Seberkas sinar cahaya memasuki celah di pinggir jendela. Seulas senyum terlukis di wajah Faren tatkala dia melihat wajah lelap Farhan. Dengan lembut dibelainya pipi Farhan dan dikecupnya penuh sayang. Tanpa sadar sepasang mata itu sudah terjaga. “Selamat pagi.” Faren terlonjak dan menurunkan tangannya. “E-eh, pagi, Far.” Farhan menguap sambil mengacak helaian rambut Faren. Kemudian dia terkekeh sebentar. “Kamu kenapa sih Ren mukanya malu-malu gitu?” Faren tampak panik. “Hah? Masa?” Farhan tersenyum dan mengangguk. Dia menyelipkan sebelah tangannya di leher Faren. “Jangan malu-malu gitu, ah. Jadi kelihatan makin seksi. Akunya jadi cemburuan.” Muka Faren merona seperti kepiting rebus. “Ihh... Apaan sih? Aku nggak suka dibilang seksi.” “Terus kamu mau dibilang apa? Aku sebutin semuanya

