Tertangkap Basah

1949 Kata
Aku dan Gerald sudah sedekat urat nadi, kami sudah seperti dua sahabat gila yang tidak lagi main jaim-jaim. Aku nyaman di dekatnya, dan ia nyaman bersamaku.  Aku melihat wajahnya dari samping, manusia tengil ini entah dia sadar atau tidak, ia begitu tampan. Tapi sepertinya ia tidak sadar. Hidung dan matanya yang jadi favorit. Memang, bule memiliki kelebihan di bagian itu. Ku lihat bibir Gerald, ya Tuhan bibirnya menggoda iman dan otak polosku. Aku tidak pernah kissing dan sekarang mendadak ingin mencium bibirnya. Ku perhatikan rambut tembaganya yang begitu tebal, pasti wangi.  Ku perhatikan tangannya yang berputar-putar di setir. Si bule ini, banyak bulunya. Ingin ku cabut bulu-bulu halus di tangannya. Tangannya juga halus, maklum saja, kebanyakan tangan lelaki pasti halus.  Dan dedemit ini tinggi sekali, ini memang normal untuk ukuran bule. Ya Tuhan, Rara mau punya suami bule. Biar bisa punya anak bule yang comel-comel.  "Gerald." Ia menoleh, dan mendadak jantungku marathon 1000 kali lebih cepat.  Aku ingin memujinya, tapi sadar manusia tengil ini akan kepedan dan mengeluarkan sifat narsis lainnya.  "Aku tahu aku ganteng." Aku pun sadar dari lamunanku. Mengagumi karya Tuhan yang luar biasa ini.  "Suck!" Ia tertawa.  Dan sekarang mendadak hening. Jangan tanyakan wanginya mobil dedemit ini wangi bangat, entah pakai parfum atau pengharum mobil tapi wanginya sangat bikin nyaman. Wanginya Gerald bangat. Mobilnya saja wangi apalagi orangnya. mungkin itu juga yang menjadi alasan aku nyaman berada di dekatnya, aku nggak terlalu tahu parfum apa yang di pakai karena aku nggak pernah tahu atau hafal nama-nama atau merek parfum hanya satu parfum yang aku tahu. Parfum strawberry kesukaanku. Itu memang berlaku dari aku kecil sampai sekarang. Jadi jangan tanyakan parfum apa yang di pakai si dedemit.  "Gerald, kita belajarnya sesekali di rumah kamu dong."  "Emang kamu mau ke rumahku?" Aku pun mengangguk, karena di satu sisi aku penasaran bagaimana rumah si dedemit, bagaimana ayah bundanya, Pengen kepo aktivitas di rumahnya gimana.  "Yaudah ayok."  "Eh, tapi ke rumah Miss dulu, ganti baju nanti baru ke rumahmu."  "Ok."  Si dedemit, melaju mobilnya ke rumahku, didalam mobil sesekali, dia bercanda, membuat kelucuan, dan bermain tebak-tebakan.  "Coba tebak ya? seorang kakek punya tongkat ajaib, yang bisa berubah jadi apa aja, tiba-tiba sang kakek lewat jembatan dan tongkatnya jatuh ke air, pertanyaan tongkatnya berubah jadi apa?"  "Jadi air? Jadi tongkat? Jadi batu? Jadi terbang." "Bukan."  "Jadi sukses, ih Gerald jadi apa?"  "Coba dulu," Tantang Gerald, aku semakin menjadi penasaran. "Jadi dedemit, jadi pacar Gerald?"  "Wah ketahuan nih, mau bangat ya jadi pacar Gerald rupanya."  "Rupanya, kamu Pede bangat ya."  "Nggak-papa, itu fakta kalau aku ini ganteng pakai bangat, semenjak dari orok." abaikan narsis gila dedemit ini, kalau lagi kumat.  "Jadi apa jawabannya?" Tanyaku penasaran.  "Jadi basah. Hahahaha," baru kali ini aku lihat si dedemit ngakak seperti itu "Hahaha." aku pun tertawa. "Gimana? Masuk akal kan?" aku hanya mangut-mangut.  Kami hanya tertawa sepanjang perjalanan, karena lelucon yang di buat si dedemit.  