Sayup-sayup Xaviera mendengar kumandang azan. Ia merasakan sesuatu yang berat di perutnya. Saat mendapati sebuah tangan kekar tengah melingkar di pinggangnya membuat Xaviera memekik.
“AAAAAA!”
Xaviera menjauhkan tubuhnya dari pria yang semalaman memeluknya. Dia memastikan pakaiannya apakah masih utuh seperti sebelum ia terlelap semalam. Xaviera bernapas lega saat pakaiannya utuh, sementara Aderaldo yang harus terpaksa terjaga tengah mengucek matanya yang masih merasa sangat kantuk.
“Ini masih malam, Xaviera. Kamu jangan berulah,” tegur Aderaldo dengan suara serak.
“Om ngapain di sini! Om apa in saya semalam? Jangan-jangan semalam Om-.”
“Saya hanya memeluk kamu yang tidak bisa diam. Kita sudah menikah jadi saya halal menyentuhmu,” sela Aderaldo kesal.
Xaviera hanya mengangguk lucu, kemudian dia mencari ponselnya untuk melihat jam berapa saat ini. Ternyata masih pukul setengah lima pagi. Xaviera menyalakan lampu kamarnya yang membuat Aderaldo kembali terusik.
“Matikan lampunya, Xaviera,” titah Aderaldo menutup wajahnya dengan bantal.
“Udah subuh, Om,” jawab Xaviera dari kamar mandi.
Aderaldo mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya menggunakan bantal. Ia menatap jam digital yang ada di atas nakas angka di sana menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh lima menit. Saat melihat Xaviera telah keluar dari kamar mandi, Aderaldo bergegas untuk mengambil wudu.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun lamanya akhirnya Xaviera bisa merasakan salat jamaah. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya ia salat diimami oleh suaminya. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Xaviera akan ia rasakan secepat ini. Selesai salat, Xaviera menyalami Aderaldo agar tidak menjadi istri durhaka.
“Kamu sudah bereskan semua barang-barang kamu?” tanya Aderaldo memastikan.
“Iya.”
“Setelah sarapan kita langsung pindah,” putus Aderaldo sepihak.
“Kok cepet banget,” protes Xaviera.
“Biar kita tidak banyak membuang waktu. Banyak yang harus saya urus di perusahaan. Saya tidak bisa terlalu lama mengambil cuti,” urai Aderaldo.
Xaviera melipat mukenanya. Ia ingin mengecek kembali barang-barang yang kemarin disiapkan oleh pelayannya, sementara Aderaldo ia tengah santai memainkan ponselnya untuk melihat beberapa email penting yang belum ia balas.
Ada lima koper besar yang sudah tertata rapi. Xaviera tampak bingung karena masih banyak yang belum ia masukkan sementara seluruh kopernya telah penuh.
“Om, bantuin dong,” pinta Xaviera yang sudah menyerah.
“Gak harus di bawa semuanya. Bawa yang penting-penting saja. Kalau butuh apa-apa beli saja yang baru,” ucap Aderaldo acuh.
Setelah membereskan barang-barangnya, Xaviera pergi untuk membersihkan diri. Cukup dua puluh menit ia telah selesai membersihkan dirinya. Gadis cantik itu kini tengah mengeringkan rambutnya dengan tenang tapi ketenangannya kembali diusik oleh Aderaldo.
“Siapkan baju saya. Saya ingin mandi,” titah Aderaldo.
“Ambil sendirilah, lo pikir gue babu lo apa,” tolak Xaviera enggan.
“Kamu istri saya. Tugas kamu melayani saya.”
“Jadi maksud lo gue pelayan lo gitu?” sungut Xaviera.
“Memang,” balas Aderaldo santai.
Ingin sekali Xaviera melemparkan hair dryer itu ke kepala Aderaldo. Ia mengeram kesal dan terus menggerutu. Saat tengah asyik memakai skin care, Aderaldo kembali mengusiknya.
“Xaviera, mana baju saya?” pinta Aderaldo yang baru saja selesai mandi.
“Gak tau!”
“Xaviera Veera Dhanurendra.”
Xaviera berdecak kesal, kemudian dia mengambil baju Aderaldo yang berada di koper laki-laki itu. Ia menyerahkan kemeja dan celana bahan milik Aderaldo dengan kesal.
“Bersikaplah sopan pada suamimu. Kamu mau jadi istri durhaka?” sungut Aderaldo.
“Tapi gue gak mau jadi istri lo!”
“Jangan berteriak kepada saya. Saya tidak suka.”
“Gue gak peduli.”
