"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gugup? Apa yang aku katakan benar? Apa kamu …."
"Jangan menduga hal yang tidak ada, Rendi!" geram Amara memotong perkataan Rendi.
"Lalu aku harus mengatakan apa? Kamu menolakku sekarang, Amara! Apa aku harus tetap berpikiran positif kalau kamu sedang tidak mood seperti yang kamu katakan barusan? Tidak! Aku rasa tidak! Aku rasa masalahnya tidak sesimpel itu! Aku yakin pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku!" tatapan tajam Rendi seakan menguliti Amara. Rahangnya mengeras pertanda dia sedang menahan amarah.
Amara mendecih sebal. Rendi memang suka sekali mendramatisir keadaan. Hanya karena hal kecil, lelaki itu langsung membuatnya besar. Benar-benar menyebalkan!
"Tolong jangan mendramatisir hal kecil seperti ini, Ren! Aku …."
Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Amara menghentikan perkataannya. Dia tahu benar kalau itu mobil milik suaminya. Tanpa banyak basa-basi Amara segera mengalungkan tangannya ke leher Rendi. Senyum merekah terukir di bibirnya menambah kecantikan yang dia miliki bertambah.
"Kenapa?" tanya Rendi memicing. Dia bingung kenapa Amara tiba-tiba tersenyum dan menempel padanya padahal barusan saja menolak sentuhannya.
"Aku hanya geli saja melihatmu marah. Aku hanya sedikit bermain-main tapi kamu malah merajuk seperti anak kecil. Benar-benar menggemaskan!" Amara terkekeh menertawakan hal yang menurutnya lucu.
"Kamu benar-benar nakal, Sayang! Awas saja, aku akan menghukummu!"
Tanpa basa-basi Rendi langsung menyerang bibir Amara tanpa ampun. Dia sudah bak singa kelaparan, buas dan tidak bisa dihentikan. Di saat bersamaan pintu terbuka menampilkan wajah syok Reza. Lelaki itu mematung melihat pemandangan menyakitkan yang untuk kesekian kalinya kembali dia saksikan.
Bibirnya tercekat dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpit di sana.
Amara tersenyum kecil di sela-sela aktivitasnya kala melihat dengan ekor matanya Reza membeku di tempat. Suara-suara lucknut sengaja dia keluarkan untuk membakar emosi Reza. Hatinya berharap lelaki itu akan mengamuk, memukulinya, lalu menceraikannya. Dia sangat yakin kalau kali ini Reza tidak akan tahan lagi. Bukan hanya karena perselingkuhan yang dia lakukan, tapi karena rumah mereka pun dia jadikan ajang untuk bertempur, bergelung dalam dosa bersama selingkuhannya.
Namun, tanpa disangka setelah beberapa saat terdiam, Reza malah melanjutkan langkah melewati Amara begitu saja. Tanpa kata atau pun teguran, lelaki itu seolah tidak melihat aktivitas bejad yang Amara dan Rendi lakukan.
Tentu saja itu membuat Amara kesal. Dia tidak akan membiarkan usahanya sia-sia. Untuk memancing emosi Reza, dia sengaja berbuat lebih agresif pada Rendi. Dia menggiring Rendi menuju sofa ruang keluarga sembari melucuti pakaian lelaki itu. Ya, dia ingin segera ke permainan inti. Dengan begitu, dia yakin kalau Reza tak akan tahan. Lelaki itu pasti akan mengamuk.
"Ouh, Sayang, kamu agresif sekali." Rendi terkekeh saat Amara mendorongnya hingga terjatuh di sofa.
"Ya, aku ingin memimpin permainan kali ini. Kemarin-kemarin aku selalu dikendalikan dan hanya diberi jatah kendali sedikit. Kali ini aku yang akan mengendalikanmu!" ujar Amara membuat senyum Rendi semakin mengembang.
"Tentu saja, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, aku akan dengan senang hati menurutinya," ucap Rendi begitu bersemangat.
Amara melucuti pakaiannya sendiri dan melemparkannya ke sembarang arah. Setelah penampilannya bak bayi baru lahir, dia segera naik ke atas tubuh Rendi dan mulai berolahraga di sana. Sengaja, Amara bersuara keras. Seolah dia bersemangat sekali untuk permainan kali ini. Padahal dia ingin membuat Reza kebakaran. Amara ingin lelaki itu melakukan apa yang dia pikirkan sekarang.
Tak berselang lama, Reza kembali muncul. Amara tentu senang. Dia semakin bersemangat melakukan aksinya. Hatinya dag-dig-dug karena pasti sebentar lagi Reza akan mengamuk. Dia harus mempersiapkan dirinya menahan sedikit rasa sakit kalau-kalau Reza melakukan kekerasan. Tentu saja itu tidak akan seimbang dengan perceraian yang dia idamkan. Jadi Amara harus bisa menahannya.
Akan tetapi kala Reza kembali melewatinya, Amara mengernyit kebingungan, "kamu mau kemana?" Amara tak tahan untuk bertanya dan menghentikan sejenak aktivitasnya.
Reza berhenti sejenak lalu menoleh pada Amara, "apa itu penting bagimu?" tanya balik Reza.
"Tidak!" Amara menggelengkan kepala, "aku hanya ingin tahu saja kenapa kamu pergi padahal baru saja datang," lanjutnya mencari alasan meskipun sebenarnya dia penasaran kenapa Reza akan pergi lagi dan bukan mengamuk seperti harapannya.
"Sudah tidak usah memperdulikan aku. Lanjutkan saja kegiatanmu! Dan ya, aku tidak akan pulang malam ini. Aku hanya minta padamu, tolong jangan bawa siapa pun ke kamarku. Aku tidak ingin ada bekas kegiatan haram di sana. Itu pun, kalau kamu masih sedikit memiliki hati sebagai manusia." Reza kembali melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi.
Amara mendengus kesal. Dia turun dari tubuh Rendi. Dia bermain liar untuk membuat Reza marah, akan tetapi kenyataannya lelaki itu malah pergi entah kemana. Menyebalkan!
"Hey, Sayang, kenapa kamu malah berhenti?" protes Rendi kesal Amara malah berhenti.
"Aku enggak mood!" sahut Amara hendak pergi.
Namun, Rendi menarik tangan Amara hingga wanita itu jatuh di atas pangkuannya, "jangan terus bercanda, Sayang, milikku tidak bisa ditenangkan dengan mudah kalau kamu terus mempermainkannya!" kesalnya sembari menjelajahi leher jenjang Amara dengan bibirnya.
"Rendi berhenti! Aku benar-benar sedang tidak …."
"Tidak! Tidak ada ampun untukmu malam ini! Aku menginginkanmu sampai pagi!"
Tanpa banyak basa-basi Rendi langsung mengambil alih permainan. Dia tidak peduli dengan penolakan Amara. Toh pada akhirnya wanita itu juga pasrah. Lagipula, siapa yang akan menolak kalau diajak bersenang-senang meraih surga dunia bersama. Jangankan hanya mood yang sedang sedikit turun, bahkan duka pun tak bisa menghalangi kegiatan menyenangkan yang menjadi candu untuk semua orang.
Sementara itu, Reza terlihat mengendarai mobil tanpa arah. Matanya memerah menahan kesedihan. Namun, tak ada air mata yang tampak di sana. Dia menyembunyikan rasa sakit di hatinya dengan tidak membiarkan air mata membasahi pipinya.
Bohong kalau dia tidak sakit atau pun marah melihat apa yang Amara lakukan. Kalau saja bisa, ingin sekali dia mengutuk perbuatan wanita itu. Akan tetapi sekuat tenaga dia mengendalikan diri. Jangan sampai karena emosi dia lepas kendali. Terlebih kalau saja Reza menuruti nafsu, ingin sekali dia membunuh kedua orang berwujud binatang itu.
"Tuan Hendra, kau pasti tahu rasa sakitku saat ini. Tolong maafkan aku kalau seandainya aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku benar-benar tidak kuasa menahan segalanya. Di sini sakit sekali," lirih Reza sembari menepuk dadanya yang terasa begitu sesak.
Beberapa kali Reza menepuk d**a untuk mengurangi rasa sakitnya. Berharap dengan melakukan itu dia akan sedikit merasa baik-baik saja. Meskipun sebenarnya itu sama sekali tidak berpengaruh. Hatinya yang sudah hancur tak berbentuk lagi-lagi dikoyak tanpa ampun.
Sekarang Amara bukan hanya mengkhianati sucinya pernikahan mereka saja, tapi juga berani menodai istana yang sengaja Reza persiapkan untuk menjadi tempat mereka bernaung, menumpahkan segala cinta dan kebahagiaan. Rumah yang harusnya menjadi saksi perjalanan cinta mereka, kini malah Amara jadikan tempat menuntaskan hasrat bejadnya.
Oh Tuhan! Adakah rasa sakit yang lebih besar lagi dari ini? Rasanya Reza benar-benar tak sanggup. Dia manusia biasa yang memiliki amarah dan rasa sakit. Kalau terus dipancing seperti ini, bisa-bisa suatu saat dia lepas kendali.
Mungkin saat ini seluruh dunia menghujatnya karena dia hanya diam saja saat menyaksikan apa yang istrinya lakukan. Mungkin saat ini seluruh dunia membencinya karena dia lemah hingga tidak tegas saat melihat kelakuan gila yang istrinya lakukan. Mungkin saat ini seluruh dunia menghardiknya, mengatakan dia lelaki bodoh, takut miskin dan sebagainya hanya karena tak bertindak saat dengan sengaja Amara mengoyak sucinya ikatan yang terjalin di antara mereka.
Akan tetapi mereka tidak tahu Reza harus mati-matian mengendalikan emosinya. Dia tidak bisa menyakiti putri dari lelaki yang sudah menjadi malaikat dalam hidupnya. Apalagi lelaki itu sendiri yang menitipkan Amara padanya untuk selalu dilindungi dan dicintai, bagaimana bisa Reza mengkhianati semua itu dengan melampiaskan emosinya?
Ya, Mahendra bukan hanya bos bagi Reza, lelaki itu juga sudah bak malaikat yang melindunginya. Dulu Reza hanya anak jalanan yang dibuang oleh orang tuanya. Entah apa salahnya hingga orang tuanya membuang dia di jalanan. Menjadi korban bulan-bulanan para preman sudah menjadi makanan sehari-hari Reza. Dia bukan hanya dijadikan pengemis tapi juga kadang dipukuli kalau uang yang dihasilkan dari mengemis tidak sesuai harapan orang-orang itu.
Hingga suatu hari, Reza sakit perut karena terlambat makan. Dia memutuskan untuk tidak mengemis karena tidak kuat dan memilih duduk-duduk saja trotoar. Siapa sangka kelakuannya itu diketahui para preman yang menyuruhnya mengemis. Dia dipukuli tanpa ampun bahkan sepertinya dia hampir mati karena pukulan membabi buta yang dilakukan oleh mereka. Beruntunglah di saat genting Tuan Mahendra datang. Lelaki itu bukan hanya menolongnya lepas dari pukulan para preman tapi juga membawanya ke rumah sakit dan membuat para preman itu dipenjara.
Meskipun tidak diangkat sebagai anak, namun sejak saat itu Tuan Mahendra membantu kehidupan Reza. Lelaki itu menyewa kontrakan untuk Reza tinggali, menyekolahkannya, dan mengizinkan Reza bekerja sebagai tukang cuci di salah satu restoran miliknya.
Reza bekerja tanpa kenal lelah. Siang dia belajar di sekolah dengan giat dan malamnya dia akan bekerja untuk bisa menghasilkan uang. Dia tidak ingin berpangku tangan pada kebaikan Tuan Hendra. Dia selalu mencicil uang yang Tuan Hendra gunakan untuk menolongnya. Meskipun lelaki kaya itu menolaknya, tapi Reza tidak pernah mau mendengarkan. Akhirnya lelaki itu mengalah dan mau menerima uang tak seberapa yang selalu Reza berikan.
Setelah Reza beranjak dewasa dan lulus kuliah dengan gelar summa c*m laude karena memiliki IPK tinggi, Tuan Hendra pun menariknya untuk bekerja di perusahaan sebagai karyawan. Hanya karyawan biasa bukan jabatan yang spesial. Berkat kegigihan Reza lah sekarang dia bisa menduduki jabatan manager.
Akan tetapi semua perjuangan dan kegigihan Reza itulah yang membuat Tuan Mahendra begitu bangga. Bahkan tanpa ragu lelaki itu menitipkan putri tercintanya pada Reza di saat-saat terakhir. Bukan karena tidak ada lelaki lain yang menginginkan Amara, tapi karena Reza adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suami putrinya.
Jika ada sesuatu yang mengikat seseorang lebih kuat dari pada rantai, itu adalah hutang budi. Seperti halnya Reza sekarang yang tidak bisa berbuat apa-apa karena hutang budinya pada Tuan Mahendra.
Meskipun sekarang Amara melakukan kesalahan besar, namun Reza tidak bisa menyakiti wanita itu. Dia hanya bisa menahan segala rasa sakitnya sampai nanti ketika Tuhan sendirilah yang memintanya untuk menyerah.
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba Reza melihat sosok yang lumayan familiar di matanya berjalan tak tentu arah. Otaknya menerka apa yang orang itu lakukan. Dia segera menghentikan laju mobilnya kala sudah di samping orang itu.
"Suci, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Reza setelah membuka kaca mobilnya. Suci adalah salah satu karyawan yang juga bekerja di perusahaan Arthav.
Orang yang ditegur menoleh. Wanita itu terlihat sembab seperti habis menangis. Bahkan nafasnya pun masih tidak beraturan.
"Kamu kenapa?" tanya Reza lagi.
"Pak, apa boleh saya minta tumpangan pada Bapak? Setidaknya sampai di kafe Cinta, Pak," pinta Suci mengabaikan pertanyaan Reza.
"Hah? I-iya silahkan naik!" titah Reza tergagap. Dia ragu mengizinkan wanita lain masuk ke dalam mobilnya namun dia juga tidak tega melihat keadaan Suci yang tampak kacau.
"Terima kasih, Pak."
Tanpa banyak basa-basi Suci segera masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di samping Reza. Reza tidak menegurnya karena dia tahu keadaan Suci sedang tidak baik-baik saja.
"Jadi, saya harus mengantarmu ke kafe cinta?" tanya Reza memastikan.
"Iya Pak."
Reza menganggukkan kepala dan segera melajukan mobilnya ke kafe yang Suci inginkan. Jujur saja dia penasaran namun tak berani bertanya. Apalagi saat ini Suci kembali menangis. Reza hanya bisa membiarkan wanita itu menumpahkan tangis sepuasnya tanpa berani mengganggu.