Tiba di rumah, aku pun turun, "Mau ikut masuk atau nunggu?" Tawarku. "Nunggu aja." Aku pun masuk ke dalam rumah.  "Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam," Eh? Musuh bebuyutan rupanya. "Mana bunda?"  "Di kamar kayaknya."  Aku pun menuju kamarku, berganti baju, hanya kaos santai dan celana jeans pendek. Seperti setelan biasa, jangan lupa rambut kucir kuda.  Aku menuju kamar bunda, aku mengetuk kamar bunda.  Tok.. tok... tok..  Sekilas info saja, aku nggak pernah masuk ke kamar bunda, karena memang itu peraturan yang di buat agar tidak sembarang masuk kalau itu bukan hak kita.  "Iya?" Bunda keluar dari kamar, dengan memakai daster, baju kebangsaan para ibu-ibu di Indonesia.  "Rara, mau izin, hari ini belajar lesnya di rumah Gerald, bolehkan bunda?"  Meskipun aku sudah dewasa, tapi apa-apa yang aku lakukan harus meminta izin bunda, apalagi aku sangat di manja bunda, "Yaudah, nggak-papa." "Thanks surgaku. Rara berangkat."  "Assalamua'alaikum."  "Waalaikumussalam, hati-hati."  "Wah, nggak nyangka aja, sekarang uda pindah haluan ke anak-anak, dasar pedofil."  "Kayak ada suara kaleng rombeng."  "Tapi boleh lah, seleramu, ganteng anaknya."  "Lo homo?"  "Enak aja." Elak Aldo. Musuh bebuyutan, kami jarang berinteraksi karena dia selalu kelayapan.  Dan aku memang nggak tahu tiba-tiba musuh bebuyutan sudah di depan sama si dedemit, "Kakak ipar gue, masih muda tapi ganteng."  "Awas! nih anak ngapa sih?" Si dedemit dan musuh bebuyutan salaman, aku pun masuk ke dalam mobil. "Titip kakak gue yang manja," aku hanya melotot.  "Siap."  "Kok bisa, ngobrol sama musuh bebuyutan?"  "Nggak tahu, pas tadi aku mau nyusul tiba-tiba sudah ada dia, jadi ya kita kenalan." "Oh." "Aldo, orangnya lucu ya," Lucu, lubang hidungnya lucu. "Lucu? Resek iya!"  **** Tibalah kami di sebuah rumah yang sangat kontras dengan kemewahan, keindahan.  Pintu gerbang di buka oleh satpam. Aku pun hanya tersenyum, seperti biasa, memberi kesan baik di depan orang-orang.  Aku di turunkan di depan, yang langsung berhubungan dengan garasi, jangan tanyakan mobil si dedemit, banyak cuy, fiks ini anak orkay, boleh masuk kriteria suami idaman ini mah.  Di depan rumahnya, terdapat rumput Jepang, yang sangat rapi ini sangat terawat, dan beberapa bunga. Aku ngak terlalu hafal nama-nama bunga, kecuali bunga mawar dan bunga bangkai tentunya. Di samping tembok pembatas ada kolam ikan, pokoknya cantik dan nyaman rumah si dedemit.  Aku rela jadi istri dedemit kalau bakalan punya rumah segede ini. Bukan matre, tapi aku hanya berpikir realistis saja, apalagi kalau sekarang semua serba mahal, cabe saja mahal, apalagi aku yang tidak bisa kerja dapur jadi, harus cari suami kaya.  "Ayo." Di dalamnya, waoh, jangan di tanya pokoknya, sulit di deskripsikan. Banyak peralatan mahal, banyak keramik, banyak kaca. Kalian cukup bayangkan saja seperti di TV yang rumahnya jadi orang kaya.  "Tunggu sini ya," aku hanya mangut. Si dedemit sudah ke belakang, rumah ini pokonya luas bangat.  "Silahkan di minum nyonya." tiba-tiba seorang perempuan paruh baya membawa minuman jus jambu dan beberapa makanan ringan.  "Ah, iya makasih, panggil Rara saja." "Iya, temanya Gerald ya? Baru kali ini dia bawa temannya ke rumah."  "Nggak bi, saya gurunya."  "Oh guru ya. Tapi masih muda bangat, kirain tadi malah pacarnya."  "Bentar lagi pacar bi," lah, Si dedemit tiba-tiba sudah di belakang. Dia sudah berganti baju, jangan tanyakan kadar gantengannya. Kan udah di bilang. Pokoknya keren saja si dedemit.  "Yaudah, makan dulu yuk," si dedemit mengajak makan.  "Nggak usah lah," nolak-nolak mau, padahal aslinya ingin makan semua makanan. "Makan! kita kan makan udah dari pagi tadi"  Aku pun mengikuti dedemit rumahnya, di belakag ada ruang TV besar udah kayak bisokop, ini rumah impian bangat ini mah.  Di ruang TV langsung ada berhubung tangga menuju lantai 2, aku nggak tahu berapa kamar tidur disini, karena aku nggak sempat hitung.  Kami pun tiba, di meja makan, meja makannya saja sangat besar, lebar panjang. Muat untuk sepuluh orang.  Di atas meja sudah disiapkan berbagai macam makanan , wah lihat makanan ini aja udah bikin kenyang sangking banyaknya.  "Silahakan di makan," kata pelayannya. "Makasih ya."  "Oh, iya bi besok masak buat bekal dua ya, buat kesekolah," kata dedemit "Siap." kata pelayan itu dan pergi ke belakang, entah berapa banyak lagi ruangan.  Kami hanya makan dalam diam, "Mana bunda sama ayah kamu?" Tanyaku kepo maklum, dari tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran bundanya, kalau pun ayahnya sudah pasti sibuk.  "Sibuk."  Si dedemit sudah selesai makan, aku pun cepat-cepat menghabiskan makananku, "Sudah? ayo!" kami pun menuju lagi ruang depan tadi.  "Jadi belajar apa hari ini?"  "Gerald tadi pagi ada Pr akuntasi." Walau aku bukan jurusan akuntasi, setidaknya aku menguasai semua pelajaran SMA.  Dan aku pun menjelaskan, bagaimana kredit dan cara penyelesaian. Si dedemit ini pun, untung otaknya tidak bebal, cepat tanggap.  Tak terasa sudah jam 7, setelah kami belajar satu setengah jam.  "Gerald mau mandi, Miss mandi aja di kamar depan, bajunya ganti aja, pakai baju Gerald."  "Ih, mana bisa. pasti kebesaran." Protesku. Badanku mungil, dan Gerald itu sangat tinggi. "Udah nggak-papa, kaos aja. celana yang itu aja."  "Yaudah," kami pun masing-masing mandi aku pun mandi di kamar, ini seperti kamar untuk tamu, kamarnya luas dan nyaman. Dua kali luas kamarku di rumah.  Pokoknya apapun yang berhubungan dengan Gerald nyaman.  Aku pun sudah selesai, tiba-tiba pintu di ketuk. "Ini baju Gerald, yang paling kecil," Aku pun mengambil baju itu, dan mencoba memakainya. Not bad bajunya menutupi sampai lutut, legannya lumayan, wangi bangat bajunya. "Gerald, mau main basket, mau ikut atau di antar pulang?"  "Ikut," Ujarku semangat. Si dedemit, keluar aku pun ikut, dia hanya bawa motor its ok. Aku nyaman saja kalau dengan si dedemit ini mah.  "Jangan bilang main basketnya di sekolah, jauh kali Gerald, lagian di rumah kamu secara gede bangat pasti ada lapangan basket."  "Ada kok, tapi lebih suka di sekolah, karena di situ banyak kenangan."  "Kenanagan sama mantan ya?" "Sama calon istri."  Aku naik motor dengan si dedemit pun aku memeluknya karena cuaca sangat dingin dan tidak ada jaket atau apapun jadi jangan harap ada adengan jaket lagi. Cukup dengan memeluk saja sudah lebih dari jaket kan? Tiba kami di sekolah, keadaan sekolah seperti malam kemarin, penerangan dan kami langsung menuju kantin, jangan lupakan tangan kami yang saling bergandengan sudah seperti best couple abad ini. Aku tidak takut karena sudah ada titisan dedemit jadi dedemit yang asli nggak mungkin berani dong ya.  Si dedemit main, di drible-drible pantul dan hap. Langsung masuk ring. Tidak pernah meleset. Aku yang melihat hanya sibuk tepuk-tepuk tangan "Ayo Gerald. Gerald the best. Gerald ganteng."  Si dedemit sangat bersemangat mainnya.  "Mau main nggak?" tawar si dedemit.  "Nggak bisa."  "Belajar." aku pun mencoba mengambil bola, pas mau di drible saja bolanya sudah jatuh dengan tidak mulusnya. Jadinya gelindang dengan tidak cantik, apalagi mau masuk ring.  "Ayo, semangat Miss, pacar Gerald," asli, jantungku mau copot. Bukan karena, dibilang pacar. Karena capek, seumur-umur, aku tidak pernah olahraga.  Hahh..... hahh... hahh..  Meskipun nggak ada hasil, tapi aku cukup keringatan, lumayan ni olahraga malam-malam.  Aku pun duduk di samping Gerald sambil meluruskan kaki. "Kamu nggak capek ya main segitu semangatnya? Aku aja yang hanya beberapa kali udah capek bangat."  "Nggak udah biasa, makanya olahraga," kata Gerald sambil menarik hidungku "Gerald." teriakku. Si dedemit bangun dan aku langsung mengejarnya. Aku mengambil apapun yang bisa ku ambil buat melempar Gerald. Tapi selalu meleset.  "Awas aja ya," ancamku. Sampai capek dan berhenti sendiri. Kami pun duduk lagi, menetralkan nafas masing-masing.  Tiba-tiba aku mencubit perut si dedemit dengan sekuat tenaga "Aw....." "Balasan." aku pun berlari di kejar si dedemit tapi aku langsung berlari menuju parkiran.  Si dedemit mengejarku, kalian tahulah seberapa tenaga perempuan. Dan si dedemit berhasil.  "Dapat," dedemit langsung memelukku dari belakang.  "Lepas Gerald, nanti dilihat orang."  "Nggak ada orang," kata si dedemit sambil mencium rambutku berkali kali.  "Lepas ih!" Renggeku, seperti anak kecil. "Lepas tapi ada hukuman." "Apa?" "Pulangnya harus peluk Gerald, sambil nyanyi."  "Tadikan pergi udah peluk." "Itu tadi pembukaan, sekarang penutup, atau nggak pulang kita tidur di sekolah aja."  "Fine," aku mengalah saja. Lagian, memeluk dan menyanyi saja tidak susah kan?  Kami pulang, aku pun memeluk dedemit. Satu kesukaan sekarang meluk dedemit, Ya tuhan, aku nyaman bersamanya, aku suka wanginya, suka memeluknya. "Ah, tahu gini tiap hari bawa motor aja."  "Ih, ganjen!"  "Biarin, padahal dia pun senang juga tuh, dari tadi erat bangat meluknya," aku pun tambah memeluk si dedemit "Ah... sesak nggak bisa nafas!" Kata Gerald dengan susah payah. "Bodo!" "Mana lagunya?" Jangan harap aku mau menyanyikan lagu romantis Ed Sheran Perfect atau lagu romantis lainnya. Kalian salah aku nyanyi lagu cicak-cicak di dinding.  ♪♪ Cicak-cicak di dinding. Diam-diam merayap. Datang se ekor nyamuk. Hap lalu di tangkap.  Gerald ganteng. Tapi sayang sarap. "Itu lagu dadakan dari mana?" "Dari tadi."  "Lagu lain lah," pintanya. "Nggak, itu udah cukup."  "Ok, Gerald ada pantun."  Jalan-jalan jumpa itik Itiknya lagi makan batu Pacar Gerald yang cantik I love you Lah, memang ada itik makan batu?  "Enak aja, pacar-pacar," protesku. "Nggak-papa."  Tibalah, kami di depan rumahku. Dan aku melihat, tunanganku yang tidak ada kabarnya bertengger di depan mobilnya.  Ia pun melihatku, yang sedang tidak elitnya memeluk anak muridku.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN