Nyaman

911 Kata
"Kalau di pikir-pikir, kita ini sudah seperti orang pacaran. Kenapa nggak pacaran beneran aja sih miss?" wah makin ngelunjak nih anak.  "Pacaran sana sama dedemit!" "Jadi beneran nggak mau?"  "Apaan sih? nggak romantis bangat, lagian mana ada orang nembak kayak gitu!"  "Oh, jadi mau beneran?"  "Nggak! kamu itu murid Gerald!" "Oh, jadi kalau aku guru mau gitu?"  "Hah capek, ngelayan kamu tuh."  Aku pun duduk di bangku panjang tadi, si dedemit pun ikut nyusul.  "Emang kamu nggak punya pacar?" Tanyaku penasaran. "Punyak kok, dia tuh cantik, cerewet, galak, tapi hatinya seperti malaikat, pokonya istri-able bangat, tapi sayang aku masih sekolah." Dia menatapku dalam, dan aku jadi salah tingkah. Aku pura-pura melamun, padahal dalam hati dag-dig-dug ser.. seandainya semua ini beneran. Aku ingin melanjutkan hubungan ini, namun aku sadar, siapa aku dan dedemit itu siapa. Sangat terlarang.  "Aku pengen, suatu hari nanti bisa bawa pacar kesini."  Kami duduk dalam diam, tidak ada percakapan hanya suara angin. Aku memikirkan kedekatan ini. Seorang guru dan seorang murid berduaan di tempat sepi, sangat-sangat tidak patut di contoh.  "Kok bisa tahu, ada tempat senyaman ini?" Aku menatap, wajah anak muridku yang kelewat tampan ini. "Gerald, selalu tahu apapun, apalagi hanya masalah nyaman, Gerald udah nyaman sama Miss ma'mum jadi bagi Gerald semua tempat nyaman nggak peduli itu di tempat sampah, atau di kuburan sekali pun."  "Jelas lah. Kuburan kan sekutu semua disitu."  "Ah, nggak tahu ya kalau sekutuku ganteng-ganteng semua, Gerald aja kalah. Aku hanya 1% kegantengan yang di ambil dari sekutuku itu," narsis gila anak ini.  "Serah-serah." Ingin rasanya aku beranjak pergi dari sini, tapi rasanya nyaman pakai bangat. Teduh, tenang, bakalan betah kalau lama-lama disini. Apalagi sama dedemit ni. Entah di sadari atau tidak aku sudah merasa nyaman di dekatnya. Aku menantikan kehadirannya, dan aku kehilangan ketika ia tak berada di sekelilingku.  Clutuk clutuk clutuk. Ah rupanya si dedemit lagi makan permen, aduh kenapa makin keren saja anak ini. Benar-benar harus di karungin ini rasanya.  "Mau?" tawar Dedemit Aku pun mengambil permen karet dan memakanya, kami hanya duduk dalam diam tidak ada obrolan. Hanya menikmati angin. Ditemani, seseorang yang membuatku merasa nyaman dan terlindungi. Dan bisa menghirup aroma tubuhnya. Aku suka aroma tubuh anak muridku ini. "Kayaknya, bakalan tambah deh permintaan."  "Apaan?" aku mengernyit bingung.  "Aku mau, setiap pulang sekolah, kita kesini dulu, kan enak sepi, berdua-berdua, kalau boleh, lesnya disini aja." "Ogah! lagian capek, pulang sekolah, harus kesini, bukan nggak jauh, lagian aku pulang mau bobok cantik." "Kamu lupa ya? kalau guru-guru pulang lambat satu jam dari kepulangan, jadi kita bisa quality time berdua disini, kalau capek biar aku gendong gimana? Bobok? Disini jugak bisa bobok cantik," ah benar-benar ini. Di sekolah ini juga memang, semua murid pulangya jam 3, sedangkan para guru pulangnya jam 4, tidak boleh cepat karena akan di absen. Mau nggak mau ya harus ikut peraturan.  Kalau di pikir-pikir boleh jugak ide si dedemit ini.  "Emang kamu nggak masalah, pulang di tunda sejam demi menemani miss?" Tanyaku memastikan "Anything for you babe," aduh gelinya hatiku. "Aduh, ada semacam dedemit ngomong ya, tiba-tiba merinding."  Tiba-tiba ia mengenggam erat taganku, dan rasanya, hangat. Aku hanya diam, tidak protes, tidak juga senang. Aku ingin merengkuh tubuhnya dan bersandar nyaman di dadanya.  "Aku ingin selalu, di sampingmu, aku udah nyaman sama Miss ma'mum, jangan tinggalkan Gerald ya Miss, sejujurnya, Gerald ini kesepian."  "Di kira, tante-tante apa, kesepian haus belaian."  "Ckckck, nggak romantis bangat sih, gini nih nggak bakalan ada cowok yang mendekat, Aku tuh lagi latihan romantis tahu nggak!" uda punya Mas Rangga kali.  "Aku bukan objek buat latihan gituan, pilih aja salah satu fans kamu di sekolah ni, mereka dengan senang hati melakukan meskipun buat objek sementara."  Bukan rahasia umum lagi kalau si dedemit banyak fans, bukan hanya anak sekolahan, tapi guru-guru juga termasuk Sheilla. Aku? Jangan di tanya.  "Nggak, aku nggak suka mereka itu terlalu ganjen, lagian aku ini lelaki, aku lebih suka mengejar daripada di kejar, laki-laki itu suka tantangan. Apa yang seru lagi dong kalau aku langsung dapat gitu aja, serasa datar aja gitu hidupnya. Aku pengen hidupku berwarna," kata Gerald dengan serius dan tetap mengenggam erat tangaku, aku pun enggan melepaskan karena rasanya hangat dan nyaman.  "Crayon kali berwarna," celutukku asal. "Ini nih yang bikin berwarna dan gemesin," kata dedemit sambil menarik hidungku. Nggak sopan memang. "Gerald! Nggak sopan kamu, aku guru lagian aku lebih tua."  "Aku nggak merasa tuh, ingat ya kita itu partner jadi nggak pakai istilah tua atau muda."  "Serah-serah, intinya kamu nggak sopan."  "Nggak sopan, tapi dari tadi pegangan tangan nyaman bangat, sampai nggak mau lepas gitu ya?" goda si dedemit  Aku pun langsung refleks melepaskan tanganku, nyatanya tidak berhasil karena si dedemit menahannya. Tenaga cewek mana kuat.  "Udah biarin gini aja, nyaman kan?" Tanya Gerald. Aku pun hanya mengangguk.  Tiba-tiba aku menyandarkan kepala ku di bahu Gerald. Dia hanya diam tidak protes. Sungguh, tubuh ternyaman yang pernah kurasa. Dengan Mas Rangga, aku tidak pernah merasa senyaman ini. Ada apa dengan diriku?  Hilanglah sudah status guruku kalau seperti, ini adalah pose yang nggak bangat. Di saat yang lain sedang belajar, kami malah mojok berdua pengangan tangan sambil sandar-sandaran.  Kami hanya seperti ini dalam diam, merasa nyaman satu sama lain. Kalau boleh di minta, waktu boleh nggak berhenti dulu? aku ingin seperti ini sebentar. Menikmati kenyamanan tanpa harus memikirkan masalah pekerjaan atau masalah hidup lainnya.  Tiba-tiba, handphone-ku berbunyi.  *Rara dimana? Ini di cari buk kepsek?* Hah? Mampuslah diriku. Aku pun lagsung meninggalkan si dedemit  Entah alasan apa yang harus ku berikan sama Bu Nunung. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN