Prince Mercusuar

1185 Kata
Aku langsung berjalan, secepatnya menuju ruang Kepsek.  "Rara dari mana?" Tanya Sheilla.  Aku pun hanya tersenyum, dan berlalu aku juga bingung harus menjawab apa? mau bohong juga, aku mau mengarang apa? Kalau aku jawab jujur itu namanya bunuh diri.  "Aku tadi sama Gerald di rooftop," oh No!  Aku mengetuk pintu, dan masuk dengan suasana, ngeri-ngeri sedap.  "Silahkan duduk Rara," aku pun membalas dengan senyuman, sambil merapalkan doa. Semoga tidak ditanyai macam-macam.  "Ibu dari tadi mencari Rara."  "Iya."  "Ibu cuman, mau tanya gimana perkembangan, bimbingannya?" Demi puja puji kerang ajaib, otakku yang serasa di ikat tadi langsung seperti terbang bebas ke awan.  "Ya, Alhamdulillah sedikit demi sedikit ada perubahan,udah jarang cabut, PR di buat, bajunya sudah rapi di masukan, dasi juga sudah dipasangn" aku yang pasangin tiap pagi. Kataku dengan sangat semangat, karna masalah yang satu ini sudah ada sedikit hasilnya meskipun belum semuanya.  Bu Nunung, hanya mangut-mangut, "Bagus, dari awal juga ibu sudah ngerasa kamu pasti bisa," Aku merasa  tersanjung. "Iya, terima kasih buk."  "Ok, terima kasih Rara, ibu cuman mau tanya itu. Nanti Ibu akan selalu pantau perkembangannya. "  "Baik bu, yaudah Rara sekalian, permisi buk, assalamualaikum."  "Waalaikumussalam wr wb. Eh, Rara kemana tadi emangnya?" Oh God. "Tadi sama Gerald bu," jawabku jujur.  "Yaudah nggak-papa, ibu mengerti. Yang penting jaga image kamu. Jangan sampai dia anggap kamu temannya, karena di mana-mana kita lebih tinggi dari mereka, jangan mau di remehkan sama mereka," ah kalau ini dengan si dedemit sudah nggak berlaku kalian sudah tahu kan gimana interaksi dia sama aku.  "Baik bu," kataku, dan keluar dari ruangan Kepsek.  Masih teringat, aduh gimana ya, tapi aku sudah nyaman. Aku lebih suka aku apadanya jika sedang berhubunggan dengan si dedemit. Karena di situ akan kelihatan dia aslinya. Aku juga malas harus terlalu menjaga image karena sudah runtuh imageku di depan si dedemit kesayaganku itu.  Tidak masalah, cukup aku dan si dedemit aja yang tahu bagaimana kami masing-masing, yang penting kedua belah pihak sama-sama nyaman.  "Rara, belum jawab pertanyaan aku ya." tagih Sheilla lagi.  "Tadi, keliling-keliliing sekolah, maklum belum pernah keliling sekolah, sekolah kita kan luas," aku tidak sepenuhnya bohong, karena mau ke rooftop tuh harus keliling sekolah dulu.  "Eh, gimana perkembangan kamu sama Ryan?" Kataku cepat untuk mengalihkan.  "Ya gitu terus, tapi kami udah bahas jenjang serius. Ya kita berencana, mungkin tahun ini tunangan dulu, kalau sudah sama-sama siap tahun depan nikah Insya Allah, minta doanya saja."  "Cie... yang mau nikah, ok selamat, yang terbaik aja buat kalian."  "Makasih, gimana kamu sama tunanganmu? Kapan kayak kami juga?" Ah Mas Ranggaku, udah lama nggak cas cinta rupanya.  "Ya, baik aja sama mas Rangga, untuk jenjang serius, belum kepikiran kesana, aku masih terlalu muda dan belum siap lahir batin buat menikah dalam waktu dekat."  "Iya sih, tapi apa kamu nggak mikir, sorry ya bukan mau mencampuri urusan, tapi apa kamu nggak mikir tentang Mas Rangga, usianya sudah matang buat menikah, pasti sudah ada tuntutan dari orang tuanya buat menikah," aku nggak pernah mikir sampai sana, tapi memang ada benarnya juga. "Iya, aku nggak pernah bahas, Mas Rangga juga, dia paling selalu bilang akan setia menungguku sampai aku siap."  "Tapi, itu sebagai alibi saja, dia itu pria dewasa, butuh kepastian apalagi dari orang tuanya, sorry kalau aku jadi ikut campur, itu yang selalu terpikir olehku, ketika kamu cerita tentang Mas Ranggamu, dia pasti kepikiran dan seperti beban sendiri buat dia, dia nggak mau membebani kamu, dengan permintaan itu karena dia tahu kamu belum siap, tapi aku nggak tahu sampai kapan kamu akan siap," kok menohok bangat ya.  "Sorry, kalau sok menggurui," tambah Sheilla lagi. "Nggak-papa, malah bagus biar hatiku sedikit terbuka masalah hubunganku, memang apa yang kamu pikirkan semuanya benar, nanti ya aku coba diskusikan sama Mas Rangga."  "Iya, kita udah jarang ya, cerita-cerita ya," iya, awal-awal aku ngajar aku sering bersama Sheilla, sekarang waktuku terambil semua oleh Gerald.  Aku pun hanya membalas dengan senyuman.  "Gimana kabar brondongmu?"  "Brondong?"  "Si Gerry."  "Oh, Gerald ya biasa aja, tapi sekarang dia lumayan banyak perubahan, nggak se berandalan dulu."  "Tahulah, yang jadi tutornya."  "Kok tahu?" "Aduh, macam nggak tahu aja orang Indonesia. Anak kucing beranak di kampung sebelah aja, kampung tetangganya pada tahu semua kok."  "Aku cuman mau buat dia berubah, dan terbaik buat dia, itu kan buat masa depannya."  "Tahulah, yang jadi masa depannya si brondong," goda Sheilla.  Ini apa sih maksudnya? "Apaan sih, dia tuh cuman muridku aja, aku udah punya mas Rangga."  "Aku kan, nggak bilang kamu pacaran, wah ngarap ya pacaran sama si brondong? patah hati satu sekolah nih, kalau ada yang berhasil menggaet princenya mercusuar."  "Ya nggaklah." sial kok aku jadi salah tingkah kayak ABG labil pula. "Cie, salting," goda Sheilla lagi.  Aku pun meninggalkan Sheilla yang masih sibuk menggodaku.  Wait? Mana handphoneku? Sepertinya ketinggalan di rooftop deh.  *** Aku pun berjalan lagi menuju rooftop buat mengambil HP.  Tiba di tengah jalan aku berpapasan. dengan si dedemit. "Aku udah pulang," dih PD gila ni anak, siapa juga yang mau jumpa sama dia lagi, cukup hari ini di monopoli dia semua.  "Miss, nyari HP."  "Oh, ini," katanya sambil menunjuk handphoneku.  Aku pun langsung mengambil, dan langsung bergegas mau pulang.  Tanganku di cekal, oleh si dedemit, aku pun menoleh. "Pulang bareng."  "Nggak, udah cukup sehari ini, kamu monopoli Miss."  "Ck, lupa kalau kita mau les? Sekalian lah."  "Yaudah, terserah."  "Dih, kenapa sih? Kena marah buk Nunung? Sini biar Gerald marahin balik."  "Apa sih? nggak adalah, emang kamu kira aku masih anak kecil yang masih kena marah sama ibunya?"  "Bukanya, kelakuan kamu kayak anak kecil?" sialan memang, Refleks ku cubit si dedemit.  "Aw... suka bangat si KDRT."  "Jangan, mulai lagi!" kami pun berjalan beriringan. Jangan lupakan tatapan dari semua fans dedemit, tatapan ingin membunuhku, tatapan memuja, dan semua tatapan.  "Udah, jangan hiraukan mereka," bisik si dedemit dan mengenggam tanganku. Dan selalu nggak bisa aku lepaskan.  Aku menjadi kikuk, tidak biasa menjadi sorotan, si dedemit biasa aja, karena sudah biasa menjadi sorotan. "Yaudah, ambil tasmu, Miss tunggu di halte aja nggak enak banyak gosip ntar, itu aja guru-guru semua udah pada tahu."  "Yaudah, bagus dong."  "Udah sana, atau nggak ada pulang  bareng!"  Kami pun pisah, aku menuju ruangan guru, si dedemit ke kelasnya.  Kebetulan  memang sudah bel pulang.  Aku pun izin pulang cepat, Kepsek udah tahu alasanku, guru lain mereka tidak berani protes karena ini perintah sendiri dari Kepsek.  Aku pun berjalan menuju halte, dan duduk menunggu di situ.  Sialan si dedemit kok kenapa lama bangat sih. Dia kayak nggak tahu aja, hal yang paling di benci Rara : menunggu. Nah itu dia, si dedemit datang dengan mobil BMW warna hitam, Dia keluar dari dalam mobil, dan membuka pintu penumpang, lebay bangat ya. "Nggak usah berlebihan deh."  "Silahkan masuk princess." si dedemit mempersilahkan aku masuk.  "Cie... udah serasa di kerajaan aja ya." lah Itu Sheilla sama Ryan?  Aku menutup wajahku dengan tas, moment yang sangat memalukan sekarang. "Pangeran jemput, tuan putri, tapi kok nggak pakai kuda ya?" Double sial.  "Ibu Sheilla," sapa Gerald.  "Ah, brondong manisku," sapa Sheilla dengan senyum mesem-mesem.  "Bye, have fun, siap-siap patah hati nih." Kata Sheilla, berlalu dengan Ryan.  Ah.... apa maksud Sheilla coba?  Ya Tuhan, semoga tidak ada gosip yang tidak mengenakan di sekolah besok.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN