Seluruh tamu undangan telah kembali, saat ini keduanya memutuskan untuk bermalam di kediaman keluarga Dhanurendra terlebih dahulu. Baru besok mereka akan pindah ke rumah keluarga Phelan.
Gadis cantik itu tengah menghapus makeup yang tadi ia gunakan. Sejenak ia menatap pantulan dirinya. Ia tidak menyangka roller coaster kehidupannya akan ia rasakan secepat ini. Grayson meninggal lima tahun lalu, Auristela menikah dengan seorang pria jahat yang hanya menginginkan hartanya saja, dan Dhanurendra pergi entah ke mana.
Xaviera benar-benar tidak memiliki siapa pun. Tanpa sengaja air matanya meluruh, sekeras apa pun hati Xaviera, tapi tetap saja. Ia hanya gadis biasa yang masih kesulitan meraba arah. Entah kenapa Xaviera merasa jika pernikahan ini hanya akan menambah beban lukanya.
“Pah, Xaviera sudah menjadi istri orang sekarang. Boleh gak kalau Xaviera ngeluh capek? Ayah gak sebaik itu, Pah. Mama gak pernah percaya sama Xaviera kalau Ayah itu jahat. Tapi, apa sekarang Mama sudah tahu, ya? Apa Mama lihat dari atas sana kelakuan b******k Ayah?” celoteh Xaviera memeluk foto keluarganya.
“Kakek ke mana? Kakek padahal janji bakal selalu ada untuk Veera setelah kepergian Papa. Kek, emang benar Veera harus nikah dengan keluarga Phelan? Papa Gavriel emang baik, tapi Veera ragu sama yang lainnya. Mereka kaya gak suka sama Veera, Kek.” Xaviera tersenyum sendu menatap foto Dhanurendra itu.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Xaviera mengusap air matanya kasar. Ia melebarkan bola matanya saat melihat Aderaldo masuk ke kamarnya dengan membawa sebuah koper.
“Om ngapain di sini?” pekik Xaviera.
Tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Xaviera, Aderaldo tampak acuh merebahkan dirinya di kasur milik Xaviera. Xaviera menarik tangan Aderaldo agar pria itu menyingkir dari kasurnya. Ia paling tidak suka jika ada orang lain yang tidur di kasurnya tanpa ada izin darinya.
“Om ngapain di sini? Ini kamar gue. Kalau Om mau istirahat, tidur aja di kamar tamu,” ucap Xaviera berkacak pinggang.
“Saya tidur di sini,” balas Aderaldo dingin.
“Dih, ogah. Om mau macam-macam ya sama gue? Gue bisa teriak kalau Om mau macam-macam.”
Aderaldo merotasikan bola matanya malas. Ia menekan dahi Xaviera dengan jari telunjuknya. Jika bukan paksaan dari Gavriel untuk dia menginap terlebih dahulu di rumah Xaviera, ia tidak akan sudi sekamar dengan gadis itu.
“Saya tidak nafsu dengan kamu. Lagi pula kamu sudah menjadi istri saya, jadi tidak ada salahnya kalau saya macam-macam,” bisik Aderaldo dengan suara beratnya.
Tubuh Xaviera menegang. Ia merinding mendengar perkataan Aderaldo barusan. Aderaldo yang puas membuat Xaviera bungkam pergi begitu saja dari kamar gadis itu. Tenggorokannya terasa kering dan kepalanya sedikit pening, ia membutuhkan beberapa puntung rokok untuk meredakannya.
Paras ayu Xaviera memerah bak kepiting rebus. Ia yang sadar Aderaldo terlah meninggalkannya begitu saja semakin membuat amarahnya memuncak. Pria itu benar-benar mengesalkan.
Di lain sisi Aderaldo tengah asyik menyesap puntung rokok di taman belakang. Suasana asri dan terjaga membuatnya nyaman. Taman milik Xaviera lebih asri dari pada taman yang ada di rumahnya. Mungkin ia harus merenovasi tamannya agar bisa membuatnya lebih nyaman lagi seperti di sini.
“Bagaimana bisa saya menikah dengan gadis yang tidak saya cintai? Gadis nakal itu susah diatur pastinya. Bagaimana bisa saya harus tinggal bersamanya dan bertemu dengan dia setiap harinya nanti?” gerutu Aderaldo.
Setelah menghabiskan setidaknya tiga puntung rokok, Aderaldo merasa sedikit ringan berat kepalanya. Ia hendak kembali ke kamar karena sudah merasa cukup gerah dan ingin mandi. Betapa terkejutnya dia saat membuka kamar mendapati Xaviera yang hanya menggunakan handuk baju. Sepertinya gadis itu baru saja selesai mandi.
“AAAAAAAAA DASAR OM-OM m***m!” pekik Xaviera yang membuat Aderaldo refleks menutup pintu kamarnya dengan sedikit membanting.
Jantung Aderaldo berdetak begitu cepat. Bagaimanapun juga ia tetap pria normal. Pintu dibuka begitu saja membuat Aderaldo hampir terjungkal. Gadis cantik itu menatap Aderaldo dengan kobaran api amarah. Wajahnya memerah dengan pipi bersemu. Jika saja diibaratkan seperti film kartun, pasti saat ini kepalanya tengah bertanduk dan berasap.
“Kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintunya dulu! Kalau gue tadi lagi ganti baju gimana?” murka Xaviera.
“Saya tidak tahu. Lagi pula itu salah kamu kenapa tidak mengunci pintunya atau ganti di walk in closet saja,” debat Aderaldo yang tidak mau kalah.
“Mangkanya ketuk pintunya dulu! Om tahu sopan santun enggak sih!”
“Sudah saya bilang, saya tidak tahu.”
Xaviera meninggalkan Aderaldo begitu saja. Ia sangat kesal dengan pria itu. Tanpa disadari senyum kecil terbit di bibir Aderaldo.
Di sisi lain, Xaviera tengah meneguk jus apel favoritnya di pantri dapur. Seorang gadis yang berbeda dua tahun darinya. Secara sengaja menyenggol tangan Xaviera yang tengah minum sehingga bajunya harus basah karena ketumpahan jus apel.
“Ck, lo kalau jalan lihat-lihat dong,” decak Xaviera kesal.
Bellanca menutup mulutnya dengan satu tangan dan berakting mengejek. “Ups, sorry. Gue gak lihat. Lo kenapa masih ada di sini sih. Cepet pergi sana, enek gue lihat lo. Perih mata gue.”
“Seharusnya yang bilang gitu itu gue. Ini rumah gue.”
“Hahahaha … rumah lo? Ini udah jadi rumah gue. Ingat, lo udah gak punya apa-apa sekarang,” tukas Bellanca menyebalkan.
“Gak berkah ambil harta anak yatim piatu. Kena karma mampus lo,” gertak Xaviera.
Bellanca mengeram kesal. Ia menjambak rambut kecokelatan milik Xaviera dengan kuat.
“Lo udah mulai berani sama gue!” hardik Bellanca.
“Kenapa gue mesti takut? Gue cuman takut sama Tuhan,” jawab Xaviera santai.
Sebuah tamparan keras diterima oleh Xaviera, saat untuk kedua kalinya Xaviera berhasil menghindar sehingga Bellanca hanya menampar angin saja.
“Lo!” Bellanca menggertakkan giginya kesal.
“Gue gak akan biarin lo hidup tenang. Gue bakal buat lo menderita dan pernikahan lo akan hancur. Yang seharusnya nikah sama Aderaldo itu gue, bukan lo. Bukan hanya merebut seluruh harta lo, gue juga akan merebut Aderaldo dari lo,” ujar Bellanca mengancam.
Bukannya takut Xaviera justru tertawa. Ia menyungging sudut bibirnya dan mengangkat salah satu alisnya.
“Ambil semuanya kalau lo bisa,” ujar Xaviera yang semakin membuat Bellanca kesal.
