Chapter 8

2215 Kata
Awalnya Reza bermaksud meninggalkan Suci begitu sudah tiba di kafe cinta. Namun karena melihat wanita itu terus menangis, jadilah dia mengurungkan niatnya dan memilih menemani wanita itu. Lagipula, Reza juga tidak tahu akan pergi kemana malam ini. Toh pulang ke rumah pun rasanya dia malas. Jadi tak ada salahnya kalau dia menemani Suci sebentar, setidaknya sampai wanita itu berhenti menangis. Entah apa sebenarnya yang menimpa Suci sampai-sampai gadis itu terus menangis. Gadis itu masih enggan bercerita. Begitupun dengan Reza yang masih asik membiarkan gadis itu tanpa bertanya. Daripada bertanya dia lebih memilih memesan beberapa makanan dengan varian rasa coklat, seperti kue, s**u, sampai eskrim. Menurut yang pernah dia dengar, coklat bisa mengembalikan mood seseorang. Itulah kenapa Reza melakukannya. "Permisi, Tuan, ini pesanan Anda." Seorang waiters datang mengantarkan semua pesanan Reza. "Hem, terima kasih." Waiters itu tersenyum sembari menganggukan kepala. Tak lama waiters itu beranjak meninggalkan Reza dan Suci setelah selesai melakukan tugasnya. "Bapak pecinta coklat?" tanya Suci menghentikan tangis kala melihat semua pesanan Reza. "Bukan! Justru saya kurang menyukai coklat. Tapi saya pernah mendengar kalau coklat itu bisa memperbaiki mood seseorang. Ya, siapa tahu mood kamu akan kembali bagus setelah makan coklat," tutur Reza menjelaskan. "Huaaaa … kenapa Bapak baik sekali?" Suci malah menangis semakin keras. Tentu saja itu membuat Reza panik. "Heh, Suci, jangan keras-keras nangisnya nanti orang lain mengira saya menyakiti kamu!" tegur Reza. Refleks Suci diam. Dia mengambil tissue untuk menyeka air mata sekaligus ingusnya. "Maaf, Pak, saya terharu," cicitnya merasa bersalah. "Hem." Reza menjawab dengan deheman, "kalau di luar kantor begini sebaiknya kamu jangan panggil saya Bapak karena saya bukan Bapak kamu. Lagian saya tidak mau orang-orang mengira kalau saya ini Om-om yang sedang menggoda bocah ingusan," lanjutnya. Suci membulatkan mata mendengar celotehan Reza. Namun tak lama dia mengerucutkan bibir sembari mendelik sebal, "saya ini sudah dewasa, Pak, bukan anak-anak! Lagipula kalau saya tidak manggil Bapak dengan sebutan Pak, lalu saya harus manggil Bapak apa? Om, begitu?" Reza menggeleng kecil, "Panggil saya Reza saja," sahutnya singkat. "Bapak mau dipanggil nama saja tapi sok-sokan ngatain saya anak kecil! Bukankah harusnya anak kecil itu menghargai orang yang lebih tua, ya?" ucap Suci tak ingin kalah. "Hey, kamu itu gadis dewasa tapi terperangkap dalam tubuh anak kecil." Suci semakin mengerucutkan bibir. Tubuhnya memang mungil, hanya 155 senti meter. Jika dibandingkan Reza yang memiliki tinggi 180 senti meter, tentulah dia seperti anak kecil. Tapi tetap saja Suci tidak terima dengan ejekan Reza. Dia bukan anak kecil, tapi gadis yang memiliki tubuh imut. Kalau anak muda sekarang bilang, bentuk tubuhnya itu gemoy-gemoy menggoda. "Sudah jangan terus cemberut seperti itu, kamu benar-benar mirip sekali dengan anak kecil yang sedang merajuk meminta permen. Sekarang katakan kenapa kamu menangis seperti barusan? Apa kamu kabur dari rumah?" tanya Reza mulai mengintrogasi saat melihat Suci sudah lebih tenang. Suci menghela nafas kasar. Tangannya menyeka air mata yang kembali merembes siap tumpah, "ternyata diselingkuhi itu rasanya sangat sakit ya, Pak. Saya kira rasanya tidak sesakit ini mengingat Bapak terlihat santai saat tahu Bu Amara selingkuh dengan orang lain," celoteh Suci sembari menatap kosong ke jendela, di mana banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang memadati jalanan. "Maksud kamu apa? Kenapa kamu malah membahas masalah saya dan istri saya?" tanya Reza sedikit ketus. Dia tidak suka saat ada orang lain yang membicarakan istrinya. Suci yang menyadari kesalahannya, langsung memasang wajah penuh rasa bersalah, "maafkan saya, Pak, saya tidak bermaksud lancang seperti itu. Hanya saja apa yang saya alami sedikit banyak hampir mirip dengan apa yang menimpa Bapak," ujar Suci berusaha menjelaskan agar Reza tak salah paham. Kedua alis Reza tampak terangkat. Dia menerka-nerka apa yang sudah terjadi pada Suci, "pacarmu selingkuh?" tanyanya. Suci mengangguk lesu, "iya, Pak, dia berselingkuh dengan sahabat saya. Barusan setelah pulang bekerja rencananya saya akan memberi kejutan karena hari ini ulang tahunnya, tapi ternyata saat saya tiba di kontraknya, saya yang diberi kejutan. Dia sedang bermain gila dengan sahabat saya. Saya benar-benar tidak sanggup melihatnya," lirih Suci parau di akhir perkataannya. Reza terdiam untuk beberapa saat mendengar cerita Suci. Pantas saja Suci terlihat begitu hancur bahkan tidak berhenti menangis jika kedua orang terdekatnya malah menjadi pengkhianat. "Rasanya sangat sakit, Pak, sampai rasanya tidak ada yang bisa menggambarkan seperti apa rasa sakit hati saya saat ini." Suci melanjutkan perkataannya sembari kembali tersedu. "Harusnya kamu bersyukur, Suci, Tuhan menunjukan kebenaran ini padamu sebelum kamu menikahi pria itu. Coba kamu bayangkan kalau kejadian ini terjadi setelah pernikahan kalian, saya yakin kamu akan merasakan kehancuran yang lebih dari ini!" "Begitu ya, Pak?" tanya Suci menatap Reza. Reza mengangguk mantap, "ya, tentu saja." "Tapi buktinya Bapak baik-baik saja? Malah saya lihat Bapak masih sangat mesra pada Bu Amara. Bahkan, Bapak memasang badan juga untuk melindungi beliau padahal Bapak sudah dikhianati." Reza balas menatap suci. Dia berhenti menikmati makanan di depannya seolah tidak berselera lagi, "Suci, kadang yang kamu lihat di luar tidak sesuai dengan kebenarannya. Tapi satu yang ingin saya tegaskan padamu, saya bukan kamu dan kamu bukan saya! Cerita kita berbeda, pikiran kita berbeda, cara kita menghadapi masalah juga berbeda. Jadi meskipun sekilas kasus kita sama, terdapat banyak sekali perbedaan di dalamnya." "Itu hanya alasan Bapak untuk mengelak, kan? Pada kenyataannya sama, Pak, kita sama-sama terluka. Bahkan saya yakin luka Bapak jauh lebih besar dari saya. Jangan berusaha menutupinya dengan bersikap sok kuat, Pak. Sebagai sesama korban, saya tahu benar seperti apa rasa sakit Bapak," ujar suci kekeh dengan pendapatnya. Reza terdiam. Memang apa yang suci katakan benar adanya. Dia terluka dengan semua yang dilakukan oleh Amara. Dia memang berusaha sok kuat di depan siapa pun karena dia tidak ingin semua orang tahu kelemahannya. "Pak, maafkan saya kalau saya mambuat Bapak sedih. Tapi kadang ada masanya orang kuat pun membutuhkan seseorang untuk membagi rasa sakitnya. Kalau Bapak mau, Bapak bisa berbagi dengan saya. Saya yakin bisa lebih mengerti perasaan Bapak karena kita sama-sama korban," lanjut Suci menambahkan. "Saya tidak butuh," sahut Reza cepat. "Hem, baiklah kalau Bapak keras kepala. Tapi, Pak, kapan pun Bapak butuh tempat berbagi, datangi saya saja. Saya siap mendengarkan semua curhatan Bapak," ujar Suci meyakinkan. "Hem, karena kamu sudah baik-baik saja, sebaiknya saya pergi sekarang." Reza segera beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Suci. "Tunggu, Pak! Bapak mau kemana?" tanya Suci menghentikan langkah Reza. "Tentu saja pulang. Memangnya kamu pikir saya akan menginap di sini?" Reza memicingkan mata menatap Suci. "Emm … bukan begitu, Pak. Tapi apa Bapak tidak berniat mengantar saya pulang?" tanya Suci ragu-ragu. Reza menyipitkan mata, "kenapa saya harus mengantar kamu pulang? Kamu bukan tanggung jawab saya dan kamu pun sudah dewasa. Kamu pasti tahu kan, jalan pulang?" ujarnya acuh. "Ya, tapi kan saya sedang patah hati, Pak. Apa Bapak tidak takut kalau saya bunuh diri?" Suci berusaha menakuti Reza, berharap lelaki itu akan mengantarkannya pulang. Namun, Reza malah tersenyum sinis menertawakan kelakuan Suci, "kamu mau bunuh diri atau tidak, itu bukan urusan saya. Kalau kamu masih sayang pada nyawamu dan masih ingin hidup, saya yakin kamu tidak akan melakukan itu. Sudahlah jangan mendramatisir keadaan. Saya membantu kamu barusan bukan berarti kamu bisa menjadikan saya sopir pribadi. Kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri. Saya sudah berbaik hati mengantar kamu sampai ke sini bahkan membayar makanan untukmu. Jadi jangan meminta lebih!" ucap Reza tegas. Suci menghela nafas panjang lalu mengangguk lesu, "maaf," lirihnya hampir tak terdengar. Reza menggeleng kecil lalu kembali melanjutkan langkah. Akan tetapi ketika sampai ke pintu, dia kembali menoleh ke belakang di mana Suci masih duduk sembari menunduk. "Apa kamu tidak punya ongkos pulang?" tanyanya. Suci mendongak lalu mengangguk penuh semangat. Bibirnya mengulas senyum karena berharap Reza akan mengantarkannya pulang. Melihat anggukan kepala Suci, Reza kembali berjalan mendekati wanita itu. Dia mengeluarkan dompetnya lalu mengambil dua lembar uang berwarna merah. "Ini uang untukmu naik taksi. Saya kira itu cukup," ucapnya mengabaikan Suci yang terlihat melongo, "dan ya, jangan bertindak bodoh! Jangan sia-siakan hidupmu untuk orang yang tidak penting. Di luaran sana masih banyak orang yang mengharapkanmu. Kamu terlalu berharga untuk mati gara-gara laki-laki pecundang seperti mantan kekasihmu!" Setelah mengatakan itu Reza benar-benar pergi meninggalkan Suci. Suci hanya bisa melongo melihat kepergian lelaki itu tanpa bisa menghentikannya. "Ya ampun, Pak Reza, kamu baik sekali. Tadi aku mengira kalau semua lelaki di dunia ini kampret. Tapi setelah bertemu denganmu, semua anggapanku berubah. Kamu berbeda, Pak, kamu bukan hanya tampan dan baik saja, tapi juga setia. Bu Amara benar-benar rugi karena sudah menyia-nyiakanmu," gumam Suci terpesona dengan kebaikan Reza. "Tidak! Ini tidak adil, Pak! Laki-laki sebaik dirimu tidak boleh terus disakiti! Aku akan menyelamatkanmu dari rasa sakit yang selama ini kamu rasakan akibat ulah gila istrimu! Kalau istrimu tidak menginginkanmu, maka biar aku yang mencintaimu, Pak! Suci menatap penuh kesungguhan ke arah pintu di mana Reza menghilang. Tekadnya kuat untuk membebaskan Reza dari rasa sakit karena pengkhianat Amara. Sebagai sesama korban yang diselingkuhi pasangan, tak ada salahnya Suci membantu mengobati luka yang menganga di hati Reza. Anggap saja mereka saling membantu memperbaiki hati yang sudah dibuat porak-poranda oleh pasangan lucknut mereka. *** Amara melenguh kecil dengan mata menyipit kala sinar mentari jatuh tepat mengenai wajahnya. Dia segera bangkit turun dari ranjang. Waktu yang menunjukan pukul sembilan pagi rasanya terasa belum cukup mengusir rasa kantuknya. Wajar saja, semalam Rendi benar-benar menghajarnya sampai pagi. Baru setelah lelaki itu pulang Amara bisa beristirahat. Merasa tenggorokannya kering, Amara segera keluar dari kamar tamu. Ya dia memilih tidur dan bermain di sana bersama Rendi. Bukan takut amarah Reza, dia tidak bermain di kamar utama. Tapi rasanya tidak ada gunanya dia melanggar larangan Reza kalau lelaki itu saja tidak menyaksikan aktivitasnya bersama Rendi. Jadilah dia memilih bermain di kamar tamu saja. Di mana pun tempatnya yang penting mereka bisa menyalurkan hasrat masing-masing. Begitu Amara sampai di ruang keluarga, bertepatan dengan Reza yang baru saja datang. Penampilan lelaki itu yang kusut menandakan kalau Reza baru saja pulang. Terlebih pakaian yang melekat di tubuh lelaki itu pun pakaian yang kemarin malam dikenakannya. "Kamu kemana saja, Mas? Kenapa baru pulang jam segini? Apa kamu tidak akan ke kantor?" tanya Amara heran melihat Reza tak biasanya bolos bekerja. Belum lagi ini kali pertama Reza menginap di luar setelah mereka menikah. Kecuali kalau sedang ada tugas di luar kota tentunya. "Aku tidak ke kantor saat weekend," sahut Reza tanpa menoleh pada Amara. Amara menepuk kening. Dia sampai lupa ini hari apa hanya karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Ah, iya aku lupa. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku, Mas. Kamu dari mana? Di mana kamu menginap semalam? Kenapa baru pulang jam segini? Tidak biasa kamu seperti ini, Mas! Katakan dengan jujur, kamu menginap di mana?" tanyanya bertubi-tubi. Reza menoleh pada Amara lalu tersenyum sinis, "kenapa kamu begitu ingin tahu? Bukankah aku juga tidak ingin tahu di mana saja kamu bermain bersama lelaki itu semalam?" sarkas Reza. "Mas, please! Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Aku hanya ingin tahu saja kamu pergi kemana! Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan di luaran sana karena itu bukan urusanku! Aku hanya …." "Kalau kamu tahu ini bukan urusanmu, lalu kenapa kamu masih bertanya? Sudahlah, aku lelah, aku ingin istirahat! Aku harap kamu tidak menodai kamarku juga!" Reza langsung nyelonong meninggalkan Amara begitu saja. Amara langsung berdecak sebal melihat kelakuan suaminya. Rasa haus yang tadi dia rasakan kini hilang entah kemana. Dia memilih berlari menyusul Reza menuju kamar karena masih penasaran kenapa Reza baru pulang. "Mas, aku belum selesai bicara!" kesal Amara berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan Reza. "Ada apa lagi? Aku lelah, Amara, aku ingin istirahat!" ujar Reza benar-benar enggan berbicara dengan sang istri. "Mas, tunggu!" Amara menarik tangan Reza hingga lelaki itu terpaksa menghentikan langkah, "aku ingin bicara padamu! Kenapa kamu tidak mau dengar!" kesalnya. "Baiklah, kamu ingin bicara apa?" tanya Reza memilih menyerah. "Kamu dari mana dan kenapa baru pulang? Apa kamu baru saja bermain wanita di luaran sana? Apa kamu juga memiliki selingkuhan, makanya tidak pulang, Mas?" tuding Amara merasa Reza juga berkhianat makanya semalam lelaki itu tidak pulang. "Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu padaku?" tanya Reza tersinggung dengan tuduhan Amara. "Ya bisa saja kan, diam-diam kamu juga mempunyai kekasih di luaran sana, Mas? Aku tahu seorang lelaki tidak akan mungkin bisa tahan kalau bertahun-tahun tidak diberikan jatah. Aku yakin kamu melampiaskannya pada wanita lain di luaran sana, Mas! Ayo mengaku saja!" desak Amara memaksa Reza mengakui kejahatannya. "Apa menurutmu aku lelaki seperti itu, Amara?" tanya Reza menatap dalam manik mata istrinya. Amara langsung memalingkan wajah memutus kontak tatapan mata lelaki itu, "aku tidak tahu kamu lelaki seperti apa, Mas! Tapi menurutku sebenarnya kamu juga memiliki simpanan untuk melampiaskan hasratmu karena aku tidak memberikannya selama ini. Emm … maksud aku, kalau memang kamu punya selingkuhan ayo kita bekerja sama. Ceraikan aku maka kita bisa hidup dengan dunia masing-masing, Mas. Aku menjadi model seperti keingianku selama ini. Dan kamu, kamu bisa menikahi selingkuhanmu. Adil, bukan? Terlebih kamu juga bisa memiliki sebagian harta keluargaku saat bercerai nanti. Jadi kamu …." "Cukup, jangan membual lagi, Amara! Aku bukan kamu dan tidak akan pernah mengikuti jejakmu! Terserah kamu ingin berpikiran seperti apa tentangku, tapi aku tegaskan kalau pemikiranmu itu salah!" Reza langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Amara sendiri. Amara menghentakkan kakinya kesal mendapatkan respon kurang mengenakan dari suaminya, "lihat saja, Mas, kamu tidak akan bisa lari dariku! Kalau kamu memiliki selingkuhan, itu akan semakin membuatku mudah menyingkirkanmu dari hidupku! Aku akan mencari bukti, Mas, aku akan menyelidiki apa saja yang kamu lakukan di belakangku! Aku tidak akan kalah darimu!" gumam Amara mengepalkan tangannya erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN