Asli, aku langsung meloncat dari motor tersebut. Dan mendekati Mas Rangga, yang begitu mencemoohku. Ia pasti tertawa, aku tidak pernah memeluknya. Sebenarnya hubungan yang kami itu, kaku. Karena, Mas Rangga orang yang serius dan kaku. Keberanianku lenyap, setelah melihat raut wajah Mas Rangga yang tak enak dipandang. Aku hanya menunduk, sambil memainkan jari-jari tanganku. Aku merasa seperti seorang anak kecil, yang ketahuan mencuri coklat yang dilarang untuk dimakan. Aku melihat ke belakang, dan dedemit hanya duduk di motornya. Ia sebenarnya, dengan sok-sok gentlemen ingin menjelaskan semuanya ke Mas Rangga. Aku mengode ke dedemit buat pulang, manusia batu itu hanya duduk di motornya. Seolah tidak terjadi apa-apa. "Gerald pulang!" "Nggak!" Tolaknya keras. "Pulang, besok sekola

