"Kamu sudah siap?" tanya Reza sebelum turun dari mobil.
Amara menghela nafas kasar. Di depan perusahaan Arthav Group kini sudah berkumpul banyak sekali karyawan. Bahkan pengaturan untuk konferensi pers pun sudah ditata sedemikian rupa. Bukan hanya itu ada pengacara keluarga Artav dan Danu juga di sana untuk jaga-jaga takutnya ada para wartawan yang nekad nanti.
Semua ini disiapkan Reza dan juga Danu. Mereka bukan hanya berhasil menurunkan video viral tentang penggerebekan yang menimpa Amara kemarin, tapi mereka juga ingin membungkam persepsi publik yang sudah bergerak liar bak bola salju. Tentu saja ujung-ujungnya untuk menjaga nama baik perusahaan dan keluarga Arthav itu sendiri.
"Kenapa kamu diam saja? Kalau kamu sudah siap, ayo kita turun sekarang!" ajak Reza lagi.
Amara menoleh pada suaminya. Wajah lelaki itu terlihat tenang seolah memiliki sedikitpun emosi saat berhadapan dengan Amara. Entah apa yang ada di hati dan pikiran lelaki itu. Tapi jujur saja, Amara merasa muak dengan semua yang lelaki itu lakukan.
"Mas, apa menurutmu dengan melakukan ini aku akan berhenti?" tanya Amara.
"Tidak!" jawabnya tegas.
"Kalau kamu sudah tahu jawabannya, kenapa kamu harus repot-repot melakukan ini? Biarkan semua orang mengetahui semua keburukanku! Biarkan semua orang mengeluarkan sumpah serapahnya padaku! Aku tidak peduli, Mas! Apa yang kamu lakukan saat ini, hanya sia-sia saja!" tekan Amara berusaha membujuk sang suami untuk terakhir kalinya.
Bukan hal seperti ini yang Amara inginkan. Dia hanya menginginkan Reza melepaskannya, itu saja. Jadi percuma apa pun yang dilakukan oleh Reza sekarang hanya akan sia-sia saja. Jika sekarang Reza tidak juga melepaskannya, maka Amara tidak akan berhenti untuk membuat lelaki itu jera.
"Mas, aku sarankan sebaiknya kamu itu …."
"Ayo kita turun sekarang!" ajak Reza memotong perkataan Amara.
"Mas, aku …."
"Amara, kamu ingin kakakmu sendiri yang menjemputmu ke sini?" tanya Reza menatap tajam isterinya.
Amara berdecak sebal mendengar ancaman Reza. Mau tidak mau dia segera turun dari mobil sesuai keinginan lelaki itu. Di depan semua orang terutama sang kakak, Amara terpaksa bergelayut manja di lengan Reza. Siapa pun yang melihat mereka saat ini tidak akan menduga kalau ada masalah besar yang sengaja ditutupi dari semua orang.
Kedatangan Reza dan Amara langsung disambut Danu dan juga pengacara. Mereka segera duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan awak media. Jepretan lensa kamera terus silih berganti menyorot pasangan suami istri itu. Mereka seakan tak ingin kehilangan momment satu detik pun untuk mengabadikan apa yang sebentar lagi akan mereka dengar dari keduanya.
"Selamat siang semuanya. Saya di sini selaku pengacara dari keluarga Arthav ingin menyampaikan pada kalian kalau dalam kesempatan ini, Pak Reza dan Bu Amara akan meluruskan segala berita kurang mengenakan yang menimpa keluarga mereka.
Kami sengaja mengundang semua awak media sebagai perwakilan masyarakat luas yang mungkin juga turut penasaran dengan kebenaran berita ini. Pak Reza akan meluruskan segalanya agar bola salju yang terlanjur bergerak liar tanpa arah itu bisa berhenti dan tidak mengganggu kenyamanan semua orang lagi," ucap Pak pengacara mewakili kliennya.
"Apa akan diadakan sesi tanya jawab di akhir nanti?" tanya seorang wartawan begitu bersemangat.
"Maaf harus membuat kalian kecewa tapi untuk sesi tanya jawab tidak akan kami adakan. Karena itulah silahkan simak penjelasan dari Tuan Reza sendiri sebaik mungkin agar kalian tidak terus berpersepsi yang tidak-tidak," ujar pengacara.
"Huuu …."
Suara riuh para wartawan menandakan kekecewaan. Padahal masing-masing dari mereka sudah mempersiapkan banyak sekali pertanyaan saat datang ke sana nanti. Tapi apa daya, mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun setidaknya mereka bisa mendengar secara langsung tanggapan Reza terkait kasus yang menimpa istrinya sendiri.
"Silahkan dimulai saja, Pak," ucap Pak pengacara.
"Baik, Pak."
Reza mendongak memperlihatkan wajahnya dengan jelas ke kamera. Mimik wajah tanpa ekspresi yang sangat sulit untuk ditebak oleh siapa pun. Entah lelaki itu sedih, marah, atau justru biasa saja. Hanya Reza seorang yang tahu seperti apa perasaannya saat ini.
"Baik, semuanya terima kasih karena sudah bersedia memenuhi undangan saya. Di sini tidak banyak yang akan saya sampaikan kepada kalian semua. Saya hanya ingin mengatakan kalau apa pun yang terjadi di luaran sana, seperti apa pun berita miring yang tertuju pada istri saya, Amara, kami akan tetap bersama.
Saya tidak akan menyangkal atau pun membenarkan video tersebut. Sebagai seorang suami saya tentu sedih dengan adanya video viral tersebut, namun perlu saya tegaskan di sini APA PUN YANG TERJADI SAYA TETAP MENCINTAI ISTRI SAYA. Saya tidak akan pernah melepaskan istri saya. Rumah tangga kami akan tetap baik-baik saja seperti sebelumnya. Kami akan memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi. Tolong doakan kami berdua agar bisa melewati ujian yang sedang Tuhan berikan pada kami ini.
Dan untuk para awak media semuanya, saya mohon hentikan menyiarkan berita buruk apa pun tentang istri saya. Saya akan bertindak tegas kalau sampai ada yang berani menjelekan istri saya. Saya suaminya, jadi apa pun yang terjadi pada istri saya, saya yang akan menjadi garda terdepan untuk melindungi dia."
Semua orang langsung melongo mendengar penuturan Reza. Mereka tak menyangka Reza masih akan mempertahankan Amara. Mereka mengira kalau Reza akan memilih meninggalkan wanita itu. Tapi ternyata, apa yang saat ini mereka dengar sangat jauh dari ekspektasi.
"Pak Reza apa Anda tidak salah, Pak? Istri Anda itu sudah berselingkuh! Dia sudah tidur dengan lelaki lain! Apa Anda akan mengampuninya begitu saja?" tanya seorang wartawan tak tahan memendam kekecewaan pada Reza.
"Iya, Pak Reza, apa Anda takut miskin makanya Anda tidak mau menceraikan istri Anda padahal sudah jelas dia salah?" tuding yang lainnya.
"Huh dasar laki-laki Mokondo! Rupanya Mokondo itu lebih memilih berbagi tubuh istrinya dengan orang lain daripada kembali miskin. Dasar miris!"
"Kasihan sekali ya, hanya karena dibutakan harta, akal sehatnya ikut mati!"
"Huh, dasar lelaki sampah! Tidak berguna!"
"Lelaki lemah sepertimu sebaiknya mati saja!"
"Dasar tidak tahu malu!"
"Suami tidak berprinsip!"
"Pantas diselingkuhi oleh istrinya kalau dia sendiri lemah seperti ini. Malu dong sama badan tinggi besar tapi kalah sama istri!"
Berbagai cibiran terus dilontarkan orang-orang tanpa perasaan. Reza segera menarik tangan Amara pergi dari sana sedangkan para wartawan dan yang lainnya ditangani oleh pengacara dan juga Danu.
Reza membawa Amara masuk ke dalam kantor. Tatapan para karyawan pun tak kalah mengintimidasi dari orang-orang di luar. Hanya saja, mereka tidak ada yang berani bersuara. Mungkin masih sayang dengan pekerjaan mereka.
Begitu tiba di ruangannya, Reza membawa Amanda duduk di sofa. Antoni yang melihat kedatangan suami istri itu memilih keluar karena dia tidak ingin mengganggu privasi kedua orang itu.
"Kenapa kamu melakukan ini, Mas? Kamu ingin melihatku lebih gila dari sebelumnya?" kesal Amara tak kuasa menahan amarahnya lagi.
"Lakukan saja, aku tidak peduli!" sahut Reza santai. Dia melangkah meninggalkan Amara lalu duduk di kursi kerjanya.
"Mas! Apa kamu sudah gila! Sampai kapan kamu mempertahankan pernikahan yang tidak sehat ini, hah? Aku tidak mau terus menerus bertahan bersama kamu, Mas! Aku ingin bebas! Aku ingin …."
"Apa sekarang aku mengekangmu, Amara? Pernikahan ini sehat kalau kamu mau menjaga dan tidak mengotorinya. Aku akan tetap bertahan semampuku, sampai Tuhan sendiri yang memintaku untuk menyerah," ucap Reza memotong perkataan Amara tanpa menoleh pada wanita itu.
"Kamu benar-benar gila, Mas! Kamu gila!"
"Ya, aku memang gila dan kamu sudah mengetahui segalanya sejak awal."
Amara mendengus kesal mendengar perkataan Reza. Entah harus bagaimana lagi dia membuat lelaki itu jera. Rasanya menghadapi Reza selalu sukses membuat kepala Amara serasa akan pecah. Tidak mungkin kan, dia harus bermesraan dengan lelaki lain di depan Reza agar lelaki itu ….
Astaga! Ya, sepertinya itu akan sukses membuat Reza menyerah. Amara akan sengaja membawa selingkuhannya ke hadapan Reza agar lelaki itu sadar kalau Amara tidak menginginkannya. Amara yakin dengan cara itu akan membuat Reza menyerah. Suami mana yang akan tahan jika melihat istrinya disentuh lelaki lain dan itu tepat di hadapannya sendiri.
"Lihat saja, Mas! Kamu yang sudah menantangku maka aku pun akan membuatmu semakin tersiksa," lirih Amara tersenyum smirk.