak buahnya untuk membawa mobil itu ke sana. Di Bali, Farhan memiliki hotel, restoran, dan beberapa vila. "Itu mobil Ayah?" tanya Erik dengan berdecak kagum. Farhan mengangguk dan tersenyum ke arah anaknya. "Yeeyy akhirnya kita bisa naik mobil bagus," ucap Ella dengan antusias. "Akhirnya hari ini kita gak naik bus ataupun angkot! Yesss!!!" ucap Erik dengan heboh. "Eza seneng bisa berangkat bareng Ayah sama Bunda. Mobil Ayah memang keren!" ucap Eza dengan raut wajah berseri-seri. Mendengar ucapan anak-anaknya, justru membuat hati Farhan mencelos. Hatinya berdenyut nyeri melihat anak-anaknya yang begitu menderita selama ini. Anna juga merasakan hal yang sama. Hatinya seperti tercubit mendengar ucapan polos anak-anaknya. Selama ini anak-anaknya selalumenuruti perkataannya. Anak-anaknya selalu menerima aneh-aneh kepada Anna. "Maafkan Bunda, Nak, belum bisa membahagiakan kalian. Bunda hanya bisa memberikan kasih sayang kepada kalian. Bunda akan bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi keinginan kalian. Bunda akan mengabulkan permintaan kalian asal Bunda mampu melakukannya. Berbahagialah selalu, Nak." batin Anna. "Naik angkot? Bus? Bahkan aku belum pernah merasakannya. Maafkan Ayah, Nak. Seandainya Ayah bertemu kalian lebih cepat. Mungkin kalian tak akan merasakan penderitaan ini. Ayah janji akan membahagiakan kalian," batin Farhan. Farhan sudah berjanji dengan dirinya sendiri akan memberikan fasilitas yang layak untuk anak-anaknya. Ia akan memberikan kasih sayangnya pada mereka. "Ayo kita berangkat!" ucap Farhan dengan senyum mengembang. "Let's go, Ayah!" teriak mereka dengan riang. "Ayo, Sayang." Farhan mengulurkan tangannya ke arah Anna, dengan malu-malu Anna menerima uluran tangan itu. Farhan membukakan pintu untuk Anna, sedangkan anak-anak sudah masuk lebih dahulu ke dalam mobil. Ada beberapa tetangga yang menatap Farhan dengan kagum. Namun ada juga yang berpikiran buruk kepada Anna karena melihat Farhan menginap di rumah Anna. Selama perjalanan anak-anak sangat heboh. Mereka begitu senang dan berceloteh menceritakan apa pun itu. Eza yang biasanya diam juga ikut berbicara dengan antusias. "Bunda sama Ayah gak usah turun, kami aja. Kita akan langsung masuk ke sekolah." ucap Eza. "Tapi ...." "Gak papa, Ayah. Kita pamit dulu," sahut Erik. Mereka pun menyalami kedua orang tua mereka bergantian. "Assalamualaikum, Ayah, Bunda," ucap mereka. "Waalaikumsalam," jawab Anna dan Farhan. "Kalian jangan nakal, belajar yang rajin. Eza dan Erik jaga adik kalian, ya," nasehat Farhan. "Siiaapp laksanakan, komandan," ucap Eza dan Erik serempak. "Nanti Ayah jemput." "Oke, Ayah! Kami sayang, Ayah!" mereka mencium wajah Farhan bergantian. Farhan terkekeh geli melihat kelakuan anak-anaknya. Tak bisa dipungkiri ia merasa sangat bahagia. Keluarga kecilnya lah harta yang sesungguhnya sangat berharga bagi Farhan. "Kalian gak sayang sama Bunda?" tanya Anna pura-pura merajuk. Triple E pun saling pandang, dengan kompak menoleh pada Anna. "Kami juga sayang Bunda!" Mereka mencium seluruh wajah Anna bergantian. Anna pun tertawa karena merasa geli. "Sudah, kalian turun. Nanti keburu bel masuk," ucap Farhan. Mereka menurut dan turun dari mobil. Kaca jendela Anna turunkan untuk memantau Triple E. "Dadaahh, Ayah! Dadaahh, Bunda!" ucap mereka sambil melambaikan tangannya. Anna dan Farhan membalas lambaian tangan mereka. Setelah itu, Farhan akan mengantarkan Anna ke tempat kerjanya. Farhan sudah melarang, tapi Anna tetap kekeuh. Bagi Anna, itulah sumber pencarian untuk memenuhi kehidupan anak-anaknya dan juga dirinya. Mendengar hal itu membuat Farhan bungkam dan rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya. Ia teringat satu hal, tadi pagi ia mendapat kabar dari orang suruhannya, bahwa berkas mereka sudah selesai dan mereka akan menikah ulang hari ini. "Kamu kerja di mana, Na?" tanya Farhan. Ia menggenggam sebelah tangan Anna. Anna melepaskan genggaman tangan Farhan. Kening Farhan pun berkerut karena Anna melepaskan genggaman tangannya. “Ada apa Anna?” Tanya Farhan bingung. “Nanti istri Mas Farhan marah,” ucap Anna dengan lirih. “Istri? Istri Mas cuma satu, yaitu kamu.” ucap Farhan dengan tegas. Anna pun terkejut, ia menatap Farhan. “Mas Farhan tidak menikah lagi?” “Kamu lupa Mas bilang apa tadi malam? Mas gak akan pernah menikah lagi, Anna. Mas hanya mau menikah sekali seumur hidup. Mas sudah membakar surat cerai yang kamu ajukan. Sampai saat ini, kita masih suami dan istri. Aku akan selalu menunggu penjelasan kamu.” ucap Farhan, ia menggenggam tangan Anna kembali. Kali ini, Anna tak menolaknya, ia hanya diam. Ia pikir tadi malam hanyalah sebuah mimpi. “Kita mau kemana, Mas? Ini bukan jalan ke arah tempat kerjaku,” ucap Anna. “Kita akan pergi ke KUA, kamu hubungi saja bosmu. Bilang jika kamu sedang ada keperluan atau apalah alasannya itu.” “Tapi ….” “Sudah menurut saja, jika kamu dipecat pun tak masalah. Aku sudah kaya dan bisa mengidupi kamu dan anak-anak kita. Jika kamu ingin bekerja, kamu bisa bekerja bersamaku, Sayang.” Anna pun mendengus kesal dengan ucapan suaminya yang menurutnya sangat sombong. “Dasar sombong!” Tapi Anna tetap menuruti ucapan suaminya. Ia memberikan kabar pada bosnya karena dirinya tidak bisa masuk hari ini. Dan Anna bersyukur bosnya memberikan izin padanya. Sebenarnya Anna segan karena ia adalah pegawai baru. Tapi mau bagaimana, urusannya juga lebih penting. “Iya, aku tau aku memang tampan, Sayang.” Anna pun menatap Farhan dengan jengah. “Sejak kapan dia jadi orang yang narsis seperti itu!” batin Anna. “Mas,” Panggil Anna. “Iya?" “Kenapa kamu mengajakku ke KUA sekarang? Bukannya berkasnya belum selesai?” Farhan pun tersenyum. “Kamu tenang saja sayang, semuanya sudah beres,” ucap Farhan dengan bangga. Hari ini pun mereka telah resmi menjadi suami-istri kembali. Mereka baru selesai melakukan pernikahan ulang. Bagi Anna, mereka seperti menikah yang tidak direstui saja. Lihatlah, mereka bahkan menggunakan pakaian formal. Tapi tidak apa, yang penting mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. *** Hari ini adalah hari ketiga Farhan berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Seperti biasanya, pagi ini Anna dan Farhan akan mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. “Jadi, kamu kerja di mana?” tanya Farhan. Setelah mengantarkan anak-anak mereka, Farhan akan mengantar Anna ke tempat kerja. "Di Restoran FA." Farhan terkejut mendengar ucapan Anna. "Beneran? Udah berapa lama?" "Kurang lebih udah dua bulan." "Sebagai apa kamu bekerja di restoran itu?" Anna menatap Farhan dengan heran. "Kenapa suamiku menjadi cerewet begini?" batinnya. "Kadang memasak dan juga mengantar makanan yang dipesan oleh pelanggan." "s**l! Nanti akan kumarahi Reno!" Dahi Anna berkerut ketika suaminya menyebut nama Reno. "Kamu kenal sama Pak Reno, Mas?" "Dia yang aku pilih untuk mengelola restoranku." Anna terkejut mendengar ucapan Farhan. "Jadi, selama ini aku bekerja di restoran milik Mas Farhan?" batin Anna. "Please, Mas. Jangan bilang ke Pak Reno. Jangan beri tau yang lain dulu tentang status kita." Farhan menatap Anna dengan tajam, dimatanya tampak amarah yang sedang bergejolak. "Apa maksudmu Anna? Apa kamu punya hubungan khusus dengan Reno?" tanya Farhan menyelidik. Nada bicaranya pun terdengar begitu dingin. Anna memukul lengan Farhan. "Sembarang kalau ngomong! Jika aku punya hubungan khusus dengan Pak Reno, sudah dari awal aku akan mengejarnya. Mungkin saja kami sudah menjalin kasih." Farhan semakin menatap Anna dengan tajam. "Jangan menatapku begitu. Aku melarang kamu memberitahu status kita agar teman-teman tak memandangku berbeda. Aku hanya ingin mereka tak menganggap aku sebagai istri dari atasan mereka, Mas. Aku tak mau mereka baik hanya karena tau jika aku istri kamu. Kamu boleh memberi tau status kita, tapi nanti dulu. Tidak untuk sekarang." Farhan menghela napasnya kasar. "Baiklah, aku akan memantau kamu. Aku akan berada di restoran itu. Untuk sementara aku akan menetap di Bali. Aku ingin bersama kalian, aku tak mau berjauhan lagi dengan kalian." Sesekali Farhan mencium punggung tangan Anna. "O iya Mas, kenapa kamu bisa di Bali?" tanya Anna. Padahal saat mereka bertemu, Anna sudah menanyakannya. "Kemarin ada meeting di sini dan aku harus turun tangan. Kira-kira sebulan lalu, Papa datang ke sini untuk menggantikan ku. Huhh ... andai saja waktu itu aku yang datang kemari, bukan Papa. Mungkin aku sudah bertemu dengan kalian," ucapnya dengan lirih. "Semuanya sudah takdir Mas, kita hanya perlu menjalaninya saja. Yang terpenting kita sudah bertemu." "Kamu benar, Sayang. Jika kamu sudah siap, ceritakan keadaan kalian kepadaku. Ceritakan pertumbuhan Triple E. Aku merasa menjadi Ayah dan suami yang buruk untuk anak-anak dan kamu." Anna menggelengkan kepalanya, Farhan tak salah di sini. "Kamu adalah suami dan Ayah yang baik dan hebat Mas. Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Berjanjilah selalu tersenyum di hadapan anak-anak. Jangan tunjukkan kesedihanmu pada mereka. Berikanlah mereka kasih sayangmu." "Aku janji dan aku pasti akan mencurahkan kasih sayangku pada anak-anak. Aku tak ingin membuang waktu dan kesempatan yang ada. Cukup aku tak melihat pertumbuhan mereka. Terima kasih Anna, sudah merawat anak-anakku, anak-anak kita dengan baik. Terima kasih sudah berjuang selama ini untuk anak-anak kita. Kamu adalah wanita terhebat yang aku miliki. Jangan pergi meninggalkanku lagi, jangan pernah. Terima kasih." Farhan mencium punggung tangan Anna cukup lama. Air matanya pun tak bisa ia halau dan akhirnya menetes. Anna terharu atas apa yang diucapkan Farhan. Ia juga meneteskan air matanya. "Itu sudah kewajibanku untuk menjaga dan melindungi mereka. Itu juga tugasku untuk merawat dan mendidik mereka. Tak perlu berterima kasih, mereka anak-anakku dan seharusnya aku melakukan itu. Aku janji tak akan meninggalkanmu lagi, aku akan pergi jika kamu yang memintanya." "Tidak! Aku tidak akan pernah memintamu pergi dariku. Aku sangat mencintaimu, Anna." "Aku juga sangat mencintaimu, Mas." Anna memeluk Farhan dari samping. Farhan mengusap lengan Anna dengan sebelah tangannya yang merengkuh tubuhnya. Ia tetap fokus untuk menyetir. "Mas, berhentinya jangan di restoran yaa. Aku turun di depan aja." "Gak! Aku gak akan biarin kamu jalan kaki sedangkan aku naik mobil." "Mas, itu gak jauh. Nanti semua karyawan akan heboh jika tau aku datang bersama kamu, Mas." Farhan pun mengalah dengan rasa tak rela. "Kalo ada apa-apa bilang ke Mas, ya." Anna mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya. Farhan pun mencium kening Anna. "Anna tunggu!" Anna tak jadi membuka pintu mobilnya. Farhan mengambil tisu di dashboard mobil. Ia mengusap bekas air mata Anna. Anna pun tersenyum melihat suaminya yang begitu perhatian. Anna juga mengelap air mata yang ada di sudut mata suaminya. Setelah itu Anna turun dari mobil dan segera mengganti pakaian di ruang ganti. Tak lama kemudian, Farhan datang ke restoran itu dan masuk ke ruang pribadi miliknya. Hal itu membuat karyawan restoran heran dan juga senang bagi kaum hawa. Mereka menatap pemilik restoran itu dengan berbinar dan takjub, bahkan tak berkedip sedikitpun sampai Farhan menghilang dari pandangan mereka. Anna mendengus kesal melihat teman kerjanya yang begitu genit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN