Pernikahan

1128 Kata
Cakrawala mulai menyapa pertiwi. Halimun yang menetes di dedaunan tertampik laksmi dengan arunika yang menyinari. Gadis cantik itu tengah siap dengan gaun putih sederhana. Paras ayunya dipoles tidak berlebihan karena tanpa polesan apa pun sebenarnya dia telah cantik. Di luar sana, banyak hilir orang-orang sibuk dengan tugas masing-masing. Seorang pria dengan jas putih menatapnya datar. Seharusnya yang berada di posisi itu adalah Bellanca. Tapi itu tidak lagi masalah. Yang terpenting adalah perusahaannya keluar dari ancaman bangkrut. “Setelah ini, jangan pernah injakan kaki kamu di rumah ini lagi,” tukas Jasver dingin. “Ini rumahku. Ayah tidak bisa mengusirku dari sini,” protes Xaviera. “Tapi sayangnya seluruh hartamu telah menjadi harta saya. Kamu beruntung bisa menjadi menantu Pak Gavriel. Jika tidak, mungkin saja kamu akan menjadi gelandangan,” sosor Jasver. Xaviera mengepalkan tangannya kuat. Ingin sekali ia memukul wajah laki-laki itu. Iris kelam itu menatap tajam bola mata abu milik Jasver. “Anda tidak akan bisa mengambil apa yang bukan milik Anda dan saya akan mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milik saya.” Sumpah Xaviera dingin. Saat Jasver hendak membalas ucapan Xaviera, salah seorang wanita datang. Acara akan dimulai sebentar lagi. Xaviera harus segera bersiap-siap. Raut Jasver pun segera berubah. Ia berakting seramah dan sebaik mungkin. Di sisi lain, seorang pria dengan baju beskap senada dengan gaun sang mempelai wanita menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia masih tidak percaya, jika hari ini ia akan menikah dengan seorang gadis yang bahkan belum ia cintai. Tidak hanya itu, ia juga tidak tahu banyak mengenai gadis SMA itu. Tapi Aderaldo tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia menolak, pastinya Gavriel akan menjodohkan Xaviera dengan Aakash dan otomatis Aakash yang nantinya akan menjadi CEO PT Phelan Perkasa. “Tuan Muda, acara akan dimulai sebentar lagi. Sebaiknya Tuan Muda segera turun,” papar Jaxton, asisten pribadi Aderaldo. Aderaldo hanya mengangguk singkat. Ia melangkah dengan angkuh. Menuruni anak tangga penuh wibawa. Tidak banyak tamu yang hadir. Hanya keluarga terdekat dan beberapa sahabat karib Aderaldo. Sekitar sepuluh menit kemudian Xaviera akhirnya juga keluar dari ruangannya. Gadis cantik itu dengan anggun duduk di samping Aderaldo. Beberapa tatapan kagum ditujukan kepada Xaviera. Mereka tidak menyangka jika ternyata keturunan dari Keluarga Dhanurendra itu masih hidup. Pasalnya, setelah kecelakaan pesawat yang di alami oleh Auristela dan Xaviera dua tahun lalu, mereka pikir Xaviera juga tidak bisa diselamatkan. Namun nyatanya, gadis itu bahkan tidak ada dalam pesawat itu. Auristela sudah mengetahui jika ada yang mengincar keduanya apalagi Xaviera. Jadi ia merencanakan untuk mengelabuhi semua orang jika keduanya berada dalam satu pesawat. Padahal nyatanya, hanya Auristela yang ada dalam pesawat itu. Keberadaan Xaviera yang disembunyikan oleh Jasver juga membuat orang-orang berasumsi jika Xaviera telah meninggal. Seorang pria paruh baya yang sepertinya bertugas sebagai penghulu tersenyum ke arah keduanya. Xaviera membalasnya dengan senyum tipis, sementara Aderaldo masih tampak datar. Penghulu tersebut memberikan sejenak khutbah nikah untuk keduanya dengan sesekali candaan yang meski hanya dibalas senyum tipis oleh Aderaldo. Setelah memberikan khutbah nikah, tibalah saat ini adalah inti dari acara sakral tersebut. Aderaldo menjabat tangan seorang wali hakim yang akan menikahkan keduanya. “Sudah siap?” tanya wali hakim tersebut yang hanya dibalas anggukan kecil dari Aderaldo. “Bismilahirrohmanirrohim. Ananda Aderaldo Phelan bin Gavriel Phelan saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Xaviera Veera Dhanurendra binti Grayson Dhanurendra dengan maskawinnya berupa rumah mewah senilai seratus milyar, mobil Porche Panamera Turbo senilai dua koma lima milyar, dan saham perusahaan