Gadis cantik dengan dress indah semata kaki itu terus saja menggerutu lirih. Rencananya untuk kabur dari rumah sia-sia. Jasver ternyata telah menyewa bodyguard khusus untuk mengawasi gerak-geriknya. Malam ini, ia akan makan bersama Keluarga Phelan untuk menentukan hari pernikahannya.
Penampilannya yang sangat menawan sebenarnya membuat siapa saja akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, senyum kecil pun tidak ada niatan terbit di bibir ranumnya. Iris gelap itu menatap tajam orang-orang yang menatapnya.
“Selamat malam, Pak Gavriel. Maaf sudah menunggu lama,” ujar Jasver tidak enak.
“Selamat malam, Pak Jasver. Tidak apa-apa, saya juga baru saja datang. Silakan duduk, Pak,” balas Gavriel ramah.
Jasver menatap tajam Xaviera saat gadis itu tak kunjung duduk. Dengan malas Xaviera duduk di hadapan Jasver. Gavriel tersenyum ramah kepada Xaviera. Gadis itu terlihat sangat cantik malam ini.
“Kamu terlihat sangat cantik malam ini. Tidak salah saya memilihmu untuk menjadi calon menantu saya,” ucap Gavriel yang Xaviera ingin menampar pria itu.
Seorang pria berkepala dua datang dengan jas rapi. Ia sangat tampan dengan wajah yang terukir sempurna bak Dewa Yunani. Rahangnya tercetak tegas dengan bulu tipis menambah kesan maskulin. Sorot matanya tajam dan menatap dengan dingin.
“Maaf, saya terlambat,” tukasnya dingin.
Gavriel bangkit untuk menyuruh pria itu duduk di samping Xaviera. Tanpa ada niatan untuk melirik Xaviera sedikit pun, pria itu mengacuhkan Xaviera.
“Selamat malam, Pak Aderald,” sapa Jasver ramah.
“Malam,” balas Aderaldo dingin.
“Sepertinya kita langsung saja dari pada membuang waktu. Aderaldo, mengingat usiamu yang sudah matang dan cukup untuk berumah tangga, Papa akan menjodohkanmu dengan Xaviera. Pernikahan kalian akan diadakan bulan depan,” putus Gavriel yang membuat Xaviera tersedak air liurnya sendiri.
“Kenapa harus terburu-buru? Saya 'kan masih sekolah, Om. Apa tidak bisa diundur sampai saya lulus sekolah terlebih dahulu?” tolak Xaviera halus.
“Lebih cepat akan lebih baik, Xaviera.”
Aderaldo menyiritkan dahinya mendengar penolakan gadis di sampingnya itu. Apa papanya menjodohkannya dengan seorang gadis bawang, yang bahkan masih sekolah? Papanya sudah tidak waras. Aderaldo memang telah diberitahu jika ia akan dijodohkan. Namun, tidak dengan ia akan dijodohkan dengan seorang gadis SMA.
“Jadi Papa ingin menjodohkan Aderald dengan gadis SMA? Apa Papa sudah tidak waras?” tanya Aderaldo yang tidak paham lagi dengan jalan pikiran Gavriel.
“Xaviera adalah cucu tunggal dari Pak Dhanurendra. Kamu tahukan bagaimana hubungan Keluarga Phelan dengan Keluarga Dhanurendra? Kakek kamu dulu menginginkan jika keluarga Phelan dan Dhanurendra untuk bersatu. Sayangnya baik Kakek maupun Pak Dhanurendra ternyata sama-sama memiliki anak laki-laki.”
“Jadi sekarang, karena Xaviera adalah keturunan tunggal dari keluarga Dhanurendra jadi dia harus jadi mantu Papa. Mau sampai kapan kamu sendiri? Percuma karier kamu bagus tapi kamu tidak memiliki pendamping apalagi penerus,” sambung Gavriel mengungkap wasiat mendiang Phelan.
Jasver bungkam. Dia tidak bisa membela apa pun. Nyatanya Gavriel memang hanya menginginkan keturunan asli dari keluarga Dhanurendra. Jadi dia tidak bisa memaksakan untuk menyerahkan Bellanca, anak kandungnya.
“Tapi, Pa. Dia bahkan masih belum menyelesaikan sekolahnya,” debat Aderaldo.
“Tiga bulan lagi dia akan lulus,” balas Gavriel santai.
Aderaldo menghela nafas kasar. Ia menatap sejenak gadis kecil di sampingnya itu. Gadis itu sama sekali tidak memenuhi kriterianya. Meskipun Xaviera cantik, tapi tetap saja dia hanya gadis SMA. Ia pikir Gavriel akan menjodohkannya dengan seorang wanita yang menawan atau setidaknya sepantaran dengannya.
“Kamu bagaimana, Xaviera? Sudah siap, ‘kan? Setelah menikah nanti kamu masih tetap bisa melanjutkan pendidikanmu, bahkan jika kamu ingin melanjutkannya ke luar negeri,” ujar Gavriel menatap hangat Xaviera.
Jasver memberi isyarat kepada Xaviera agar gadis itu tidak membuat masalah. Xaviera yang paham dengan isyarat Jasver hanya merotasikan matanya malas. Ia menatap sejenak Aderaldo yang ada di sampingnya. Pria itu tampak tampan, tapi ia terlihat angkuh dan itu membuat Xaviera tidak suka.
“Boleh beri saya waktu, Om?” pinta Xaviera menawar.
“Perusahaan keluargamu sedang diambang kebangkrutan. Kamu tidak punya banyak waktu lagi. Memang apa alasan kamu ingin menolak? Bagaimana jika kita mengadakan ijab qabul terlebih dahulu? Setelah kamu lulus, baru kita akan mengadakan resepsi yang sangat mewah,” tawar Gavriel yang masih mencoba membujuk Xaviera.
“Tapi, saya ingin selama saya sekolah pernikahan ini harus dirahasiakan,” pinta Xaviera.
Gavriel mengangguk santai. “Kalau itu yang kamu inginkan, saya tidak masalah. Asal setelah kamu lulus, pernikahan kalian harus disahkan secara negara.”
Jasver bernapas lega. Setidaknya, perusahaannya tidak jadi bangkrut. Ia tidak kembali jatuh miskin dan hidup susah lagi. Baru saja Aderaldo hendak protes. Namun, Gavriel terlebih dahulu menyela.
“Tidak ada penolakan, Aderald. Kamu terima perjodohan ini atau perusahaan akan Papa berikan ke Aakash,” sela Gavriel.
Aderaldo hanya bisa pasrah. Setelah itu mereka makan malam bersama terlebih dahulu baru akan menyiapkan persiapan pernikahan Aderaldo dan Xaviera.
“Bagaimana jika pernikahan kalian diadakan dua minggu lagi saja? Lagi pula hanya akad, untuk resepsi akan diadakan setelah kelulusan Xaviera nantinya,” lontar saran Gavriel yang membuat Aderaldo tersedak karena ia tengah meminum jusnya.
“Jangan semakin tidak waras, Pa. Aku saja belum mengenalnya,” tolak Aderaldo.
Gavriel tersenyum jenaka. “Ya sudah, sekarang kalian bisa berkenalan.”
“Pah,” tegur Aderaldo dingin.
“Hahaha, tapi memang lebih cepat lebih baik. Kakek kamu juga kalau masih hidup pasti setuju.”
“Lagi pula kenapa dia tidak dijodohkan dengan Aakash saja? Sepertinya mereka seumuran.”
“Itu artinya perusahaan akan jatuh di tangan Aakash. Bagaimana?” Gavriel tersenyum miring.
Aderaldo mendengus kesal. Lebih baik dia diam dan mengikuti saja semua kemauan Gavriel. Ia tidak ingin jika nantinya Aakash yang akan mengambil alih perusahaan. Apalagi jika ia sudah bersusah payah untuk membesarkan perusahaan.
“Bagaimana pendapatmu, Xaviera?”
Xaviera yang tadinya tengah sibuk melamun sembari mengaduk-ngaduk jusnya menatap cengo Gavriel. Jujur, ia tidak menyimak pembicaraan mereka.
