Chapter 10

1851 Kata
Malas pergi kemana-mana, Reza hanya menghabiskan waktu weekendnya dengan berdiam diri di kamar. Dia mengerjakan beberapa pekerjaan yang kemarin belum beres dia kerjakan. Sengaja Reza mengerjakan semua pekerjaannya di kamar. Dia malas untuk keluar dari tempat itu. Entah kenapa bayangan kegilaan yang dilakukan oleh Amara kemarin malam, benar-benar mengusik Reza sampai-sampai dia malas melangkah keluar dari kamar. Rasanya di seluruh rumah, Reza hanya melihat adegan tak pantas yang dilakukan sang istri bersama Rendi. Kalau saja tidak berusaha menekan dalam-dalam amarahnya, bisa saja dia menghancurkan setiap tempat yang kemarin digunakan oleh kedua manusia lucknut itu. Bahkan saat ini Reza tidak tahu kemana wanita itu pergi. Lebih tepatnya Reza tidak ingin tahu. Toh pasti kegiatan Amara tidak jauh dari pergi bersama Rendi. Jadi tak ada gunanya Reza mencari tahu karena itu hanya akan menyakiti hatinya saja. Saat dering panggilan masuk terdengar, Reza mengalihkan perhatiannya. Keningnya mengernyit melihat nomor asing yang kini tampil di layar ponselnya. "Siapa yang menghubungiku weekend begini?" gumam Reza kebingungan karena semua yang berurusan dengan pekerjaan, tidak boleh ada yang mengganggunya saat weekend. Tak terkecuali itu Antoni. Hari Minggu biasanya akan benar-benar Reza gunakan untuk me time. Namun, karena penasaran siapa yang menghubunginya, Reza segera menjawab panggilan telepon itu. Hatinya berharap semoga itu bukan orang iseng. Dalam keadaan mood yang tidak baik seperti ini, bisa-bisa orang itu akan menjadi sasaran amarahnya. "Hallo," sapa Reza begitu panggilan terhubung. "Hallo, Pak," sahut orang di seberang terdengar ceria. "Suci," lirih Reza kenal benar siapa pemilik suara itu. "Ah, ternyata Mas Reza mengenali suaraku juga," ucap Suci terkekeh. "Mas?" Reza membeo mendengar Suci tak lagi memanggilnya dengan panggilan 'Pak' tapi Mas. "Ya, Mas Reza. Kenapa? Bukannya Mas Reza sendiri yang memintaku untuk tidak memanggil dengan panggilan Pak kalau sedang di luar kantor, ya? Kok malah Mas Reza sendiri yang sekarang terdengar keberatan," protes Suci. "Bukan begitu, tapi kenapa kamu memanggil saya dengan panggilan Mas? Apa tidak ada panggilan lain?" tanya Reza. Jujur saja dia merasa tidak nyaman dengan panggilan Suci. Terlebih selama tiga tahun terakhir ini wanita yang memanggilnya Mas hanya Amara saja. Rasanya tidak nyaman saat dia mendengar panggilan itu dari orang lain. "Mas Reza kan minta aku buat manggil nama, tapi aku sungkan kalau manggil nama aja. Lagian memang apa salahnya kalau aku manggil Mas? Toh itu panggilan umum bukan panggilan spesial. Atau … jangan-jangan Mas Reza mau aku panggil Baby?" "Sembarangan!" Sentai Reza kesal. Suci malah tergelak di seberang sana. Sepertinya wanita itu begitu suka mendengar nada suara kesal dari Reza. "Ada apa kamu menghubungi saya, Suci? Apa ada masalah penting?" tanya Reza tak ingin banyak basa-basi. "Ya ampun, Mas. Apa bisa aku basa-basi sedikit. Masa langsung ke intinya sih." "Saya tidak punya waktu! Saya sibuk kalau harus meladeni keisenganmu," ucap Reza malas. "Baiklah-baiklah, aku akan langsung ke intinya saja tanpa basa-basi. Aku hanya mau ngajakin Mas Reza jalan nanti malam. Kebetulan aku kan udah enggak punya pacar, Mas. Jadi Mas temani aku, ya," pinta Suci dengan nada suara yang terdengar manja. "Saya sibuk! Kalau kamu mau jalan keluar, jalan saja bersama temanmu jangan meminta saya untuk menemani kamu!" tolak Reza mentah-mentah. "Malam ini saja, Mas, ayolah! Aku kan sudah tidak punya teman juga. Temanku berkhianat dan merebut kekasihku. Jadi aku tidak punya siapa pun untuk diajak keluar." Suci masih bernegosiasi berharap Reza akan luluh. "Heh, memangnya teman kamu hanya satu? Jangan mencari alasan untuk membujuk saya karena saya …." Ceklek. Suara pintu kamar yang terbuka mengalihkan perhatian Reza. Di ambang pintu terlihat Amara berdiri dengan tatapan mata menyipit penuh rasa penasaran. Hanya sepersekian detik Reza balas menatap Amara. Dia kembali acuh seolah tak menganggap kehadiran wanita itu. "Ayolah, Mas, malam ini saja. Saya janji akan mentraktir Mas Reza nanti." Rengekan Suci masih terdengar membujuk di seberang sana. Reza menghela nafas kasar, "baiklah saya akan menjemput kamu jam tujuh malam. Berdandanlah yang cantik." "Ye … akhirnya Mas Reza …." Tut. Reza langsung menutup panggilan teleponnya tanpa peduli dengan celotehan Suci. Terpaksa Reza mengiyakan keinginan Suci di depan Amara karena ingin melihat reaksi wanita itu. "Kamu bicara dengan siapa, Mas? Siapa yang kamu minta berdandan cantik? Apa itu selingkuhanmu?" tanya Amara bertubi-tubi. Rahangnya mengeras dengan urat leher yang terlihat menonjol. Sudah bisa dipastikan kalau saat ini Amara sedang dalam keadaan marah. Reza menyimpan ponselnya lalu menoleh pada Amara, "hanya teman," sahutnya acuh. "Teman?" Amara berdecak sinis, "aku bukan anak kecil yang bisa kamu kelabui, Mas! Sekarang jujur saja padaku! Katakan siapa wanita itu!" Amara menatap lekat wajah tampan Reza. Reza hanya tersenyum sembari menggeleng kecil. "Kalau seperti ini kamu benar-benar mirip sekali dengan istri yang sedang cemburu pada suaminya, Amara. Awas jangan sampai aku baper dan berpikiran kalau memang kamu cemburu padaku," celotehnya sambil terkekeh. "Mas, kamu …." "Mandilah! Sepertinya kamu butuh menyegarkan tubuh setelah seharian beraktivitas di luar. Apalagi udara kota Jakarta saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jangan sampai itu mempengaruhi daya kerja otakmu. Kasihan nanti dia malah mengurus hal yang tidak seharusnya diurus," serkas Reza menyindir Amara. Amara mendelik sebal. Reza benar-benar keterlaluan. Semenjak video perselingkuhannya viral, lelaki itu lebih banyak berubah. Memang Reza tidak pernah bersikap kasar padanya, tapi kata-kata yang keluar dari bibir lelaki itu selalu saja terdengar menyebalkan. Entah apa maunya lelaki itu. Padahal Amara sudah meminta perpisahan akan tetapi Reza sendiri yang menolak keras. Sekarang saat Amara meminta kejelasan tentang sosok wanita yang akan ditemuinya pun, Reza malah berkelit menutupi segalanya. Kalau memang Reza sudah mempunyai kekasih, kenapa menolak untuk menceraikannya? Apa memang Reza hanya ingin mempermainkan kehidupan Amara? "Jangan menatapku seperti itu. Apa kamu mau aku yang memandikanmu?" tanya Reza mengangkat kedua alis saat menatap Amara. "Kalau memang kamu sudah menemukan kehidupanmu yang baru, lepaskan aku, Mas! Aku ingin bebas! Aku bosan kamu belenggu seperti ini!" kesal Amara dengan nafas memburu penuh emosi. Reza menghela nafas panjang lalu beranjak menghampiri Amara. Dia memegang kedua bahu Amara membuat wanita itu langsung memalingkan wajah. "Hanya kematian yang akan membuatku terpaksa melepaskanmu, Amara. Jadi selama aku hidup, kamu akan tetap menjadi Istriku. Kalau kamu cemburu mendengar aku memiliki janji dengan seorang wanita, kamu bisa ikut denganku nanti malam. Aku tidak akan keberatan kalau memang kamu ingin tahu siapa wanita itu dan apa hubunganku dengannya," ucap Reza begitu santai. "Tidak perlu! Pergilah sendiri dan nikmati kencanmu! Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Lagipula aku juga ada janji dengan Rendi." Amara menepis tangan Reza di bahunya lalu segera melepaskan perhiasan yang menempel di tubuhnya karena dia memang ingin mandi setelah ini. "Apa kamu yakin?" tanya Reza menatap Amara melalui cermin yang kini sedang memantulkan bayangan istrinya itu. "Tentu saja aku yakin. Kalau kamu sering berkencan dengan kekasihmu itu, itu akan membuatku mudah untuk menyingkirkanmu dari hidupku," sahut Amara acuh. "Hem, baiklah. Tapi kemungkinan nanti malam aku tidak akan pulang lagi. Kamu tidak apa-apa kan, kalau aku tinggal sendiri?" tanya Reza lagi. "Hem." Hanya deheman yang terdengar dari Amara. Entah kenapa mendengar Reza tidak akan pulang lagi malam ini benar-benar mengusik hatinya. Dia ingin melarang lelaki itu untuk tidak menginap di luar. Tapi dia takut kalau Reza malah jadi kegeeran dan menganggap berlebihan larangannya. "Ya sudah kalau begitu aku akan membereskan pekerjaanku dulu di ruang kerja." Reza melangkahkan kakinya keluar dari kamar sembari membawa laptop. Amara mendengus kesal melihat kepergian lelaki itu, "awas saja, aku akan mendapatkan bukti malam ini, Mas! Kamu dan selingkuhanmu itu tidak akan selamat dariku!" geramnya dengan tangan terkepal erat. *** Seperti janjinya, tepat pukul tujuh malam Reza sudah memarkirkan mobil di depan rumah Suci. Wanita yang semalam menangis karena patah hati setelah diselingkuhi kekasihnya itu, langsung menghampiri Reza dengan senyum merekah. "Ya ampun, Mas, aku tidak menyangka kalau kamu itu orang yang benar-benar ontime," ucap Suci begitu masuk ke dalam mobil Reza. "Itulah kenapa aku tidak suka dengan orang-orang yang lelet karena aku juga selalu datang tepat waktu," sahut Reza datar. Bahkan lelaki itu tak sedikitpun menoleh pada Suci. "Tapi kan, aku ontime juga, Mas. Di kantor juga aku sama, selalu tepat waktu," sahut Suci tak ingin kalah. Reza mengabaikan celotehan Suci dan memilih segera melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah wanita itu. "Kamu ingin pergi kemana?" tanyanya. "Emmm … aku ingin menonton bioskop, Mas. Biasanya kalau weekend begini banyak banget film yang seru," sahut Suci penuh semangat. "Kalau kamu hanya ingin menonton, kenapa tidak menonton lewat ponsel saja? Bukankah di ponsel juga banyak film bagus?" tanya Reza memicingkan mata. "I-iya enggak gitu juga! Kan beda sensasinya, Mas." Suci tergagap bingung. Maksud hatinya, dia ingin pergi menonton agar bisa mencari kesempatan dalam kesempitan pada Reza. Apalagi kalau nontonnya film horor, beuuu … Suci bisa modus ketakutan dan memeluk Reza sepuasnya. "Kalau kamu ingin menonton, pergi saja sendiri! Kepala saya sudah penat, saya tidak ingin tambah penat lagi dengan menonton film yang membosankan." Suci membulatkan mata lalu segera berbalik menghadap Reza, "ya enggak bisa gitu dong, Mas! Kan Mas Reza sendiri yang setuju menemani aku. Masa Mas Reza juga yang ingkar janji," protes Suci tak terima. "Saya setuju menemani kamu jalan, bukan nonton," sahut Reza tak acuh. "Hish, Mas Reza ini. Buktinya sekarang kita naik mobil, kan? Berarti kita tidak benar-benar 'jalan' dalam arti sebenarnya, Mas, tapi hanya istilah. Makanya aku …." "Jadi kamu mau kita beneran jalan? Kalau begitu ayo! Saya sama sekali tidak keberatan," ujar Reza langsung menghentikan mobil. "Enggak gitu, Mas Reza! Astaga! Pantas saja Mas Reza ini diselingkuhi sama Bu Amara ternyata emang orangnya nyebelin!" gerutu Suci kesal. Raut wajah Reza berubah dingin. Dia kembali memacu mobilnya tanpa menoleh pada Suci. Suci yang merasa sudah salah bicara terlihat memukul pelan bibirnya sendiri. Dia menatap Reza penuh rasa bersalah, "maaf, Mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya … hanya …." "Kamu benar! Mungkin saya terlalu menyebalkan untuk Amara makanya dia sampai selingkuh," sahut Reza memotong perkataan Suci. "Enggak, Mas! Jangan diambil hati! Aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu. Aku hanya asal bicara saja. Tolong jangan tersinggung. Aku minta maaf sudah membuat Mas Reza tersinggung," ucap Suci penuh rasa bersalah. "Tidak apa-apa. Lagipula apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Saya terlalu menyebalkan untuk Amara makanya dia sampai memilih berpindah ke lain hati. Bahkan setelah tiga tahun kami berumahtangga, saya belum bisa menyentuh hatinya," lirih Reza dengan helaan nafas panjang. Suci benar-benar tak enak hati pada Reza. Bibirnya yang salah karena sudah lancang mengatakan sesuatu yang pasti menyakiti Reza. Harusnya dia tidak berceloteh sembarang apalagi sampai menyinggung perasaan lelaki yang ada di sampingnya itu. "Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibir Suci. Dia menunduk dengan tangan yang saling meremas, gugup. "Sudahlah tidak usah dipikirkan. Saya tidak masalah kok," ucap Reza berusaha tersenyum meskipun dipaksakan. Suci mengangguk kecil. Meskipun Reza mengatakan tidak apa-apa tapi dia yakin hati lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. "Suci sebenarnya saja setuju untuk pergi denganmu bukan tanpa alasan. Saya ingin meminta bantuanmu. Apa kamu bersedia membantu saya?" tanya Reza penuh harap setelah beberapa saat terjadi keheningan di anatara mereka. Suci mendongak menatap penasaran pada Reza, "bantuan? Memangnya Mas Reza butuh bantuan apa?" tanya balik Suci penasaran. "Katakan Ya dulu baru saya akan mengatakan bantuan apa yang saya butuhkan," ujar Reza membuat Suci semakin penasaran. "Ayolah katakan saja apa itu! Aku janji akan sebisa mungkin bantu Mas Reza. Mas Reza tidak usah sungkan padaku!" desak Suci. "Emmm … sebenarnya saya itu …."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN