"Kamu akan melakukan apa yang Kak Danu pinta, Mas?" tanya Amara begitu Kakak dan kakak iparnya pulang.
Reza diam sama sembari memainkan ponsel. Bukan benar-benar bermain, dia hanya sengaja menghindari pertanyaan Amara yang menurutnya tidak penting. Toh lagipula wanita itu sudah tahu jawabannya. Jadi, harusnya Amara tidak perlu bertanya lagi.
"Mas, kenapa kamu diam saja? Aku bertanya padamu, Mas, bukan pada angin!" kesal Amara.
Reza menyimpan ponselnya lalu menatap sang istri, "menurutmu sendiri bagaimana? Apa aku akan melakukan yang kakakmu minta?" tanya balik Reza.
"Mas, aku bertanya padamu kenapa kamu malah balik bertanya! Aku tahu benar bagaimana kamu, Mas, kamu pasti akan melakukan permintaan Kak Danu, kan?" terka Amara.
"Kamu sudah tahu jawabannya tapi kenapa kamu masih bertanya, Amara?" decak Reza geleng-geleng kepala.
"Jangan gila kamu, Mas! Aku mohon cukup! Hentikan semua kegilaan ini! Skandal yang aku lakukan sudah tersebar kemana-mana, Mas. Kamu tidak bisa terus membelaku dan mempertahankan pernikahan ini. Tolong menyerahlah dan lepaskan aku. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki di antara kita, Mas. Kita sudah selesai," ucap Amara berharap suaminya mengerti dan mau meninggalkan dia.
"Harusnya kamu juga tahu kalau aku tidak mungkin melakukan itu, Amara. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun! Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan di luar sana. Aku tidak peduli berapa banyak lelaki yang akan kamu jadikan selingkuhanmu. Aku tidak peduli dengan siapa saja kamu membagi tubuhmu itu. Bahkan kalau pun kamu mempunyai anak dari lelaki lain, aku akan tetap tidak peduli, Amara!" tegas Reza tanpa keraguan.
Amara mengusap wajah kasar. Raut wajahnya dipenuhi rasa marah dan frustasi menghadapi sikap Reza yang keras kepala. Entah harus bagaimana lagi dia membuat Reza menyerah. Segala cara sudah dia lakukan termasuk tak pernah memberikan lelaki itu pelayanan. Akan tetapi sampai detik ini, Reza tak juga menyerah. Lelaki itu masih saja tetap tidak mau melepaskannya.
"Apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku, Mas? Bahkan aku tidak pernah membiarkanmu menyentuh tubuhku barang sedikitpun selama tiga tahun ini. Kenapa kamu masih terus ingin mempertahankanku? Apa sebenarnya tujuanmu? Apa karena kamu mengincar hartaku, iya?" tuding Amara begitu sengit.
Reza memejamkan mata menikmati rasa sakit yang kembali menghujam hatinya. Tudingan tak asing di telinganya yang semenjak menikahi Amara sering dia dengar. Kali ini tudingan itu kembali meluncur dari bibir sang istri. Tentu rasa rasa sakitnya bak dihujam ribuan belati di saat yang bersamaan.
Saat rasa Reza bisa mengendalikan rasa sakitnya, barulah dia kembali membuka mata. Segaris senyum tipis terbit menghiasi bibirnya, "Amara, kalau menurutmu memang aku seperti itu, kekayaan keluarga Arthav dalam bentuk apa yang sudah aku kuasai?
Semenjak menikahimu, aku tidak memiliki hak spesial apa pun. Baik itu di keluargamu, atau pun di perusahaan. Aku bekerja sama seperti orang lain. Aku menapaki tahapan dengan tahapan sama seperti yang orang lain lakukan. Aku yang mengawali karirku di perusahaanmu sebagai karyawan, tidak serta-merta menjadi seorang manager setelah menikahimu. Aku harus berjuang memantaskan diri untuk menduduki jabatan itu. Tidak ada campur tangan atau pun pengaruh sebagai suamimu hingga aku mendapatkannya dengan mudah. Aku harus berjuang dengan susah payah sama seperti yang lainnya.
Dan untuk keuanganku, keuangan kita, aku juga tidak mendapatkannya dengan cuma-cuma hanya karena menjadi suamimu. Semua uang yang aku dapatkan adalah hasil dari kerja kerasku. Tak ada sepeserpun yang yang masuk ke dalam dompetku dari aku memanfaatkan status sebagai suamimu. Tidak sama sekali, Amara.
Pun dengan rumah ini, rumah ini aku dapatkan dengan mencicilnya setiap bulan dengan gajiku bukan dengan pemberian keluargamu. Meskipun ayahmu memberikan kita rumah lain, aku enggan menempatinya. Bukan tidak berterima kasih pada beliau, tapi aku tidak ingin dianggap sebagai suami yang menumpang hidup pada Istrinya.
Lalu sekarang, apa alasanmu mengatakan kalau aku mempertahankanmu karena harta? Harta yang aku miliki saja semuanya atas namamu. Lalu untuk apa aku mengincar harta orang lain jika harta yang aku hasilkan dengan keringatku saja aku berikan padamu?"
Amara diam membeku mendengar pemaparan suaminya. Semua orang termasuk dirinya memang kadang salah paham pada Reza. Lelaki itu dianggap hanya menumpang hidup pada keluarga Arthav padahal kenyataannya tidak demikian. Reza mendapatkan apa pun atas usahanya sendiri dan dia dibayar sesuai dengan keringat yang dia hasilkan. Hanya karena Reza bekerja di perusahaan Arthav Group dan menikahi Amara, semua orang langsung menuduhnya suami benalu.
Bahkan, uang gaji yang Reza dapatkan selalu lelaki itu bagi dua dengan Amara. Setengah untuk Amara bersenang-senang dan setengah lagi untuk Reza membayar keperluan rumah tangga dan juga menabung. Semuanya sudah Reza atur sedemikian rupa hingga Amara hanya tinggal enaknya saja. Lelaki itu pun tidak pernah menanyakan kemana uang yang diberikannya pada Amara karena memang semuanya full untuk Amara mencukupi kebutuhan sendiri tanpa harus pusing dengan ini itu lagi.
Jadi, kalau ada yang mengatakan Reza menumpang hidup pada keluarga Arthav, Amara pun menyangkalnya. Reza tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai suami Amara untuk mendapatkan pervillage di perusahaan. Lelaki itu pekerja keras yang tidak pernah bergantung pada siapa pun. Jujur saja, Amara pun kagum pada semua yang Reza lakukan selama ini. Kerja keras dan perjuangan lelaki itu, tidak pernah berkurang meskipun kalau mau, dia bisa memanfaatkan status sebagai suami Amara.
Amara langsung menggeleng kecil untuk mengusir rasa kagum yang tiba-tiba timbul di benaknya pada sang suami. Dia tidak boleh luluh pada lelaki itu. Bagaimanapun juga, Reza adalah orang jahat untuknya. Lelaki itu yang membuat setiap mimpi Amara pupus. Lelaki itu yang terlalu cari perhatian pada ayahnya sampai-sampai sang ayah memilih menikahkan Amara daripada menuruti cita-cita Amara untuk menjadi seorang model.
Kalau saja! Kalau saja tidak ada Reza yang menyebalkan itu, pasti sekarang Amara sudah menjadi model terkenal. Wajahnya pasti sudah terpangpang di majalah-majalah populer, bahkan televisi swasta pun tak akan luput memuji kecantikannya.
Akan tetapi, hanya karena Reza semua harapan Amara pupus sudah. Kini berita yang muncul tentangnya bukan lagi soal prestasi yang dia raih sebagai model tapi karena skandal perselingkuhan yang dia lakukan demi bebas dari lelaki itu.
Benar-benar menyebalkan, memang! Kehadiran Reza di hidup Amara bak kutukan yang tidak berkesudahan. Kalau saja dia tidak takut di penjara, sudah pasti Amara akan melenyapkan lelaki itu.
"Kenapa kamu mengatakan semua itu, Mas? Apa kamu menyesal tidak bisa menggunakan statusmu sebagai suamiku? Atau kamu menyesal sudah memberikan semua yang kamu miliki padaku? Ingat ya, Mas, aku tidak pernah meminta apa pun padamu. Tidak sedikitpun! Jadi, aku harap kamu berhenti bersikap menyebalkan seperti itu seolah-olah sudah memiliki jasa besar padaku.
Seperti apa pun pembelaan yang kamu katakan pada akhirnya kebenaran tetaplah kebenaran. Kamu makan dari uang keluargaku! Entah itu sebagai upah kerjamu atau diberikan secara cuma-cuma!"
Kata-kata merendahkan itulah yang pada akhirnya kembali meluncur dari bibir Amara bukan kata-kata sanjungan penuh kekaguman atas pencapaian lelaki itu seperti yang dirasakan hatinya. Egonya terlalu besar untuk mengakui keunggulan yang dimiliki suaminya.
Reza menghela nafas dalam berusaha tetap tenang agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang kini seakan sudah ada di ujung bibirnya, "aku tidak pernah bermaksud untuk perhitungan atau pun merasa paling berjasa padamu. Aku hanya berusaha meluruskan segala tuduhanmu.
Dan soal aku makan dari uang keluargamu, aku siap keluar dari perusahaan kalau kamu memintanya. Aku sama sekali tidak keberatan melepaskan pekerjaanku asalkan kamu tidak lagi menuduhku yang tidak-tidak," ujar Reza begitu tenang menghadapi Amara.
Amara berdecak sebal. Berbicara dengan Reza tidak akan ada habisnya. Lelaki itu selalu saja punya cara untuk menjawab perkataan Amara. Benar-benar menyebalkan.
"Sudahlah, Mas, aku capek berbicara denganmu yang tidak ada habisnya ini. Lebih baik aku mandi sekarang! Badanku sangat gerah!" Amara segera beranjak dari hadapan Reza.
"Istirahatlah, Amara, istirahatkan tubuhmu! Ingat, besok kita harus menghadiri konferensi pers jadi kamu harus tetap fit dan cantik."
"Mas, aku tidak mau!"
"Kamu harus mau Amara, ini demi nama baikmu dan juga perusahaan. Kalau kamu tidak peduli pada hal lain, aku harap kamu peduli pada dirimu sendiri!" Setelah mengatakan itu Reza segera pergi meninggalkan Amara.
Amara berdecak sebal sembari menghentakkan kaki penuh kekesalan, "dasar benalu! Aku benar-benar membencimu, Mas!"