“Terserah Om saja.” Gavriel tersenyum puas mendengar jawaban Xaviera. “Panggil saya Papa. Lagi pula sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu saya,” titah Gavriel.
“Iy-iya, Om eh Pah,” gagap Xaviera.
“Ini sudah malam. Aderald, antar Xaviera pulang. Kamu ingin berkenalan dengannya bukan?” suruh Gavriel.
Xaviera yang merasa Aderaldo tidak nyaman ia berinisiatif untuk menolak suruhan Gavriel.
“Tidak perlu, Pa. Xaviera ‘kan pulang sama Ayah.”
“Ayah harus pergi ke Bogor malam ini. Kamu pulang sama Pak Aderald, ya?” ujar Jasver yang terdengar lembut.
“Tukan. Lebih baik kamu pulang bersama Aderald saja.”
“Emm … aku bisa naik taksi online kok.”
“Ini sudah malam, Xaviera. Bahaya anak gadis pulang malam-malam apalagi naik kendaraan umum. Aderald, kenapa kamu masih diam saja? Antar Xaviera pulang!” titah Gavriel.
Aderaldo mengangguk singkat, kemudian dia berdiri yang dan memberi kode agar Xaviera mengikutinya. Xaviera membenarkan dressnya terlebih dahulu, setelah berpamitan ia mengikuti langkah jenjang milik Aderaldo yang sulit untuk ia kejar.
“Om! Pelan-pelan dong. Gue susah nih pakai heels. Kalau gak mau nganterin gak usah, gue bisa pulang sendiri naik taksi,” gerutu Xaviera.
Aderaldo tidak mendengarkan gerutukan dari Xaviera. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah pekikan terdengar. Ia membalikkan badannya, mendapati Xaviera tengah tersungkur dengan tidak estetik.
“Iihh, heels sialan. Lagian gue gak bisa make ginian kenapa Ayah maksa banget,” celoteh Xaviera kesal.
Xaviera memekik tertahan saat hendak bangkit. Ternyata kakinya terkilir dan membuatnya hampir terjatuh kembali. Untung saja dengan cekatan Aderaldo menangkap tubuh mungil Xaviera agar tidak kembali tersungkur.
Xaviera melepaskan high heelsnya. Benar saja pergelangannya tampak memerah. Ia memekik saat Aderaldo justru memegang kakinya yang terasa sangat sakit itu.
“Sakit, Om! Aaaaa … jangan di pegang yang itu!” protes Xaviera menjerit.
Aderaldo memijat sejenak pergelangan Xaviera, kemudian dia menariknya hingga
membuat Xaviera berteriak. Beberapa pengunjung pun sampai menghampirinya.
“Mbak, kenapa?” tanya salah seorang pengunjung.
“Ini sepertinya kaki saya terkilir, Bu,” ringis Xaviera.
“Coba gerakan. Kayanya udah mendingan setelah diurut sama Masnya,” suruh salah seorang ibu-ibu lainnya.
Benar saja, meski awalnya ragu tapi ternyata sudah tidak sekakit di awal tadi. Aderaldo menatap datar Xaviera, karena gadis itu tidak kunjung paham dengan tatapannya ia pun bergerak untuk menggendong gadis itu.
Xaviera kembali memekik saat terkejut secara tiba-tiba Aderaldo menggendongnya. Namun akhirnya, ia mengalungkan tangannya di leher Aderaldo. Dengan hati-hati Aderaldo mendudukkan Xaviera di kursi samping pengemudi. Barulah setelah itu ia mengitari mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
“Seat belt,” ujar Aderaldo dingin.
Xaviera menyiritkan dahinya. Ia membulatkan matanya saat tubuh tegap Aderaldo mendekat dan mengikis jarak keduanya. Refleks Xaviera memejamkan matanya, tapi Aderaldo justru menekan dahinya dengan jari telunjuk. Aderaldo ternyata hanya ingin memasangkan sealt belt milik Xaviera.
“Kamu pikir saya nafsu dengan gadis SMA sepertimu? Jauhkan pikiran kotor itu jika bersama saya.”