sepuluh persen dibayar tunai.” “Saya terima nikahnya Xaviera Veera Dhanurendra binti Grayson Dhanurendra dengan maskawin tersebut dibayar tunai,” ucap Aderaldo dalam sekali tarikan napas. “Bagimana saksi, sah?” “SAH!” “Alhamdulillah.” Tidak terasa Xaviera meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika saat ini ia telah menjadi seorang istri meski ia sama sekali tidak menyayangi suaminya. Bayangan enam tahun lalu saat Grayson masih hidup terlintas dalam bayangan Xaviera. Grayson dulu berjanji akan menemaninya hingga dewasa. Setelah penghulu membacakan doa, tangan Xaviera terulur untuk menyalami Aderaldo. Gadis itu tersentak saat tangan kiri Aderaldo memegang ubun-ubunnya dan seperti mendoakannya sejenak. Xaviera membiarkan dulu posisinya, hingga Aderaldo menyingkirkan tangannya dari ubun-ubunnya. Kedua mata Xaviera membulat saat Aderaldo mengecup puncak kepalanya cukup lama. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya dan sialnya jantungnya berdetak kencang tanpa bisa ia kendalikan. Setelah prosesi akad, pihak keluarga mengucapkan selamat kepada keduanya. Xaviera masih canggung apalagi saat seorang wanita yang telah berkepala empat itu menghampirinya dengan tatapan rendah. “Saya masih tidak menyangka jika kamu adalah keturunan Keluarga Dhanurendra. Keluarga yang cukup tersohor memiliki keturunan yang tidak berkelas,” kritik Olive, mertua Xaviera. “Maksud Mama apa?” tanya Xaviera dengan nada yang sedikit meninggi. “Jangan memanggil saya Mama. Saya tidak sudi sebenarnya jika kamu menjadi menantu saya,” tegur Olive. “Siapa juga yang mau jadi mantu lo,” lirih Xaviera. “Sayang, selamat ya atas pernikahannya. Maafkan Mama yang tidak bisa menghentikan pernikahanmu,” ujar Olive memeluk putra sulungnya itu. Tidak hanya Olive, Carabell dan Widati juga sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan ini. Awalnya mereka setuju saja. Namun, saat mengetahui jika Xaviera merupakan teman satu sekolah Aakash yang terkenal troublemaker dan memiliki peringkat terendah membuat mereka mengecam Xaviera. Olive sudah membujuk Gavriel untuk mempertimbangkan perjodohan ini. Namun, keputusan Gavriel tidak bisa diganggu gugat. Gavriel tetap kekeh untuk melanjutkan perjodohan ini. “Selamat datang di keluarga, Nona Dhanurendra. Sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Phelan. Semoga pernikahan kalian samawa dan hanya ajal yang dapat memisahkan. Xaviera, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke Papa atau suamimu,” ucap Gavriel ramah. “Iya, Pah. Terima kasih.” Gavriel memeluk Xaviera. “Aderald, sekarang kamu sudah menjadi suami orang. Jaga Xaviera, sampai Papa dengan kamu menyakiti dia, Papa akan memberikanmu hukuman,” tukas Gavriel tegas. “Iya, Pah.” Gavriel juga memeluk Aderaldo singkat. Seorang pria yang sepertinya sepantaran dengan Aderaldo tersenyum ramah ke arah Xaviera. Pria itu di dampingi oleh seorang wanita yang sepertinya merupakan istrinya. “Selamat, Bro! Gue gak sangka akhirnya lo nikah juga. Cantik banget lagi bini lo. Semoga cepat diberi momongan. Apa lo perlu berguru dulu sama gue? Sekali buat langsung jadi,” jahil pria tersebut. Aderaldo hanya menatapnya malas. Jika Haiden bukan sahabatnya, ia akan menyeret pria itu. “Dek Xaviera, selamat ya. Kenalin gue Haiden. Sama gue mah santai aja, anggap aja kita teman sebaya gitu. Oh ya, lo harus hati-hati sama Adelard dia cukup ganas kalau-.” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Aderald terlebih dahulu membungkam mulut Haiden sebelum pria itu berbicara semakin ngawur. Sebelum meninggalkan pelaminan, Haiden terlebih dahulu memberi sebuah kotak kecil pada Aderald. Ia juga membisikkan sesuatu yang mampu membuat paras tampan Aderald memerah semu menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. “Kemarin gue pesenin khusus buat lo, obat kuat yang dijamin buat lo kuat sampai besok pagi. Di tunggu coming soon Aderaldo Juniornya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN