"Tuan, apa kabarmu di sana? Maaf aku baru datang mengunjungimu. Beberapa waktu terakhir ini aku sedang dipusingkan dengan tingkah putrimu, Tuan. Kau tahu kan, bagaimana putrimu? Aku yakin kamu pun melihatnya dari atas sana. Jujur saja kalau bukan karena dirimu rasanya aku sudah tidak sanggup."
Reza menghela nafas kasar sebelum melanjutkan perkataannya. Di depannya ada nisan bertuliskan MAHENDRA ARTHAV yang tak lain nisan ayah mertuanya.
Sepulang bekerja Reza memutuskan untuk berkunjung ke makam Mahendra. Dia butuh seseorang untuk menumpahkan segala beban di hatinya. Pilihannya jatuh pada sang ayah mertua. Meskipun kini hanya tersisa nisannya saja, tapi setelah menumpahkan semua kesedihannya di tempat ini Reza selalu merasa jauh lebih baik.
Bohong kalau Reza baik-baik saja setelah apa yang terjadi. Dia manusia biasa, hatinya rapuh dan hancur. Sekarang bukan hanya dia saja yang mengetahui kegilaan istrinya tapi seluruh dunia. Dan yang lebih mirisnya lagi, kali ini ada korban lain yang serupa dengan Reza. Ya wanita itu, Istri dari selingkuhan Amara.
"Tuan, sekarang aku bukan hanya berdosa karena membiarkan istriku berselingkuh tapi aku juga turut menjadi orang yang dzalim pada istri dari selingkuhan Amara. Jujur saja aku merasa bersalah padanya, Tuan. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun. Janjiku padamu mengikatku untuk selalu berada di sisi Amara apa pun yang terjadi. Semoga saja dia baik-baik saja dan bisa mengambil keputusan yang tepat tidak sepertiku yang terbelenggu janji.
Seandainya, Tuan, seandainya Amara bukan putrimu, aku pasti akan memilih menyerah sejak awal. Bukan hanya rasa sakit tapi harga diriku pun sudah dikoyak habis olehnya. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi tapi aku harus tetap bertahan. Aku hanya meminta tolong padamu, Tuan, tolong sampaikan pada Tuhan kalau aku membutuhkan kekuatan dan kesabaran yang lebih besar lagi untuk menghadapi putrimu. Berikan juga jalan untuk Amara agar dia bisa menyadari segala kesalahannya. Jujur saja aku tidak tahu sampai kapan akan sanggup bertahan di sisinya," lirih Reza begitu sendu di akhir perkataannya.
Mungkin selama ini semua orang hanya melihat Reza dari luarnya saja. Mereka menghardik dan menganggap Reza lelaki yang lemah karena selalu mengalah pada Amara dan mengampuni semua kesalahan wanita itu. Akan tetapi semua orang tidak tahu kalau ada alasan di balik semua itu. Janjinya pada Mahendra mengikat Reza hingga dia tidak bisa pergi meskipun hatinya sudah tak berbentuk karena pengkhianatan Amara.
Ingatan Reza melayang jauh ke detik-detik Mahendra menitipkan Amara saat lelaki itu sudah berada di ujung hidupnya karena sakit. Di antara semua orang yang hadir, Mahendra meminta Reza mendekat untuk membisikan kata-kata yang kini menjungkirbalikkan kehidupan Reza.
"Reza, aku tahu masaku telah tiba. Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Di antara semua orang yang ada di dunia ini, aku hanya percaya padamu, Reza. Tolong jaga harta paling berharga dalam hidupku. Tolong jaga Amara putri kecilku. Jangan pernah tinggalkan dia apa pun yang terjadi, Reza. Kamu bukan hanya harus menjadi suaminya tapi juga menjadi pelindungnya dalam setiap keadaan. Jika kamu tidak mencintainya, tolong lakukan ini untukku, untuk membalas semua kebaikan yang aku lakukan padamu. Hanya kamu satu-satunya orang yang aku percaya untuk menjadi pendamping putriku."
Reza kembali memejamkan mata kala teringat perkataan Mahendra. Jujur saja awalnya dia terkejut karena tidak pernah terlintas dalam benaknya kalau dia akan menikahi putri dari Tuannya sendiri. Bukan dia tidak tertarik pada Amara tapi dia membentengi diri karena tahu benar siapa dirinya dan apa posisinya.
Akan tetapi setelah mendengar permintaan Mahendra, Reza tidak bisa menolak. Terlebih setelah berbicara padanya, Mahendra pun berbicara pada Danu dan semua orang yang ada. Lelaki itu menyampaikan keinginannya untuk menikahkan Reza dengan Amara. Dan inilah yang terjadi, Reza akhirnya menjadi suami Amara meskipun tidak pernah dianggap oleh wanita itu.
Miris!
Gerimis yang mengenai wajahnya membuat kesadaran Reza kembali. Dia segera membuka mata dan melihat keadaan di sekitarnya tidak memungkinkan untuk dia tetap bertahan lebih lama lagi di sana.
"Tuan, aku pergi dulu. Lain kali aku akan kembali berkunjung ke sini. Semoga kebahagiaan selalu menjadi milikmu, Tuan."
Reza segera beranjak lalu berlari kecil menuju mobilnya. Dia tidak ingin harus basah kuyup kehujanan. Jangan sampai bukan hanya hatinya saja tapi tubuhnya pun ikut sakit. Bahaya nanti semua orang akan tahu kalau Reza masih bisa merasakan rasa sakit. Mereka akan melihat sisi lemah Reza dan itu tidak Reza harapkan.
Laju kendaraan tidak begitu lancar mengingat hujan yang semakin lama semakin deras, membuat Reza harus terjebak kemacetan. Bintik-bintik banjir sudah terlihat di mana-mana membuat kendaraan mengontrol kecepatan mereka. Pun dengan Reza yang juga melakukan hal yang sama.
Reza mengecek ponselnya yang sedari tadi dia matikan. Entah apa yang dia harapkan karena setelah ponsel itu menyala, senyum sinis terlukis di bibirnya.
"Apa yang aku harapkan? Dia tidak akan mungkin mencariku, menanyakan di mana keberadaanku. Aku bukan suami pada umumnya yang akan dikhawatirkan isterinya jika terlambat pulang. Aku bukan suami pada umumnya yang akan dicari-cari saat tidak ada kabar. Bahkan jika aku tiada pun, mungkin Amara akan merayakan pesta untuk meluapkan kebahagiannya." Reza bergumam dengan bibir bergetar penuh kegetiran.
Sementara di tempat lain, Amara terlihat mondar-mandir tak bisa diam di tempat. Sesekali dia menoleh ke arah pintu. Orang yang ditunggunya tidak juga terlihat batang hidungnya. Entah kemana lelaki itu, tidak biasanya terlambat pulang tanpa memberikan kabar seperti ini. Padahal saat barusan dia menghubungi kakaknya, katanya Reza sudah pulang. Itu artinya lelaki itu pergi ke suatu tempat tapi tidak mengatakan apa pun pada Amara.
Menyebalkan!
"Hey, kamu kenapa tidak bisa diam, Amara? Apa yang kamu tunggu, Hem? Bukankah kamu mengundangku ke sini untuk merasakan sensasi bermain di rumahmu? Kenapa sekarang kamu malah mengabaikan aku?" Andi memeluk Amara dari belakang. Dia menempelkan dagunya di ceruk leher wanita itu.
"Menyingkirlah, Andi, aku sedang malas!" kesal Amara berusaha melepaskan diri dari Andi.
"Hey, kenapa? Kamu kenapa tiba-tiba menolakku? Apa karena kamu mengkhawatirkan suamimu itu?" tanya Andi tak suka.
Amara langsung mendelik mendengar perkataan Andi, "jangan sembarangan, Andi! Aku tidak mengkhawatirkan dia! Aku hanya sedang tidak mood saja," sangkalnya.
Andi langsung membalikan tubuh Amara hingga wanita itu menghadap padanya, "jujur padaku, Amara, kamu mulai mencintai si Reza itu, kan?" tuding Andi menatap tajam Amara.
"Kamu ingin bicara apa sih, Andi? Jangan aneh-aneh deh! Sampai kapan pun aku tidak akan mencintai Reza! Tidak akan!" tegas Amara menolak tuduhan Andi.
"Lalu kenapa sekarang kamu menolakku, hah? Apa ada alasan yang lebih masuk akal selain karena kamu malas? Ingat Amara, aku sangat mengenalmu luar dalam. Aku tahu kalau ada hal lain kamu kamu tutupi dariku, kan?" desak Andi tak ingin kalah.
"Emm … itu … aku hanya …."