Sania menggelengkan kepala dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Dia korban sama seperti halnya Reza. Tapi yang Reza lakukan adalah hal yang tidak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Sania. Lelaki itu malah membela wanita yang sudah memporak-porandakan pernikahannya hanya karena wanita itu berstatus sebagai istri Reza.
"Mbak Sania saya mohon kerjasamanya. Hapus video itu sekarang juga atau Anda akan melihat kehancuran yang lebih besar akan Anda hadapi di depan sana. Ini demi kebaikan Anda juga, Mbak, jadi saya minta kerjasamanya," pinta Reza berusaha membujuk Sania.
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menghapus video itu! Semua orang harus harus tahu wajah wanita iblis dan suami pengkhianat ini!" kekeh Sania tak ingin menuruti perkataan Reza.
"Sania, jaga perkataanmu! Aku berselingkuh juga karena kamu yang tidak bisa memberikan aku kepuasan! Harusnya sebagai seorang istri kamu itu introspeksi bukan malah sebaliknya!" bentak Andi, suami Sania.
"Mas, aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri terbaik untukmu. Aku rela meninggalkan karir dan pekerjaanku dengan bisa mengabdikan diri padamu dan anak-anak kita sepenuhnya. Aku rela bentuk tubuhku berubah setelah melahirkan anak-anakmu. Aku tidak pernah sedikitpun mengeluh lelah setelah seharian harus berhadapan dengan anak-anakmu yang kadang rewel. Bahkan saking sibuknya dengan rumah dan anak-anak, aku sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Dan sekarang, sekarang kamu memintaku untuk introspeksi? Kamu yang seharusnya melakukan itu, Mas! Kamu berselingkuh di belakangku hanya untuk menuruti nafsu binatangmu! Kalau di sini ada yang salah, itu bukan aku, Mas, tapi kamu!" bentak Sania tak terima disalahkan.
Reza yang melihat pertengkaran sepasang suami istri di hadapannya hanya bisa mengusap wajah kasar. Dia bisa mengerti duka yang Sania rasakan dan seperti apa sakitnya wanita itu. Akan tetapi, dia tidak bisa membiarkan Sania bertindak lebih jauh lagi. Dia harus tetap memastikan nama Amara tidak tercemar meskipun kelakuannya sangatlah salah.
"Tolong hentikan dulu perdebatan kalian ini!" pinta Reza membuat Sania dan Andi terdiam, "dengarkan aku, Mbak Sania, aku tahu seperti apa rasa sakitmu dan seperti apa duka yang kamu harus tanggung saat ini. Tapi di sini bukan hanya tentang perasaan saja yang terlibat. Tentu kamu tidak lupa siapa istriku, dia adalah putri dari keluarga Arthav. Kalau sampai kamu tidak menghapus video yang kamu unggah itu, bukan hanya nama baik Amara saja yang ternoda tapi nama keluarga besar Arthav juga." Reza terus membujuk berharap Sania mau diajak kerjasama.
"Kamu pikir aku peduli, Mas Reza? Tidak! Aku tidak peduli sedikitpun! Harusnya wanita iblis ini yang memikirkan nama baik keluarganya sebelum bertindak bukan aku! Aku tidak peduli dan keluarganya mau hancur atau bagaimana! Satu yang pasti aku tidak akan pernah menghapus video itu di media sosial milikku! Ini hakku dan aku berhak mendapatkan keadilan!" tegas Sania tak bisa diajak tawar menawar.
"Mas," lirih Amara ketakutan.
Reza menoleh ke belakang di mana sang istri berada. Dia mengelus lembut pucuk kepala Amara seolah menenangkan wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Mas Reza, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku juga tidak tahu kenapa kamu bersikap seolah tidak ada apa pun yang terjadi di sini. Tapi aku yakin ini bukan pertama kalinya kan, istrimu itu berselingkuh makanya kamu bersikap tenang?" terka Sania tepat sasaran.
Reza menghela nafas berat lalu kembali menoleh pada Sania, "aku rasa kamu tidak berhak tahu apa pun tentang rumah tanggaku. Satu yang harus kamu tahu, aku ingin tetap mempertahankan rumah tanggaku karena itulah aku harus memastikan nama baik istriku tetap terjaga," sahut Reza tanpa keraguan.
Sania langsung berdecih sinis. Entah kenapa dia merasa jijik melihat sikap lemah yang ditunjukan oleh Reza. Dia saja yang seorang wanita bisa melawan saat ada ketidakadilan yang terjadi pada dirinya. Tapi Reza, lelaki itu malah seakan pasrah tanpa bisa melawan.
Apa ini ada hubungannya dengan kekuasaan keluarga Arthav? Apa Reza takut tak bisa menjadi orang kaya lagi setelah bercerai dari Amara? Benar-benar menjijikan! Reza rela berbagi lobang hanya demi tidak menjadi orang miskin lagi.
"Mas Reza, sungguh kelakuanmu ini benar-benar menjijikan! Hanya demi tetap menjadi bagian dari keluarga Arthav yang sangat kaya, kamu rela berbagi tubuh istrimu dengan lelaki lain. Betapa rendahnya harga dirimu, Mas Reza! Aku saja sebagai seorang wanita jijik membayangkan suamiku bergumul dengan wanita lain tapi kamu malah biasa-biasa saja mengetahui istrimu membagi lobangnya dengan para lelaki," sakras Sania penuh ejekan.
"Itu urusanku bukan urusanmu! Terserah kamu mengatakan jijik atau tidak padaku karena aku sama sekali tidak peduli dengan penilaianmu. Aku hanya berharap kamu mendengarkan apa permintaanku tadi. Kalau tidak, kamu harus bersiap menghadapi masalah besar yang mungkin akan menghampirimu dan juga suamimu itu," ucap Reza penuh peringatan.
Reza mengalihkan tatapannya pada Andi yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. Lelaki gila itu malah asik bermain mata menggoda Amara. Kalau saja Reza tak berusaha mengendalikan rasa sakit dan amarahnya, dia pasti sudah mencongkel mata lelaki menyebalkan itu.
"Daripada kamu sibuk mengurusi aku dan istriku, sebaiknya kamu kendalikan suamimu itu. Jangan sampai dia terus bermain mata pada wanita lain padahal kamu saja ada di sampingnya," tambah Reza tersenyum sinis pada Sania.
Sania langsung menoleh pada suaminya sementara Andi terlihat pucat pasi diskakmat langsung oleh Reza. Reza tak ingin menanggapi perdebatan kedua pasangan suami istri itu. Dia lebih memilih untuk segera membawa istrinya pergi dari sana. Tentu saja sebelum pergi dia berbicara dulu dengan polisi. Baru setelah mendapatkan izin dia membawa istrinya keluar dari sana.
Sepanjang perjalanan pulang Reza hanya diam saja. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara apa pun untuk menegur Amara. Tentu saja ini kelakuan Reza membuat Amara tidak nyaman. Dia juga takut kalau sampai Reza memutuskan untuk meninggalkannya. Terlebih, ada perjanjian yang dibuat mendiang ayahnya yang mengatakan kalau semua hartanya akan jatuh ke tangan pihak yang tersakiti dalam pernikahan mereka. Dan sudah jelas yang tersakiti di sini adalah Reza. Dia tidak ingin kalau sampai Reza mendapatkan semua hartanya sedangkan dia akan menjadi gembel di jalanan.
Amara memang ingin Reza pergi dari hidupnya. Tapi bukan seperti ini. Bukan karena dia yang meminta pada Reza. Dia ingin Reza sendiri yang mengakhiri semuanya dan pergi dari kehidupannya.
"Mas, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk …."
"Kenapa sampai ketahuan? Kenapa publik sampai tahu kelakuanmu, Amara? Apa kamu tidak bisa bermain lebih rapi lagi? Kamu tahu kan, di sini ada nama baik keluargamu yang dipertaruhkan? Kenapa kamu sangat ceroboh, Amara?" tanya Reza memotong perkataan Amara.
Amara tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya. Alih-alih marah karena dia sudah mengkhianati lelaki itu, Reza justru marah karena dia bermain kurang rapi sehingga ter'up ke media yang pasti akan menghancurkan nama baik keluarga besarnya.
"Kamu tahu Amara, kalau sampai semua ini dibiarkan berlarut-larut maka perusahaan Arthav Group akan berada dalam masalah besar. Saham kita akan anjlok dan itu akan menjadi …."
"Mas, kenapa dari tadi kamu hanya membahas masalah perusahaan dan nama baik keluargaku saja? Apa kamu tidak peduli pada hatimu sendiri? Apa kamu tidak sakit hati mengetahui perselingkuhanku?" tanya Amara memotong perkataan Reza.
"Sakit hati? Apa aku masih memiliki hak untuk sakit hati setelah ribuan kali kamu sakiti? Ini bukan yang pertama bagiku mengetahui perselingkuhanmu jadi hatiku sudah kebal untuk merasakan rasa sakit!"
Deg.