Xaviera kembali ke meja riasnya. Setelah selesai ia mulai merapikan seluruh skin care dan alat makeupnya untuk dibawa di rumah barunya nanti.
Keduanya tengah menikmati sarapan bersama. Xaviera tampak anteng dan lempeng, sementara Jasver sedang pencitraan ramah kepada Aderaldo. Bukan hanya Jasver, Bellanca juga ikut mencari perhatian Aderaldo meski selalu laki-laki itu acuhkan.
“Mas Aderald, mau tambah ayamnya? Biar saya ambilkan,” tawar Bellanca.
“Tidak usah. Xaviera, ambilkan saya telur,” titah Aderaldo yang justru meminta Xaviera.
“Biar saya ambilkan, Mas.”
“Saya ingin Xaviera yang mengambilkannya,” ucap Aderaldo tegas.
Mau tidak mau Xaviera menuruti ucapan Aderaldo. Tapi ia tersenyum puas ke arah Bellanca yang menatapnya kesal.
“Ayah tidak menyangka kamu akan pindah. Rumah ini pasti akan sepi tidak ada kamu, Xaviera,” ujar Jasver seakan ia kehilangan.
“Hilih bicit. Bilang aja lo senengkan aslinya,” lirih Xaviera mengaduk-ngaduk makanannya.
“Kamu sering-sering main ke sini ya. Rumah ini selalu terbuka untuk kamu.”
“Iyalah, ini rumah gue,” balas Xaviera dalam hati.
“Iya, Yah.”
“Nak Aderald, Ayah titip Xaviera, ya? Jaga dia,” pesan Jasver bersandiwara di depan Aderaldo.
“Iya, Yah.”
Seusai sarapan, beberapa pengawal membantu mengemaskan barang-barang yang akan Xaviera dan Aderaldo bawa. Karena mobil Aderaldo tidak cukup, maka barang-barang Xaviera harus diangkut oleh mobil pick up.
Jasver tengah berakting menangis saat ini. Ia memeluk Xaviera erat di depan Aderaldo seakan benar-benar kehilangan gadis itu.
“Jangan sekali-kali kamu kembali di sini. Ini bukan rumah kamu lagi,” bisik Jasver di telinga Xaviera.
“Puas-puaskan Ayah dan Bellanca tinggal di sini. Sebelum aku akan mengusir kalian dari sini,” balas Xaviera berani.
Jasver hanya bisa menahan amarahnya karena mana mungkin ia memukul Xaviera di depan Aderaldo. Xaviera memasuki mobil yang dikemudikan oleh Aderaldo. Sebenarnya mereka tidak pindah terlalu jauh, karena mereka akan tinggal di rumah yang dibuat mahar kemarin.
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka sampai di halaman rumah mereka yang baru. Rumah itu memang tidak sebesar rumah Xaviera yang lama. Namun, tidak terlalu buruk karena rumahnya terlihat nyaman.
Rumah berlantai empat itu bercat putih dengan pilar yang menjulang tinggi menopang. Xaviera cukup suka dengan rumah itu, apalagi desainnya seperti rumah yang ia impikan. Saat masuk, ia disambut dengan interior mewah dan canggih. Tidak seperti rumahnya yang bergaya eropa, rumah barunya justru bergaya amerika.
Kesan mini malis dan elegan sangat kentara. Apalagi rumah itu memiliki lift yang bisa mengantarnya menjelajahi setiap lantai tanpa harus capek-capek naik turun tangga.
“Kamar gue di mana, Om?” tanya Xaviera yang telah antusias.
“Ikuti saya.”
Xaviera mengikuti Aderaldo dari belakang. Kamarnya ternyata berada di lantai tiga. Kamar yang sangat luas dan telah disiapkan beberapa alat modern yang tidak ia punya di kamarnya. Walk in closetnya juga lebih luas dari rumahnya yang lama.
“Tuan, Nyonya, kopernya taruh mana?” tanya salah seorang pengawal.
“Taruh saja di situ,” balas Aderaldo.
“Lho, ini kok koper Om ada di sini juga? Jangan bilang kita satu kamar? Gak, gue gak mau satu kamar sama lo,” tolak Xaviera mentah-mentah.
“Ini suruhan dari Papa.”
“Mending gue tidur di kamar lainnya aja dari pada tidur sama lo,” gerutu Xaviera yang hendak pergi dari kamar impiannya itu.
“Terserah kamu, tapi saya tidak akan tanggung jawab jika kamu akan dimarahi Papa,” ucap Aderaldo.
“Bodo amat!”
Aderaldo membiarkan Xaviera pergi begitu saja, gadis nakal itu memang benar-benar susah di atur.