Xaviera pergi begitu saja meninggalkan Bellanca yang tengah mencak-mencak sendiri karena kesal. Di lain sisi Aderaldo baru saja selesai mandi. Ia tengah menunaikan kewajibannya sebagai umat beragama islam. Xaviera yang melihat Aderaldo tengah menunaikan salat itu memilih kembali menutup kamarnya.
Gadis itu tidak menyangka jika orang seangkuh Aderaldo ternyata cukup taat dalam beribadah. Setelah di rasa Aderaldo telah menyelesaikan salatnya, Xaviera kembali masuk ke kamarnya. Ia menyelonong begitu saja menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya yang basah akibat ketumpahan jus tadi.
Setelah mengganti pakaiannya, ia tengah duduk santai di sofa dan menonton kartun favoritnya. Aderaldo yang melihat tingkah Xaviera yang seperti tidak menganggapnya itu hanya bisa pasrah.
“Kamu tidak membereskan barang-barang kamu? Besok kita akan pindah,” papar Aderaldo yang diacuhkan oleh Xaviera.
“Xaviera Veera Dhanurendra,” panggil Aderaldo dingin karena kesal Xaviera terus mengacuhkannya.
“Gue gak mau pindah ke mana-mana! Rumah gue di sini. Kalau lo mau pindah, pindah aja sendiri,” jawab Xaviera acuh.
“Saya suami kamu, tidak bisakah kamu bersikap sopan pada suamimu?” gertak Aderaldo yang tidak merasa dihargai.
Aderaldo yang sudah merasa sangat kesal, ia mematikan televisi Xaviera dan membuat gadis itu marah.
“Apaan sih, Om. Gak usah ngatur deh. Kembaliin remotenya!” pinta Xaviera.
“Saya suami kamu. Saya berhak mengatur kamu. Sekarang bereskan barang-barang yang harus kamu bawa besok untuk pindahan,” titah Aderaldo tegas.
“Gue gak mau pindah, Om!”
“Bereskan barang-barang kamu atau besok kita pindah kamu tidak membawa apa pun.”
Xaviera bangkit dari duduknya dan dengan meghentak-hentakkan kakinya kesal mulai merapikan barang-barangnya. Dua orang pelayan datang dengan sopan berniat untuk ikut membereskan barang-barang Xaviera.
“Selamat malam, Nona. Kami ditugaskan oleh Tuan Jasver untuk membantu Nona berkemas malam ini,” ucap salah satu pelayan.
“Ck, pria itu benar-benar. Dia pikir dia bisa mengusirku dan mengambil seluruh hartaku? Jangan bermimpi, Jasver,” gerutu Xaviera lirih.
“Ya sudah, kalian bereskan saja semuanya. Jangan sampai ada yang ketinggalan, saya ingin membawa semuanya,” titah Xaviera acuh.
Xaviera dan Aderaldo turun untuk makan malam. Tidak banyak pembicaraan. Setelah makan malam, Xaviera langsung pergi ke kamarnya kembali. Para pelayan tadi juga telah selesai merapikan barang-barangnya, jadi ia bisa bersantai saat ini.
“Eh, mau ngapain, Om?” cegah Xaviera saat Aderaldo membaringkan tubuhnya di samping Xaviera.
“Tidur,” jawab Aderaldo seadanya.
“Om mau tidur di sini?” Aderaldo hanya mengangguk singkat.
“Gak! Om mau macam-macamkan sama saya? Om tidur di kamar tamu aja,” usir Xaviera.
Aderaldo yang sudah geram dengan tingkah Xaviera justru memeluk gadis itu dan menguncinya agar tidak banyak gerak. Xaviera yang awalnya melawan akhirnya hanya bisa pasrah karena tenaganya tidak cukup kuat.
“Diamlah, saya hanya ingun tidur. Kalau kamu tidak bisa diam, saya akan mengambil hak saya malam ini juga,” bisik Aderaldo yang membuat Xaviera diam dan membeku.