Sesuai janji yang telah disepakati, kalian tidak akan lagi menjumpai Gerald yang berantakan bajunya. Bajunya begitu rapi dan wangi. Semua karena bimbingan telah terlaksana, dan ia sedikit berubah. Ingat ya sedikit. Walau sifat nyebelinnya yang mendominasi. Sepertinya sifat itu sudah mendarah daging.
Perlahan tapi pasti, ia berubah ke jalan yang benar. Ia tobat. Mungkin sering nonton sinetron azab yang membuatnya, sering mengingat kematian.
Gerald yang tidak pernah suka memakai dasi, sekarang ingin memakai dasi selama 24 jam. Sebenarnya itu perubahan yang bagus. Tapi, naasnya ia mau memakai dasi jika aku yang memasang dasi tersebut. Manjanya mengalahkan anak TK.
Pagi-pagi ia menjemputku untuk pergi bersama, dan aku yang akan memasangkan dasi tersebut. Sudah mengalahkan suami-istri. Bukan lagi murid-guru. Si dedemit bule itu, melupakan hal itu. Ia menganggapku temannya. Bahkan mungkin kekasih, ini aku saja yang ke GR-an.
Sebenarnya, aku menolak mentah-mentah ide memasangkan dasi untuknya. Tapi, ancamannya begitu ampuh. Ia tidak lagi mau dibimbing, jika aku tidak memasangkan dasi untuknya setiap pagi. Terpaksalah aku harus melakukan, tugas yang cocoknya tugas seorang istri.
Kami berlakon seperti suami-istri, minus anak.
Ia juga yang menjadi tukang ojekku sekarang. Dan melupakan fakta bahwa, aku memiliki seorang tunangan.
Aku membohongi Mas Rangga bahwa, aku pergi membawa motor ke sekolah karena macet. Alasan yang mengada-ngada, kotaku tidak semacet Jakarta. Dan Mas Rangga memberi kepercayaan penuh padaku. Semua karena ancaman dedemit bule di sampingku ini, ia harus menjemputku untuk pergi ke sekolah bersama. Aku menurut saja, karena tidak mau apa yang direncanakan berantakan semuanya.
"Pagi, calon ma'mum," goda Gerlad.
"Pagi, titisan dedemit." Jawabku kesal.
Dan si dedemit, hanya memerkan giginya padaku, gigi unik yang pernah ku lihat, dengan gigi berjarak di depannya. "Ah, jangan lupa, kebiasaan morning tie."
"Dimana-mana orang morning kiss, ini malah morning tie," cibirku sambil memakaikan dasi buat dedemit.
"Jadi, mau beneran di kasih morning kiss? Wah dengan senang hati Gerald berikan, gratis dan tak terbatas," goda Gerald dengan menaik turunkan alisnya.
"Sekali lagi, dapat cubitan cantik."
"Ah jangan, dedeknya mau cubitan manja saja."
"Iya, cubitan sampai memar semua! mau?"
"Ampun buk, aelah galak amat lagi PMS ya?"
"Sok tahu bangat orang PMS. Pacar kamu kali, yang suka uring-uringan.
Dan ingat! Jangan merusak mood, pagiku yang cantik ini ya Gerald."
"Siap, ibu negara. eh, ibu dari anak-anakku saja."
Aku mengabaikan ucapan Gerald, dan memutar musik, daripada mendengar musik di sampingnya seperti suara tikus kejepit ketika sedang menggodanya.
"Oh, iya aku mau nanti, pas istirahat ke kantin bareng, nggak ada penolakan."
"Ingat ya, aku ini gurumu bukan pacarmu, lagian apa kata orang-orang nanti, kalau kita berdua ni lengket terus," cih, di kira dia siapa ngatur-ngatur!
"Bentar lagi jadi pacar, lagian ngapain sih dengarin kata orang, hidup-hidup kita kok dia yang jadi sutradara, ingat ya kita lagi bimbingan."
"Ih, nggak bisa gitu Gerald, nggak mau jadi omongan satu sekolah, duh udah mengalahkan orang skiripsi aja ya bimbinganya."
"harus, ini bimbingan karakter, bukan bimbingan sekedar tulisan."
"Serah-serah."
"Jangan lupa, turunnya agak jauhan dari sekolah, dan kali ini turutin aja."
"Kantin juga jangan lupa." Aku hanya memutar bola mata malas. Bukan lagi guru-murid, tapi dia berlakon seperti dua sahabat gila, yang sudah berteman lebih dari 100 abad.
Walau anak ini menyebalkan, tapi aku nyaman berada disampingnya. Melihat sifat asli tengilnya, membuatku melupkan fakta bahwa, anak muridku ini, titisan Leonardo Dicaprio, saat muda. Wajah titisan Leonardo Dicaprio, kelakuan Mimi peri.
Saat melihat lingkungan sekolah, aku langsung membuka pintu, kode berhenti agak jauh dari sekolah, daripada aku lompat dari mobil. Aku tidak ingin menjadi gosip satu sekolah.
Seorang guru baru, berhasil mengaet cogan sekolah.
Gerald terpaksa berhenti, walau keberatan. Ia seolah, ingin memamerkan ke semua ini, kalau ini pacarnya. Cih!
Aku pun berjalan beberapa meter, sebelum mencapai gerbang sekolah.
Ada beberapa anak murid yang berjakan juga.
"Pagi Miss," sapa anak-anak muridku, walau nggak kenal siapa mereka. Aku hanya tersenyum, dan berjalan beriringan.
"Miss, bukanya itu tadi mobil Gerald ya?" Tanya anak murid yang aku tidak tahu mereka kelas berapa.
"Ah, beruntung bangat Miss berangkat bareng cogan, itu impian kami semenjak tahu sekolah ada cogan, iya gak gais? tapi sayang cogannya manusia batu," iya, cogan sok ngatur.
"Miss, kayaknya Gerald suka sama Miss deh," aku hanya tersenyum. Aslinya ingin menjerit. Bukan aku jatuh cinta pada dedemit. Tidak sama sekali. Aku seorang guru, akan tabu sekali jika ada cerita guru berpacaran dengan anak murid.
"Nggak," jawabku singkat, what the? Si dedemit kan nggak punya hati, mana bisa dia suka sama orang! Maksudnya, dengan sifatnya seperti itu, aku sangat yakin semua perempuan di baperin. Entah udah berapa banyak korbannya itu.
Aku pun berlalu dengan cepat, bisa cepat mati muda, kalau terus berhadapan dengan tingkah anak muridnya yang sejak kapan berpindah profesi jadi wartawan dadakan, tentang gosip murahan, apalagi sifat kepo mereka sudah di ambang batas.
For you information, tidak ada yang tau masalah bimbingan itu, kecuali kepala sekolah, aku, Gerald dan Tuhan pastinya.
Aku pun tiba di gerbang, dan melihat titisan mimi peri sedang di parkiran bersandar di mobilnya.
Lah ni bocah ngapa nggak masuk kelas aja sih, dan sialnya lagi si dedemit malah nyamperin aku, kurang asem memang.
Aku itu paling malas dengar gosip murahan, apalagi meyangkut diriku. Dan yang gosip itu pun tidak mengetahui sebenarnya, apalagi tidak sesuai fakta. Itu merupakan sesuatu bangat. Aku menjaga image sebagai seorang guru, dan sudah memiliki tunangan.
"Gerald, ya ampun. please ke kelas kamu sekarang, nanti kita jumpa di kantin," geramku.
"Ok, ibu negara," ah, kalau ini bukan di sekolah dan tidak menjaga image sebagai guru, udah ku tendang jauh-jauh b****g si dedemit ini sampai bulan.
Aku pun berlalu, dia sempat mendengar si dedemit berteriak.
"Semangat miss ma'mum."
***
Pagi ini, aku tidak ada jam mengajar, jadi hanya memeriksa tugas dan PR anak murid yang menumpuk bukunya di meja kerja.
"Rara, itu ada yang nyari."
"Siapa?" Ah kalian pasti sudah tahu siapa.
"Katanya, cogan dia," aku hanya tersenyum kepada Pak Kusuma.
Pak Kusuma ini guru matematika, ia sudah mempunyai istri dan istrinya sedang hamil sekarang. Kenapa aku tahu? karena, istrinya juga mengajar di situ, yaitu buk Dian, beliau juga mengajar matematika, jodoh tak kemana matematika VS matematika, anaknya jadi aljabar mungkin .
Aku keluar dari ruangannya, dan benar saja.
"Ayo," kami pun berjalan berdua, jangan harap ada adegan gandengan tangan. Tidak ada karena toh status ini hanya guru dan murid yang kebetulan sudah menajdi partner. Tapi bukan partner in crime, ini partner in dicipline.
Sepanjang koridor banyak yang bisik-bisik dan bergosip aku hanya mengabaikan, dan berlalu menuju kantin, kini kami menuju meja khusus guru.
Aku tetap duduk di tempat favorit, si dedemit duduk bersebrangan denganku. Ia menghadapku
"Gerald, pesan dulu ya," aku hanya diam. Bodoh amat pandangan orang terhadapku yang pergi ke kantin bareng cogan mercusuar.
"Nih," disana sudah ada nasi goreng berserta segelas mile hangat. Memang paling tahu selera si dedemit ini.
"Punya kamu, mana?"
"Cie, perhatian," goda Gerald
"Yaudah, nggak usah," Kataku dengan gondok.
"Aku lihat kamu aja udah kenyang," Gerald masih menggodaku. Asli, aku ingin menyiram mile hangat itu ke wajahnya, biar tidak lagi titisan Leonardo, tapi kembaran mimi peri.
Tiba-tiba sudah ada yang mengantar makanan dan minuman punya dedemit, emang paling bisa manusia satu ini.
"Makasih." bukan Gerald yang bilang makasih, tapi itu suaraku demi formalitas.
"Besok bawa bekal aja," kata Gerald.
"Takut nggak sempat, lagian Miss nggak bisa masak, kalau bawa takut merepotkan bunda," jujurku.
"Ya udah, Gerald aja yang bawa."
"Kamu bisa masak?" Tanyaku penasaran. Wah, bisa jadi calon idaman kalau dedemit pandai masak.
"Nggak, nanti minta di buatin sama bibi."
"Yaudah, biar miss bawa minumnya."
"Deal."
Dimana-dimana mau melakukan sesuatu harus ada kesepakatan dulu, meskipun susah untuk menyatukan dua kepala, lama-lama kmai sudah sama-sama mengerti dan mengalah satu sama lain.
Kadang aku yang mengalah terkadang Gerald. Meskipun si dedemit masih muda kadang pengertiannya boleh di ancungi jempol. Tapi terkadang keluar sifat menyebalkan yang suka sok ngatur yang tak bisa di bantah. Dan itu yang paling tak di sukai olehku, bahkan siapapun.
Kami pun makan dalam diam, jangan harap ada adengan seka-menyeka bibir, meski aku makan suka berlepotan.
Tapi Rara sudah mewanti-wanti jadi satu suap, satu sekaan di mulut.
"Tadi masuk kelas kan?" Dan hanya di balas anggukan oleh Gerald.
"Bagus, setelah ini juga , harus masuk kalau nggak. Nggak ada acara pulang bareng kalau dapat laporan cabut dari kelas," fiks, ini sudah seperti ibu dan anak, atau seorang kekasih? Entahlah hanya hatiku yang tahu persis seperti apa.
"Siap ibu negara."
Aku pun langsung menuju ruangan guru. Gerald juga menuju kelasnya. Tadi si dedemit maksa ingin ngantar ke ruangan tapi aku nggak mau karena pasti makin heboh di sekolah.
Aku hanya bermain handphone. jam pelajaran sudah berbunyi dari tadi. Aku yakin si dedemit pasti lagi belajar. Meskipun ogah-ogahan mengkuti pelajaran dan masih membuat kekacauan di kelas. Tapi setidaknya sudah ada kehadiranya di kelas.
*Sayang :)*
*Demi nasi goreng yang dimakan tadi yang sudah mau jadi tai, belajar Gerald.*
*Bosan.*
*Nggak ingat ancaman rupanya.*
*Sayang, kesini rooftop disini enak.*
*Ogah.*
*Janji, beneran nggak ada guru, ayok kesini.*
*Miss kesitu dan langsung masuk kelas.*
*Siap ibu negara.*
Memang menyebalkan si dedemit ini, sekarang cabut pula, padahal selama ini aku bertahan menuruti semua kemauan buat ia tidak berandalan seperti itu.
Aku berjalan menuju rooftop, harus melewati lapangan melewati kelas-kelas dan resiko banyak di goda-goda oleh anak kelas XII aku hanya menanggapi dengan senyuman.
Memang menyebalkan bukan tidak jauh jarak dan letak rooftop itu, harus naik tangga lagi.
Aku sudah sampai di ujung tangga, dengan napas ngos-ngosan dan berdirilah disitu titisan dedemit, layaknya seorang pangeran yang siap menyambut princess. Setelah itu aku hanya mengikuti si dedemit.
"Ayo, masuk." Perintahku mutlak.
"Nggak lihat itu nafas satu-satu gitu," kata Gerald.
"Ayo duduk dulu," aku pun duduk.
Disini memang sudah ada bangku kayu yang panjang. Jadi bisa muat berapa orang duduk. Jika kita berdiri di bagian depan kita akan melihat kegiatan anak sekolahan di bawah dan langsung berhubungan dengan lapangan. Di bagian arah jam 2 akan terlihat perkampungan para penduduk. Dengan rumah yang sangat padat.
Aku berdiri dan memperhatikan keadaan sekitar. Tidak meyangka, akan sebagus ini pemandangannya. Dan tiba-tiba Gerald sudah di sampingku.
"Kalau di pikir-pikir, kita ini seperti sudah orang pacaran. Kenapa nggak pacaran beneran aja sih miss?"
***