Dedemit Berwajah Bule dan Mis Ma'mum Berwajah Imut

1371 Kata
Peraturan untuk Gerald :  1.tidak ada lagi acara cabut-cabutan ketika sedang belajar.  2. Baju harus rapi, tidak boleh keluar-keluar lagi, dasi juga. 3. Jangan membantah perkataan guru, siapapun itu. 4. Wajib mengerjakan tugas dan PR yang diberikan guru. 5. Masih banyak tambahan tapi segini dulu, tinggal revisi saja.  Peraturan dari Gerald buat miss: -selalu menemani Gerald dimana pun dan kapan pun ketika Gerald butuh. Aku membaca peraturan dengan memasang tampang nggak senang. "Ih, nggak bisa gitu! miss juga punya keluarga dan dunia sendiri, nggak bisa di monopoli gitu dong," protesku. "Ckck, peraturan buat kamu itu cuman satu, sedangkan aku belum apa-apa sudah lima, di tambah lagi kalau ada revisi mendadak yang sangat tidak menguntungkan bagiku." Timpalnya. "Tapi itu buat kebaikan kamu," aku nyolot. "Iya atau nggak? atau Gerald nggak mau ikut lagi kesepakatan ini," lagi-lagi ancaman dari si dedemit ini.  "Fine," dengan berat hati.  Saat ini aku dan si dedemit sedang berada di rumahku, untuk membuat peraturan yang sudah di bahas sebelumnya, ini untuk kesepakatan yang lebih jelas.  Bunda ada, tapi sedang di kamarnya sepertinya. Musuh bebuyutan? Jangan di tanya, si kunyuk itu nggak pernah betah di rumah, wajar juga dia kan laki-laki jadi bebas, apalagi bunda nggak pernah melarangnya. "Rara, itu muridnya, dikasih minum dong." "Iya bun."  "Mau minum apa?"  "Terserah."  "Dih, udah kayak cewek aja terserah."  "Yaudah, jus pare," kataku dan langsung ke belakang, bunda sudah siap membuatkan mile hangat buat si dedemit, memang surgaku paling pengertian.  "Makasih bunda," kataku mengambil minuman dan beberapa potong cake. yang dibuat bunda, karena bunda sangat rajin memasak, apalagi membuat kue.  aku? Jangan di tanya aku sangat berbanding terbalik dengan beliau, aku paling nggak suka kerja yang berurusan dengan kerja dapur.  Nggak tahu nanti, kalau aku udah berkeluarga, prinsipku cari suami kaya dan punya pembantu. Simple bukan? Untung mas Rangga keluarganya kaya. Jangan ditiru ya dik-adik aku yang pemalas ini.  Si dedemit kaya nggak? Aku nggak tahu karena dia sangat tertutup apalagi menyangkut keluarganya, dia tuh sok misterius.  "Nih!" aku pun meletakan nampan di atas meja, si dedemit sedang bermain handphone dengan menunduk, kadar kegantengannya jangan di tanya, pose di lagi nahan boker juga tetap ganteng.  "Minta nomor w******p," Katanya sambil menyodor hanphonenya. "Lah. Bukanya udah ada di papan tulis, pas pertama kali masuk?" "Gak ada tuh," Jawabnya, bikin aku kesal luar biasa. Aku pun langsung mengambil handphonenya dedemit dan mengetikan nomorku. "Gerald, kamu nggak punya teman ya di sekolah?" Tanyaku penasaran, bukan apa-apa dia seperti tidak ada teman di sekolah kemana-mana selalu sendiri. Fans? Jangan di tanya, bejibun. "Ada." "Siapa?"  "Kamu," What the? Gue ini gurunya! bukan teman, pacar,apalagi budaknya. "Aku gurumu, kalau kamu lupa," kataku dengan galak. "Aku lebih suka mengangap teman, biar akrab, ingat teman dalam membimbing."  "Serah-serah," entah kenapa, si dedemit ini suka sekali menggodaku sekarang. "Udah kan? Gerald ada janji lagi soalnya" "Janjian sama pacar ya?"  "Nggak!" Jawabnya cepat. "Nggak-papa, miss ngerti pernah muda juga, jadi tahu yang lagi kasmaran," kataku sok tahu. "Eh siapa tapi? Perasaan di sekolah nggak pernah jalan bareng ke kantin, atau mojok berdua," Aku jadi kepo. "Pacarku, sedang di depanku," jawab Gerald santai, kayak nggak ada dosa jawabannya itu.  Aku langsung refleks mencubit si dedemit. Mengalihkan perhatian saja, karena aslinya aku mau terbang. Baru tahu, kalau bule juga suka gembel, eh suka gombal. "Aw..." dia meringis. Ingin ku peluk dengan sayang. Namun, aku ini seorang guru. Kalau boleh jujur, aku nyaman berada di dekatnya. Aku jatuh cinta? Itu belum terpikirkan.  "Sekali lagi, peraturanya di tambahin," Ancamku. "Siap, nyonya Gerald!" Katanya, sambil membuat tangannya seperti orang lagi hormat bendera. Sumpah, makin tampan. Duh, emak bapaknya, gimana sih cetaknya? Cakep begini.  "Gerald ganteng, pulang dulu ya." Si dedemit pun pulang. Entah kenapa semakin kesini kepribadian si dedemit tuh jadi makin cerewet, padahal awalnya dia itu dingin bangat. Bukan dingin, tapi menyebalkan. Dan sekarang, menyebalkan kuadrat. *** Gerald's Pov  Setelah pulang dari rumah Miss cantik, aku pergi ke tempat yang memang ingin aku tuju. Ah , guru baruku itu sangat menggemaskan, meskipun dia guru tapi aku merasa dia seperti sepantaran denganku.  mungkin karena sifat manjanya, galaknya, tapi kalau mengajar dia itu sangat tegas , jadi tidak ada yang tahu sifat aslinya yang rupanya sangat manja, aku juga baru tahu setelah akhir-akhir ini kami dekat.  Setelah sebelumnya aku mengabaikan. Sifat manjanya, membuatku merasa aku harus melindungi dia meskipun dia lebih tua.  Aku pun terkadang memanggil guru cantikku dengan sebutan 'kamu' karena dia ku anggap special, tapi dia tidak marah, aku pun sengaja memanggil seperti itu agar kami lebih akrab agar tidak ada seperti dinding penghalang antara guru dan murid tapi lebih ke partner.  Aku yang sukanya menyendiri dan lebih suka diam semenjak mengenal 'ma'mum'-ku langsung menjadi cerewet, karena lebih ke nyaman apalagi menggodanya, menjadi hobby baruku saat ini. bukan tidak sopan tapi saat menggodanya keluar muka galaknya sangat lucu, rasanya ingin di karungkan dan di kurung di kamar. Eh? Aku baru tahu, kalau mengemaskan bukan untuk anak kecil saja. Tapi, Miss cantikku, begitu mengemaskan. Jika tidak mengingat, ia guruku, aku akan memacarinya.  Meskipun aku sangat malas untuk bimbingan itu, tapi semua ini demi-demi aku dekat dengan 'ma'mum-ku'. Karena aku siap menjadi imamnya. Abaikan ucapan ngawurku ini. Melihat wajahnya, aku bisa melihat bidadari masa depanku. Aku ingin, menua bersamanya. Apa ia mau bersamaku? sedang ku usahakan sekarang. Aku sudah jatuh cinta padanya, sejak pertama kali, melihat wajah imut itu. Tubuhnya mungil, dengan besar pada bagian yang seharusnya. Membuatku ingin merasai tubuh itu. Apa aku berdosa, berfantasi tentang guruku? Tapi, aku merasa tidak berdosa, karena ia yang akan menjadi masa depanku. Ia akan menjadi istriku, dengan memiliki anak selusin. Impianku.  Aku langsung melaju menuju sebuah toko, aku pun turun. "Can I help you?" Kenapa sih, semua orang menanggap aku turis? Bule? Aku baru tahu istilah bule itu. Tapi, aku merasa aku bukan bule. Aku warga lokal. Walau, fisikku seperti bule. Karena vater warga Jerman-America. Bundaku, Indonesia-Jerman. Jadi, aku tidak mengambil darah Indonesia, lebih dominant bule. Tapi, percayalah, aku cinta dengan negara Indonesia, dan wanita Indonesia yang cantik-cantik dan manis, seperti author .  "Mau beli bunga." Petugas itu hanya terkejut. Padahal, aku lebih fasih berbicara bahasa Indonesia. Daripada bahasa Inggris. Tapi, semua orang menganggap, aku bule turis. Padahal, aku besar disini.  "Mau bunga apa dek?" Petugas ini, berbicara dengab tidak nyaman. Masih belum percaya, aku warga lokal, wajah luar.  "Biasa Mas. Bunga lily."  "Satu bouqet ya," Pintaku. "Ok."  "Ini dek, dan ini harganya."  "Ok, ini saya bayar pakai kartu debit."  Setelah dari toko bunga tadi aku langsung menuju tempat tujuan. Dan kenapa otakku akhir-akhir ini sepertinya terserang virus Miss ma'mumku.  Dia yang selalu bersemangat. dekat dengannya serasa seperti memiliki harapan baru, aku yang sebelumya angka harapan hidupku sudah redup sekarang tergantikan secercah sinar dan harapan dari Miss yang kadang mulutnya seperti petasan banting.  Dia pun menamai ku dedemit. Ku anggap itu panggilan kesayangan, karena jika seseorang memanggil kita nama julukan berarti orang itu mengangap kita itu special.  Dan tibalah di tempat tujuanku. Aku turun dari motorku, ya hari ini sengaja aku bawa motor, lebih simple si ya, dan bisa juga cepat sampai tujuan.  Ku berjalan sepanjang koridor, dengan membawa sebouqet bunga. Tibalah di tempat, aku pun langsung masuk dan mencium keningnya.  Ah satu-satunya manusia yang sangat aku sayangi di dunia ini.  "Maaf ya bunda, Gerald baru datang, akhir-akhir ini Gerald sibuk. Gerald dapat seorang tutor yang mau membimbing Gerald buat berubah, dia itu cerewet, galak, tapi cantik dan gemesin bangat, pengen rasanya Gerald bawa pulang ke rumah, eh tapi belum halal ya. tunggu halal Gerald akan halalkan, tapi dia mau nggak ya? Dia lebih tua dari Gerald loh. Tapi nggak-papa, kan ada juga yang nikah sama nenek-nenek Miss ma'mum kan paling masih 20-an umurnya, dia itu guru Gerald, bolehkan bunda? Kalau Gerald dekatin, ini juga buat kebaikan Gerald, Gerald juga pengen berubah, ah ini udah panjang bangat curhatnya, segini aja dulu, Gerald pulang nanti, kesini lagi, kapan-kapan Gerald bawa Miss ma'mum. Assalamualaikum," cerocosku panjang lebar. Padahal aku sadar lawan bicaraku tidak  merespon. Tapi seperti sudah menjadi kewajibanku untuk berbagi cerita apa saja.  Aku pun pulang, dengan hati yang susah untuk di jelaskan, satu sisi menggebu satu sisi rasanya sakit, sesak. Rasanya terhimpit entah sampai kapan semua rasa ini segera berakhir.  Pasti ada waktunya, kapan? Tunggu aja.  *** Maafkan part yg gaje, ini cerita pertama. Makanya, separah ini. Jangan bosan ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN