Goodnight Miss

1643 Kata
Semenjak kejadian itu, si dedemit bule-- masa depan, makin acuh terhadapku. bahkan untuk melirikku saja ia tidak sudi. segituhnya kah kesalahanku? sampai membuatku seperti seorang tersangka pembunuhan sadis.  Sepanjang hidupku, aku tidak pernah diabaikan. Aku yang selalu mengabaikan orang lain.  Rasanya lain, ketika ditatap dengan tatapan yang berbeda. Aku tidak tahu, apa yang ada dalam pikiran bule itu. Ia selalu menatapku dengan begitu dalam, seperti ingin membunuhku atau ingin menciumku. Baiklah, yang terakhir hanya angan gilaku, yang tidak akan akan pernah tercapai.  Dan semua pengabain bule itu, berdampak pada mood-ku. Aku begitu mood swings. Tak karuan, suasana hatiku. Rasanya begitu mendung.  Hoodie-nya? Jangan di tanya bagaimana bisa aku kembalikan kalau untuk melirikku saja ia tidak sudi. Aku sepertinya lebih baik di caci dan maki daripada diabaikan seperti ini rasanya menyakitkan euy.  Padahal hanya masalah sepeleh, cuman gara-gara telat ingat telat bukan mengingkari janji. padahal pada saat itu memang keadaan tidak mengizinkan, bagaimana ini? Dia bahkan belum mendapat konsekuensi dari kesalahnya kemarin? Yang menjadi masalahnya bukan konsekuensi dari kesalahnya tapi lebih ke amanah yang telah di berikan Bu Nunung. Ya Lord!  "Sayang, akhir-akhir ini mas melihat kamu tidak bersemangat sekali."  "Kamu ada masalah? Kamu bisa berbagi, mas siap membantu kamu," kata mas Rangga sambil mengusap-ngusap tanganku dan aku hanya merebahkan kepalaku di meja. Ya, hari ini aku dan mas Rangga sedang berada di Cafe, meskipun kami sama-sama sibuk kami menyempatakan untuk quality time berdua. katanya buat cas cinta. Istilah kami, untuk memperkuat hubungan ini. Walau aku tidak yakin, akan berjalan lancar. Karena, kalian tahu cita-citaku menikah dengan lelaki bule, bukan Mas Rangga. Walau ini jahat, apa daya, prinsip itu telah mengakar. Jika, memang jodohku Mas Rangga, aku akan melupakan ambisi itu. Tapi--- selagi, masih ada peluang, aku akan membuatnya menjadi kenyataan.  "Mas lihat semenjak kamu mengajar, kamu seperti kelelahan, banyak masalah, banyak melamun, ayo dong ini bukan Berry mas."  "Kalau kamu kelelahan, udah nggak usah kerja aja. Toh mas bisa kok biayain kamu, meskipun kita belum nikah tapi beneran mas nggak-papa kalau biayain kamu."  Aku langsung bangun dan melotot, udah bosan hidup ya? Ah wanita dengan sifat keras kepalanya. Aku malas melayani Mas Rangga. daripada aku mengamuk dan berakhir dengan memalukan diri sendiri dalam Cafe ini. Lebih baik aku pergi mas Rangga pun tidak mengejarku dia sudah hafal diriku luar dalam yang paling tidak suka di ganggu, biarkan aku menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibat dan menyusahkan orang lain.  Terkadang aku sadar sifatku ini sangat kekanakan sekali tapi biarlah ini sifatku. lagian salah sendiri suruh siapa bunda dan Mas Rangga sangat memanjakanku?  *** Aku pulang dengan naik taksi, jangan harap mas Rangga akan mengejarku seperti di drama-drama apalagi di sinetron-sinetron. Sangat bukan aku sekali. Apalagi kami sudah saling memahami aku yang keras kepala jadi kalau di layan begini,  bukanya menyelesaikan masalah malah akan tambah runyam.  "Ini kemana neng?" Tanya sopir taksi, sedari tadi aku tidak fokus, entah kemana pun aku tidak tahu, baru juga awal masa sudah mau menyerah saja, cuman gara-gara di abaikan. ah ada apa dengan aku ini? "Jalan aja dulu pak."  Taksi pun melaju, pulang kerumah? Bukan ide bagus, pasti akan di recoki bunda dengan banyak pertanyaan dan aku sedang dalam mode silent malas untuk berbicara, daripada aku mengacuhkan mereka dan terjadi masalah lain lebih baik aku menghihdar.  Tiba-tiba, lewat depan sekolah. "Eh, pak-pak stop! Saya turun disini saja."  "Eh? Neng ngak kesambet kan?" Mood-ku buruk, aku hanya turun dan membayar taksi.  Entah apa yang akan aku lakukan disekolah ini, malam-malam dan sepi pemirsa. Abaikan yang parno seperti kemarin karena aku tidak percaya yang begituan.  Aku langsung menuju kantin karena satu-satunya yang masih ada penghuni di sekolah ini.  Aku langsung duduk di bangku kesayangan. For you information, bangkunya memang diluar, jadi bisa tetap bisa duduk tanpa harus menganggu Bude kantin dan keluarganya. Memang di sini satu keluarga yang mempunyai kantin ini sekaligus rumah mereka. Aku mendapat informasi ini akurat dari Sheilla. Dia apa kabar dengan Ryan? aku nggak tahu, karena kurang suka mencampuri urusan hidup orang. Suasana di sekolah lumayan terang, banyak penerangan di mana-mana, tiba-tiba aku mendengar suara bola di pantulkan. fiks, kali ini beneran parno nggak mungkin kan ada orang yang main basket di malam hari begini? Anak bude kantin? Penjaga sekolah? Sepertinya itu nggak mungkin. Anak sekolah? Dengan keberanianku, aku melihat ke lapangan basket, aduh jangan ada perampok sekarang, atau pembunuh sadis yang mengelabuhi korban dengan memancing bermain bola seperti itu. Ah tidak, kebanyakan nonton film Chaki ini mah. Atau ada psikopat? Aduh Mas Rangga dedek nyesal pergi tadi, coba dengan mas Rangga tadi pasti uda di antar pulang dan sudah bobok cantik di rumah.  Dengan keberanian dan nyawa terakhir, huh lebay ya! Aku berani menoleh, bola itu terus di dribble dan langsung masuk ring, lagi dan lagi tidak pernah meleset. Sepertinya aku kenal dengan sileut itu. What the? Kuperhatikan baik-baik i-i-itu si dedemit? Ngapain dia main bola malam-malam disini? Wah patut di curigai, tidak salah memang aku menamai dedemit karena sepertinya ia sedang bermain dengan para sekutunya.  "Gerald!" ku beranikan untuk memanggilnya meskipun aku sudah yakin pasti di abaikan lagi. aku tahu dia sadar aku manggil karena aku memanggilnya dengan cukup keras, dia acuh dan terus bermain. Sialan si kunyuk ini, nggak bisa di biarkan seperti ini terus!  Aku pun langsung turun ke lapangan basket. "Ngapain kesini?" Tanyanya acuh akhirnya mulutnya berfungsi juga Manusia batu ni, setelah akhir-akhir ini dia mengacuhkanku. "Lah, kamu sendiri ngapain kesini? Main malam-malam? Main sama sekutu ya?"  "Sekutu?" Tanyanya dengan menyipitkan matanya, meskipun dengan penerangan seadanya aku bisa melihat si dedemit buat seperti itu makin manis saja. Duh....  aku beneran, ingin mengarungi dan membawanya ke kamarku, terus di belai-belai.  Meskipun dia dalam model apa saja memang tetap keren, tampan, dan manis. Maklum udah dari sononya. Apa? Tungu-tungu! Apa beneran tadi aku baru memuji si dedemit? Tapi begitulah faktanya dia memang sangat tampan.  "Iya, sekutu. Kamu nggak sadar kamu itu titisan dedemit," eh mulut sialan yang tidak bisa diajak kerja sama. terceplos sudah mulut ini, apa mungkin si dedemit marah karena sudah tahu panggilannya? Aku menutup mulutku, setelah sadar atas ucapanku. "Awas, di belakangmu ada saudaraku."  "Aku nggak takut." sudah hilang mode dan reputasi sebagai guru di hadapan si dedemit ini aku sudah seperti temanya sekarang.  "Yakin? Itu ada yang kirim salam, katanya cantik," meskipun si bule ini bercanda tapi, aku blushing. "Gerald! jangan bercanda, nggak lucu! aku nggak percaya begituan."  "Katanya, kamu mau di jadikan istrinya," tumben si dedemit cerewet hari ini, Biasanya di bilang dia acuh. Dia kode? Mau jadikan aku istrinya? Duh... mau banget!! Banget. Terus diajak ke negaranya. Dan aku akan punya anak cantik-cantik.. Tuhan.. izinkan si pendosa ini, bermimpi jauh.  "Eh, Gerald. jangan gitu ah, ini udah malam," tiba-tiba aku merinding disko. "Tuh, katanya dia nunggu kamu," nih anak udah nyebelin gaje pula! "Gerald!" Teriakku dan refleks aku meluk si dedemit. ah, keenakan di dianyalah. Dan omg, si dedemit tinggi bangat aku hanya sebatas bahunya, tapi kenapa rasanya hangat dan nyaman ya? Selain ganteng dia juga peluk-able. Ya Tuhan sisakan satu seperti ini. Otak apa ini kok aku jadi ganjen gini? ingat mas Rangga. "Ayo, pulang!" ajakku dan menarik baju dedemit. Aku takut, lagian aku juga butuh tumpangan kan?  "Kenapa, ngajak-ngajak?" "Gerald pulang!" Kataku sedikit membentak seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.  "Fine! lepasin!" karena sedari tadi aku memegang erat bajunya. Kami pun berjalan ke parkiran dalam diam. Aku langsung masuk mobil Gerald.  Dia pun melajukan mobilnya. "Masih marah kemarin?" Tanyaku mengungkit, meskipun aku tahu dia tidak suka topik ini. tapi masalah harus di selesaikan secepatnya, aku nggak suka punya masalah yang berlarut-larut.  "Hm," Mulai lagi "Ih Gerald!" Renggekku, entah kenapa dengan si bule sentengah waras ini sisi jaimku hilang dia seperti bukan muridku lagi tapi seorang kekasih. Kekasih? Apal kalian setuju, ia menjadi kekasihku?  "Oh iya, miss mau balikan hoodie kamu."  "Ambil aja," Katanya acuh, dan tetap fokus menyetir. "Kenapa?"  "Buat kamu aja," lah. kok buat aku piye toh? Dasar songong! Pasti, dia mau pamer kalau ia punya banyak hoodie. Dih... aku juga banyak kali k****t, tapi strawberry semua.  "Dan buat masalah kemarin, lupakan! aku juga udah nggak ingat lagi jangan diungkit dan jangan diulang," Fix, aku di beri kultum singkat sama anak bau kencur. "Oh iya, ini serius sekarang. masalah konsekuensi kelakuan kamu kemarin, miss juga dapat amanah dari Bu Nunung buat membimbing kamu."  "Membimbing ke surga? Ayo! atau membimbing rumah tangga?" Dia menggodaku? Seriusan?  "Gerald, gak sopan kamu! mentang-mentang aku ada salah, padahal bukan sepenuhya salahku. Ingat aku gurumu." Jaim boleh kan? Padahal, rasanya aku sudah mau loncat-loncat di dalam mobil ini, memeluknya dan menciumnya kalau boleh. Kenapa dekat anak ini, pikiranku m***m mulu bawaan.  "Konsekuensi yang kemarin, bayaranya hoodie yang kemarin, dan kesepakatan membimbing surga, ayok!"  "Enak aja, di sogok cuman pakai hoodie," Protesku. "Jadi apa? Mau tiket liburan bulan madu kita? Kemana? Yunani? Maldives? Atau di kamar?" Ah rupanya bocah ini pentakilan aslinya. Dan refleks langsung ku cubit leganya.  "Sakit, Miss," tumben panggil Miss. Ia biasa menyebutnya dengan kamu aja. Tampa embel-embel Miss atau guru.  "Ok, next topic. bimbingan itu disini untuk membimbing kelakuan kamu. jadi kamu ada apa-apa kamu hubungin Miss, dan Miss berencana memberikan les tambahan mengingat nilaimu kosong."  "Iya," Jawabnya, dan tumben pasrah. "dan Miss berencana, kita lesnya seminggu 3 kali hari Sabtu, Minggu dan Rabu. jam bebas pas lagi waktu luang, tempat bebas."  "Deal? " kataku dan mengulur tangan. Dan apesnya aku, uluran tanganku tadi tidak direspon. What the?  "Belum. Ini belum ada revisi peraturanya?" Tanyanya. "Kalau ada yang mau di tambahkan silahkan. tapi, jangan menyalahi aturan."  "Ok, saat ini belum terpikir nanti kalau sudah aku kasih tahu," Katanya, rupanya tidak semenakut yang aku pikirkan. "Fine! eh itu lurus, trus belok kanan, lurus belok kiri dan sampai rumah." Ini dia nggak pusingkan?  Si dedemit hanya menurut, tumben ni anak. dan malam ini aku seperti mengenal sisi lain dari si dedemit ini  "Sudah sampai. Makasih." kataku dan turun. "Goodnight Miss," Kata-kata yang buat aku tidak bisa tidur semalaman Argh...........
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN