Amara terdiam mendengar perkataan suaminya. Dia ingin membalas perkataan lelaki itu hanya saja lidahnya mendadak kelu. Benarkah sudah separah itu dia menyakiti Reza? Tapi kenapa sampai detik ini lelaki itu masih saja bertahan di sisinya? Kenapa Reza tidak menyerah saja? Kenapa?
Segala pertanyaan hanya tertahan di hati Amara tanpa bisa terucap melalui bibirnya. Hingga sisa perjalanan mereka hanya diisi keheningan semata. Tak ada yang membuka suara untuk memulai pembicaraan lagi sampai akhirnya mereka tiba di rumah.
Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Danu dan juga Naina, Istrinya. Kakak dan juga kakak ipar Amara itu terlihat menunggu dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
Amara menoleh pada Reza. Jika ada orang yang paling dia takuti selain ayahnya—itu adalah Danu—sang kakak. Dia yakin setelah skandal yang dia lakukan diketahui oleh semua orang, lelaki pengganti ayahnya itu akan sangat murka. Rasanya Amara ingin menghilang saja dari sana daripada harus menghadapi amukan lelaki itu.
"Ayo turun! Jangan buat kakakmu lebih lama menunggu. Dia akan semakin marah padamu kalau kamu justru menghindarinya," ajar Reza.
Amara mengangguk kecil. Dia pun segera turun bersamaan dengan sang suami. Sekalipun Amara tak berani menatap Danu. Dia berjalan dengan kepala menunduk.
Berbeda dengan Reza. Dia biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Gurat wajahnya begitu tenang. Kalau saja tak ada video skandal Amara yang tersebar, semua orang yang melihatnya tidak akan tahu kalau saat ini dia sedang terluka akibat pengkhianatan Istrinya.
"Akhirnya kalian pulang juga. Ayo masuk!" ajak Danu.
Amara dan Reza menganggukkan kepala. Mereka segera mengekor Danu dan Naina dari belakang. Sesekali Amara menoleh pada Reza dengan perasaan yang sudah campur aduk. Entah kali ini Reza akan membelanya atau tidak, tapi Amara berharap lelaki itu akan menyerah. Cukup sampai di sini pernikahan mereka. Amara tidak ingin harus terikat lebih lama lagi dengan lelaki yang tidak dia cintai.
"Duduk!" titah Danu begitu mereka tiba di ruang keluarga.
Reza duduk terpisah dari Amara sedangkan wanita itu duduk berdua dengan Naina. Pun dengan Danu yang juga duduk sendiri di sofa yang berhadapan langsung dengan Amara dan Naina.
"Apa kamu tahu kesalahanmu, Amara?" tanya Danu dengan nada suara yang tersirat dipenuhi amarah.
"Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk …."
"Tidak bermaksud katamu? Apa kamu sudah gila Amara? Bagaimana kamu bilang kalau kamu tidak bermaksud melakukan kesalahan menjijikan itu setelah memutuskan tidur dengan seorang lelaki yang bukan suamimu, hah? Lebih parahnya lagi sekarang video skandalmu itu tersebar di dunia Maya, Amara! Harusnya kamu berpikir betapa buruknya efek dari perbuatanmu ini untuk kita semua! Benar-benar keterlaluan!"
Amara menunduk dalam. Dia tidak bisa menjawab apa pun yang dikatakan oleh sang Kakak karena itu semua benar adanya. Kebodohan yang dia lakukan bukan hanya akan berimbas pada dirinya sendiri tapi pada semua keluarga dan nama baik perusahaan mereka.
"Aku benar-benar tidak mengharapkan ini darimu, Amara! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga yang sudah berpuluh-puluh tahun kita jaga hanya karena nafsu belaka.
Apa sebenarnya masalahmu? Apa Reza kurang memuaskanmu hingga kamu nekad mencari kepuasan lain? Kenapa kamu tidak bilang semua itu pada Reza kalau memang benar? Atau kalau kamu tidak berani bilang pada Reza, katakan semuanya padaku biar aku membantu Reza berobat. Tidak perlu seperti ini, Amara! Kebodohan yang saat ini kamu ambil, hanya akan membuatmu kesusahan sendiri!" lanjut Danu dengan nafas memburu penuh emosi.
"Sabar, Mas. Kamu tidak boleh terlalu meledak-ledak seperti itu. Kamu sudah janji akan berbicara baik-baik," ucap Naina memperingatkan suaminya.
Danu menghela nafas kasar lalu menganggukkan kepala, "maaf," ucapnya.
Naina tersenyum lalu kembali mempersilahkan suaminya berbicara. Dia hanya tidak ingin suaminya terlalu meledak-ledak.
"Kenapa kamu diam saja, Amara? Jawab aku!" kesal Danu melihat adiknya diam saja.
"Aku harus bicara apa, Kak? Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tahu kalau aku salah, tapi aku juga tidak menyangka kalau semuanya akan jadi begini. Aku benar-benar minta maaf," lirih Amara menunduk dalam.
Danu terlihat semakin sebal saja mendengar perkataan adiknya. Jelas dia tidak puas mendengar apa yang adiknya itu katakan. Reputasi keluarga dan juga perusahaannya sedang diambang masalah sekarang gara-gara Amara. Tapi wanita itu hanya cukup mengatakan maaf dan tidak tahu apa-apa. Benar-benar tidak berguna!
Tidak puas dengan adiknya, Danu beralih menatap Reza yang sedari tadi diam saja. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Reza dan Amara karena selama ini baik Amara atau pun Reza tidak ada yang mengatakan apa pun padanya. Dia yakin ada sesuatu yang tidak beres diantara hubungan adiknya dan lelaki itu. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Jadi dia harus mengintrogasi Reza juga.
"Reza, katakan padaku apa yang sebenarnya sudah terjadi di antara kalian berdua? Tiga tahun kalian menikah dan selama itu pula aku tidak pernah mendengar apa pun tentang kalian berdua. Kalian itu pasangan yang sangat serasi dan selalu tampil mesra di setiap kesempatan. Lalu kenapa masalah ini sampai ada? Aku yakin Amara tidak mungkin nekad berselingkuh darimu kalau kamu becus menjadi suami.
Ingat Reza, apa yang dilakukan oleh seorang istri tergantung pemimpinnya. Di sini, Amara salah tapi aku yakin kamu pun tak kalah salahnya dari Amara. Jadi katakan padaku apa yang sudah kamu lakukan sampai adikku nekad berselingkuh?" tanya Danu mendesak Reza.
Reza tersenyum getir dengan rasa sesak yang semakin memenuhi hatinya. Apa pun yang terjadi, kesalahan memang selalu diarahkan pada para lelaki. Ketika lelaki berselingkuh semua orang akan langsung mengarahkan jari telunjuknya pada si lelaki tanpa mencari tahu apa ada kemungkinan perselingkuhan itu terjadi karena kesalahan si wanita yang menjadi istrinya. Namun, ketika seorang wanita berselingkuh maka kesalahan akan langsung dilimpahkan kepada lelaki seolah si lelaki tidak becus menjadi seorang suami.
Benar-benar tidak adil!
"Reza, aku bertanya padamu? Apa kamu tidak punya nyali untuk mengakui kesalahanmu, hah?" bentak Danu mulai tak bisa mengontrol emosinya lagi.
Reza menoleh pada Amara. Wanita itu diam seribu bahasa dengan kepala yang masih menunduk. Helaan nafas berat pun terdengar dari bibirnya. Tak peduli dengan keadaan hatinya yang kini berdarah, dia harus menjawab pertanyaan kakak iparnya yang menyalahkannya juga.
"Maaf, Kak, aku sadar selama ini aku banyak kekurangan. Aku terlalu sibuk hingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk memberikan perhatian pada Amara. Mungkin Amara merasa kesepian karena itulah dia memilih mencari kehangatan dari lelaki lain. Aku benar-benar minta maaf atas segalanya," lirih Reza mengakui kesalahan yang sama sekali tidak dia lakukan.
Amara langsung mendongak menatap tak percaya pada suaminya. Bisa saja Reza mengatakan segalanya pada Danu tentang bagaimana kelakuannya selama ini. Tapi lelaki itu malah mengakui kesalahan yang sama sekali tidak dilakukannya. Lelaki itu menunduk meminta maaf hanya untuk menutupi kesalahan Amara. Padahal Amara yakin saat ini hati Reza benar-benar terluka karenanya.
Sungguh Amara tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Reza. Ribuan kali dia sakiti tapi ribuan kali pula lelaki itu bertahan. Entah apa yang membuat lelaki itu bertahan dengannya. Padahal Amara sangat berharap Reza akan menceraikannya sekarang juga begitu kebusukannya diketahui semua orang.
"Mas, kamu …."
"Aku minta maaf, Amara. Aku salah selama ini karena terlalu asik dengan duniaku hingga kamu merasa terabaikan dan memilih mencari perhatian dari lelaki lain. Harusnya kamu menjadi prioritas untukku tapi aku abai dengan tanggung jawab itu," sela Reza memotong perkataan Amara.
"Nah kan, sekarang sudah ketahuan siapa biang masalahnya. Kamu itu jadi laki-laki harusnya peka, Reza, bukan malah masa bodo sama istri sendiri. Lagian kamu itu cuman kerja jadi manager pemasaran, apa sibuknya sih sampai enggak bisa ngurusin istri?" ketus Danu menatap Reza kesal.
Reza hanya menunduk diam tak mengatakan bantahan apa pun. Dia sudah benar-benar bak tersangka yang sudah melakukan kesalahan fatal.
"Sekarang, aku enggak mau tahu kamu harus perbaiki semua kesalahan yang kamu ciptakan sendiri, Reza! Kamu harus mengadakan konferensi pers untuk membersihkan nama Amara dan juga keluarga Arthav agar tidak dicemooh orang akibat kasus memalukan ini.
Semua masalah ini berawal darimu jadi kamu yang harus menyelesaikannya. Aku tahu benar adikku seperti apa jadi aku tidak percaya kalau di melakukan ini tanpa ada penyebabnya. Dan sekarang setelah aku tahu kebenarannya, aku tidak ingin kamu tetap diam dan membiarkan nama Amara digoreng di luaran sana oleh media yang tidak bertanggung jawab!" sambung Danu.
Reza mengangguk patuh. Dia menoleh menatap istrinya yang kini sedang menatapnya. Tatapan Reza menyiratkan banyak sekali makna. Namun, lebih dari apa pun yang saat ini lelaki itu rasakan, kesedihan yang terlihat di matanya menunjukan seberapa besar luka yang dia alami saat ini.