Mau di Cium

1867 Kata
Hari kedua mengajar.  Mengenal bule tampan itu, benar-benar membuat hari-hariku jungkir balik. Ia mampu mengaduk-ngaduk perasaanku. Moodku benar-benar buruk. Ingin rasanya tidak pergi ke sekolah, dan menjumpai wajah itu. Tapi, ini sudah kewajibanku untuk bekerja. Aku tidak suka, makan gaji buta. Apalagi, baru hari kedua, masa sudah berhenti dan menyerah. Gara-gara tingkah anak murid, yang membuatku serba salah.  Ini yang jadi, anak murid aku apa dia sih?  Dengan segala tingkah cuek dan pengabainnya. Aku tidak suka diabaikan. Tapi, bersama anak bule gila itu, ia benar-benar tidak menganggapku bukan makhluk jika dihadapannya. Geramnya... ingin ku bejek-bejek mukannya biar jadi jelek.  Gerald... ya nama itu.  Nama yang sudah ku blacklist dari nama yang akan membuat hari-hariku tenang.  Dasar bule tak tahu diri! Apa ku usir saja, dari sini agar dia kembali ke negaranya? Tapikan, aku harus berkenalan dengan keluarga bulenya. Haduh... setahuku, bule itu tidak seperti ini, kelakuannya. Yang ku tahu, bule itu romantis, lucu, pengertian. Rara.... what the hell, you thinking about?  Mood-ku masih buruk, buat belajar Bahasa Perancis, dan belajar budaya Perancis. Gimana mau belajar, kalau object-nya saja membuatku ingin mati muda. Ih... kenapa harus ada bule itu disekolah?  Pukul 6.45 sekarang masih tersisa 15 menit lagi untuk mengajar, memang di sekolah baruku ini. Waktu masuknya pukul 7.00 tidak boleh terlambat baik siswa mau pun para guru.  "Pagi Rara," sapa Sheilla dengan semangat. "Pagi juga ibu Sheilla," jawabku sambil tersenyum. "Hush, enak aja ibu. aku kan belum jadi ibu-ibu, nikah aja belum," kata Sheilla merajuk. "Nggak-papa, kan sekarang udah jadi ibu guru. eh btw, gimana urusanya dengan Ryan?" Bukan apa-apa aku hanya merasa tidak enak karena gara-gara aku juga. "Ah, itu mah udah biasa. paling di ancam atau aku yang merajuk balik, dia udah nggak berani lagi. ingat prinsipnya, cewek selalu benar!" katanya dan kami tertawa bersama. "Masuk kelas mana hari ini?" Tanya Sheilla lagi "XII IPS 2, kenapa?" "Bukan itu kelas di Gerry?" Tanya Sheilla. "Bukanya Gerald?" Ralatku. "Hah, itu maksudnya. di satu sisi aku semangat mengajar di kelas itu karena ada cogan, jadi segar bisa cuci kata, di satu sisi aku sebel bangat karna kelakuan anak itu naudzubillah, tapi kita sebagai guru nggak boleh gampang menyerah begitu dong, iya nggak?" Tanya Sheilla meminta persetujuan. "Anak itu, memang kurang ajar ya?" Saatnya mengorek informasi lebih dalam.  "Ya gitu. Mungkin kebiasaannya."  "Kenapa nggak dikeluarin aja?"  "Jangan dong! Nanti, stok cogan di sekolah kita nggak ada lagi." Aku hanya mencibir dalam hati. Sama aja ibu guru ini, ganjen juga. Aku karena, bule aja. Kalau bukan bule, sudah ku tendang bokongnya semalam. Tapi, melihat wajahnya. Aku luluh, aku bisa melihat masa depan dimatanya. Aku bisa melihat bahwa, jodohku bule. Duh... Rara... mabok apa sih? Ngelantur mulu.  "Aelah Miss. Udah jauh aja ngayalnya. Tunanganmu, lagi kerjalah. Aku tahu, dia nggak mungkin macem-macem."  "Dua macem pun tak apa." Dengan begitu, aku akan cepat terbebas dengan Mas Rangga, dan menikah bersama bule.  Duh... si bule nih, dia beneran mau nggak ya? Kenalin ke saudaranya. Aku benar-benar mengharapkan, bahkan dijodohkan. Aku sudah bertekad jodohku harus bule, dengan hidung mancung, putih, tinggi, mata biru, dan rambut pirang. Buat orang bule, itu hal normal. Dan aku harus menikah sama bule.  Aku memeluk tubuhku sendiri, tidak sabaran mau kenalan sama bule.  Belajar dulu bahasanya, oi!  "Tahu, tempat kursus Bahasa Perancis dimana?" Tanyaku ke Sheilla.  "Aku nggak pernah dengar. Kalau yang Bahasa Inggris aku tahu."  "Itu, memang berserak. Aku mau Bahasa Perancis."  Sheilla mengedipkan bahunya. "Belajar aja sama Gerry."  "Emang dia mau?"  "Orang seperti mereka. Pasti, mau kalau kita mau mengenal daerah mereka."  "Dih... masak. Aku yang guru minta diajarkan anak murid."  "Belajar bisa darimana saja, dan siapa saja." Kalau dirasa-rasa memang ada benarnya juga.  Eh... bule belagu! Ajarkan Miss yang comel ini ya.  *** Tiba di kelas, suasana kelas sedang heboh seperti biasanya, entah seperti suasana di pasar atau suasana di hutan; kalian bisa memilih sendiri mana yang sesuai dengan keadaan sekolah kalian.  Aku pun berdehem, untuk meredahkan suasana mengingat semua kelakuan anak muridku yang sangat brutal ini.  Semua yang pada sibuk ke kegiatan masing-masing kembali ke kesadaran dan segera, menduduki bangkunya masing-masing.  Setelah ku perhatikan semuanya tenang baru, aku membuka suara.  "Ok, good morning class."  "Morning Miss," jawab mereka serempak.  "How's life?"  "Life is wonderfull," jawab mereka kompak. "Life is wonderland," tiba-tiba ada yang nyelutuk yang membuat seisi kelas tertawa. Kuperhatikan, seorang anak lelaki yang agak sedikit manis anaknya, karna kulitnya hitam manis, bukan hitam kelat, ku lihat di name tag-nya ah Toby namanya. "Wah, kebanyakan nonton Avangers nih."  "Awkarin sama Young lex kali," lah apa hubungganya?  "Bukan, kebanyakan makan micin," tambah lagi yang di belakang Toby  tadi namanya Dani.  "Are you ready for study today?" Tanyaku untuk mengalihkan lelucon yang sebenarnya menurutku garing.  "No, Miss!" jawab mereka serempak, aku hanya bisa mendesah pasrah dan bersabar.  "Yang merasa tidak ingin belajar, silahkan keluar!" sindirku halus, bukan apa-apa aku hanya ingin memberikan mereka sedikit dispensasi, toh percuma mengajar kalau niatan mereka tidak ada dan hanya akan membuat kekacaun.  Tapi tidak ada yang berani keluar, "Baik, kalau tidak ada yang berani keluar,mari kita belajar dengan serius." Dan terjadilah pembelajaran tersebut, semuanya konsentrasi, mungkin mereka menyukai pembawaan mengajarku yang santai tapi cepat di mengerti, jika ada yang bertanya aku pasti akan mengulangnya lagi, dan menjelaskan bagian mana yang belum di mengerti itu.  Tiba-tiba ada serangan mendadak, eh tidak ada titisan dedemit, yang menyita masuk dengan wajah innocent-nya. Aku sempat meliihat manik mata itu yang menyiratkan kekecewaan.  "Kenapa baru datang Gerald?" tanyaku. Fyi, aku sengaja tidak menutup pintu karna trauma dengan kejadian kemarin. Titisan dedemit itu hanya berlalu dan mengabaikanku. Aku sangat geram tapi ku tahan. Aku ini sebenarnya gurunya atau adiknya? Hush---- sabar Rara orang sabar di sayang mas Rangga.  Ah Mas Ranggaku. Mas dedek nggak tahan di kelas ada titisan dedemit.   Aku juga tahu kalau aku salah karena tidak menempati janjiku.  *** Flashback  Dengan kesadaran yang masih setengah, aku mengabaikan rasa penatku, aku ini seorang guru aku tidak mungkin memberi panutan kepada anak muridku yang tidak patut dicontohi. Dengan berganti baju secepatnya, aku hanya memakai kaos biasa, meskipun guru aku harus memberi contoh berpakaian yang baik, tapi ku pikir ini tidak formal, jadi tidak masalah. hanya kaos biasa, dan memakai celana jeans pendek selutut. Aku mengikat rambutku kucir kuda. ini saja sudah cukup, ah sedikit liptint agar aku tidak terlihat pucat karena kelelahan. Segera aku mengambil kunci motorku, aku tidak menjumpai bunda, mungkin beliau sedang beristirahat.  Keadaan rumah sepi, dan ketika mau keluar, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Aku hanya mendesah pasrah. Ingin ku terobos, tidak punya mantel. Bawa mobil? Jangan di tanya, aku tidak pandai menyetir. Dilema, haruskah aku tidak kesana? Tapi sudah janji, kalau aku kesana dan Gerald tidak ada gimana? Ingin menelpon aku tidak punya nomornya.  Bantu Baim ya Allah, Baim harus bagaimana ini? Sudah terlanjur janji tapi keadaan tidak memungkinkan, tidak datang? No, no ini bukan aku bangat aku orang yang sangat tidak bisa mengingkari janji. Aku tidak mau menjadi orang munafik.  Disuruh Aldo antar? Si kunyuk itu tidak ada di rumah.  Sekitar 2 jam aku menunggu hujan pun reda. Dan segera aku bergegas melajukan motor maticku.  **** Sampai di sekolah keadaan sangat sepi, maklum hujan baru reda jadi keadaan dilangit masih gelap.  Aku menyusuri koridor sekolah, jangan kalian membayangkan yang horor, aku tidak takut hantu, aku lebih takut ke manusia karena manusia bisa dirampok, dibegal, dan banyak kasus lain. Aku nggak mau mati konyol seperti ini, Ampun hamba ya Lord, hamba janji akan rajin sholat dan sedekah. ah dasar parnoan, situasinya memang sepi jadi sangat mendukung seperti ini. dan aku pun langsung bergegas, mencari keberadaan Gerald, nggak mungkin di kelas, karena pasti sudah ditutup semua ruangan oleh penjaga sekolah, sepanjang koridor juga sepi. lapangan? Nggak mungkin karena tadi hujan, toilet? Aduh apalagi itu UKS? Tidak karena pasti sudah di tutup, kantin? Ok ku coba cek disana, karena yang punya kantin memang disitu rumahnya, jadi tidak mungkin di kunci.  Nah itu dia, panjang umur!  kulihat Gerald sedang duduk sambil memeluk badannya sendiri, sepertinya dia kedinginan. padahal dia sudah memakai hoodie berwarna abu-abu yang sangat cocok di badannya, dan membuatnya makin tampan. Oh Tuhan, rambut tebalnya, membuat tanganku gatal ingin meremas rambut itu. Setiap melihat anak ini, keinginan untuk memeluknya begitu besar. Ada apa ini?  Aku membayangkan, keadaan dingin seperti ini, dengan turunnya salju. Ditemani bule tampan bermain salju, aku akan melemparinya dengan salju dan ia mengejarku. Betapa romantisnya. Aku sudah berkhayal jauh.  Duh, nih dedek gemes kalau saja tidak menyebalkan, sudah ku bungkus dan ku karungin. Setelah itu, kepelihara jadi anak kesayangan. Kalau boleh aku akan merawatnya seperti anak kecil, seperti menyuapinya, memakaikan baju, memandikan. Eh? Astaga, otakku sudah kotor. Aku tidak mungkin memandikan, ia sudah berbulu.  Gerald belum menyadari keberadaanku, dan rupanya Gerald duduk di bangku kantin yang tadi siang aku dudukin.  Aku pun langsung menghempaskan bokongku, dia langsung menyadari keberadaanku, dan hanya melirikku. Tanpa berniat marah, kecewa, ngamuk, nangis guling-guling, atau memelukku? Dan kenapa suasanaya jadi krik... krik.. begini. Aku pun hanya diam, belum juga membuka suara. "Maaf," hanya yang keluar dari kataku meskipun statusku guru, aku megakui kesalahanku, dia hanya diam dan menatapku, seperti sedang ingin menalanku. matilah aku! meskipun dia masih muda tapi tidak menutup kemungkinan dia akan berbuat kekerasan disini, dia bisa saja mengebrak meja, menarik tubuh kecilku, setelah itu dia memeluk dan menciumku sampai lemas mungkin? Kalau dicium, aku pasrah aja. Tapi, manequin didepanku hanya diam.  "Maaf Gerald. Miss lupa kalau sudah janji sama kamu, tadi Miss capek bangat sampai kelupaan, di tambah beban mengajar, tadi juga sudah mau kesini dan hujan, ini saja baru reda jadi baru bisa sempatin," kataku beralasan banyak seperti pacar yang ketahuan selingkuh.  Terdiam beberapa menit, dan tidak ada respon sama sekali. si dedemit ini lagi dan lagi hanya menatapku, aku yang ditatap menjadi kikuk, suasana menjadi dingin, biasanya panas, sekarang ditambah tatapan dingin. Nih, anak suka sekali menatapku. Aku tidak bisa ditatap sedalam itu, yang ada aku jadi salah tingkah seperti ABG ingusan. Aku maunya, langsung dicium saja daripada ditatap mematikan seperti itu. Aku menutup mataku, mana tahu menutup mata, dicium beneran. Aku menunggu beberapa saat, dan tidak ada pergerakan. Aku membuka mataku, dan masih melihat wajah yang sama. Yang siap menelanku. Aelah, padahal aku sudah mengambil udara sebanyak mungkin, agar aku kuat diciumnya.  "Gerald, sorry. " hanya itu kataku. Again and again, suasana makin dingin di tambah aku tidak membawa jaket. Aku hanya merapatkan tubuhku, dan memeluk tubuhku sendiri. Aku rela kok, kalau ia meluk aku. Aku mau tahu, gimana rasanya memeluk bule. Pasti, jantungku tak karuan, dan aku gemetaran.  Tiba-tiba si dedemit bule membuka hoodienya dan memakai kepadaku layaknya adengan romantis dalam film Korea, aku hanya diam memperhatikan dan jadi salah tingkah, ah ingat umur Rara.  Dan langsung terasa hangat. "Kamu?"  "Pakai," akhirnya si dedemit membuka suara juga. "Makasih," hanya itu kataku. Dia pun langsung beranjak. "Gerald!" Teriakku. "Gerald, bahkan kita belum bicara." dia langsung bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang rasanya ingin nangis. Kenapa gini amat ya jadi guru? Dia berlagak Seperti seorang kekasih yang merajuk. Sialan!  Dan aku pasrah sambil berjalan ke parkiran. ini sia-sia. kami bahkan belum sepakat tentang peraturan dan kesalahan yang pagi tadi dibuatnya disekolah. Ah bunda, Rara di acuhkan anak kecil bunda.  Dan pada sore itu, aku pulang dan keadaan tidak memihak. aku pulang dengan derai air mata, dan derai air hujan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN