"Ada apa kamu meminta bertemu? Apa kamu masih belum puas dengan kegiatan kita semalam?" tanya Rendi menatap genit pada Amara.
Amara berdecak sebal. Kalau saja tidak kepepet, dia tidak akan meminta bantuan Rendi. Tapi saat ini ada hal yang lebih penting untuk dia selesaikan dan dia membutuhkan Rendi. Dia malas menemui Rendi tapi karena penting, dia terpaksa meminta lelaki itu untuk bertemu di restoran. Berharap lelaki itu bisa membantunya.
"Ada apa? Sepertinya kamu punya masalah besar?" tanya Rendi lagi.
"Aku ingin kamu menyelidiki Reza," pinta Amara menyampaikan keinginannya.
"Reza? Kenapa aku harus menyelidiki Reza? Apa yang dia lakukan? Apa dia berbuat curang di perusahaan?" tanya Rendi penasaran.
Amara menghela nafas kasar lalu menggeleng kecil, pertanda kalau Reza tidak berbuat curang di perusahaan. Bahkan untuk dugaannya pun, ada sisi hatinya yang ragu kalau Reza seperti yang dia pikirkan. Namun, dia harus memastikan sendiri apa Reza benar-benar berselingkuh atau tidak. Kalau Reza benar-benar berselingkuh, dia akan memiliki kekuatan untuk menceraikan lelaki itu.
"Hey, kenapa kamu diam? Katakan padaku ada apa? Apa yang si Cupu itu lakukan?" tanya Rendi lagi.
"Berhenti memanggilnya seperti itu, Rendi! Dia punya nama, jadi panggil dia dengan namanya!" kesal Amara. Dia benar-benar tidak suka ada yang memanggil Reza sembarangan karena bagaimanapun juga, lelaki itu masih suaminya. Ya, meskipun suami tak dianggap.
"Kamu itu kenapa sih, Sayang, selalu saja sensi kalau aku memanggil suamimu cupu? Padahal yang aku katakan ini benar loh! Kalau dia enggak cupu, enggak mungkin mau membagi istrinya yang cantik ini denganku!" Rendi terkekeh sembari mengelus tangan mulus Amara.
"Sudahlah berhenti membahas hal itu! Sekarang fokus saja dengan apa yang aku minta. Aku ingin kamu menyelidiki semua tentang Reza. Setiap gerak-geriknya harus kamu pantau, jangan sampai terlewat sedikitpun!"
Rendi semakin kebingungan mendengar permintaan kekasihnya. Untuk apa dia mengawasi Reza kalau tidak ada apa-apa. Apa mungkin ada sesuatu yang mencurigakan tentang lelaki itu?
"Aku akan melakukan apa yang kamu minta tapi kamu juga harus menjawab pertanyaanku! Aku ingin tahu apa yang sudah terjadi sampai kamu seperti ini!" ucap Rendi benar-benar penasaran.
Beberapa kali helaan nafas terdengar dari bibir Amara. Kentara sekali kalau dia ragu untuk mengatakan kecurigaannya, "aku hanya ingin memastikan apa Reza benar-benar berselingkuh atau tidak."
Rendi mengangkat sebelah alis mendengar perkataan Amara, "selingkuh? Maksudmu si Reza berselingkuh juga darimu?" tanyanya memastikan.
Amara mengangguk kecil, "ya aku merasa seperti itu. Aku merasa kalau dia memiliki wanita lain di belakangku. Aku tidak tahu apa kecurigaanku ini benar atau tidak. Karena itulah untuk memastikannya, aku meminta bantuanmu."
Rendi manggut-manggut mengerti. Meskipun dia tidak yakin dengan kecurigaan Amara kalau Reza berselingkuh, tapi pasti sudah terjadi sesuatu makanya Amara bisa curiga.
"Atas dasar apa kamu menuduh suamimu berselingkuh?" tanya Rendi lagi.
"Aku curiga dengan sikapnya hari ini. Terlebih dia juga semalaman tidak pulang ke rumah. Ini tidak pernah Reza lakukan selama menikah denganku kecuali kalau dia sedang ada tugas di luar kota, baru dia tidak akan pulang. Aku yakin dia menemui wanita lain di belakangku. Aku ingin mendapatkan bukti perselingkuhannya agar bisa menuntut dia untuk menceraikanku. Aku ingin bisa secepatnya membebaskan diri darinya," papar Amara menjelaskan.
Rendi tersenyum lalu menganggukan kepala, "baiklah aku akan melakukan apa yang kamu inginkan. Lagipula, aku juga tidak sabar melihatmu berpisah dengan lelaki itu. Kamu jangan khawatir, aku pasti mendapatkan bukti kalau suamimu itu sudah bermain gila," ucap Rendi penuh semangat.
"Terima kasih, Rendi. Aku tahu kamu pasti akan melakukan yang terbaik."
Rendi kembali tersenyum sembari menyentuh dagu Amara, "demi memilikimu apa pun akan aku lakukan, Cantik."
Amara melepaskan tangan Rendi dari wajahnya. Dia tidak ingin kelakuan lelaki itu membuat mereka jadi pusat perhatian pengunjung restoran.
"Lakukan saja tugasmu dengan baik! Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang terjadi. Aku menginginkan bukti bukan sekedar bualan!"
"Baiklah-baiklah, aku akan mempersembahkan semua bukti itu padamu. Kalau begitu aku pergi dulu. Banyak yang harus aku persiapkan. Sebaiknya kamu juga jangan terlalu mendesak Reza. Jangan sampai dia curiga kalau kamu mencari kebenaran tentangnya," ucap Rendi memperingatkan.
"Hem."
Rendi hanya tersenyum menanggapi respon Amara yang malas-malasan. Dia memilih segera beranjak keluar dari restoran. Banyak yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Dia harus bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Reza dengan wanita lain di luaran sana.
Kalau sampai Reza ketahuan berselingkuh, bukan hanya Amara saja yang akan ketiban untung tapi Rendi juga. Rendi akan menikahi Amara, menjadi bagian dari keluarga Arthav, lalu menggunakan haknya untuk memimpin perusahaan.
Ah, benar-benar indah! Rendi akan memiliki segalanya kalau dia berhasil menjadi suami dari Amara. Istri yang cantik, harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, dan bahkan kehormatan yang dia impikan pun akan menjadi miliknya. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Rendi tersenyum lebar. Dia tidak sabar untuk segera meraih segala impiannya itu.
Sementara Amara yang masih berdiam diri di tempat, terlihat menatap kosong ke jendela yang memperlihatkan aktivitas jalanan ibu kota yang selalu dipadati oleh pengendara. Keadaan jalanan itu hampir sama ruwetnya dengan keadaan pikiran Amara saat ini.
"Huft!" Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Amara. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menelusup di hatinya setiap memikirkan kemungkinan dugaannya benar. Entah karena apa perasaan itu dia rasakan. Sungguh dia pun tak tahu.
"Amara!" panggil seseorang membuat Amara menoleh.
"Kak Naina," lirih Amara tergagap kala melihat yang datang adalah kakak iparnya.
"Apa yang kamu lakukan, Amara? Apa kamu masih berhubungan dengan lelaki itu?" tanya Naina sembari menjatuhkannya bobot tubuhnya di kursi.
"Maksud Kakak apa? Aku sama sekali tidak mengerti!" Amara berusaha terlihat kebingungan dengan perkataan Naina padahal saat ini hatinya sudah was-was. Dia takut kalau Naina melihatnya bertemu dengan Rendi.
"Kakak melihatnya sendiri, Amara! Kenapa kamu masih bertemu dengan lelaki itu. Apa kamu belum jera juga setelah kejadian kemarin?" Naina terlihat marah. Matanya menatap tajam Amara.
Amara langsung memalingkan wajah. Ternyata Kakak iparnya benar-benar melihat dia bertemu dengan Rendi. Hanya saja, dia berharap semoga kakak iparnya itu tidak mendengar apa pun yang dia dan Rendi bicarakan. Bisa bahaya nanti kalau sampai wanita itu mengetahui segalanya.
"Kenapa kamu diam saja, Amara? Aku sedang bertanya padamu, jadi tolong jawab aku!" kesal Naina melihat Amara diam saja.
"Sudahlah, Kak, aku tidak melakukan apa-apa. Kami bertemu hanya kebetulan dan juga …."
"Kebetulan? Kamu yakin hanya kebetulan?" tanya Naina tersenyum penuh ejekan.
"Hish, tentu saja, Kak! Memangnya Kakak kenapa? Kenapa Kakak malah mengintrogasi aku?"
"Memang kamu ingin siapa yang mengintrogasimu? Mas Danu?" Naina menjeda sejenak perkataannya, "Amara, aku harap kamu tidak lupa seperti apa kakakmu. Kejadian kemarin adalah toleransi terakhir yang dia berikan padamu. Jangan sampai setelah ini dia kembali tahu kalau kamu tidak benar-benar berubah. Aku hanya tidak ingin suamiku lepas kendali. Dan ya, aku tidak bisa menjamin kalau kamu akan bisa selamat kali ini. Bagi Mas Danu nama baik keluarga adalah segalanya. Aku harap kamu mengerti itu!" tegas Naina memperingatkan adik iparnya.
"Jangan mengancamku seperti itu, Kak, aku bukan anak kecil lagi. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku …."
"Kalau kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan, kamu tidak akan menemui lelaki itu lagi, Amara! Tapi apa buktinya sekarang? Kamu malah bertemu lagi dengan lelaki itu bahkan bermesraan di tempat umum! Kamu tidak takut kalau ada yang kembali mengambil foto atau videomu? Bagaimana kalau ada yang kembali menyebarkannya ke dunia Maya, hah? Video skandalmu saja baru berhasil diturunkan, jangan sampai kini naik lagi berita baru!" ucap Naina penuh penekanan.
Amara memalingkan wajah. Dia sedikit kesal dengan kakak iparnya yang terlalu ikut campur urusannya. Hanya saja apa yang wanita itu katakan juga tidak sepenuhnya salah. Kalau sampai barusan ada yang memanfaatkan kesempatan, bukan tidak mungkin Amara akan habis dihajar oleh kakaknya.
"Amara, dengar! Bukan maksud Kakak menggurui kamu. Kakak hanya tidak ingin melihat kamu dan Mas Danu bertengkar. Terlebih, kamu juga harus bisa menghargai suamimu. Mungkin memang ada masalah yang terjadi di antara kamu dan Reza dan tidak kamu bagi dengan kami. Tapi jalan pintas seperti ini tidak seharusnya kamu ambil. Bicarakan baik-baik dengan Reza kalau memang ada yang tidak kamu sukai darinya!" ucap Naina berharap Amara akan berhenti bermain gila.
"Kakak tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Kakak hanya bisa menasehati aku tanpa tahu seperti apa tersiksanya aku selama ini." Amara mendesah lirih.
"Kakak tidak tahu karena kamu tidak pernah mengatakan apa pun, Amara," balas Naina.
Amara terdiam sejenak. Namun dia tidak sedikitpun ingin melanjutkan perkataannya. Percuma, kalau pun dia bicara Naina malah akan memojokkannya.
"Amara, kamu bukan hanya adik ipar saja untukku tapi sudah seperti adik kandung. Kamu bisa berbagi apa pun yang kamu rasakan bersamaku. Aku yakin apa yang kamu lakukan saat ini pasti ada alasannya. Kamu bisa bercerita padaku. Siapa tahu kita bisa mencari jalan keluarnya bersama," bujuk Naina benar-benar penasaran alasan apa yang membuat Amara nekad berselingkuh.
"Kakak ingin tahu alasan apa sampai aku bertindak seperti ini? Maka dengarkan, Kak, aku ingin bercerai dari Mas Reza! Aku ingin bebas, aku tidak menginginkan pernikahan ini! Aku tidak Sudi lagi dia menjadi suamiku. Ah, bahkan sejak awal aku sudah tidak Sudi. Aku tidak mau menikahi seorang lelaki benalu. Aku menginginkan seorang pangeran dalam hidupku bukan pelayan! Dia bukan levelku, Kak! Dia hanya laki-laki jalanan yang dipungut Papi! Jangankan menjadi istrinya, bahkan berdekatan dengannya saja aku sudah jijik! Tubuhku alergi kalau aku bersentuhan dengannya! Aku …."
Plak!
Tangan lembut Naina mendarat sempurna di pipi Amara. Nafasnya memburu penuh emosi. Bagaimana bisa Amara mengeluarkan kata-kata yang begitu kasar pada Reza. Sungguh dia tidak menyangka kalau alasan Amara melakukan hal gila adalah karena wanita itu menganggap Reza rendah. Keterlaluan!
"Lancang sekali bibirmu itu, Amara! Siapa kamu hingga kamu memiliki hak untuk menghardik seseorang! Harta dan tahta yang kamu banggakan itu tidak serta-merta membuatmu memiliki hak untuk memandang rendah orang lain terlebih itu Reza!
Apa kamu lupa dengan semua jasanya pada keluarga Arthav, Amara? Kamu lupa? Mungkin Reza memang bukan seorang pangeran seperti yang kamu impikan itu. Tapi kalau bukan karena Reza, sejak awal hidupmu sudah hancur! Kamu tidak akan ada di sini dan menghardiknya dengan kata-kata kasar! Kamu tidak akan bisa menampakkan wajahmu lagi di depan dunia kalau seandainya saat itu Reza tidak ada! Papi memilih Reza untuk menjadi suamimu bukan karena Reza orang kepercayaan Papi, tapi karena hanya dia lelaki tepat dan dianggap mampu menjagamu, Amara!
Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Sungguh, aku saja merasa sakit hati apalagi kalau sampai Reza yang mendengarnya. Ingat Amara, kalau kamu melepaskan Reza hanya karena menuruti keinginan gilamu itu, kamu akan menyesal seumur hidup!"
Setelah melampiaskan kekesalannya, Naina langsung pergi meninggalkan Amara. Amara hanya tersenyum sinis sembari menyentuh pipinya yang masih berdenyut sakit akibat tamparan wanita itu.
"Sudah aku katakan tidak akan ada yang mengerti diriku dan apa yang aku inginkan termasuk kamu, Kak. Tapi kamu malah memaksaku untuk mengatakan segalanya. Lihatlah sekarang kamu malah kebakaran sendiri." Amara terkekeh lalu menyeruput kopi latte miliknya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.