"Kemarilah, Cantik, duduk di sampingku!" titah Madav sembari menepuk sofa di sampingnya. Amara mengangguk ragu. Namun di tetap berjalan menghampiri laki-laki itu. Hawa di sana sebenarnya terasa menyeramkan. Namun sebisa mungkin Amara bersikap biasa-biasa saja. Tidak mungkin dia menunjukkan ketakutannya. Lagipula dia yakin Madav adalah orang baik. "Ternyata Veli tidak salah memilih orang. Kamu sangat-sangat cantik, Sayang," puji Madav tersenyum penuh damba menatap Amara. "Anda bisa saja, Tuan." Pipi Amara memerah. Dia malu sekaligus senang dapatkan pujian seperti itu dari bos besar pemilik majalah yang akan memakai jasanya. Madav menggeser tubuhnya merapat pada Amara. Tanpa malu atau ragu dia langsung mencium tangan wanita itu. Tentu saja kelakuan Madav itu membuat Amara tersentak

