Chapter 1
"Za! Reza! Reza! Lihat ini istri Lo viral di media sosial!" Antoni tergesa-gesa menghampiri temannya yang dia panggil Reza.
Reza menoleh dengan kening yang terlihat mengernyit. Tampak sekali lelaki itu sedang kebingungan saat ini, "viral apa sih, Antoni? Memangnya apa yang Amara lakukan?"
Antoni beberapa kali menghela nafas begitu sampai di samping Reza. Tangannya menyeka keringat yang tiba-tiba membasahi pelipisnya, "Za, Lo harus sabar! Lo harus tenang, Za! Gue tahu Lo pasti syok banget! Tapi tolong Lo harus bisa mengendalikan emosi Lo itu."
"Astaga, Antoni, Lo itu ngomong apa sih? Kenapa Lo ngomong aneh begitu? Gue harus sabar kenapa? Harus tenang kenapa? Dan kenapa gue harus emosi? Lo ini ada-ada saja," decak Reza geleng-geleng kepala.
"Ya, gue tahu Lo pasti bingung sekarang tapi kalau Lo melihat ini, gue yakin Lo enggak akan bingung lagi."
Antoni menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah video. Reza pun mengambil ponsel sahabat sekaligus rekan kerjanya itu untuk melihat video apa yang Reza berikan padanya.
Begitu video itu diputar, Reza tertegun melihat Amara—istrinya—tengah digrebek istri sah dari lelaki yang bersama Amara di hotel. Keadaan wanita itu benar-benar kacau dengan hanya selimut yang membalut tubuhnya. Sudah bisa dibayangkan apa saja yang sudah terjadi antara Amara dan lelaki itu. Mereka pasti sedang berlabuh di samudra kemaksiatan saat orang-orang itu datang mengganggu aktivitas mereka.
"Gue benar-benar minta maaf harus ngasih tahu Lo ini, Za. Gue harap Lo bisa sabar dan bisa mengendalikan emosi. Gue tahu Lo marah, kecewa, dan pasti ngak menyangka dengan semua yang istri Lo sudah lakukan. Tapi Lo harus kuat, Za, Lo harus kuat!" Antoni menepuk bahu Reza berusaha memberikan kekuatan pada lelaki itu.
"Thanks informasinya, Antoni, gue harus pulang sekarang. Tolong sampaikan kepada Pak Danu kalau gue pulang," pinta Reza sembari mengembalikan ponsel Reza. Tak lupa dia juga segera membereskan semua barang-barang miliknya.
"Soal Pak Danu Lo tenang aja, Za, gue bakalan ngomong sama dia. Lagipula, dia juga Kakak ipar Lo. Dia pasti ngerti apa yang Lo rasain sekarang gara-gara kelakuan adiknya," sahut Antoni menenangkan.
Reza hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Antoni, "gue pulang dulu," pamitnya.
"Hati-hati, Za, inget Lo harus bisa mengendalikan emosi!" ucap Antoni memperingatkan.
"Tentu."
Tanpa membuang waktu Reza segera berlari meninggalkan Antoni. Dia harus segera sampai ke tempat kejadian secepatnya. Beruntunglah dalam video itu si istri sah dari selingkuhan Amara menyebutkan nama hotel yang menjadi pertarungan peluh Amara dan selingkuhannya jadi Reza bisa langsung mendatangi tempat itu.
Tatapan para karyawan yang berpapasan dengan Reza, tampak menatap penuh rasa iba. Sepertinya mereka juga sudah melihat video live streaming yang baru berakhir dua menit lalu itu. Namun, Reza tak peduli dengan semua orang. Dia memilih terus berlari keluar dari gedung perusahaan dan langsung memasuki mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi Reza memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota yang terbilang ramai lancar. Dia ingin segera sampai ke hotel di mana dia yakin Amara masih berada di sana. Jarak hotel yang tidak begitu jauh dari kantornya membuat Reza tak sabar untuk bisa segera sampai.
Ini bukan kali pertama Reza tahu istrinya berselingkuh. Sudah bukan hal asing lagi untuk Reza kalau Amara bermain cinta dengan lelaki lain. Selama pernikahan mereka, wanita itu seolah sengaja selalu menghadirkan orang ketiga. Namun, ini pertama kalinya apa yang Amara lakukan diketahui oleh khalayak umum.
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya Reza sampai juga di hotel yang dia tuju. Dia segera turun dari mobil lalu menuju resepsionis untuk mengetahui di mana Amara.
Menurut keterangan resepsionis, ternyata Amara dan selingkuhannya sudah diamankan ke kantor polisi yang hanya berjarak 300 meter dari hotel. Reza pun segera berpamitan dan langsung menuju kantor polisi yang dimaksud dengan mengendarai mobilnya.
Hatinya berharap semoga Amara baik-baik saja. Semoga wanita itu tidak mendapatkan penganiayaan hanya karena terciduk selingkuh dengan suami orang. Semoga saja Amara baik-baik saja tanpa sedikitpun luka yang didapatkannya.
Begitu tiba di kantor polisi, Reza pun segera turun dari mobil dan langsung memasuki kantor polisi dengan langkah tergesa. Benar saja Amara sudah ada di sana. Wanita itu sudah berpakaian lengkap tidak seperti di video tadi yang hanya dibalut selimut saja.
"Amara!" panggil Reza membuat Amara langsung menoleh.
"Mas Reza! Mas, aku takut, Mas, mereka berusaha melukai aku!" Amara langsung memeluk Reza sembari menangis ketakutan.
Reza mengelus lembut punggung istrinya untuk menenangkan wanita itu, "ada aku di sini, Amara, tidak akan ada yang bisa melukaimu," sahutnya meyakinkan.
"Mas siapanya wanita ini?" tanya wanita yang Reza tahu sebagai istri sah dari selingkuhan Amara.
Reza melepaskan pelukan Amara lalu menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya agar tidak ada yang bisa menyentuh Amara lagi.
"Saya Reza Aditya, suami dari Amara Arthavia," sahut Reza memperkenalkan diri.
"Waw kebetulan sekali Mas sudah ada di sini. Saya tidak perlu repot-repot memanggil Mas lagi karena Mas sendiri yang datang ke sini."
Wanita itu menghela nafas beberapa kali untuk menormalkan amarahnya yang masih meledak setelah memergoki apa yang Amara dan suaminya lakukan.
"Kenalkan, Mas, saya Sania istri sah dari selingkuhan istri Anda." Sania memperkenalkan diri, "Mas juga pasti sudah tahu bukan, tentang video yang saya up di media sosial saya barusan?" tanya wanita itu.
"Ya, saya sudah tahu dan saya minta Anda hapus video itu sekarang juga!" pinta Reza.
Sania melotot mendengar permintaan Reza. Dia kaget sekaligus bingung di saat bersamaan, "hapus? Kenapa saya harus menghapus video itu, Mas? Saya harus memberikan efek jera pada suami saya dan juga istri Anda ini agar mereka sadar kalau yang mereka lakukan itu salah! Menurut saya hukuman yang paling berat selain hukuman penjara adalah sanksi sosial. Mereka harus dipermalukan agar mereka menyadari apa itu rasa malu!"
"Tapi perbuatan Anda ini bisa membuat Anda dalam masalah, Mbak Sania. Mbak bisa saya jerat dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Saya ingin Anda menghapus video itu sekarang juga atau saya ...."
"Atau apa, Mas! Apa Mas Reza ini sudah gila, hah? Istri Anda itu berselingkuh, Mas! Dia berbagi peluh dengan suami saya! Bagaimana Anda bisa bersikap begitu santai dan malah melayangkan ancaman pada saya? Saya ini korban, Mas! Saya ini korban kebejadan yang sudah dilakukan oleh istri Anda dan suami saya!" teriak Sania murka mendengar ancaman yang dilayangkan Reza.
"Saya tahu Anda korban, Mbak Sania, tapi hukum ada aturannya. Anda tidak bisa berbuat semena-mena hanya karena merasa menjadi korban. Pelaku kejahatan juga memiliki perlindungan hukum. Apalagi ini Amara dan suami Anda melakukannya atas dasar suka sama suka jadi Anda tidak bisa mempermalukan istri saya seperti ini!"
Sania geleng-geleng kepala mendengar perkataan Reza. Pertama kali dalam hidupnya dia menghadapi seorang lelaki yang begitu membela istrinya padahal wanita itu sudah melakukan kesalahan fatal. Harusnya sebagai seorang suami, sebagai lelaki yang hatinya sudah dirobek oleh istrinya, Reza marah. Harusnya lelaki itu melampiaskan amarahnya pada Amara yang sudah berani bermain gila di belakangnya.
Akan tetapi, apa yang saat ini dilakukan oleh Reza justru kebalikannya. Lelaki itu malah melindungi Amara. Lelaki itu seolah mati rasa dan tidak peduli dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Amara. Lelaki itu malah meminta Sania untuk menghapus bukti perselingkuhan Amara dan suaminya yang sengaja dia up di media sosial.
"A-aku tidak tahu harus berkata apa Mas Reza. Tapi sungguh aku kecewa dengan apa yang Mas Reza lakukan saat ini. Harusnya Mas Reza itu mendakwa istri Mas bukannya malah ...."
"Istriku akan menjadi urusanku. Dia tanggung jawabku dan aku tahu benar apa yang harus aku lakukan padanya. Tugasku sekarang adalah melindungi harga dirinya. Jadi aku minta hapus video itu sekarang juga!"
Sania terkekeh menertawakan perkataan Reza. Kekecewaan dan kemarahan semakin tampak jelas di matanya. Tadinya dia sedikit bisa bernafas saat Reza datang ke sana. Dia berharap lelaki itu akan memberikan Amara pelajaran karena sudah berani menggoda suami orang.
Akan tetapi, apa yang saat ini Sania saksikan justru sebaliknya. Reza malah datang bak pahlawan kesiangan untuk Amara. Lelaki itu seakan tidak peduli lagi dengan kesalahan besar yang sudah dialkukan Amara. Entah apa yang sebenarnya Reza pikirkan. Bisa-bisanya lelaki itu malah membela pihak yang bersalah dan memojokkan korban sesungguhnya.
"Harga diri? Harga diri seperti apa yang dimiliki istri Mas ini? Dia berani berbagi ranjang dengan suami orang lain sementara dia pun sudah memiliki seorang suami. Dia sama sekali tidak punya harga diri lagi, Mas Reza, dan saya rasa Anda pun sama. Anda suami tak berguna yang tutup mata dan malah membenarkan kelakuan gila istrinya! Anda suami memalukan, Mas Reza! Sumpah demi Tuhan ini baru pertama kalinya saya bertemu dengan suami tak berguna seperti Anda!" Sania menghardik Reza dengan berapi-api. nafasnya memburu penuh emosi mengahadapi Reza yang menurutnya benar-benar lembek dan tidak mempunyai prinsip sebagai seorang lelaki.
"Mbak Sania! Tolong jangan mempersulit segalanya, Mbak! Saya sudah meminta baik-baik pada Anda. Jangan sampai saya menggunakan cara lain karena anda tidak bisa diajak kerjasama!"
Deg.